Matematika Berkah

Dengan hijrahnya 5 % penduduk yang menggunakan perbakan dan system keuangan ribawi ke sektor riil seperti bidang pangan saja, insyaallah urusan pangan negeri ini selesai

Matematika Berkah
maka setiap pengurangan riba insyaAllah akan menjadi jalan menuju iman dan takwa yang berarti juga menuju berkah

Terkait

Oleh: Muhaimin Iqbal

PASTI ada maksudnya ketika Allah memberikan contoh perhitungan pada sesuatu yang sangat istimewa seperti Malam Lailatul Qadar  – malam yang lebih baik dari 1000 x bulan atau lebih baik dari 29.000 x malam (QS 97 : 1-3; QS 44 :3). Sesuatu yang terhitung atau terkwantifisir akan lebih memungkinkan untuk direalisir. maka dengan contoh perhitungan pula insyaAllah kita akan bisa menghadirkan keberkahan untuk negeri in

Negeri ini akan diberkahi jika penduduknya beriman dan bertakwa (QS 7:96). Sekarang kita bisa mecoba untuk berhitung keberkahan apa yang sekiranya bisa kita hadirkan ke negeri ini bila salah satu saja indikator iman dan takwa itu bisa kita  penuhi. Indikator yang saya maksud tersebut adalah ada di ayat berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” [QS: Al-Baqarah: 278]

Ayat tersebut mirip kalimat ‘jika dan hanya jika’ dalam bahasa matematika logika. Orang yang beriman dan bertakwa dia akan meninggalkan riba. orang yang meninggalkan riba adalah orang yang beriman. Dengan kalimat ini yang sebaliknya-pun berlaku yaitu orang yang tidak beriman dan tidak bertakwa dia tidak meninggalkan riba. dan orang yang tidak meninggalkan riba dia juga tidak beriman.

Kita semua sudah tahu bahwa bunga bank konvensional (juga asuransi dan lembaga keuangan non bank konvensional lainnya) adalah riba dalam pengertian ayat tersebut di atas – yang kemudian MUI juga membenarkan tafsir ini berdasarkan fatwanya no 1 tahun 2004.

Tetapi realitanya saat ini berdasarkan data terakhir (Mei 2013 untuk bank konvensional. dan April 2013 untuk bank syariah). dana pihak ke 3 yang dihimpun perbankan konvensional di negeri yang mayoritasnya muslim ini masih mewakili lebih dari 95%  (mendekati Rp 3.350 trilyun). Yang sudah berusaha menjauhi riba – terlepas dari beberapa kekurangannya – di bank syariah hanya mewakili kurang dari 5 %-nya (hanya kurang dari 159 trilyun).

Apa hubungannya angka-angka ini dengan keberkahan? Seandainya saja ayat ‘jika dan hanya jika’ tersebut diatas didakwahkan rame-rame. sampai ayat ini bener-benar bukan hanya dipahami – menjadi penjelasan (bayaan). Tetapi juga menjadi petunjuk (hudan) – untuk berbuat sesuatu – dan nasihat/peringatan (mau’idhah) yaitu antara lain menjauhi riba, maka setiap pengurangan riba insyaAllah akan menjadi jalan menuju iman dan takwa yang berarti juga menuju berkah (QS 7:96).

Seandainya dana pihak ke 3 yang ribawi (di bank konvensional) tersebut berkurang 5 % saja berarti Rp 167 trilyun. Maka bila ini ditambahkan ke perbankan syariah – bank-bank syariah ukurannya akan menjadi lebih dari dua kali lebih besar dari kondisi rata-rata mereka saat ini.

Dana Rp 167 trilyun tersebut milik siapa sesungguhnya?Sama dengan dana induknya yang 3.350 trilyun adalah dana pihak ke 3 dari perbankan – artinya ya dana masyarakat seperti kita-kita ini.

Maka seperti induknya pula dana yang Rp 167 trilyun – adalah juga dana kita-kita – yang mewakili 5% saja dari kita-kita yang selama ini masih menggunakan bank-bank konvensional!

Dengan kata lain bila 5% saja dari kita-kita yang selama ini menggunakan bank konvensional memutuskan untuk tidak lagi menabung di bank konvensional dalam berbagai bentuknya – maka akan terkumpul dana yang kurang lebih sebesar Rp 167 trilyun ini.

Lantas untuk apa dana ini? Agar legal formalnya terpenuhi –  bisa saja dana ini dikelola oleh bank-bank syariah sehingga ukuran mereka menjadi dua kali lipat dari sekarang. Tetapi kali ini bank syariah tidak boleh menyalurkan dana ini sendirian. mereka dapat kita (masyarakat yang menjadi pasar mereka) arahkan agar dana ini untuk menggerakkan sektor riil yang spesifik.

Misalnya untuk membiayai masyarakat yang ingin berkebun kurma (sekedar contoh), maka dana tersebut cukup untuk membuka sekitar 1.675.000 hektar kebun kurma di Jawa maupun luar Jawa.

