Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Mindset

ilustrasi
Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

TAHU lalu produksi daging sapi nasional Indonesia hanya 430.000 ton atau sekitar  1.8 kg per kapita. Kalau datanya FAO menyebutkan konsumsi daging rata-rata kita adalah 10 kg per tahun per kapita, maka tambahannya perlu diisi dari  daging ayam, kambing/domba dan tentu saja daging impor. Ini hanya sekedar untuk mempertahankan tingkat konsumsi daging yang sekarang, lantas bagaimana kita bisa meningkatkan konsumsi daging per kapita sama dengan rata-rata konsumsi masyarakat dunia yang sekitar 42 kg per tahun per kapita? jawabannya ada di mindset!

Memenuhi tingkat kebutuhan daging rata-rata sekarang saja sudah sangat berat, apalagi bila hendak meningkatkan lebih dari empat kalinya untuk sekedar menyamai rata-rata konsumsi daging penduduk dunia. Rasanya tidak terbayangkan.

Tetapi itulah kita, kalau kita berpendapat tidak akan bisa – maka kita memang tidak akan bisa. Sebaliknya bila kita berpendapat insyaAllah bisa, maka insyaAllah kita-pun bisa. Allah menjanjikan hal ini dalam hadits qudsiNya : “Aku seperti sangkaan hambaku…” Siapa yang lebih benar janjiNya selain Allah?

Maka inilah yang harus ditempuh di setiap perubahan besar yang akan kita lakukan, yaitu merubah dahulu mindset kita bahwa kita akan bisa. Kemudian setelah itu kita mencari jalannya. Bila mindset kita sudah tidak bisa – maka kitapun pasti tidak mencari jalan untuk bisa.

Mindset adalah sekumpulan asumsi-asumsi yang membentuk pola pikir dan pola tindak kita. Dalam kaitan daging misalnya, asumsi-asumsi itu antara lain adalah daging identik dengan daging sapi – padahal misalnya daging domba dan kambing juga tidak kalah baiknya.

Kita juga berasumsi bahwa untuk beternak sapi, domba dan kambing yang murah dperlukan lahan gembalaan berupa padang rumput yang luas. Karena asumsi-asumsi inilah kita menyerah pada Australia dan New Zealand untuk kebutuhan daging dan susu kita. Sama dengan ketika berperang, begitu kita berasumsi bahwa musuh lebih kuat maka kita akan defensive atau bahkan menyerah.

Maka solusi besar dari masalah besar perdagingan – yang berpengaruh langsung pada kwalitas generasi kini dan nanti ini – harus dimulai dari perubahan besar pada  mindset kita, perubahan asumsi-asumsi di pikiran kita yang kemudian akan membentuk perubahan pada pola tindak kita.

Lantas dari mana memulainya? Mumpung kita baru mulai perubahan ini – maka bisa dari awal kita arahkan untuk mengikuti petunjukNya agar tidak (lagi) tersesat dalam perjalanan panjang ke depan.

Kita mulai dari yakin-se yakin-yakinnya bahwa janjiNya pasti benar, bahwa bila kita berpikir Dia memberi rezeki kita (termasuk daging di dalamnya) minimal sama dengan yang diberikannya pada rata-rata penduduk dunia – maka kitapun akan mendapatkannya demikian – mengikuti hadits qudsi tersebut di atas.

Lantas karena Dia akan memberi kita daging yang jauh lebih banyak dari yang sekarang kita terima, maka jalanNya-lah yang berlaku – dan bukan jalan yang selama ini kita tempuh. Bila setelah jungkir balik memproduksi daging sapi kita hanya menghasilkan daging sapi yang setara 1.8 kg per tahun per kapita, maka terlalu jauh produksi ini bila mengejar konsumsi daging yang 42 kg per tahun per kapita – seperti konsumsi rata-rata penduduk dunia!

