Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Seamless Life

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

KEBANYAKAN manusia jaman ini hidup sepotong-sepotong dengan  penuh sambungan di sana-sini, kadang sambungan itu dipaksakan nyambung meskipun tidak bisa sambung. Sambungan-sambungan itu bisa terjadi pada rentang aktifitas di usia yang sama, maupun di rentang usia yang berbeda. Bisakah kita membuat hidup kita seamless – hidup mulus tanpa sambungan atau tanpa kelim? InsyaAllah bisa bila kita menggunakan petunjuk yang benar.

Sebelum kita bicara tentang seamless life atau hidup mulus tanpa sambungan, saya berikan contoh realita hidup kita saat ini – hidup yang penuh sambungan disana-sini.  Hidup penuh sambungan di rentang usia yang sama misalnya adalah teman-teman yang masih harus bergelut dengan riba, riswah dan sejenisnya dalam pekerjaannya.

Ditempat-tempat mereka bekerja sudah ada masjid yang bagus, ada pengajian yang intensif tetapi setiap kali balik ke meja kerja yang dihadapinya adalah riba, riswah dan sejenisnya. Maka mereka sejatinya hidup di dua dunia yang berbeda yang berusaha disatukan, apa yang mereka kerjakan untuk mencari penghasilan atau penghidupan tidak nyambung dengan tujuan hidup mereka mencari ridlaNya – meskipun dipaksakan sambung akan sulit untuk nyambung.

Contoh yang kedua adalah sambungan dari rentang usia yang satu ke rentang usia berikutnya. Ketika masih menjadi aktifis dakwah kampus, mereka mencita-citakan pekerjaan yang bersih dari segala macam riba, riswah , korupsi dan sejenisnya.

Tetapi ketika mereka menghadapi realita dunia kerja, tempat-tempat bekerja yang berpenghasilan terbaik tidak jarang justru yang bersentuhan dengan berbagai resiko riba, riswah dan sejenisnya ini. Maka tidak sedikit yang menempuh pilihan bekerja ditempat yang bersentuhan dengan bahaya-bahaya tersebut.

Alhamdulillah sebagiannya tetap bercita-cita suatu saat nanti akan keluar dari pekerjaannya yang penuh bahaya dan kembali menekuni jenis-jenis pekerjaan yang aman – sambil memperbaiki diri – di usia pensiunnya nanti! Tetapi siapa yang menjamin bahwa mereka akan sampai pada usia pensiun?

Hasil survey ringan saya melalui diskusi dengan bebagai kalangan eksekutif industri finansial yang dahulu saya berada di dalamnya, yaitu industri asuransi dan perbankan, ada temuan saya yang menarik. Yaitu mayoritas eksekutif menengah maupun puncak bila ditanya apa yang ingin mereka lakukan ketika usia pensiun tiba,  pilihan terbanyaknya adalah ingin bertani, berternak, berkebun, memelihara ikan dan sejenisnya yang secara keseluruhan kita sebut pertanian dalam arti luas.

Ironinya adalah ketika mereka muda dahulu, dan juga ketika pertanyaan yang sama kita lontarkan pada anak-anak muda yang baru lulus yang ingin bekerja sekarang – amat sangat sedikit yang ingin bekerja di pertanian dalam arti luas tersebut. Mereka lebih banyak ingin kerja di bank, pasar modal dan berbagai pekerjaan kantoran yang bergengsi lainnya. Bahkan sarjana pertanian-pun amat sedikit yang ingin bekerja di sektor pertanian dalam arti luas.

Mengapa baru ketika usia mereka mendekati atau memasuki pensiun mereka tertarik dengan pertanian dalam arti luas tersebut? Karena kecintaan terhadap pertanian dan peternakan ini yang fitrah atau bahasa kininya adalah yang default – tempat kembali ke asalnya. Bahwasanya default pekerjaan kita terkait peternakan dan pertanian ini bahkan ada di Al-Qur’an di ayat berikut;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS: Ali Imran [3]:14)

Tetapi tempat kembali yang sesungguhnya juga bukan pekerjaan peternakan atau pertanian tersebut, tempat kembali yang sesungguhnya adalah surga. Untuk sampai ke tempat kembali yang hakiki ini jalannya hanya satu yaitu menjadi orang yang bertakwa sebagaimana dijelaskan di ayat berikutnya ;

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS: Ali Imran [3] :15)

Maka dengan panduan dua ayat tersebut di atas insyaAllah kita bisa merancang kehidupan yang mulus tanpa sambung – seamless life, meskipun untuk kita mungkin agak telat, minimal untuk anak cucu atau generasi penerus mereka. Berikut adalah salah satu saja dari contohnya :

Sejak memasuki dunia pendidikan, kita siapkan anak-anak kita untuk karakter iman mereka yang unggul, pemahaman al-Qur’an dan hadits yang paripurna dan kesiapan mereka untuk hidup mandiri tanpa harus bekerja di tempat-tempat yang beresiko tinggi dengan riba dan riswahnya.

Ketika memasuki dunia kerja mereka bekerja keras di tempat-tempat pekerjaan yang aman sperti peternakan, pertanian dan tempat-tempat yang aman lainnya. Karena peternakan dan pertaniannya saat itu sudah dikembangkan dengan keimanan dan ilmu Al-Qur’an mereka yang paripurna, maka hasil-hasil mereka insyaAllah akan cukup bukan hanya untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, tetapi juga cukup untuk seluruh umat manusia yang membutuhkannya.

Itulah buah dari keimanan dan ketakwaan mereka seperti yang dijanjikan oleh Allah melalui ayat : “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al A’raf [7]:96)

Lantas bagaimana kita bisa menyiapkan kehidupan yang mulus tanpa sambung tersebut bagi anak-cucu dan keturunan kita? Somewhere harus dimulai meskipun dari piece by piece, sampai nanti insyaAllah big picture dari bangunan seamless life itu akan terbentuk dengan sendirinya.

Keping-keping awal dari big picture tersebut sudah kami mulai dengan Kuttab dan Madrasah Al-Fatih, sudah mulai kita bangun kecintaan terhadap peternakan dan pertanian kembali dengan menerapkan petunjuk Al-Qur’an, masyarakat luas sudah kita libatkan kembali ke peternakan melalui lamb-bank, insyaallah dalam waktu dekat juga ke perkebunan melalui iGrow, untuk para pemuda yang baru terjun ke lapangan kerja kita beri opsi untuk membangun usahanya sendiri melalui startup center sehingga tidak harus bekerja di tempat-tempat yang penuh bahaya – maka piece by piece ini insyaAllah akan terus bertambah manakala Anda juga akan menambahkannya dengan kontribusi Anda yang paling sesuai.

Dengan ini semua insyaAllah seamless life itu akan terbentuk, kehidupan mulus tanpa sambung. Pekerjaan kita ya ibadah kita, bukan pekerjaan yang menjauhkan kita dari tujuan hidup kita  – yaitu beribadah kepadaNya hingga Dia Ridla. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Mencari Berkah Yang Hilang

Mencari Berkah Yang Hilang

Hidup Adalah ‘Roller Coaster’ Gratisan

Hidup Adalah ‘Roller Coaster’ Gratisan

Yang Terkaya, Yang Berperkara

Yang Terkaya, Yang Berperkara

Etos Kerja: Antara Telur Bebek dan Daging Kambing

Etos Kerja: Antara Telur Bebek dan Daging Kambing

Menuju Masyarakat Mandiri, Masyarakat Yang Punya Pilihan

Menuju Masyarakat Mandiri, Masyarakat Yang Punya Pilihan

Baca Juga

Berita Lainnya