Seberapa luaskah kebun kurma 1.675.000 hektar ini? Ini kurang dari ¼ luas kebun sawit yang kini sudah ada di Indonesia. Tidak seberapa bukan ?

Tetapi lihat dampaknya, dengan luasan ini kita bisa menanam sekitar 268 juta pohon kurma. Bila dengan hasil rata-rata pertahun 80 kg per pohon  saja, ini cukup untuk menutupi kebutuhan karbohidrat bagi seluruh 250 juta penduduk negeri ini secara terus menerus setiap tahun.

Tetapi kan kita hidup tidak hanya butuh karbohidrat, kita butuh lemak, protein dan berbagi kebutuhan lainnya? Ini betul. Justru inilah maka di kebun-kebun kurma tersebut juga akan bisa ditanami zaitun (sumber lemak/minyak yang penuh berkah). Rumput-rumputan untuk pakan ternak kita (sumber protein) – dan tentu saja bila tidak semua kita butuhkan sendiri bisa kita pertukarkan dalam perdagangan untuk membiayai kebutuhan kita lainnya.

Poinnya, insyaAllah keberkahan ini bisa dinalar dengan perhitungan yang dicontohkan langsung olehNya.

Keberkahan yang terkwantifisir lebih memungkinkan untuk direalisir. Dengan hijrahnya 5 % penduduk yang menggunakan perbakan dan sistem keuangan ribawi ke sektor riil seperti bidang pangan saja. insyaallah urusan pangan negeri ini selesai. Persentase demi persentase berikutnya bisa untuk memecahkan banyak hal lain di negeri ini seperti urusan kesehatan, pendidikan, perumahan dlsb.

Tetapi apakah ide semacam ini benar-benar doable ? Apakah bukan mimpi dan mungkin menjadi visi?

Semuanya bisa dimulai bila yang 5 % masyarakat pengguna system riba tersebut bisa bergerak dari manusia kebanyakan – menjadi manusia yang bertakwa.

هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia. dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah. dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya). jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran [3]:138-139)

Perhatikan kembali logika matematika di dua ayat tersebut di atas. Manusia kebanyakan (seluruh manusia) hanya menjadikan al-Qur’an sebagai penjelasan (bayaan) – inipun bagi yang mau saja. Tetapi orang-orang yang bertakwa menjadikan al-Qur’an itu petunjuk (hudan) dan nasihat/pelajaran (mau’idhah).

Orang yang bertakwa – pastinya juga dia beriman. orang yang beriman dia tidak akan lemah (tergantung pada orang lain), tidak pula  sedih karena dialah yang paling tinggi derajatnya.

Konkritnya seperti apa? Setelah memahami ayat-ayat tersebut di atas dan ayat-ayat lainnya – misalnya ayat-ayat tentang riba – sebagai penjelasan (bayaan), orang yang beriman dan bertakwa tidak berhenti disini. Dia akan menjadikan ayat-ayat tersebut petunjuk (hudan) untuk berbuat sesuatu. dan menjadi peringatan (mau’idhah) untuk meninggalkan sesuatu – apalagi yang sangat dilarang seperti riba – dan orang-orang inilah yang insyaAllah akan ditinggikan oleh Allah derajatnya.

Bila ada 5 % saja market share orang-orang seperti ini, insyaAllah kita akan mulai bisa melihat keberkahan seperti dalam hitung-hitungan matematika di atas, apalagi bila bisa lebih 5 % inilah yang diharapkan akan rame-rame mencari bentuk investasi sektor riil yang sesungguhnya.

Dan 5 % inipula yang akan bisa menggelembungkan ukuran bank syariah sekarang menjadi lebih dari dua kali lipat pangsa pasarnya – bila saja mereka mau bekerja dengan petunjuk(huda) dan peringatan (mau’idah). dan tidak merasa puas dengan hanya penjelasaan (bayaan).

Maka bila semua ini bisa dimulai. InsyaAllah akan ada jalan untuk ‘jika dan hanya jika’ berikutnya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa. pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: al-A’raf [7]:96)

Lihat, yang disuruh beriman dan bertakwa di sini adalah penduduk – yakni kita-kita semua. bukan hanya pemimpin kita. bukan hanya para wakil kita. bukan hanya orang-orang yang kaya . penguasa atau pengusaha (meskipun mereka semua tentu juga bagian dari penduduk seperti kita-kita). tetapi kita semuanya penduduk negeri ini. kita semua-lah yang insyaAllah bisa menghadirkan keberkahan ke negeri ini dan sudah bukan waktunya untuk menoleh atau berharap ke orang lain.

Jika kita beriman dan bertakwa maka keberkahan akan melimpah dari langit dan dari bumi kita. Jika kita tidak beriman dan tidak bertakwa?  Na’udzubillahi min dzalik.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar

Rep: -

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !