Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Sudut Pandang Asset Atau Liability?

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

RASANYA belum kering keringat rakyat Jakarta dari kerja keras membersihkan dan membangun bekas-bekas kerusakan karena banjir, rasanya juga baru kemarin kita membaca kebanggaan pemda DKI bersama BPPT – yang merasa berhasil memodifikasi cuaca dengan menggiring hujan ke laut. Hari-hari ini kita sudah membaca krisis air di Jakarta yang nampaknya sangat serius, beritanya ada di headline Kompas (19/03/13). Apa yang salah?

Di DKI saja defisit air bersih yang sekarang berada di kisaran 12,000 liter/ detik, sekitar 12 tahun lagi (2025) akan menjadi tiga kalinya atau sekitar 36,000 liter/ detik. Artinya akan lebih banyak lagi masyarakat yang tidak dapat menjangkau air bersih ini.

Mengapa ini terjadi? Air yang baru beberapa pekan lalu diusir-usir – seolah hari ini baru tersadar bahwa ternyata kita sangat membutuhkannya, bukan hanya untuk sekarang tetapi juga untuk kebutuhan di masa yang akan datang.

Kebingungan dalam menyikapi masalah air ini tidak terlepas dari sikap pemerintah yang tidak jelas dalam memandang air tersebut. Kadang dilihatnya sebagai asset ketika lagi dibutuhkan seperti sekarang ini, kadang dilihatnya sebagi beban/liability ketika untuk sesaat air tersebut tidak terkendali.

Lantas bagaimana seharusnya menyikapi masalah air ini? Mestinya kita secara konsisten memandang air hujan sebagai asset, karena dengan memandangnya sebagai asset kita akan berusaha keras menjaganya jangan sampai hilang/berkurang dan jangan sampai berubah menjadi liability. Asset bisa berubah menjadi liability manakala kita salah mengelolanya atau salah dalam menyikapinya – juga sebaliknya.

Dengan merubah sikap dari negative (liability) ke positif (Asset) atau dari sikap yang tidak menentu plus-minus (kadang asset kadang liability) menjadi secara istiqomah memandangnya sebagai asset yang positif – maka kita akan selalu berprasangka baik kepada Sang Pemberi air (hujan) tersebut .

Kita akan sepenuhnya percaya bahwa tidak ada yang sia-sia dalam ciptaanNya ( QS 3 :191). Bahwa hujan adalah rakhmatNya yang kabar kedatangannya-pun mendatangkan kegembiraan (QS 7 :57). Bahwa air hujan selain mensucikan diri kita, air hujan juga menguatkan hati dan memperteguh pendirian kita (QS 8 :11).

Air hujan bukan hanya untuk kita manusia, tetapi tanaman-tanaman dan juga ternak-pun sangat membutuhkannya (QS 16 :10). Air hujan adalah air yang amat bersih (QS 25 : 48) dan hanya Allah-lah yang bisa menyimpannya (QS 15 :22).

Dari rangkaian sebagian kecil ayat dari sekian banyak ayat yang membahas air hujan ini saja, kita sudah bisa menarik pelajaran yang sangat banyak – bagaimana seharusnya kita bersikap.

Bahwa air hujan itu amat bersih…, hanya Allah-lah yang bisa menyimpannya…

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬‌ۖ لَّكُم مِّنۡهُ شَرَابٌ۬ وَمِنۡهُ شَجَرٌ۬ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dan “Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS: an Nahl: [16]:10).

Maka kita sudah bisa membayangkan solusi penyimpanan air bersih seperti apa yang kiranya akan bisa langgeng memenuhi kebutuhan air minum untuk manusia, untuk menumbuhkan tanaman dan untuk ketersediaan pakan ternak itu.

Ketika kita mengelola air tanpa mempertimbangkan tiga pengguna utamanya tersebut (manusia, tanaman dan ternak), maka yang kita hadapi ya yang terjadi sekarang. Kita krisis banjir, belum selesai banjir kita krisis bahan pangan (kedelai, jangung, bawang dlsb), bersamaan dengan itu pula kita krisis daging sapi!

Lantas bagaimana mengelola air itu seharusnya? Secara ilmiah teknik menyimpan air dengan Biosoildam seperti yang pernah saya tulis ketika Jakarta lagi tenggelam akhir Januari lalu, bisa menjadi salah satu aplikasi yang murah, doable dan bisa dilakukan oleh masyarakat luas seandainya toh pemerintah tidak berfikir kearah sana.

Masalah air adalah masalah kita semua, kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah untuk mengatasi masalah air ini. Bila yang dilakukan pemerintah salah arah atau tidak cukup menjawab tantangan masalah air ini, korbannya adalah kita semua dan anak cucu kita. Maka berbuat yang kita bisa adalah jawabannya.

Lantas berbuat apa yang kita bisa? Kemungkinan besar bukan membuat dam, gorong-gorong dan sejenisnya. Yang bisa kita berbuat ya mengikuti petunjuk Allah tersebut di atas, dengan mengandalkan Allah-lah yang bisa menyimpan air yang amat bersih itu – mudah-mudahan kita menjadi tentaraNya yang ikut dilibatkan dalam penjagaan ini.

Benih Untuk Mengamankan Pangan dan Air

Untuk hal kecil ini agar bisa dilakukan secara massive oleh masyarakat luas, proyek yang kami lombakan dalam mobile competition (wikitani) beberapa hari lalu antara lain juga akan bermanfaat untuk mensosialisasikan dan menggerakkan masyarakat dengan budaya baru yaitu budaya menanam. Lantas apa yang ditanam? Jenis tanamannya sedang kami riset – apa nanti kiranya yang paling efektif untuk menyimpan air, sekaligus juga mengamankan pasokan pangan dunia masa depan.

Meskipun yang kita lakukan hanyalah hal kecil, ikut menanam satu dua pohon, ikut menghemat setetes dua tetes – mudah-mudahan ini menjadi bagian skenario besar Allah dalam menjaga air tersedia untuk seluruh kehidupan makhlukNya tersebut di atas.

Dan ini semua hanya mungkin dilakukan bila kita bisa melihat air sebagi asset bukan liability, karena dia asset yang sangat berharga – maka kita akan berusaha sekuat tenaga menjaganya dan mengelolanya agar asset tetap menjadi asset, bukan berubah menjadi liability. InsyaAllah.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

The Preparedness Check [1]

The Preparedness Check [1]

Al-Baaqiyaatushshaaliqaat : Investasi Abadi untuk Keunggulan Umat

Al-Baaqiyaatushshaaliqaat : Investasi Abadi untuk Keunggulan Umat

Merdeka Dengan Bergandengan Tangan

Merdeka Dengan Bergandengan Tangan

Dampak Inflasi, Kok yang  Miskin Harus Membayar Lebih Mahal?

Dampak Inflasi, Kok yang Miskin Harus Membayar Lebih Mahal?

Emas dan Perang

Emas dan Perang

Baca Juga

Berita Lainnya