Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Agar Tidak Menjadi Negeri yang Buruk

geraidinar.com
Anggur berbuah dalam pot
Bagikan:

Oleh : Muhaimin Iqbal

KURANG lebih tiga bulan mendalami dan mematangkan konsep negeri yang baik – Baldatun Thoyyibah – kami juga belajar tentang negeri yang buruk, agar tidak tejerumus kedalamnya. Konon salah satu indikator negeri yang buruk atau negeri yang akan terus mengalami kemunduran itu adalah bila suatu negeri gemar menanam tanaman yang tidak bisa dimakan.

Entah siapa yang mulai merumuskan indikator ini, tetapi ini juga sejalan dengan formulasi negeri yang sebaliknya – yaitu negeri yang baik menurut al-Qur’an. Bila negeri yang baik itu adalah negeri yang di kanan dan kirinya kebun-kebun yang menghasilkan buah yang di makan.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS Saba’ [34]:15)

Maka yang sebaliknya juga sangat mungkin berlaku, negeri yang buruk adalah negeri yang tidak peduli untuk menanam tanaman yang bisa dimakan. Sesubur apapun suatu negeri, bila yang ditanam adalah tanaman-tanaman yang tidak dimakan – lantas dari mana rakyatnya akan memperoleh makanannya secara cukup dan berimbang?

Tentu ini tidak berlaku untuk negeri-negeri yang secara khusus sudah ditetapkan oleh Allah sebagai negeri yang diberkahi seperti Syam, juga negeri yang dipenuhi buah-buahan atau makanan meskipun tidak perlu menanamnya – sebagai bentuk terkabulnya do’a bapak para Nabi yaitu Makkah.

Negeri kita bukan  Syam dan bukan Makkah, maka bila rakyatnya tidak gemar menanam tanaman yang dimakan dikhawatirkan akan masuk kategori negeri yang buruk atau negeri yang mengalami kemunduran.

Gejala-gejalanya mudah dilihat di sekitar kita. Negeri yang subur ijo royo-royo ini baru berkutat di satu atau dua dari lima jenis makanannya – yaitu karbohidrat dan mungkin juga lemak (minyak). Kita tidak bisa mencukupi kebutuhan protein, vitamin dan mineral – yang sebagian besarnya harus diimpor.

Gejala lain juga mudah kita temukan di sepanjang jalan yang kita lalui baik tol maupun non-tol, baik jalan-jalan yang di kota maupun yang antar kota, juga di perumahan-perumahan yang elite maupun yang tidak elite. Perhatikan apa yang ditanam di tempat-tempat tersebut? Di makankah? Rata-rata bukan dari jenis tanaman yang bisa dimakan.

Kita membuang begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan makanan, padahal makanan inilah problem utama rakyat negeri ini dan juga negeri-negeri lain di dunia.

Lantas bagaimana solusinya agar kita bisa membalik arah, agar negeri yang sedang mengalami kemunduran ini berubah arah menuju kemakmurannya? Agar rakyat bisa makan secara cukup dan seimbang dari hasil-hasil tanaman yang ditanam di tanah kita sendiri ? Jawabannya adalah, harus ada kerja keras membalik arah budaya ini.

Dari mana memulainya? Minimal dari tulisan-tulisan semacam ini. Kemudian juga diikuti langkah nyata seperti yang kami lakukan di Startup Center, insyaAllah kami akan mulai memberikan pelatihan kepada masyarakat secara gratis untuk belajar menanam tanaman-tanaman yang bisa dimakan.

 Pelatihan perdana akan diberikan hari Ahad 24/11/13, namun sudah penuh pendaftarnya sejak tadi malam, jadi kesempatan berikutnya akan diumumkan kemudian di www.startupcenter.asia.

 Agar tidak reinvent the wheel, tanaman-tanaman yang bisa dimakan yang kami sosialisasikan ini – juga bukan tanaman coba-coba. Ilmu manusia terlalu sedikit dan umur nya terlalu pendek untuk bisa mengetahui secara bijak apa yang seharusnya ditanam untuk jangka panjang ini, maka kami ambilkan tanaman-tanaman yang namanya disebut secara langsung di al-Qur’an.

Alhamdulillah 3 dari 5 tanaman-tanaman yang disebut tersebut telah terbukti berbuah atau berbunga di dalam pot-pot yang kami coba yaitu Anggur, Tin dan Delima. Dua lagi yaitu Kurma dan Zaitun insyaallah juga akan bisa berbuah didalam pot dengan seijinNya, tinggal menunggu waktunya saja.

Kemampuan untuk tumbuh dan berbuah di dalam pot ini penting karena penduduk kota-kota besar rata-rata memiliki lahan yang sangat sempit atau bahkan tidak memiliki lahan sama sekali. Maka menanam buah dalam pot adalah solusinya , karena bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Bahkan juga oleh orang-orang yang masih mengontrak, karena tanamannya bisa dibawa pindah saat kontrakannya harus pindah.

Tanaman buah dalam pot ini juga akan mudah untuk diperjual-belikan, sehingga kelak akan ada pasar untuk jual beli tanaman/pohon-pohon buah dalam pot. Saat inipun di Startup Center kami memfasilitasi bagi yang ingin jual beli pohon buah dalam pot ini. (lihat foto)

Yang kami bayangkan adalah suatu saat nanti akan meluas di masyarakat kegemaran menanam pohon-pohon yang menghasilkan makanan. Di kanan kiri kita atau dimanapun kita berjalan akan melihat kebun-kebun makanan, maka saat itulah negeri kita menjadi negeri yang baik seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut di atas.

Karena visinya kearah sana, menjadikan negeri ini negeri yang baik Baldatun thoyyibatun WaRabbun Ghafuur (BTWG), maka majlis yang insyaAllah akan mulai hari Ahad nanti kami sebut Majlis BTWG.  Di Majlis inilah antara lain diajarkan cara-cara menanam buah dalam pot untuk tanaman-tanaman  al-Qur’an yang kami sebut  TABULAMPOT  Qur’anic Agroforestry ini.

InsyaAllah semua bibit yang diperlukan juga sudah tersedia atau bisa dipesan di lokasi pelatihan – tetapi untuk sementara baru untuk keperluan rumah tangga atau hobi – belum untuk keperluan industri/komersial yang akan menanam dalam skala luas. Yang terakhir ini insyaallah akan dipenuhi kemudian setelah pembibitan massal kami berhasil. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ketika Buah Masak di Pohon

Ketika Buah Masak di Pohon

Meninggalkan Riba : Dari Pendekatan Institusional Ke Pendekatan Produk…

Meninggalkan Riba : Dari Pendekatan Institusional Ke Pendekatan Produk…

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Hidup Tanpa Uang

Hidup Tanpa Uang

Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam

Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam

Baca Juga

Berita Lainnya