Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Hidup Tanpa Uang

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

PEKAN lalu (27/11/2012) saya menulis tentang the Preppers, yaitu sekelompok orang di Amerika yang telah mempersiapkan diri dalam menghadapi ‘kiamat’ – antara lain oleh karena hancurnya nilai mata uang. Saya sendiri berpendapat dunia belum akan kiamat hanya karena kehancuran mata uang, orang tetap bisa hidup tanpa uang sekalipun – bahkan mungkin lebih baik. Bagaimana caranya?

Uang memang merupakan temuan yang luar biasa dari peradaban manusia selama lebih dari 3,000 tahun terakhir ini. Uang memudahkan manusia untuk saling mempertukarkan kebutuhannya, itulah sebabnya uang juga disebut alat tukar atau medium of exchange.

Hanya saja perkembangan mata uang dunia seabad terakhir bukannya tanpa masalah. Uang bisa menjadi alat eksploitasi satu bangsa terhadap bangsa yang lain, uang menjadi instrumen untuk mengeruk kekayaan negara lain, uang bisa memiskinkan para pemiliknya.

Bila suatau negara yang kaya akan sumber alamnya, kemudian sumber alam tersebut dikeruk dan ditukar dengan uang kertas menjadi cadangan devisa – yang menyusut terus daya belinya sebelum digunakan – maka disitulah proses eksploitasi melalui mata uang satu negara terhadap negara lain terjadi.

Dalam skala individu di masyarakat hal yang sama juga terjadi. Para pekerja mengumpulkan hasil jerih payahnya bekerja keras berpuluh tahun, sebagian hasilnya dikonsumsi dan sebagian lainnya dipakai untuk kebutuhan masa depan. Untuk kebutuhan hari tua, untuk biaya kesehatan, untuk sekolah anak dlsb.

Hanya saja hasil jerih payah yang tidak segera digunakan tersebut dari waktu ke waktu juga terus menyusut nilainya oleh apa yang disebut inflasi. Inflasi menggerogoti hasil kerja masyarakat – seperti membawa air dalam ember bocor, habis airnya ketika sampai tujuan (pensiun).

Lantas apakah ada solusi agar negera yang kaya tidak dieksplotasi negara lain dengan uangnya? Atau hasil jerih payah pekerja yang tidak segera digunakan tidak bocor di tengah jalan? InsyaAllah ada, yaitu menyimpan asset tidak dalam bentuk uang tetapi dalam bentuk barang.

Negara tidak menjual hasil sumber daya alamnya untuk ditukar dengan mata uang kertas, tetapi boleh ditukar dengan komoditi lain yang diutuhkan yang tidak bisa diproduksi sendiri.
Masyarakat pekerja menyimpan tabungannya tidak juga harus dalam bentuk mata uang kertas, tetapi dalam bentuk asset-asset yang terjaga nilainya – yang akan dia butuhkannya di kemudian hari.

Lantas bagaimana kalau dibutuhkan likwiditas atau uang untuk kebutuhan lainnya? Bisa dijual saat dibutuhkannya, atau ditukar langsung dengan barang yang dibutuhkan – tanpa melalui medium of exchange berupa uang, sehingga tidak ada yang bocor oleh inflasi.

Pertukaran barang dengan barang atau dengan jasa atau yang disebut barter, sudah dilakukan sejak manusia pra sejarah mengenal jual beli. Dengan bantuan teknologi kini, segala persoalan yang terkait dengan barter lebih mudah diselesaikan.

Kendala utama barter yang disebut coincidence of wants – kebutuhan yang secara kebetulan saling sesuai, bisa dipertemukan dengan mudah melalui teknologi informasi yang tidak ada di era barter dulu.

Kendala utama berikutnya adalah terkait sistem penilaian atas barang-barang dan jasa yang dibutuhkan manusia. Berapa kilogram beras untuk dapat ditukar dengan seekor kambing, berapa liter susu untuk upah tenaga kerja sehari dst –problem-problem semacam ini lagi-lagi mudah dipecahkan di jaman ini.

Bila ulama dahulu seperti Imam Ghazali mengingatkan hanya emas dan peraklah timbangan atau hakim yang adil, penentu harga barang-barang kebutuhan manusia, maka neraca itu di era teknologi sekarang ini mudah untuk dimunculkan kembali.

Lho emas kan nilainya tinggi? Apa praktis untuk mengukur upah tenaga kerja sehari? Harga sayur mayur di pasar dlsb? Tidak masalah pula, di era digital ini emas bisa dipecah menjadi satuan yang sangat kecil untuk dapat menimbang secara akurat harga barang atau jasa yang bernilai kecil sekalipun.

Untuk infrastruktur sistem barter yang saat ini kami persiapkan – timbangan yang adil berbasis emas itu telah kami pecah menjadi sangat kecil dengan apa yang kami sebut Point.

Satu Point setara dengan 1 ¢¢ Dinar atau 1/10,000 Dinar atau 0.000425 gram. Berapa nilai 1 point atau 1 ¢¢ Dinar ini sekarang? Pagi ini nilainya setara dengan Rp 227,- atau $ 2.37 ¢ atau ¥ 1.95 atau Riyal 8.88 ¢ dst. Konversi ini berubah setiap 6 jam dan dapat dilihat update-nya di www.indobarter.com.

Mengapa repot-repot menciptakan satuan nilai baru?

Pertama satuan nilai atau units of account memang dibutuhkan agar barter menjadi mudah.

Kedua satuan nilai Rupiah, Dollar dan mata uang kertas lainnya nilainya tergerus inflasi. Dan

ketiga sama sekali tidak repot, justru satuan niai yang saya sebut Point ini karena berbasis emas – nilai daya belinya berlaku universal – di negara manapun kurang lebih sama.

Misalnya Anda akan membayar dam untuk seekor kambing pada saat melaksanakan ibadah haji, berapa harganya yang pantas dalam Riyal? Berapa kalau di-Rupiahkan? Atau Anda membeli satu kg daging steak untuk masak di apartment Anda di Singapore, berapa harga yang pantas untuk ini dengan Sing Dollar? Berapa kalau di-Rupiahkan? Tidak mudah bukan?

Kita menjadi mudah mengalami disorientasi nilai bila melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain karena bergantinya mata uang. Dengan sistem Point berbasis emas yang saya perkenalkan di situs tersebut, disorientasi ini tidak perlu terjadi.

Seekor kambing yang seharga 10,000 Point di Indonesia, harusnya juga tidak jauh dari angka ini di Arab Saudi. Satu kilogram daging yang seharga 330 Point di Indonesia, mestinya juga tidak jauh dari angka ini di Singapore.

Satu kg beras standar nilainya sekitar 33 Point, perlu sekitar 300 kg beras untuk dapat ditukar dengan kambing. UMR di Jakarta sekitar 9,690 Point – belum cukup untuk membeli satu ekor kambing yang baik.

Idealnya UMR negeri yang makmur adalah sekitar 16,700 Point per bulan – agar para pekerja tersebut berpenghasilan melampaui nishab zakat yang 20 Dinar per tahun atau 200,000 Point.

Makan siang di kantor berada di kisaran 50 – 80 Point. Satu kg singkong di kisaran 3 – 5 Point. Satu liter susu sapi 20 Point, tetapi satu liter susu kambing 180 Point dst.

Masyarakat yang terbiasa dengan satuan nilai baku yang tidak bias oleh inflasi dan nilai tukar antar mata uang negara-negara di dunia, akan lebih mudah memahami kewajaran harga-harga, kelayakan upah tenaga kerja dlsb di manapun di dunia.

Kelak kalau sudah terbiasa, bahkan nilai Point Exchange Rates yang saya perkenalkan di indobarter tersebut menjadi tidak lagi terlalu dibutuhkan – saat itu masyarakat sudah akan hafal diluar kepala harga kambing yang baik 10,000 Point, beras sedang 33 Point dst.

Saat itu tidak lagi relevan apakah Amerika akan terus men-devaluasi nilai mata uangnya dengan infinity quantitative easing-nya, atau negeri ini mengimplementasikan rencana redenominasi mata uangnya – yang seharusnya sudah dilakukan sekian tahun lalu dlsb.

Namun satu hal perlu diingatkan di dunia barter dengan timbangan yang paling adil sekalipun, yaitu harga barang-barang bisa naik dan bisa turun. Harga kambing bisa bergerak naik atau turun dari 10,000 Point, harga beras bisa naik atau turun dari 33 Point dst.

Bedanya adalah fluktuasi harga di era mata uang adalah didorong oleh dua hal yaitu supply and demand dan penurunan daya beli mata uang (inflasi). Supply and demand mendorong harga barang berosilasi di sekitar sumbu yang stabil, sumbu inilah yang nilainya 10,000 Point untuk kambing dan 33 Point untuk beras dst.

Sedangkan inflasi mendorong harga untuk secara gradual naik – dan tidak balik turun lagi. Inflasilah yang menyebabkan harga kambing qurban naik dari 33 tahun lalu di kisaran antara Rp 25,000 – Rp 80,000 , sekarang menjadi berkisar antara Rp 1,000,000 – Rp 3,000,000,-. Kenaikan harga kambing yang sangat significant dalam jangka panjang tersebut bukan karena supply and demand!

Factor supply and demand akan mendorong harga stabil karena ketika barang mahal produsen terdorong untuk memproduksi lebih, kalau barang terlalu murah produsen mengurangi produksi.

Harga yang murni terbentuk oleh mekanisme pasar – supply and demand tersebutlah – yang dalam Islam penguasa sekalipun dilarang untuk mempengaruhinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menolak permintaan umatnya untuk menurunkan harga barang-barang ketika harga tersebut naik tinggi.

Di jaman sekarang – era mata uang kertas ini, kita tidak mudah untuk bisa tahu apakah suatu barang naik karena mekanisme pasar supply and demand atau karena inflasi. Bila karena inflasi, itu menyengsarakan rakyat dan harus dicegah. Tetapi kalau murni karena mekanisme pasar, dia justru tidak boleh dicampuri oleh penguasa sekalipun.

Artinya dengan teknik barter yang menggunakan satuan nilai point – yang bebas dari inflasi, insyaAllah kita akan dapat melihat kewajaran harga-harga barang yang sesungguhnya.
Bila kelak sistem yang sedang kami kembangkan ini benar-benar siap digunakan, insyaAllah kita akan bisa hidup tanpa uang sekalipun! InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Value vs Values

Value vs Values

Peluang (dan Ancaman) Dari Business Model…

Peluang (dan Ancaman) Dari Business Model…

7 Sumber Pengentasan Kemiskinan…

7 Sumber Pengentasan Kemiskinan…

Emas Dan Sinyal Perubahan Ekonomi Dunia

Emas Dan Sinyal Perubahan Ekonomi Dunia

Cemerlang Di Usia Muda, Why Not…?

Cemerlang Di Usia Muda, Why Not…?

Baca Juga

Berita Lainnya