Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Belantara Jaman

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

KETIKA generasi orangtua kita dahulu menyekolahkan kita untuk menjadi dokter, insinyur dlsb pasti belum terbayang oleh mereka jenis-jenis profesi atau pekerjaan yang ada di jaman kita sekarang.

Jangankan generasi mereka, generasi sekarang saja kalau mendengar ada profesi yang namanya blogger misalnya – masih banyak yang belum paham apa yang sesungguhnya dilakukan para blogger ini. Maka sebagai orangtua, kini kita harus menyiapkan agar anak-anak kita siap menghadapi jaman yang bahkan belum terbayang di kita akan seperti apa belantara jaman mereka nanti!

Dunia berubah dengan sangat-sangat cepat, jenis-jenis  profesi-pun berubah secara drastis. Hanya dalam dua atau tiga generasi di Amerika (sekitar 150 tahun), pekerjaan petani yang dahulunya dilakukan oleh 90 % penduduk, kini tinggal 2 %-nya saja yang tetap bekerja di sektor ini.

Berbagai profesi yang lain seperti dokter, insinyur, akuntan dlsb. kini harus terus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi agar tidak tergusur oleh solusi teknologi sebagaimana tergusurnya sebagian besar profesi para petani di negeri maju tersebut di atas.

Ada setidaknya lima perubahan global yang akan membentuk perubahan drastis pada lingkungan kehidupan di masa depan itu.

Pertama adalah konektivitas global yang membuat manusia semakin tidak terpisahkan satu sama lain dalam hal informasi. Informasi yang muncul di suatu negara , langsung mempengaruhi belahan dunia lain. Ketika di suatu pojok dunia terbit sebuah publikasi ngawur dan menyesatkan namun dikemas dengan cara yang menarik misalnya, maka jutaan orang di berbagai belahan dunia lain sudah bisa tersesat di belantaranya.

Kedua munculnya jaringan komunikasi global yang semakin kompetitif, ini menjadikan dunia seperti permukaan air yang tidak berbatas – sehingga air terus mengalir ke tempat yang rendah meninggalkan tempat asalnya. Ketika sekelompok anak muda membuat game Angry Birds misalnya, satu game ini saja membuang sekitar US$ 1.5 milyar waktu tenaga kerja di Amerika – karena mereka main game di jam kerjanya!

Ketiga munculnya ketidak seimbangan antara pertumbuhan penduduk dunia dengan ketersediaan sarana penunjang kehidupannya. Ketidak seimbangan ini disebabkan oleh keserakahan sebagian kecil penduduk yang berkuasa secara ekonomi atau politik, dalam pengelolaan sumber-sumber alam yang ada. Akibatnya sumber-sumber kehidupan terkonsentrasi pada segelintir pihak, sementara bagian terbesarnya manusia berjuang keras untuk sekedar bisa terus bertahan hidup.

Keempat adalah munculnya teknologi-teknologi baru – yang bagi penguasa teknologi tersebut akan menjadi alat untuk menguasai dunia yang akan datang, sebaliknya bagi yang ketinggalan dalam hal teknologi ini – akan semakin tereksploitasi. Teknologi material, bioteknologi, teknologi nano dlsb. barulah sebagian saja dari teknologi-teknologi yang akan menjadi kartu persaingan baru pada jamannya tersebut.

Kelima adalah perubahan-perubahan yang terkait dengan ecosystem lingkungan hidup, tidak terbatas hanya pada yang di bumi tetapi juga yang di atmosfir bumi. Manusia yang sudah berfikir mengendalikan cuaca dengan geo engineering dan sejenisnya, bila tanpa arahan yang benar mereka bisa berbuat kerusakan yang tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya. Perang dengan korban puluhan ribu orang sudah banyak, ratusan ribu orang  sudah sangat banyak – tetapi perubahan iklim yang salah karena perbuatan manusia bisa membunuh jutaan orang bahkan bisa milyaran!

Lantas bagaimana kita hidup di jaman itu? Bisa jadi kita tidak sempat mengalami jaman itu – tetapi kita harus menyiapkan generasi anak dan cucu-cucu kita untuk siap menghadapi jaman seperti itu. Lantas bagaimana cara menyiapkannya?

Yang terbaik tentu mengikuti petunjuk dari Sang Pencipta – yang menciptakan kita dan alam semesta ini dari awal. PetunjukNya dijamin valid sejak jaman Nabi Adam ‘Alaihi Salam diturunkan ke dunia, hingga manusia beriman yang terakhir yang ada di bumi menjelang akhir jaman nanti.

Petunjuk itu antara lain diungkapkan oleh Allah dalam dua ayat yang sangat mirip redaksinya berikut :

قُلْنَا اهْبِطُواْ مِنْهَا جَمِيعاً فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.” (QS Al-Baqarah [2]:38)

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS: Thaha [20]:123)

Hanya dengan mengikuti petunjukNya, kita bisa hidup tanpa ada kekhawatiran. Tidak ada kesedihan, tidak sesat dan tidak celaka. Ini berlaku di jaman Nabi Adam ‘Alihi Salam, berlaku di jaman kita umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sekarang hingga jaman anak cucu kita nanti. Maka dunia bisa terus berubah, jalan untuk menghadapinya tetap sama – yaitu jalan-yang ditunjukkan olehNya.

Coba kita bayangkan kondisi dunia yang dihadapi Adam ketika beliau diturunkan di belantara India ribuan tahun yang lalu. Untuk bisa menemukan pasangannya Siti Hawa yang turun di Jeddah saja sudah lebih sulit dari mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tidak ada peta saat itu, tidak ada hanphone apalagi GPS – tetapi bagaimana dua insan yang berjarak tempuh sekitar 7,000 km (karena harus menempuh jalur memutar) itu bisa bertemu? Dengan petunjuk Allah – itulah jawabannya.

Kita kini juga hidup dalam belantara, tetapi belantaranya saja yang berbeda – kita hidup di belantara informasi. Dari berita yang menyebar lewat twitter saja yang melilit dunia seperti visualisasi disamping – kita sudah sulit memilih mana yang benar dan mana yang tidak. Ghibah yang di Al-Qur’an  diibaratkan seperti memakan daging saudaranya yang sudah mati ( QS49:12 ), kini dalam bilangan detik bisa menyebar ke seluruh dunia – seperti rame-rame keroyokan memakan daging saudaranya yang sudah mati ! Maka sangat-sangat berhati-hatilah kita men-‘cuit’ bila menyangkut kabar tentang saudara kita.

Maka di belantara era informasi inipun petunjuk kita tetap sama, yaitu petunjuk dariNya yang menjamin kita tidak akan celaka, tidak akan tersesat, bersedih dan kawatir. Bila kita siapkan anak-anak dan cucu kita untuk menguasai petunjukNya tersebut, insyaAllah mereka akan siap menghadapi belantara apapun di jamannya masing-masing. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dan Jin-pun Tahu Solusinya…

Dan Jin-pun Tahu Solusinya…

The Red Hot Chili [2]

The Red Hot Chili [2]

Bola Karet dan Bola Kaca

Bola Karet dan Bola Kaca

Integrasi Wakaf Dalam Ecosystem Ekonomi

Integrasi Wakaf Dalam Ecosystem Ekonomi

Membangun Usaha, Seperti Membangun Kapal Nabi Nuh

Membangun Usaha, Seperti Membangun Kapal Nabi Nuh

Baca Juga

Berita Lainnya