Lantas dari mana lompatan besar itu akan kita peroleh ? dari mana lagi kalau bukan dari Al-Qur’an dan sunnah-sunnah nabiNya ! Al-Qur’an yang dengannya gunung-pun bisa terbelah (QS 59:21), yang menjadi jawaban atas segala sesuatu (QS 16 :89), yang menjadi petunjuk, penjelasan atas petunjuk dan pembeda (QS 2:183) – pasti sangat bisa menjawab seluruh persoalan daging ini.
Perhatikan rangkaian ayat-ayat berikut misalnya :

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan hijauan , zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS ‘Abasa[80]: 24-32)

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ
يُنبِتُ لَكُم بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأَعْنَابَ وَمِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS an-Nahl [16]: 10-11)

Pemahaman dan pendalaman ayat-ayat tersebut akan segera merubah mindset kita. Bahwa lahan-lahan gembalaan terbaik itu bukan padang rumput yang luas seperti yang dimiliki oleh Australia dan New Zealand misalnya.

Lahan-lahan gembalaan yang diresepkanNya itu adanya di antara kerindangan tanaman-tanaman lain dari jenis biji-bijian, kurma, anggur, zaitun, segala macam tumbuh-tumbuhan, buah-buahan , rumput-rumputan, dan segala tanaman yang membentuk kebun-kebun yang lebat. Negeri mana yang memiliki ini semua?

Utamanya adalah negeri-negeri tropis yang memiliki keaneka ragaman hayati yang sempurna. Negeri mana itu? Salah satu yang terbaiknya tentu adalah negeri ini, Indonesia!

Jadi resep penggembalaan dari Al-Qur’an tersebut di atas justru paling fit bila diterapkan di negeri ini, lebih dari negeri-negeri lain yang selama ini membentuk mindset kita seolah merekalah yang bisa memproduksi daging dan susu yang murah itu.
Masalahnya adalah kebun-kebun yang luas dari perkebunan, kehutanan, industry dlsb adalah bukan milik rakyat, dimana rakyat bisa menggembalakan ternak-ternaknya? Jawabannya ada di hadits berikut :

“Orang-orang Muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api.” (Sunan Abu Daud, no 3745).

Kuncinya ada di syirkah atau kerjasama itu, ketika kita tidak bersyirkah seperti sekarang – dengan potensi ladang gembalaan yang paling baik-pun kita tetap tidak bisa makan daging secara cukup.

Kita bisa bersyirkah dengan para pemilik perkebunan, perhutani, pengelola jalan tol dan bahkan pengelola-pengelola lapangan golf untuk bisa menggembala di lahan gembalaan yang sangat luas.

Orang-orang yang pesimis pasti akan melihat masalah demi masalah. Menggembala di lahan perkebunan tidak akan diijinkan pemiliknya, juga di perhutani. Menggembala di pinggir jalan tol akan meningkatkan kerawanan pengguna tol. Menggembala di lapangan golf akan merusak keindahan lapangan golf dan segudang permasalahan lainnya.

Tentu ini kembali ke hadits qudsi tersebut di atas, bila kita beranggapan tidak bisa karena penuh masalah – maka kita memang tidak akan bisa karena kita tidak beranjak untuk berusaha mengatasi masalah-masalah yang ada.

Sebaliknya bila kita optimis bisa, kita menyadari ada tantangan-tantangan besar di depan – maka kita akan mulai berusaha memecahkan masalahnya satu demi satu. Golongan kedua inilah yang ingin kami ajak rame-rame untuk mulai berbuat mengatasi masalah yang nampaknya sepele – masalah daging – tetapi bisa menjadi penghancur kwalitas generasi ini.

Kita ubah dahulu mindset kita untuk bisa, maka insyaAllah kitapun akan bisa. InsyaAllah!

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mulai Usaha Pada Usia Berapa?

Mulai Usaha Pada Usia Berapa?

HTTP Error 412 : Bila Hati Pada Tidak Bisa Diakses

HTTP Error 412 : Bila Hati Pada Tidak Bisa Diakses

There Is No Bad Potato Salad…

There Is No Bad Potato Salad…

Dinar dan Emas di Tahun Politik

Dinar dan Emas di Tahun Politik

10 Jalan Untuk Modal Usaha

10 Jalan Untuk Modal Usaha

Baca Juga

Berita Lainnya