Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Auxology

Bagikan:

oleh: Muhaimin Iqbal

DALAM suatu arisan keluarga besar yang komplit, saya dikejutkan oleh kehadiran sejumlah ponakan laki-laki saya yang sangat tinggi-tinggi – di sekitar 185  cm-an. Ini mengejutkan karena data terakhir orang Indonesia menurut situsnya www.averageheight.co tinggi kita rata-rata hanya 158 cm atau 14 cm lebih rendah dari rata-rata tinggi laki-laki di seluruh dunia yang berada pada angka 172 cm. Menurut situs tersebut orang Indonesia memang yang paling pendek, sedangkan yang paling tinggi adalah orang Belanda yang mencapai rata-rata 183.8 cm. Tetapi fakta ini mestinya bisa diperbaiki hanya dalam satu generasi saja, bagaimana caranya?

Ada ilmu yang mempelajari secara khusus segala aspek yang terkait dengan pertumbuhan fisik manusia, ilmu ini disebut Auxology atau juga disebut Auxanology. Ini adalah ilmu multi disiplin yang terkait dengan ilmu kesehatan secara umum, science, nutrition, genetic, anthropology, ergonomics , economics, sociology, public policy, public health, psychology dlsb.

Menurut ilmu tersebut secara ringkas pertumbuhan fisik manusia dipengaruhi oleh dua hal yaitu factor internal – yaitu genetik, dan factor external seperti nutrisi, pemeliharaan kesehatan, ekonomi dlsb. Ilmu ini bisa menjelaskan mengapa keluarga besar yang memiliki rata-rata tinggi generasi sebelumnya hanya beberapa cm di atas rata-rata nasional yang 158 cm, bisa melahirkan generasi berikutnya yang memiliki tinggi di atas tinggi rata-rata bangsa yang tertinggi di dunia.

Dengan genetics yang sama, ponakan-ponakan saya tersebut tingginya sekitar 20 cm lebih tinggi dari rata-rata bapak-bapak mereka! Faktor apa yang paling dominan kiranya? Dugaan saya yang paling kuat adalah faktor nutrisi.

Generasi kami dahulu, mengalami masa pertumbuhan di desa – yang konsumsi utama makanannya adalah di karbohidrat. Konsumsi makanan yang berbasis protein nabati apalagi hewani sangat kurang. Padahal konsumsi protein inilah yang berperan utama dalam pertumbuhan fisik manusia.

Generasi anak-anak kami sudah tinggal di kota, yang konsumsi proteinnya meningkat – jauh dibandingkan yang kami konsumsi dahulu di masa pertumbuhan. Hal yang sama kemungkinan besar juga bisa Anda amati terhadap anak-anak dan ponakan-ponakan Anda.

Tidak sulit untuk menemukan anak-anak baru gede sekarang yang tingginya di atas rata-rata penduduk dunia – yang detilnya bisa Anda pelajari di situs yang saya quote tersebut. Anda bisa juga search dari berbagi sumber lain, kemungkinan datanya tidak jauh berbeda karena ujung dari sumber-sumber risetnya sebagian besar sama.

Sayangnya adalah anak-anak generasi yang tinggi-tinggi tersebut belum merata di seluruh negeri, sehingga ketika ditarik rata-rata nasionalnya – rata-rata kita masih paling pendek di dunia. Lantas apa yang bisa kita lakukan ? sepenting apakah sebenarnya tinggi badan rata-rata orang Indonesia ini perlu didongkrak di generasi mendatang?

Tinggi badan hanyalah salah satu symptoms atau gejala-gejala dari sejumlah masalah multi dimensi yang antara lain dirangkum dalam ilmu Auxology tersebut di atas. Menjadi sangat penting untuk pertumbuhan generasi mendatang karena symptom kurang tinggi tersebut bukan hanya melanda rata-rata laki-laki Indonesia.

Berdasarkan informasi di situs yang sama tersebut, rata-rata perempuan Indonesia tingginya 147 cm, sedangkan rata-rata dunianya adalah 160 cm. Artinya rata-rata wanita Indonesia-pun tingginya 13 cm lebih rendah dari rata-rata wanita dunia. Walhasil secara rata-rata manusia Indonesia perempuan dan laki-laki tngginya antara 13-14 cm lebih rendah dari rata-rata manusia di dunia untuk masing-masing jenisnya, laki-laki dibandingkang dengan laki-laki dan demikian juga perempuan dibandingkan perempuan.

Ini ibarat penyakit, tetapi semuanya jelas. Gejalanya jelas yaitu kurang tinggi, penyebabnya jelas yaitu diduga kuat kurang nutrisi khususnya protein dan solusinya-pun jelas yaitu tinggal ditambah asupan protein yang mencukupi. Yang terakhir ini jelas, tetapi tidak berarti mudah – karena sudah menjelang 70 tahun negeri ini merdeka ternyata masalah ini belum teratasi!

Maka saya menggunakan Auxology tersebut untuk mencoba menawarkan solusi ini. Bahwa untuk mengatasi kekurangan protein yang menyebabkan kita kurang tumbuh secara optimal tersebut harus diatasi dengan multidiscipline ilmu termasuk namun tidak terbatas pada ilmu ekonomi, public policy, sociology dlsb. Dan yang tidak kalah penting tentunya juga perbaikan dari sisi keimanan dan ketakwaan masyarakat – karena inilah kunci dari segala bentuk keberkahan atau kebaikan yang sangat banyak di muka bumi ini.

Untuk mudahnya dipahami bagaimana multidiscipline ilmu tersebut bekerja bersama-sama mengatasi masalah tinggi badan yang merupakan symptoms dari sejumlah penyakit/masalah tersebut, saya gunakan saja suatu studi kasus dari exercise yang hari-hari ini sedang kami kerjakan bersama mitra-mitra kami.

