Senin, 5 Juli 2021 / 26 Zulqa'dah 1442 H

Meminang Surga

Telah Tibakah Kita di Zaman Fitnah?

Bagikan:

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

 

Hidayatullah.com | BEBERAPA bulan, beberapa pekan dan terutama beberapa hari terakhir ini ada fenomena yang semakin perlu kita menajamkan bashirah kita; mata hati yang berpijak di atas hujjah yang kuat dan lurus. Hari-hari yang semakin dekat, kematian para ulama yang sungguh-sungguh faqih seperti kuda berpacu saling susul-menyusul. Maka ini semua perlu menjadi perhatian kita, apa peringatan yang ada di baliknya, dan selanjutnya apa yang perlu kita lakukan.

Kematian itu merupakan konsekuensi kehidupan. Setiap jiwa akan mati. Tetapi ada saat ketika kematian itu bukan sekedar peristiwa biasa. Kematian para ulama begitu beruntun, susul-menyusul dalam waktu yang berdekatan. Maka sesiapa yang mengenali dan memahami tanda-tandanya, ia dapat bergegas kepada yang penting dan perlu. Senantiasa ada kabar gembira di balik segala musibah dan bencana. Tetapi kabar gembira itu tidak serta-merta akan kita raih.

Tidak setiap musibah itu sama keadaannya. Tetapi setiap musibah itu menguji orang-orang yang beriman. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya musibah (mengujinya).” (HR. Bukhari dan Ahmad).

Apa yang kita perlukan? Ilmu. Bukan sekedar menata pikiran dan membentuk persepsi karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ menuntunkan kepada kita untuk senantiasa berdo’a agar dijauhkan dari salah persepsi; mengira al-haq sebagai al-bathil atau sebaliknya mempersepsi al-bathil sebagai al-haq. Itu sebabnya, kita perlu berjuang dengan sungguh-sungguh untuk membuang cara berpikir positif dan berusaha menegakkan cara berpikir yang lurus.

Ada yang perlu kita cermati, di hari-hari ketika kematian ulama saling susul-menyusul. Ada hadis yang harus semakin kita renungi, karena rasa-rasanya semakin lengkap tanda-tandanya. Ini bukan untuk bersikap pesimis, tetapi sebagai pegangan agar dapat menentukan sikap dengan tepat. Sebagaimana jika kita menghayati surat Al-A’raaf ayat 96 – 99, rasanya dari tahun ke tahun kejadian demi kejadian itu memberi pelajaran betapa banyak yang menghabiskan bulan Ramadhan tanpa ada jejak taqwa dalam diri mereka, lalu Allah Ta’ala timpakan bencana dalam bentuk azab.

Pandemi —yang ini bukan perkara baru dan para ulama telah menulis kita tentang pandemi— ini memberi pelajaran kepada kita betapa pentingnya kita berbekal dengan sempurna, mengokohkan tiang-tiang peradaban dan yang paling dekat adalah keluarga kita; menata diri kita, sehingga dalam keadaan ini kita lebih sigap dan mampu melakukan adjustment maupun adaptasi. Ada proses yang berhubungan dengan hal-hal yang tampak zahir, semisal kemampuan yang majemuk, tetapi ada hal fundamental yang sangat perlu kita perhatikan, yakni diri kita, iman kita, ruhiyah kita.

Pelajaran lainnya adalah, ada hal-hal yang sangat mungkin terjadi tanpa kita perkIraqan sebelumnya; tak terduga, begitu besar pengaruhnya dan memenjarakan manusia di rumahnya sendiri, di kampungnya sendiri, di negerinya sendiri. Dan ini masih sangat ringan. Amat sangat ringan. Amat sangat ringan sekali jika kita mengingat berbagai peringatan yang ada dalam agama ini. Karena itulah, kita perlu berusaha memahami, mawas diri dan merenungi apakah kiranya yang sedang terjadi dan akan terjadi?

Berkenaan dengan kematian para ‘ulama yang mereka ini sungguh-sungguh ‘ulama, lalu digantikan oleh para juhala’ yang memakai jubah ‘ulama, mari kita ingat sejenak hadis berikut ini. Adakah ini sedang dan akan terjadi?

