Selasa, 19 Oktober 2021 / 13 Rabiul Awwal 1443 H

Ilahiyah Finance

Yang Ngurusi Bukan Ngrusuhi

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

KETIKA seorang genius menemukan permainan yang menjadi cikal bakal catur di dunia, sang raja dimana penemu tersebut tinggal sangat gembira dengan permainan yang mengasah otak ini. Kemudian sang raja bertitah pada Sang Penemu: “Sekarang kamu ingin hadiah apa dari aku? Apa saja yang kamu mau, pasti aku berikan!” Sang Penemu bimbang sejenak, kemudian berucap dengan merendah: “Mohon maaf Paduka, hamba hanya ingin bisa makan nasi yang cukup, bagi hamba dan anak-anak keturunan hamba.”

Rajapun menganggap enteng permintaan ini.

Kemudian dia perintahkan bendahara kerajaan untuk menyiapkannya, tetapi kemudian kemudian sang raja-pun buru-buru berucap, “Nanti dulu, berapa banyaknya beras yang engkau butuhkan untuk anak-anak dan keturunanmu?” Maka dengan merendah pula Sang Penemu berucap: “Mohon maaf Paduka, untuk adilnya silahkan para ilmuwan raja saja yang menghitungnya.”

Lalu semua ilmuwan di kerajaan dikerahkan untuk menghitung kebutuhan beras bagi si penemu beserta anak keturunannya. Maka tidak ada satupun yang bisa menghitung kebutuhannya, mendekati dengan ilmu yang logis-pun tidak ada yang bisa.

Maka raja menyerah pada Sang Penemu – yang memang orang paling cerdas pada jamannya. Lalu sang raja berucap pada si Penemu: “Kami menyerah, sedangkan kamu adalah orang yang paling cerdas di negeri ini – tolong dihitung kebutuhan beras untukmu dan anak keturunanmu – agar kami dapat penuhi.”

Karena diminta sang raja, maka si Penemu-pun menguraikan teorinya: “Begini Paduka, papan (catur) yang saya buat itu sesungguhnya cukup untuk menghitung kebutuhan beras bagiku dan anak-anak keturunanku…”.

Kemudian dia melanjutkan: “Mulai dengan menaruh satu butir beras di kotak pertama, kemudian lipatkan dua pada setiap kotak berikutnya – maka itu akan cukup untukku dan anak-anak keturunanku.”

Setelah itu para ilmuwan kerajaan diminta untuk menakar beras sesuai dengan cara mengitung yang disampaikan si penemu. Tetapi kemudian mereka-pun rame-rame menghadap sang raja kembali dengan panik.

Mereka menyampaikan: “Mohon maaf Paduka, kerajaan tidak akan mampu memberikan hadiah seperti yang Paduka janjikan pada Sang Penemu ini.” Kemudian mereka menunjukkan hitungannya kurang lebih seperti pada ilustrasi pada gambar.

Papan perhitungan kebutuhan pangan

Satu butir yang dilipat duakan pada kotak berikutnya menjadi dua butir. Ketika sampai di penghujung baris pertama sudah menjadi 128 butir. Di akhir baris yang tengah sudah mendekati 4.3 milyar butir. Pada ujung baris paling atas sudah menjadi sekitar 1.84^19 butir beras. Ini kurang lebih jumlah beras yang cukup untuk memberi makan bagi seluruh penduduk bumi yang ada sekarang untuk seribu tahun mendatang.

Raja terbelalak dengan angka ini, dia telah salah sangka menganggap enteng urusan pangan yang dijanjikan untuk rakyatnya ini. Namun karena dia raja, dia tidak mau dilecehkan kecerdasannya oleh rakyatnya yang paling cerdas sekalipun. Maka bukannya hadiah yang akhirnya diberikan pada Sang Penemu, tetapi hukuman pancung karena telah memusingkan raja.

Cerita ini tentu fiksi belaka, tetapi nilai pelajarannya adalah tentang beratnya urusan pangan ini.

Jangan sampai pemimpin negeri-negeri menganggap enteng urusan yang satu ini. Urusan pangan (dan juga urusan-urusan lain tentu saja ) harus diserahkan pada yang bener-bener ahlinya. Bila tidak maka yang terjadi bukannya mereka ngurusi urusan pangan rakyat, tetapi malah ngrusuhi (Jawa=merecoki, red) urusan pangan mereka.

Waktu saya SMP sekitar 4 dasawarsa lalu, saya mendengar (Rh)Oma Irama menyanyikan lagu 135 juta penduduk Indonesia. Sekarang divisi kependudukan PBB memperkirakan bahwa penduduk Indonesia mencapai 272 juta di tahun 25, atau lipat dua kali selama rentang waktu kurang lebih 50 tahun.

Ketika sampai ke cucu kita, 50 tahun berikutnya – penduduk negeri inipun lipat dua kalinya menjadi sekitar 544 juta jiwa.

Pertanyaannya adalah makan apa mereka nanti? Di mana mereka akan tinggal? Minum air yang seperti apa mereka? Apakah masih tersisa udara bersih untuk mereka? dlsb. dlsb.

Masa itu memang masa yang seolah lama, tetapi ingat apa yang kita lakukan saat ini sangat menentukan kondisi bumi seperti apa yang akan kita wariskan ke anak cucu kita kelak.

Allah memang menyediakan bumi seisinya ini cukup untuk seluruh makhluknya, tetapi Allah juga memerintahkan kita untuk menjadi pemakmurnya (QS 11:61). Kecukupan pangan bagi seluruh penduduk bumi hanya terjamin bila kita tidak berbuat kerusakan di muka bumi dan kita kembali ke jalanNya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Ruum [30]:41).

Artinya apa ini semua? Semua masalah kita termasuk urusan pangan ini, harus benar-benar diurusi dengan mengikuti jalanNya. Bila tidak, maka yang seharusnya ngurusi-pun bisa berakhir dengan ngrusuhi urusan-urusan rakyat ini. Wa Allahu A’lam.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: -
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang

Buah Kelengkeng Yang Tidak Sempat Matang

Yang Menundukkan tidak Ditundukkan

Yang Menundukkan tidak Ditundukkan

Dan Di Laut Kita (Bisa) Berjaya…

Dan Di Laut Kita (Bisa) Berjaya…

Tum Hi Ho, Indonesia Tanpa Tempe?

Tum Hi Ho, Indonesia Tanpa Tempe?

Setelah Kelantan dan Utah, Bagaimana Dengan Kita?

Setelah Kelantan dan Utah, Bagaimana Dengan Kita?

Baca Juga

Berita Lainnya