Rabu, 7 Juli 2021 / 27 Zulqa'dah 1442 H

Ilahiyah Finance

Agar Kita Tidak ‘Makan’ Emas Kita

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

BILA saja ekonomi dunia bisa disederhanakan dan dilihat dari sudut pandang penguasaan emas, maka dengan mudah kita bisa melihat ketimpangan ekonomi dunia saat ini. Amerika Serikat yang penduduknya hanya 4.5 % dari penduduk dunia, menguasai 28 % cadangan emas dunia. Masyarakat Eropa dengan 4.8 % penduduk dunia, menguasai 49 % cadangan emas dunia. Sementara itu gabungan negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) dengan 23 % penduduk dunia, hanya menguasai 7 % dari cadangan emas dunia.

Cadangan emas yang saya maksud disini adalah cadangan emas yang dikuasai oleh bank sentral masing-masing negara. Sumber datanya adalah dari World Gold Council  per Desember 2013.

Nampaknya penguasaan cadangan emas ini juga berkorelasi dengan tingkat pendapatan penduduknya. Amerika memiliki GDP per capita hampir US$ 50,000,-, Eropa di kisaran angka US$ 33,500,- sementara rata-rata penduduk negeri-negeri OKI hanya berpenghasilan sekitar US$ 3,850,- per capita.

Apa penyebab ketimpangan ini? Ini seperti ayam dan telur. Ada ayam dahulu kemudian ada telur atau sebaliknya ada telur dahulu baru kemudian lahir ayam. Jawabannya jelas, keduanya memungkinkan. Ada ayam dahulu kemudian bertelur atau ada telur dahulu kemudian lahir ayam.

Demikian pula dengan emas dan penguasaan ekonomi. Bisa karena kemakmurannya maka negeri-negeri kaya menguasai emas, tetapi bisa juga sebaliknya karena tidak mengusai (menggunakan) emasnya dengan baik – maka negeri-negeri mudah termiskinkan.

Negeri-negeri dengan cadangan emas rendah  menjadi lebih labil ekonominya dan rentan terhadap devaluasi mata uangnya. India dan Indonesia yang mata uangnya terkoreksi significant sepanjang 2013 lalu misalnya, keduanya memiliki cadangan emas yang rendah. India cadangan emasnya 7 %, mata uangnya tahun lalu terkoreksi 14 %. Indonesia cadangan emasnya 3.5 %, terkoreksi sampai 26 %!

Data-data ini bisa jadi tidak hubungannya,  tetapi bisa juga erat kaitannya dengan penguasaan hasil-hasil sumber daya alam di negara-negara yang bersangkutan. Indonesia misalnya ironi sekali kita hanya memiliki cadangan emas 3.5 % dari cadangan total kita, padahal negeri ini adalah produsen emas ke 7 dunia dengan produksi sekitar 182.4 ton per tahun. Lha kok cadangan emas kita di bank sentral hanya 78.1 ton setelah 68 tahun merdeka? Ke mana produksi emas kita setiap tahunnya?

Ketika kekayaan kita good money ( emas, hasil tambang ) ditukar dengan bad money (US$ dan uang kertas lainnya) secara terus menerus sejak negeri ini merdeka hingga kini, inilah yang kemudian mengindikasikan proses pemiskinan yang terjadi di negeri ini. Sama dengan sebuah rumah tangga, dia bisa tampil glamour dan makan terus menerus – tetapi dengan menjual aset riilnya setiap saat, bisa ditebak akhirnya akan seperti apa.

Maka menjadi tantangan para (calon) pemimpin negeri ini – yang tahun ini pada berlomba  rumongso iso (merasa bisa) – memakmurkan negeri ini, bagaimana memakmurkan penduduk negeri ini dengan cara yang riil,  bukan sekedar angka dan bukan dengan cara menguras sumber daya alam. Bagaimana penduduk negeri ini bisa makmur yang sesungguhnya tanpa harus menjual aset-aset kita berupa hasil tambang, hutan dan sejenisnya.

Salah satu indikatornya ya kembali ke cadangan emas di atas. Bila hutan di tebang kita sulit untuk tahu berapa banyak hutan kita berkurang, bila minyak dan gas dikuras – kita juga tidak mudah untuk tahu berapa banyak yang masih tersisa. Tetapi bila orang-orang diluar sana – yang terwakili oleh World Gold Council (WGC) saja tahu bahwa setiap tahun kita memproduksi 182.4 ton emas, lha kok cadangan emas di dalam negeri setelah 68 tahun merdeka hanya kurang dari ½ produksi emas setahun – maka jelaslah ini mengindikasikan bahwa kita ‘makan’ emas itu – i.e. kita tukar dengan bad money kemudian untuk membiaya impor bahan makanan kita, gandum, daging, susu sampai juga minyak.

Lantas bagaimana solusinya agar kita bisa makmur tanpa ‘makan’ emas, minyak , gas dlsb yang bersifat non-renewable resources? Jawabannya ya kita harus menanam makanan kita sendiri – kita harus makan dari sumber yang renewable. Petunjuknya-pun jelas, bahwa negeri yang baik – baldatun thoyyibah – itu adalah negeri kebun, yang penduduknya makan dari hasil kebun tersebut. Bukan negeri tambang – yang penduduknya makan dengan menguras isi perut bumi, bukan pula negeri hutan yang penduduknya makan dengan menebang hutan sampai gundul. Wa Allahu A’lam.*

Penulis adalah Direktur Geraidinar.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pedagang Yang Memperoleh Cahaya

Pedagang Yang Memperoleh Cahaya

Tragedy of the Commons

Tragedy of the Commons

Keberkahan: Kualitas Bukan Kwantitas

Keberkahan: Kualitas Bukan Kwantitas

Pengantar I’tikaf: The Nature of Energy

Pengantar I’tikaf: The Nature of Energy

Tantangan Inovasi

Tantangan Inovasi

Baca Juga

Berita Lainnya