Ahad, 14 Februari 2021 / 3 Rajab 1442 H

Ilahiyah Finance

The White Man

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

DIKISAHKAN dalam buku The White Man pada suatu masa di awal abad lalu. Seorang kepala suku Tuiavii dari Pacific Selatan berkesempatan jalan-jalan ke Eropa, dia kemudian mencatat dan menceritakan segala macam yang dilihat dan dialami selama di Eropa  kepada masyarakat sukunya. Dia bercerita tentang profesi misalnya, menurut sang kepala suku ini seorang professional adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai dia sendiri bosan melakukannya.

Kemudian ketika dia melihat kebiasaan yang aneh dari masyarakat kulit putih yang selalu membaca surat kabar di pagi hari, apa catatan dia tentang ini ? Dia menggambarkan surat kabar sebagai sekumpulan kertas yang dibaca semua orang di pagi hari – agar semua orang tahu apa yang seharusnya dipikirkan, dan agar semua orang berpikir sama.

Meskipun observasi dari kepala suku tersebut terkesan ndeso, tetapi coba kita pikirkan dalam-dalam. Bukankah dia sebenarnya telah memotret sesuatu yang sebenarnya sangat jelas, tetapi kita malah tidak melihatnya. Tanyakan kepada para professional, apa yang mereka lakukan sepanjang mayoritas usianya – bukankan mereka memang melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai (kebanyakan) mereka sendiri bosan melakukannya?

Lantas perhatikan apa yang tersaji di surat kabar sehari-hari, juga dalam jaman sekarang yang terjadi di televisi dan berbagai media lainnya. Bukankan mereka berusaha menggiring opini publik – agar berpikir sama kearah yang mereka kehendaki?

Masih segar di ingatan kita kejadian tahun lalu di negeri ini, bagaimana media televisi bisa memberitakan sesuatu yang bertolak belakang satu sama lain tentang hasil pemilihan umum presiden misalnya. Tidak mungkin keduanya benar, pasti salah satu atau keduanya salah.

Maka barangkali kita juga perlu observasi yang ndeso seperti observasinya kepala suku Tuiavii tersebut untuk perbagai problem masyarakat modern sekarang ini – agar kita lebih mudah memahami duduk persoalannya sekaligus mencari solusinya yang secara fundamental – out of the box. Saya bayangkan misalnya ketika kepala suku tersebut melihat hal-hal yang tidak mudah terpecahkan oleh orang-orang modern penduduk Jabodetabek berikut :

Dia berdiri di pinggir rel kereta komuter Jabodetabek, dia melihat kereta penuh orang menuju Jakarta – dan kereta yang tidak kalah penuh juga meninggalkan Jakarta. Dia berfikir : “Betapa bingungnya manusia Jabodetabek, sebenarnya mereka ingin ke Jakarta atau ingin meninggalkan Jakarta ?”

Dia naik ke gedung tinggi di pusat kota Jakarta kemudian melihat ke bawah, dilihatnya kendaraan penuh dan macet ke segala penjuru. Yang di utara ingin ke selatan, yang di selatan ingin ke utara, yang di barat ingin ke timur dan yang di timur ingin ke barat. Ini menguatkan pendapatnya: “ Orang-orang di kota besar seperti Jakarta memang sudah sangat bingung, mereka bahkan tidak tidak tahu apa yang diingini, mereka sebenarnya ingin di mana ? di barat, di utara,di timur atau di selatan?”

Bayangkan sekarang kalau seandainya semua pihak bisa sejenak berpikir ndeso seperti kepala suku Tuiavii ini, permasalahan kemacetan Jakarta yang kini merambah ke seluruh Jabodetabek  – bisa saja terselesaikan. Yang suka tinggal di utara, tinggal di utara dan bekerja di utara. Yang suka tinggal di selatan, tinggal dan bekerja di selatan – begitu seterusnya.

Bila orang memilih zone tempat tinggal sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya, pasti arus lalu lintas turun drastis. Tidak mungkin dilakukan karena sifat pekerjaan? Di jaman teknologi ini hanya sangat sedikit pekerjaan yang sesungguhnya masih memerlukan kehadiran fisik di satu tempat. File dengan mudah dipertukarkan, dan bahkan virtual meeting yang perlu face to face-pun dengan mudah dan murah bisa dilakukan kini dengan teleconference dan sejenisnya.

Memang mungkin perlu sedikit effort untuk bisa membiasakannya, tetapi bayangkan reward-nya. Para pekerja tidak perlu membuang waktu berjam-jam di kendaraan setiap hari di sepanjang usia produktifnya!, bahan bakar tidak perlu terbuang begitu banyak untuk kendaraan-kendaraan yang menyala mesinnya tetapi dalam kondisi nyaris diam dan tidak bergerak. Biaya kesehatan akan turun kerena turunnya exposure kerusakan lingkungan, manusia akan lebih produktif dan akan lebih banyak quality time bagi keluarga-keluarga yang bisa dinikmati.

Barangkali inilah solusinya di semua persoalan yang kita mentok tidak bisa mengatasinya, kita tinggalkan sejenak sudut pandang kita selama ini – kita ‘pinjam’ sudut pandang yang berbeda dari para ‘kepala suku Tuiavii’ – untuk bisa melihat sesuatu yang sebenarnya sangat jelas tetapi kita tidak bisa melihatnya dengan kacamata kita sendiri. Kita juga adalah para professional white man – yang menurut tafsir kepala suku Tuiavii adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang – sampai kita sendiri sebenarnya bosan tetapi tidak menyadarinya!*

Penulis Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tiga Lelaki Tua Bernama Sukses, Makmur dan Cinta…

Tiga Lelaki Tua Bernama Sukses, Makmur dan Cinta…

Arti Kemakmuran di Sistem Dajjal

Arti Kemakmuran di Sistem Dajjal

La Dharara Wa La Dhirara: Agar Harimau Tidak Menerkam Kita Dari Belakang…

La Dharara Wa La Dhirara: Agar Harimau Tidak Menerkam Kita Dari Belakang…

Bertebaranlah di Muka Bumi…

Bertebaranlah di Muka Bumi…

Zero Hunger

Zero Hunger

Baca Juga

Berita Lainnya