Sabtu, 23 Januari 2021 / 9 Jumadil Akhir 1442 H

Ilahiyah Finance

Colorful Life

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

Diantara nikmat tidak terhingga yang diberikan oleh Allah kepada makhlukNya itu terwujud secara harfiah dalam bentuk kekayaan warna-warni yang bisa kita nikmati. Tidak hanya dalam bentuk nikmat pandangan yang tidak bisa ditiru sepenuhnya oleh komputer yang paling canggih sekalipun, tetapi juga nikmat makanan. Kita harus makan makanan yang berwarna-warni agar tubuh kita sehat, memiliki daya tahan yang tinggi,  tidak mudah terjangkit penyakit dan tidak mengalami penuaan dini.

Keaneka ragaman warna untuk dimakan dan warna  untuk dipandang ini diungkapkan oleh Sang Pencipta  melalui ayat berikut:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS al-Faathir [35]: 27)

Kalau Anda mencari ayat tentang pelangi di Al-Qur’an, maka inilah ayatNya! Di ayat tersebut memang hanya disebut putih, merah dan aneka macam warna. Tetapi warna putih adalah perpaduan antara seluruh warna, dari warna putih inilah setelah ‘dibelokkan’ oleh molekul-molekul air di udara dan dilihat dari sudut pandang tertentu – dia akan memunculkan aneka warna yang disebut pelangi.

Sedangkan warna merah adalah warna dengan gelombang panjang tertinggi yang bisa dilihat oleh mata manusia (620-750 nm) , warna-warna lain panjang gelombangnya di bawah rentang ini.

Lantas apa hubungannya antara warna pelangi di langit dengan warna-warninya buah-buahan yang disebut di ayat yang sama tersebut? Itulah salah satu bukti kebenaran Al-Qur’an bahwa ada satu pencipta yang sama di antara apa yang ada di langit dengan yang ada di bumi.

Bila Anda sempat mengumpulkan aneka ragam buah-buahan yang ada di bumi, maka Anda akan bisa mengumpulkannya secara lengkap sesuai urutan gradasi warna yang ada di pelangi – selalu ada warna buah yang pas dengan warna pelangi!

Warna-warni yang ada di buah inipun bukan hanya sekedar keindahan, tetapi ini cara Allah untuk memudahkan manusia untuk mengingatNya dan menjadikannya pelajaran – sebagaimana ayat yang diulang-ulang di surat Al-Qamar: “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?” (QS 54 : 17, 22, 32 dan 40)

Warna-warni yang ada di buah-buahan adalah semacam color code – kode warna, agar manusia mudah mengkombinasikan makanannya untuk memperoleh efek yang paling baik bagi tubuh manusia ini. Setiap warna pada buah adalah merepresentasikan apa yang disebut phytonutrients – yaitu senyawa kimia dari buah tersebut yang sangat berguna untuk kesehatan manusia.

Agar kesehatan kita terus terjaga dan tidak menjadi tua sebelum waktunya, maka secara harfiah kita harus sedapat mungkin makan ‘pelangi’ itu, yaitu memakan buah-buahan (dan sayur) yang beraneka ragam warnanya.

Masalahnya ada di daya beli mayoritas penduduk negeri ini – yang sekitar separuhnya hanya memiliki daya beli 1/5 dari nishab zakat atau US$ 2 per hari, bagaimana kita bisa memakan  buah-buahan yang berwarna-warni tersebut ? sedangkan yang ada di toko-toko buah rata-rata adalah impor – yang tentu saja tidak murah dan belum menjadi prioritas kebutuhan yang harus dibeli?

Lagi-lagi ayat tersebut seolah mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya negeri inilah negeri yang penuh pelangi itu – karena pelangi di langit hanya muncul bila ada molekul-molekul air yang cukup di udara – yang antara lain terkait dengan hujan, dan di negeri inilah – negeri tropis yang sangat banyak hujannya.

Dari hujan inilah kemudian ditumbuhkan buah-buahan yang beraneka warna tersebut, Allah sesungguhnya Maha Kuasa untuk langsung memberikan ke kita seluruh-buah-buahan tersebut. Tetapi Allah juga ingin menguji kita siapa yang lebih baik amalnya (QS 67:72), maka di antara karunia Allah yang sangat luas seperti hujan yang dia turunkanNya secara melimpah di negeri ini, pohon-pohonan yang mudah tumbuh – kitapun disuruh ikut berbuat – yaitu menggembala di tempat-tempat turunnya hujan dan tempat-tempat tumbuhnya pohon tersebut sebagaimana ayat berikut :

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالْنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالْنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS: an-Nahl [16]:12)
Setelah peran untuk kita benar-benar kita lakukan, maka Allah akan lanjutkan dengan karuniaNya di ayat berikutnya :

وَمَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلاَّ كَانُواْ بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dia menumbuhkan bagi kamu dengannya tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS al-Hijr [16]:11)

Maka dengan hujan Allah antara lain menciptakan pelangi, dengan hujan pula seharusnya kita bisa hidup dengan full color – makanan yang berwarna-warni yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan kita dan mencegah penuaan dini. Tetapi untuk ini, memang diperlukan amal yang lebih baik dari kita semua – antara lain yaitu amal yang tidak akan membiarkan bumi kita gersang atau ditumbuhi oleh pohon-pohon yang kurang produktif, sementara kebutuhan buah-buahan kita dibanjiri oleh buah impor.
Nampaknya disini pula konteksnya mengapa menggembala adalah pekerjaan terbaik kedua setelah berjihad sebagaimana diungkap dalam hadits berikut :

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam, beliau bersabda: “Diantara penghidupan (pekerjaan) manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau menyongsong kematian ditempat datangnya.  Atau seorang laki-laki yang menggembala domba di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (HR. Muslim).

Dan harta terbaik-pun terkait dengan penggembalaan sebagaimana diungkap di hadits berikut :

Dari Abu Said Al-Khudri berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda : “Waktunya akan datang bahwa harta muslim yang terbaik adalah domba yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau pertikaian sesama muslim).” (HR. Bukhari)

Perhatikan redaksi hadits-hadits tentang pekerjaan terbaik dan harta terbaik tersebut, keduanya terkait dengan gunung dan hujan. Ayat yang menjelaskan warna-warni di langit dan warna-warni buah-buahan tersebut di atas – juga terkait dengan gunung dan hujan.

Sekarang perhatikan negeri-negeri yang ada di dunia, di mana kombinasi antara gunung dan hujan tersebut paling banyak berada? Di Nusantara – negeri tropis kepulauan inilah kombinasi gunung-gunung dan hujan yang paling banyak berada.

Maka waktunya bagi kita untuk banyak-banyak bersyukur dan waktunya pula untuk menjadikan kehidupan kita kehidupan yang penuh warna, penuh kerja yang bermakna dan bukan hanya sekedar berwacana. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

Buah Dalam Al-Quran

Buah Dalam Al-Quran

25 Tahun Menikah, 25 Tahun Bahagia

25 Tahun Menikah, 25 Tahun Bahagia

Cahaya di Atas Cahaya

Cahaya di Atas Cahaya

Peak Gold, Harga Emas dan Sirkulasinya

Peak Gold, Harga Emas dan Sirkulasinya

Baca Juga

Berita Lainnya