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ يَهْرَمُ فِيهَا الْكَبِيرُ وَيَرْبُو فِيهَا الصَّغِيرُ إِذَا تُرِكَ مِنْهَا شَيْءٌ قِيلَ تُرِكَتْ السُّنَّةُ؟

قَالُوا وَمَتَى ذَاكَ؟

قَالَ إِذَا ذَهَبَتْ عُلَمَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ جُهَلَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ وَالْتُمِسَتْ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ

“Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa fitnah yang di tengah-tengah fitnah tersebut orang dewasa menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia menjadikannya (menganggapnya) sebagai sunnah. Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, “Sunnah telah ditinggalkan?”

Mereka bertanya, “Kapan hal itu terjadi?”

 (Ibnu Mas’ud) menjawab, “Apabila para ulama kalian telah pergi (wafat), para juhala’ (orang yang sangat bodoh dalam agama tetapi berlagak ulama) kalian banyak; pembaca Al-Qur’an (penghafal Al-Qur’an) dari kalian banyak, tetapi fuqaha kalian sedikit; umara’ kalian banyak, tetapi orang-orang yang amanah di antara kalian sedikit; kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan (orang bersungguh-sungguh) mendalami agama bukan untuk (kepentingan) agama.” (HR. Ad-Darimi dan Al-Hakim).

Apakah yang dimaksud dengan fitnah? Banyak maknanya. Berkaitan dengan hadis ini, yang dimaksud dengan fitnah adalah segala sesuatu yang merusak dan dibenci oleh agama ini, tetapi disangka sebagai sunnah. Manusia mengambil al-matsnah, semisal dari Law of Attraction atau Law of Projection atau yang lainnya lagi, lalu diracik seolah ia merupakan ‘amalan sunnah. Bahkan bukan hanya pada ‘amalan. Selanjutnya ia akan sampai kepada wilayah ‘aqidah sehingga mereka menyangka mengimani agama ini, padahal sedang mencampakkan dan menjauhinya.

Apakah tidak ada penghafal Al-Qur’an yang faqih di masa itu? Ada, tetapi sangat sedikit dan semakin sedikit. Apakah tidak ada umara kalian yang amanah saat itu? Ada, tetapi semakin sulit ditemukan dan mereka kian terancam keberadaannya sehingga untuk menegakkan amanah itu perlu kecerdasan, keberanian dan kesanggupan menghadapi tekanan yang luar biasa.

Apakah tidak ada yang melakukan ‘amal akhirat demi meraih kemuliaan di akhirat? Ada, tetapi ketika itu manusia berlomba-lomba mengejar dunia dengan ‘amalan akhirat; banyak yang ke sana kemari untuk mengajarkan ‘amal-‘amal akhirat maupun ‘amalan yang disangka sebagai ‘amalan yang shahih, padahal ia justru bagian dari fitnah syubhat, demi meraih dunia. Di masa itu pula akan semakin banyak penghafal Al-Qur’an yang dimurkai Allah Ta’ala. Pada dirinya ada hafalan Al-Qur’an, tetapi mereka sibuk mendatangi pintu-pintu penguasa untuk memperoleh remah-remah dunia. Bukan untuk menasehatinya. Mereka hanya memperdengarkan lantunan suaranya, berlomba-lomba mengindah-indahkan lantunannya, tetapi keluh dalam menegakkan kebenaran.

Dari Abu Hurairah radhiyaLlahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ القُرَاءِ إِلَى اللهِ تَعَالَى الَّذِيْنَ يَزُوْرُوْنَ الْأُمَرَاءَ

“Sesungguhnya qurra’ (penghafal Al-Qur’an) yang paling dibenci Allah ialah yang mendatangi penguasa.” (HR. Ibnu Majah).

Yang dimaksud dengan qurra’ adalah para ulama. Istilah ini asalnya merujuk pada para penghafal Al-Qur’an.

