Ahad, 14 Februari 2021 / 2 Rajab 1442 H

Salam dari Salim

Mengemudi Hati di Jalan Lurus (2)

Bagikan:

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Salim A. Fillah

Lalu kehidupan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang bersamanya yang dicahayi wahyu dan menjadi bagian cerita, menggenapkan kisah jalan lurus itu untuk kita.

Adalah Rasulullah memerah wajahnya pada suatu hari, ketika beliau bangkit dari berbaring berbantal surban di dekat Ka’bah. Adalah Khabbab ibn Al Art; lelaki pandai besi yang kerap disiksa Abu Jahl dengan diikat pada selongsong logam dan dipanggang di atas bara peleleh besi; hari itu menghadap dan berbisik. “Ya Rasulallah”, demikian lirih dia berkata, seakan masih merasakan bagaimana punggungnya melepuh lalu pecah, dan arang penyiksa terpadam oleh tetesan cairan luka bakarnya,

“Tidakkah engkau berdoa atau menolong kami?”

Di antara kedua alis bertaut junjungannya, ada pembuluh yang kian membiru. Itu pertanda bahwa manusia yang paling pengasih ini marah karena Rabbnya. “Demi Allah”, ujar beliau bergetar, “Orang-orang sebelum kalian ada yang disisir dengan sikat besi hingga terpisah daging dari tulangnya, ada yang digergaji tubuhnya hingga terbelah badannya; tapi itu semua tak memalingkan mereka dari ‘La ialaha illallah; tiada sesembahan yang benar selain Allah..”

Khabbab sama sekali tidak bersalah ketika bertanya. Khabbab sungguh harus difahami kerisauannya. Khabbab telah mengorbankan seluruh dirinya; dengan sakit dan luka, dengan disiksa dan dinista, demi risalah yang dibawa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tetapi demikianlah Sang Nabi hendak mengajarkan padanya dan kepada kita, apa makna jalan lurus.

وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

“Dan sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabb kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.” (QS Maryam [19]: 36)

Jalan lurus itu diikat oleh satu hakikat. Yakni beribadah hanya kepada Allah satu-satunya, tiada sekutu bagiNya. Bahwa di dalamnya ada nestapa dan derita, ia hanya penggenap bagi kebersamaan dan cinta. Bahwa di dalamnya ada kehilangan dan duka, ia hanya penguat bagi sikap syukur dan menerima. Bahwa di dalamnya ada pedih dan siksa, ia hanya penyempurna bagi rasa nikmat dan mulia.

“Demi Allah, Dia pasti akan menyempurnakan urusan ini”, demikian Sang Nabi melanjutkan sabdanya pada Khabbab, kini dengan senyum yang bercahaya, “Hingga seseorang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut dan tiada yang ditakutinya selain Allah. Tetapi kalian tergesa-gesa.”

***

“Saat kita bicara tentang Islam”, demikian Dr. ‘Abdul Karim Az Zaidan dalam salah satu pengantar kitabnya, Al Mustafad min Qashashil Quran, “Yang tergambar paling mula-mula adalah Fiqh. Ini tak salah. Sebab bukan fiqh itu tak baik, bukan fiqh itu tak penting, bukan fiqh itu tak bermanfaat. Fiqh adalah panduan bagi kita untuk melangkah menapaki dunia hingga ke pintu akhirat. Dengan fiqh, hidup kita terbimbing dan terarah, tergamit dan terjaga. Tetapi kita harus mencatat satu hal; fiqh hanya akan jadi jasad kosong dan kerangka mati, jika tak dihidupkan dengan ruh ketaatan.”

Jadi bagaimana menghadirkan ruh itu bagi tiap ‘amalan kita?

Al Quran menjawab dengan susunan isinya yang menakjubkan. Syaikh ‘Abdul Wahhab Khalaf menghitung bahwa ayat hukum dalam Al Quran tak lebih dari 150 buah. Pun, Ahmad Amin menyatakan hanya sekitar 200 ayat saja. Artinya, yang menempati bagian terbesar muatan Kalamullah ini justru bukanlah fiqh, melainkan ceita.

Dari Sa’id ibn Jubair, dari Ibn ‘Abbas, beliau menyatakan, “Al Quran ini, 6000 ayatnya adalah kisah, 600 ayatnya berupa tanda kebesaran Allah, 60 ayatnya adalah aturan mu’amalah, dan 6 ayatnya berisi hukum-hukum hudud.” Atsar ini yang mungkin secara keliru sering disalahfahami untuk dijumlahkan, sehingga dikatakan jumlah ayat Al Quran ada 6666. Sedangkan dalam riwayat ini dapat saja satu ayat berisi irisan lebih dari 1 kandungan, sehingga menurut perhitungan para ‘ulama jumlahnya sekira 6236.

Maka semua ulama sepakat bahwa bagian terbesar dari kandungan Al Quran adalah kisah. Ialah kisah yang menjadi penjelasan bagi kita tentang jalan yang lurus. Kisah yang menjadi petunjuk bagi kita untuk meniti jalan yang lempang. Kisah yang menjadi pembeda bagi kita untuk memisahkan jalan yang sahih dari jalan sesat. Kisah yang menjadi kabar gembira dan peringatan untuk teguh di jalan Kisah yang menjadi cahaya, ketika mata batin kita terkaburkan debu yang hinggap di jalan kebenaran. Kisah yang menjadi penyembuh luka-luka, kala hati kita dirancah duri di jalan kebajikan.* (bersambung)

twitter: @Salimafillah

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Setia dan Berlepas Diri

Setia dan Berlepas Diri

Rumah Sejati Kita

Rumah Sejati Kita

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara [2]

Islam dan Syiar Dakwah Nusantara [2]

Mengemudi Hati di Jalan Lurus (3)

Mengemudi Hati di Jalan Lurus (3)

Ayah  dan Ibu Kekasihku

Ayah dan Ibu Kekasihku

Baca Juga

Berita Lainnya