Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Keluarga Sakinah

Pernikahan, Dakwah, dan Jihad (2)

Ilustrasi.
Bagikan:

NAMUN di antara perkara yang harus diketahui oleh pasangan suami istri adalah agar mereka tidak memahami hadits, “Dan mendatangi istri kalian adalah sedekah,” dalam artian menghabiskan waktu dengan melampiaskan syahwatnya kepada istrinya sehingga melupakan kewajiban dakwah, jihad, dan menegakkan Islam. Karena, Islam menghasilkan manusia yang kuat dan seimbang yang dapat memberikan semua yang memiliki hak sesuai kebutuhannya dalam kehidupan, tanpa melebihkan satu hak atas hak yang lain, atau satu kewajiban di atas kewajiban yang lain.

Bahkan, ketika maslahat Islam, jihad, dan dakwah kepada Allah bertentangan dengan maslahat penghidupan, istri, anak dan harta, maka sudah seharusnya seorang muslim mendahulukan maslahat jihad dan dakwah di atas semua maslahat duniawi, dan keuntungan pribadi, keluarga, dan nasionalisme. Hal ini disebabkan, mendirikan masyarakat yang Islami, menegakkan pilar-pilar negara Islam, dan menuntun manusia menuju Islam adalah tujuan yang paling utama. Bahkan, ini merupakan tujuan dan harapan yang luhur dalam pandangan seorang muslim.

Hal ini sangat jelas terlihat pada sikap Rab’i bin `Amir ra ketika berada di hadapan pemimpin pasukan Persia, Rustum, pada perang Qadisiyah. la berkata kepada Rustum, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada hamba, kepada penghambaan kepada Allah. Dari sempitnya dunia kepada keleluasaannya. Dan dari kesemena-menaan agama kepada keadilan Islam.”

Berikut ini beberapa contoh sikap salafus shalih yang mendahulukan kepentingan Islam dan jihad di atas kepentingan pribadi dan keluarga, apalagi istri:

Hanzhalah bin Abu Amir

Hanzhalah bin Abu Amir menikahi Jamilah binti Ubay pada malam Jum’at. Keesokan harinya, ada seruan untuk berjihad. Baru saja ia mendengar seruan itu, ia langsung menyelendangkan pedangnya, mengenakan pakaian perangnya, dan menyiapkan kudanya. Kemudian ia pergi untuk berperang di Perang Uhud. Ketika peperangan dimulai, ia langsung bertempur dengan gagah berani.

Ketika kaum muslimin terdesak oleh musuh, Hanzhalah terus merangsek maju melewati barisan orang-orang musyrik, sampai ia mendapati Abu Sufyan. Ketika ia mendapatinya, ia langsung menyerangnya sampai Abu Sufyan terjatuh. Saat Hanzhalah akan memenggal lehernya, Abu Sufyan berteriak meminta tolong kepada kaum Quraisy. Beberapa orang Quraisy mendengar suaranya, lalu mereka langsung menyerang Hanzhalah dan menebasnya dengan pedang sampai ia meninggal dalam keadaan syahid.

Nabi SAW lalu diperlihatkan alam gaib oleh Allah, sehingga beliau bersabda kepada para shahabatnya:
“Aku melihat para malaikat memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan pada wadah dari perak.”

Para shahabat pun segera menuju jenazah Hanzhalah dan ternyata kepalanya sudah bertetesan air. Lalu mereka mengirim orang kepada istri Hanzhalah untuk menanyakan tentang Hanzhalah. Maka istrinya memberitahukan bahwa ketika Hanzhalah mendengar seruan perang, ia langsung keluar dalam keadaan junub dan belum sempat mandi. Sampai akhirnya malaikat yang memandikannya.

Abdullah bin Abu Bakar

Abdullah bin Abu Bakar ra menikahi ‘Atikah binti Zaid. la adalah seorang istri yang cantik dan berakhlak baik, sehingga membuat Abdullah absen dari peperangan dan jihad. Maka ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra memerintahkan untuk menceraikannya dengan alasan, “Ia telah menyibukkanmu dari peperangan (di jalan Allah), maka ceraikanlah dia.”

Abdullah pun menceraikannya. Dan ketika Abu Bakar melewatinya, Abdullah sedang bersenandung:
Aku belum pernah melihat ada orang
yang mau menceraikan istri seperti dia.
Dia harus diceraikan tanpa ada salah dan dosa.
Padahal ia memiliki akhlak yang luhur, pintar,
dan berkedudukan melebihi aku yang biasa-biasa saja.

Mendengar hal itu membuat hati Abu Bakar luluh. la pun memerintahkan Abdullah untuk rujuk dengan istrinya. Setelah itu, ia ikut perang bersama Nabi SAW di perang Thaif. Pada perang itu ia terkena anak panah hingga akhirnya meninggal di Madinah.

Abu Khaitsumah

Ath Thabrani dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Abu Khaitsumah mendatangi rumahnya pada hari yang panas (padahal Rasulullah SAW sudah pergi bersama pasukannya beberapa hari yang lalu). Maka Abu Khaitsumah mendapati dua istrinya di dalam dua gubuknya di kebun miliknya. Lalu dua istrinya menyirami air kepada Abu Khaitsumah, sampai air itu membuatnya segar. Istrinya lantas menyiapkan makanan untuknya. Ketika ia berdiri di depan pintu, ia melihat kepada dua istrinya yang telah menyiapkan makanan untuknya.

Kemudian ia berkata, “Rasulullah SAW sedang berada di bawah sengatan matahari, terpaan angin, dan panas, sedangkan Abu Khaitsumah berada di bawah naungan yang teduh dan makanan yang telah tersedia serta ditemani istri yang cantik. Apa-apaan ini?”

la melanjutkan, “Demi Allah, aku tidak akan masuk ke dalam sampai aku menyusul Rasulullah SAW.”

Lalu dua istrinya menyiapkan bekal untuknya. Setelah untanya siap, ia pergi untuk menyusul Rasulullah SAW sampai ia mendapati beliau sedang beristirahat di Tabuk.* [Tulisan berikutnya]

Dipetik dari tulisan Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan pada bukunya “Pendidikan Anak dalam Islam”.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Pilihlah Pasangan Berdasarkan Keturunan dan Kemuliaan (1)

Pilihlah Pasangan Berdasarkan Keturunan dan Kemuliaan (1)

Seberapa Banyak Waktu Kita Bersama Orangtua? (1)

Seberapa Banyak Waktu Kita Bersama Orangtua? (1)

Meredakan Kemarahan Suami (3)

Meredakan Kemarahan Suami (3)

Hilangnya Kecemburuan Pertanda Matinya Kejantanan

Hilangnya Kecemburuan Pertanda Matinya Kejantanan

Tarbiyah bagi Istri Membentuk Keluarga Sakinah (1)

Tarbiyah bagi Istri Membentuk Keluarga Sakinah (1)

Baca Juga

Berita Lainnya