Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Solusi 1 % …

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

TERKADANG permasalahan yang ada itu begitu besar sehingga kita awang-awangen untuk mengatasinya. Tetapi ada cara untuk mengatasinya agar tidak terlalu terasa berat, yaitu dengan cara mem-break-down-nya menjadi sejumlah masalah kecil yang kemudian terasa ringan untuk diatasi satu persatu. Masing-masing pecahan masalah tersebut bisa ditangani ahlinya sehingga tidak ada yang terlalu berat untuk diatasi.

Katakanlah masalah itu kita pecah menjadi 100 bagian , maka bila setiap 1 bagian atau 1 %-nya bisa diatasi oleh 1 orang (team) – seluruh permasalahan yang ada bisa diselesaikan oleh 100 orang (team). Well, tepatnya tidak harus menjadi 100 bagian, tetapi intinya adalah dibagi menjadi sejumlah masalah-masalah yang lebih kecil.

Ambil sekarang contoh kasus yang hingga kini seolah tidak ada solusinya bagi masyarakat Jakarta – yaitu banjir. Apakah penduduk di Jakarta harus pasrah menerima realita banjir yang semakin  membesar setiap tahunnya ? Mestinya tidak. Lantas apakah pemerintah yang terwakili oleh Gubernur DKI dan teamnya harus bisa mengatasinya? Juga tidak.

Masyarakat tidak bisa mengatasinya sendiri, demikian pula Gubernur DKI dan jajarannya tidak bisa mengatasinya sendiri. Permasalahan banjir di Jakarta hanya bisa diatasi bila permasalahan tersebut dipecah menjadi masalah-masalah yang lebih kecil kemudian ditugaskan ke masing-masing ‘ahli’ nya untuk mengatasinya.

Ada yang menjadi tugas pemerintah, misalnya yang terkait pembangunan sarana dan prasarana, menegakkan peraturan, memberlakukan sangsi bagi yang melanggar dlsb. Ada yang menjadi tugas masyarakat seperti menangani sampah di lingkungan masing-masing, menanam pohon dlsb.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Allah mendatangkan hujan dari langit sebagai berkah, supply untuk kebutuhan air kita yang demand-nya bisa jadi muncul sekian tahun, sekian generasi dari sekarang. Bila berkah ini tidak bisa kita kelola, apalagi malah menjadi musibah – maka pastilah bersama-sama kita semua belum memenuhi atau melaksanakan tugas dariNya : “…Dia telah jadikan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya …” (QS Hudd [11]:61).

Solusi dengan memecah permasalahan menjadi sejumlah permasalahan kecil-kecil dan mengalokasikannya ke masing-masing ahlinya ini juga berlaku bagi seluruh permasalahan kita baik di urusan rumah tangga, usaha, organisasi dlsb. Hanya dibutuhkan 100 orang dengan kemampuan menyelesaikan 1 % masalah, untuk bisa menuntaskan seluruh permasalahan yang ada.

Namun pendekatan ini tentu saja tidak semudah yang kita katakan. Untuk bisa efektif berjalan, berikut prasyaratnya.

Pertama, harus disadari bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengatasi 100% permasalahan yang ada seorang diri. Artinya setiap pihak harus membuka diri akan kekurangannya sehingga bisa diisi oleh yang lain.

Kedua, harus ada platform yang sama dalam menyelesaikan masalah itu. Seperti lebah yang membangun rumahnya dari sejumlah titik yang berbeda, tetapi menjadi satu banguan yang indah – yang seamless ( tanpa sambung) – karena mereka selalu menggunakan platform yang sama yaitu wahyuNya :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”” (QS an-Nahl [16]:68).

Kebutuhan platform yang sama inilah yang mutlak perlu, dan tidak ada platform yang lebih baik dan lebih lengkap selain platform wahyuNya!

Artinya solusi 1 % ini hanya berlaku bila manusia hidup berjamaah kemudian semua dituntun oleh wahyu-Nya untuk memerankan peran masing-masing.

Ketika platform itu platform politik, platform daerah, platform kepentingan ekonomi dan sejenisnya – maka solusi untuk kemaslahatan umat yang lebih besar itu akan sangat sulit dicapai. Dalam mengatasi permasalah banjir di atas saja misalnya, pemerintahan DKI nampaknya tidak sepenuhnya mendapatkan dukungan dari daerah-daerah penyangganya.

Ketiga, yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa sekecil apapun kontribusi kita – baik yang positif maupun yang negatif –semuanya diperhitungkan:

وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS al-Anbiya’ [21]:47).

Kita tidak boleh enggan beramal shaleh meskipun nampaknya kecil, sebaliknya kita tidak boleh melaksanakan hal-hal yang buruk meskipun itu juga nampaknya remeh-temeh.

Ada hal yang nampaknya remeh-temeh tetapi sangat buruk dilakukan rame-rame oleh masyarakat Jakarta dan sekitarnya, dan ini saya amati baru terjadi beberapa tahun terakhir – yaitu sengaja membuang sampah dalam bungkus-bungkus plastik di jalan-jalan besar, jembatan , dan tempat-tempat yang tidak ada pengawasannya.

Bila menyingkirkan batu dari jalan  adalah bagian dari iman, maka bagian dari apa ini kebudayaan buruk yang mewabah berupa aksi membuang sampah di jalan-jalan ini? Siapa yang mengajari masyarakat modern melakukan hal-hal buruk seperti ini?

Ada yang lebih buruk lagi dari membuang sampah di jalan di atas yang secara rame-rame dilakukan di negeri ini dan bahkan sekarang diwajibkan yaitu riba. Riba yang diwajibkan itu sudah berlaku sejak awal tahun ini berupa BPJS dan JKN, yang menurut standar fatwa MUI no 1/2004 – mestinya jelas-jelas masuk kategori riba.

“Bila riba yang tidak ditinggalkan saja sudah dinyatakan pernyataan perang terhadap Allah dan RasulNya (QS 2:279), bila dosa teringan riba adalah seperti seorang yang menzinahi ibu sendiri.” (HR Al-Hakim) – maka pernyataan apa dan dosa apa ini jadinya bila riba itu kini sudah menjadi kewajiban?

Sejak 1 Januari  2014 ini riba menjadi kewajiban di negeri ini, sejak awal tahun ini pulalah musibah demi musibah silih berganti tiada hentinya . Apakah ini kebetulan? Tidak ada yang kebetulan yang terjadi di bumi ini.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: ar-Rum [30]: 41)

Apakah kita ramai-ramai kembali kejalanNya setelah musibah-demi musibah terjadi ini? Itulah setidaknya peran 1 % dari kita masing-masing. Bila masing-masing kita kembali kejalanNya dengan terus memohon petunjuk dan perlindungaNya, terus berbuat yang kita bisa meskipun nampaknya kecil – maka insyaAllah kita akan bersama-sama selamat dari bencana-demi bencana ini. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dampak Inflasi, Kok yang  Miskin Harus Membayar Lebih Mahal?

Dampak Inflasi, Kok yang Miskin Harus Membayar Lebih Mahal?

Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang

Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang

“Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu?”

“Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu?”

FinTech, AgriTech dan PropTech

FinTech, AgriTech dan PropTech

Menanam Pohon Di Surga

Menanam Pohon Di Surga

Baca Juga

Berita Lainnya