Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Food Security

FAO
Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

DI tengah ramainya para pemimpin dunia membicarakan food security – kecukupan pangan bagi semua, negeri-negeri di Eropa dan Amerika Utara justru membuang makanan – dalam bentuk sisa makanan – yang jumlahnya hampir sama dengan seluruh makanan yang diproduksi oleh 50-an negara-negara Afrika yang berada di belahan selatan gurun Sahara (Sub Saharan Africa).
Menurut data FAO, jumlah makanan yang terbuang sebagai sisa makanan (waste) di negeri negeri industri totalnya mencapai 222 juta ton, sedangkan seluruh produksi pangan di Sub Saharan Africa hanya berkisar 230 juta ton per tahun.

Bila negeri-negeri maju membuang makanannya dalam bentuk sisa makanan, lain lagi dengan cara negeri-negeri berkembang membuang makanannya – mereka menyia-nyiakan sumber daya produksinya dalam berbagai bentuk inefficiency pra dan pasca panen.

Cara kedua negeri-negeri berkembang memperparah food insecurity-nya sendiri adalah dengan cara bergantung pada bahan pangan yang diproduksi oleh negeri maju, sedangkan potensi yang ada di negeri sendiri tidak dikembangkan atau diolah secara maksimal.

Padahal Allah menjanjikan kecukupan rezeki itu bagi seluruh makhlukNya :

وَكَأَيِّن مِن دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS: al-ankabut [29]: 60)

Meskipun Allah menjanjikan kecukupan rezeki, kok bisa datanya FAO menyatakan bahwa tahun 2012 lalu ada 868 juta orang di dunia yang kelaparan?

Janji Allah itu bersyarat, yaitu bila petunjukNya diikuti. Bila tugas-tugas yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi – dilaksanakan, yaitu untuk memakmurkan bumi. Bila petunjuk tidak diikuti, dan bila perintah tidak dilaksanakan atau bahkan disalah gunakan – maka yang terjadi seperti pengelolaan bumi saat ini. Sebagian penduduk dunia membuang-buang makanannya, sedangkan yang lain sampai pada tingkat kelaparan.

Lantas seperti apa kita seharusnya mengelola makanan ini agar cukup bagi semuanya?

Pertama yang jelas kita dianjurkan makan secukupnya dan tidak berlebihan apalagi sampai membuang makanan.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” ( QS: al-a’raf [7]: 31)

Menu makanan kita yang cenderung sendiri-sendiri, setiap orang dengan piringnya sendiri memperbesar peluang adanya makanan sisa. Ketika makanan menjadi sisa, orang lain sudah tidak bisa (tidak mau) memakannya.

Di restoran-restoran, di pesta-pesta betapa banyak makanan yang terbuang itu. Bahkan ironi sekali di lokasi pengungsian banjir yang kami kunjungi baru-baru inipun makanan sisa itu terbuang di berbagai tempat. Pasalnya adalah setiap donasi makanan diberikan dalam kotak-kotak, yang bisa saja berdatangan bersamaan dari berbagai sumber. Ketika pas makanan tersedia dia berlebih dan kemudian sebagiannya terbuang, di lain waktu tidak tersedia sama sekali.

Nampaknya pola makan sendiri-sendiri ini yang harus mulai kita ubah. Inipun ada dasarnya dalam petunjuk Uswatun Hasanah kita melalui hadits beliau ketika menjawab pertanyaan sahabat : “Ya Rasulullah, kami makan tetapi tidak kenyang. Dia (Rasulullah) bertanya : Barangkali kamu makan sendiri-sendiri ? Mereka menjawab : “Ya”. Rasulullah berkata : “Jika kalian makan makanan bersama-sama dengan menyebut nama Allah, kalian akan mendapatkan keberkahan di dalamnya.” (HR. Sunan Abu Dawud).

Dengan makan secara bersama-sama (jama’i) , makanan yang sedikit-pun menjadi cukup dan ketika makanan banyak dia tidak tersisa. Keberkahan makanan antara lain datang ketika kita makan bersama-sama.

“Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang, makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR. Bukhari).
Cara makan kita ini juga menjadi pembeda antara muslim dan yang non-muslim : “Muslim makan dengan satu perut sedangkan orang kafir makan dengan tujuh perut.” (HR. Bukhari).

Selain cara kita makan, apa yang kita makan juga sangat mempengaruhi keamanan pangan kita.

Ketika kita memaksakan makan dengan bahan baku dari impor misalnya, maka produksi bahan makanan dari tempat yang jauh ini selain mahal (melibatkan ongkos angkut dlsb) juga membuka berbagai peluang kelangkaan supply oleh berbagai sebab. Bisa karena faktor alam, maupun faktor manusianya – seperti ketimpangan dalam perdagangan global dlsb.

Ketika kita berebut makanan yang sama dengan manusia lain di dunia sedangkan kita tidak memproduksinya sendiri secara cukup, maka peluang terjadinya food insecurity itu menjadi lebih besar.

Di jaman teknologi ini bahkan kita bisa dengan mudah mendeteksi food insecurity ini – melalui apa yang sedang dicari/dibicarakan orang di internet. Semakin banyak dicari/dibicarakan, maka kemungkinan bahan yang bidicarakan/dicari tersebut memang semakin tidak mencukupi. Ini hukum supply and demand biasa, bila demand membesar sedangkan supply tetap atau bahkan menurun – maka disitulah kelangkaan terjadi.

Dengan indikator tersebut, kita bisa tahu bahwa untuk saat inipun beras dan tepung (gandum) merupakan dua bahan makanan yang paling rawan kecukupannya di dunia.

One Day No Rice !

Padahal pilihan untuk keduanya banyak, kita bisa makan yang tidak kalah enaknya tanpa beras dan tanpa tepung terigu sekalipun. Makanan lezat disamping yang saya sebut saja Ayam BBQ misalnya, bisa menjadi salah satu cara kita untuk membangun keamanan pangan kita sendiri.

Pertama yang jelas dia haruslah makanan yang enak. Karena kalau kita diedukasi untuk tidak makan nasi, tetapi penggantinya singkong rebus – tentu tidak populer.

Kedua haruslah mengandalkan bahan –bahan yang bisa kita produksi sendiri. Pelihara sapi mungkin tidak semua orang bisa, pelihara kambing juga memerlukan spesialisasi sendiri – tetapi pelihara ayam, siapa yang tidak bisa?

Barangkali inilah yang juga diindikasikan di Al-Qur’an sebagai daging burung yang kita inginkan (ayam termasuk kelompok burung): “dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS 56 :21).

Adapun roti yang digunakan untuk pendamping makan ayam tersebut, bukanlah jenis roti yang harus mengembang. Jadi bahannya bisa apa saja yang ada di sekitar kita, bisa tepung singkong,  ubi, gembili dlsb. Dengan bahan semacam ini kita bisa membebaskan diri dari ketergantungan bahan baku impor.

Ketika makanan semacam ini yang kemudian dimakan rame-rame oleh dua, tiga, empat orang yang diindikasikan oleh hadits tersebut di atas, maka insyaAllah tidak akan ada makanan yang terbuang sebagai sisa. Sekaligus juga mengatasi problem kekurangan konsumsi protein hewani yang kronis di negeri ini.

Food security adalah tentang apa yang kita makan dan bagaimana kita memakannya. Bila semua mengikuti petunjukNya dan sunah nabiNya, maka disitulah berlaku jaminanNya – bahwa tersedia rezeki yang cukup bagi seluruh makhlukNya.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Uni Lanx – Universal Unit of Account – Timbangan yang Adil

Uni Lanx – Universal Unit of Account – Timbangan yang Adil

Bertebaranlah di Muka Bumi…

Bertebaranlah di Muka Bumi…

Agar Tidak Menjadi A Lost Generation

Agar Tidak Menjadi A Lost Generation

Berumpama Bukan Berandai…

Berumpama Bukan Berandai…

Mulai Usaha Pada Usia Berapa?

Mulai Usaha Pada Usia Berapa?

Baca Juga

Berita Lainnya