Seperti dalam sebuah science fiction di mana para astronom berburu planet yang menyerupai bumi untuk tinggal manusia masa depan, kami sedang mencari satu pulau dari belasan ribu pulau di Indonesia yang ideal untuk exercise praktek memakmurkan bumi yang terstruktur, sistematis dan massif (TSM). Karena markas kami – startup center lokasinya di Depok, maka referensi ‘bumi’ yang kami gunakan adalah kota Depok.

Hasilnya kami menemukan diantara belasan ribu pulau di Indonesia tersebut, ada satu pulau yang mendekati sempurna untuk exercise ini. Ada pulau yang luasannya mirip sekali dengan kota Depok yaitu di sekitar 200 km2, indahnya lagi pulau ini juga berjarak tempuh perjalanan kurang dari 2 jam dari lapangan terbang internasional terdekat!

Yang menjadikan pulau ini nyaris sempurna untuk latihan memakmurkan bumi secara TSM adalah karena kondisi pulau tersebut saat ini. Dengan luasan yang sama – kota Depok sudah dihuni lebih dari 1.7 juta jiwa, sementara pulau tersebut baru dihuni oleh sekitar 17,000 keluarga dengan total tidak lebih dari 50,000 jiwa.

Mengapa begitu sedikit penghuni pulau tersebut saat ini padahal begitu dekat dengan pulau yang sangat padat dan bahkan juga bandara internasional? Temuan kami sementara ini ada dua sebab utamanya yang sangat menarik, pertama kondisi fisik pulau yang memang sangat gersang. Kedua kondisi psikis masyarakat terdekat pulau, yaitu adanya mitos bahwa pulau tersebut adalah pulau yang angker!

Maka disinilah letak peran multidiscipline ilmu itu dibutuhkan. Di tengah begitu kekurangan protein-nya kita di Indonesia – yang menyebabkan kita 13-14 cm lebih pendek dari rata-rata penduduk dunia, ada contoh potensi solusi yang begitu dekat tetapi masih belum tergarap.

Dibutuhkan kebijakan public dari pemerintah daerah setempat atau bahkan dari pemerintah pusat – agar ada insentif bagi kita yang eager untuk memakmurkan bumi yang gersang. Minimal kalau tidak diberi insentif, tidak diurusi sekalipun tidak masalah – asal tidak ada yang ngrusuhi upaya-upaya semacam ini.

Dibutuhkan ilmu pertanian yang ultra modern – yaitu ilmu pertanian yang didasari petunjukNya – agar bumi yang gersang selama ini bisa segera menjadi ijo royo-royo, dalam kajian kami mestinya tidak butuh waktu tahunan untuk ini – waktu seusia kedelai atau kacang tanah (3-4 bulan)- pun sudah akan cukup untuk mulai menghijaukan bumi ini, bila segala resources yang dibutuhkan tersedia.

Dibutuhkan pendidikan keimanan yang kuat dan mendasar, agar masyarakat tidak dihantui oleh mitos yang tidak-tidak seperti bahwa suatu pulau itu angker dan sejenisnya. Yang ditugasi Allah untuk menjadi khalifah atau wakilNya di muka bumi dan untuk memakmurkannya adalah manusia, bukan malaikat apalagi jin. Jadi kalau toh memang ada jin, dedemit, genderuwo dan sebangsanya yang kini menghuni pulau tersebut – mereka tidak akan kuasa mengganggu keberadaan manusia yang akan memakmurkan bumi ini – bila manusianya adalah manusia-manusia yang beriman.

Kemudian tentu juga dibutuhkan segala macam tetek-bengek ilmu ekonomi untuk menggerakkan modal dan berbagai resources lainnya yang dibutuhkan untuk exercise besar seperti ini – maka inilah secara keseluruhan gambaran dari konsep Auxology tersebut.

Bila semuanya berjalan baik, model sekelas kota Depok tersebut tinggal di scale-up ke area sekelas Jawa Barat – baru  kemudian sekelas Indonesia. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa perubahan besar itu mestinya bisa dilakukan dalam waktu yang cepat dan tidak perlu lama.

Uswatun Hasanah kita telah memberi contoh, kota Yathrib yang tenggelam dalam kegelapan sosial ekonomi dan berbagai kegelapan lainnya selama berabad-abad – bisa dibalik 180 derajat dalam waktu kurang dari 10 tahun – menjadi kota peradaban yang utuh dan menerangi ke seluruh jazirah, apa rahasianya ? Rahasianya adalah ketika segala sesuatunya ditangani dengan mengikuti petunjuk beserta penjelasan dan pembedanya (QS 2 :185).

Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang berbeda – ujug-ujug rata-rata tinggi badan kita setinggi orang-orang Belanda misalnya – bila cara-cara memenuhi kebutuhan protein rakyat negeri ini sama dengan cara yang kita tempuh selama hampir 70 tahun ini. Kita harus menempuh cara yang berbeda untuk bisa memberikan hasil yang berbeda. Apalagi bila cara yang berbeda ini adalah berasal dari petunjukNya, insyaAllah kita akan bisa!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sukuk: Akses Modal untuk Si Kecil (Juga)

Sukuk: Akses Modal untuk Si Kecil (Juga)

Urusan Pangan Dahulu, Kini dan Nanti (II)

Urusan Pangan Dahulu, Kini dan Nanti (II)

There Is No Bad Potato Salad…

There Is No Bad Potato Salad…

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

Tahun Baru dengan Berlapang Dada

Ketika Lampu Tidak Menyala di Rumah Nabi

Ketika Lampu Tidak Menyala di Rumah Nabi

Baca Juga

Berita Lainnya