Alangkah berbedanya dengan masa yang dekat dengan kehidupan Rasulullah ﷺ yang di masa itu manusia berlomba melakukan amal; baik amalan dunia maupun akhirat, semata demi memperoleh ridha Allah ‘Azza wa Jalla.

Apa di masa itu tidak ada fuqaha’-nya? Ada. Tetapi sebagian besar orang yang tafaqquh fiddien mempelajari agama dengan sungguh-sungguh bukan untuk kemuliaan agama, melainkan untuk meraih dunia. Apakah tidak ada fuqaha yang sungguh-sungguh menegakkan agama ini? Ada, tetapi sangat sedikit. Maka perhatikanlah darimana engkau mengambil ilmu agama ini.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ، الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

Apa yang terjadi jika kita serampangan dalam mengambil ilmu? Ia adalah jantung. Jika ia rusak, maka ‘amalannya rusak, hidupnya rusak, bisnisnya rusak dan langkah-langkahnya akan menyelisihi Al-Islam yang hanif ini. Segala sesuatu yang menyelisihi Al-Islam, pasti akan menyelisihi al-fithrah. Ini sekaligus menegaskan bahwa al-fithrah itu tidak lain adalah al-Islam. Ada banyak bukti yang menguatkan bahwa segala hal yang menyelisihi al-Islam, secara pasti akan memalingkan manusia dari al-fithrah. Maka tegaknya fithrah pada diri manusia dan keterjagaannya berkait langsung dengan teguhnya agama pada diri seseorang.

Keberlangsungan fithrah manusia itu sangat penting dan ini diwajibkan oleh tabi’at penciptaan manusia. Bahkan berkaitan dengan kesuksesan, kejayaan atau bahkan kerusakan maupun kerugian manusia, sangat berkait dengan keterjagaan fithrah manusia. Maka menjaga –bukan menemukan, apalagi mengembangkan—fithrah merupakan jalan untuk membawa kepada kebaikan, kemuliaan dan kejayaan. Lalai terhadapnya dan memalingkan dari maknanya akan membawa kepada kerugian dan kegagalan.

Bentuk kegagalan itu adalah berbagai gangguan maupun kekeruhan di tingkat individu maupun masyarakat. Wujudnya bisa berubah berbagai penyakit yang buruk, hal-hal jelek yang nantinya tertampakkan dengan gambling, baik berupa penyimpangan yang jelas maupun keburukan yang bertumpuk-tumpuk. Jika ini terjadi, manusia menjalani umurnya ini dengan keruh (مكدورا) atau bahkan umurnya mankud (منكودا). Yang dimaksud dengan mankud atau terganggu adalah secara pasti semakin sulit mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. Keadaan paling parah dari umur yang mankud adalah semakin sulit dan semakin tidak cocok dengan agama ini sehingga menjadi penentangnya. Ia sangat tidak nyaman dengan ajaran-ajaran agama ini, di hampir setiap bagiannya, meskipun secara formal masih tampak sebagai muslim.

Jadi umur yang mankud bukan berarti hilangnya kekayaan dan kesehatan. Tetapi hilangnya nikmat, kecocokan dan kenyamanan terhadap agama ini, meskipun dia masih muslim, dan tercabutnya barakah dari kehidupan beserta segala urusan dalam hidupnya. Na’udzubiLlahi min dzaalik.*

Penulis buku-buku parenting, mengkaji tentang remaja dalam psikologi dan Islam, menekuni kajian tentang fithrah menurut Islam. Facebok Mohammad Fauzil Adhim

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Ketika Duduk Lebih Baik Daripada Berdiri [2]

Ketika Duduk Lebih Baik Daripada Berdiri [2]

Dulu Dihindari Sekarang Digemari

Dulu Dihindari Sekarang Digemari

Benar Dulu Baru Manfaat

Benar Dulu Baru Manfaat

50 Tahun Mendatang Anak Kita…

50 Tahun Mendatang Anak Kita…

Kepada-Nya Kita Memohon Ampun

Kepada-Nya Kita Memohon Ampun

Baca Juga

Berita Lainnya