Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Meminang Surga

Di Dunia Kita Meminta, Di Akhirat Kita Berharap Nikmat

ilustrasi
Bagikan:

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

KEMANAKAH kita akan melangkah? Sejauh apa pun perjalanan hidup kita, pada akhirnya kematian juga yang akan kita temui. Jika ada kepedihan di dunia ini, maka pembatasnya adalah kematian; batas akhir penderitaan ataukah batas menuju penderitaan yang jauh lebih pedih. Semenderita apa pun seseorang di dunia, jika tak selamat di akhirat, maka pada hakekatnya dunia itulah surga baginya. Sebaliknya sebesar apa pun kenikmatan yang kita reguk di dunia ini, maka kematianlah penutupnya bersebab nikmat di dunia itu sama sekali tak bernilai dibanding nikmat di akhirat. Tetapi bagi yang akhiratnya adalah musibah abadi, maka kematian ada penutup nikmatnya di dunia.

Jika seseorang menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesarnya, ia perlu berbenah agar kehidupan dunianya semakin berkibar. Ia perlu memperbaiki kariernya. Begitu pun tatkala kita menginginkan kehidupan akhirat, kita perlu perbaiki agama kita. Hanya saja, ada orang yang inginnya memperbaiki agama dengan memperbanyak ibadah, tetapi ia menempuh jalan yang salah sehingga tidak membaguskan agama, justru sebaliknya memburukkannya. Ia menyangka mengerjakan yang maslahat, padahal memperbuat yang syubhat.

Alangkah jauh jarak antara pengetahuan dan keyakinan. Bacaan sudah banyak, pemahaman sudah baik, tetapi hati kadang tak tersentuh olehnya. Sungguh, sangat berbeda antara mengetahui kebaikan dengan mengimaninya sepenuh hati sehingga membekas dalam hidup sehari-hari. Pengetahuan tentang agama ini memang perlu kita cari agar mengilmui dengan benar, tetapi itu saja tidak cukup. Kita perlu berupaya menajamkan hati kita agar lebih mudah tergerakkan oleh agama dan menjadi tempat bersemayamnya hidayah. Kita memohon kepada Penggenggam Hati: Allah ‘Azza wa Jalla untuk membaguskan iman kita dan menganugerahi rasa takut kepada-Nya. Tentang ini, telah kita perbincangkan dalam tulisan bertajuk Selarik Pinta Kepada Allah Ta’ala.

Kepada Allah Yang Maha Perkasa, kita memohon sepenuh pinta kepada-Nya dengan sebaik-baik permohonan. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِى دِينِىَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِى وَأَصْلِحْ لِى دُنْيَاىَ الَّتِى فِيهَا مَعَاشِى وَأَصْلِحْ لِى آخِرَتِى الَّتِى فِيهَا مَعَادِى وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِى فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِى مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku. Dan perbaikilah duniaku untukku, yang ia menjadi tempat hidupku. Serta perbaikilah akhiratku yang ia menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai kebebasan.” (HR. Muslim).

Ada empat hal penting yang kita mohonkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yang pertama merupakan pokok segala urusan, yakni agama. Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki agama kita untuk kita. Inilah yang menjadi benteng penjaga terpenting untuk segala urusan kita, baik di dunia maupun akhirat. Tidak ada jalan keselamatan di akhirat, bahkan ketika kita mengerjakan urusan dunia, kecuali pada agama. Maka, kita memohon kepada Allah Ta’ala untuk memperbaiki agama kita untuk kita, yakni semakin baiknya urusan agama kita benar-benar membawa barakah bagi diri kita. Bukan hanya tampak semakin baik, tetapi sesungguhnya bukan ketaatan.

Kepada-Nya kita meminta seraya berusaha berbenah memperbaiki diri sebagai bentuk kesungguhan. Semoga Allah Ta’ala mengabulkan dan menyempurnakan upaya kita.

Kepada Allah Ta’ala kita juga memohon untuk memperbaiki dunia kita tempat kita hidup saat ini. Alangkah rugi mereka yang berlomba-lomba mengerjakan amal akhirat demi meraih dunia yang hanya sebentar ini. Di dunia mereka mungkin mendapatkan apa yang diminta, tetapi di akhirat tidak mendapatkan kebaikan sama sekali. Ini bukan berarti kita mengabaikan kehidupan kita di dunia. Di sini kita tinggal. Di sini kita hidup dan sepatutnya menjadikannya sebagai ladang akhirat. Maka kita meminta kepada Allah Ta’ala agar memperbaiki dunia kita yang dengannya kita berusaha dengan sungguh-sungguh menjadikan sebagai ladang akhirat. Semoga kita mampu bertekun-tekun mengerjakan amal dunia untuk meraih akhirat, dan melakukan amal akhirat juga untuk kehidupan akhirat kita.

Selanjutnya kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla perbaikan urusan akhirat kita. Sebesar apa pun rumah kita, semegah apa pun tempat tinggal kita, pada akhirnya kita akan kembali ke kampung akhirat. Sebaik apa pun karier kita, ada saatnya untuk berhenti. Perjalanan hidup ini terus melaju ke masa depan dan tak ada pilihan untuk surut ke masa kecil atau batal dilahirkan. Maka pilihan kita hanyalah menyiapkan diri pulang ke kampung akhirat. Jika amal shalih kita tak dapat diharap sama sekali, semoga tangisan kita yang menghiba ampunan-Nya dapat menjadi asbab Allah Ta’ala berikan rahmat berupa surga-Nya.

Tetapi bagaimana kita akan memohon ampun kepada Allah Ta’ala atas dosa yang bertumpuk ini jika kita masih saja lalai dengan urusan akhirat? Maka kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta perbaikan urusan akhirat kita.

Dan penutup atas segala perkara di dunia ini adalah kematian. Ini dapat menjadi pembebas dari segala kesulitan untuk menuju nikmat kubur dan nikmat akhirat, dapat pula menjadi awal musibah yang tiada henti. Kepada Allah Ta’ala kita memohon agar kematian kita kelak adalah pembebasan dari segala kepayahan di dunia.*

Mohammad Fauzil Adhim adalah penulis buku-buku parenting. Twitter: @kupinang

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ya Allah, Sejukkan Hati Kami terhadap Sesama Muslim

Ya Allah, Sejukkan Hati Kami terhadap Sesama Muslim

Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari

Kehormatan Jangan Dijatuhkan, Kesalahan Jangan Dicari-cari

Benar Dulu Baru Manfaat

Benar Dulu Baru Manfaat

Seperti Apa Kelas Anak Kita? [1]

Seperti Apa Kelas Anak Kita? [1]

Kepada-Nya Kita Memohon Ampun

Kepada-Nya Kita Memohon Ampun

Baca Juga

Berita Lainnya