Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Peluang di G-Zero World

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

BEBERAPA tahun lalu pernah ada upaya untuk menyatukan dua kekuatan raksasa dunia yaitu Amerika dan China yang dikenal sebagai G-2, tetapi gagal. Pernah pula ada upaya untuk menyatukan tiga kekuatan dunia yaitu Amerika, Eropa dan Jepang yang disebut G-3, inipun gagal. Lalu berkumpul 7 negara industri maju dengan apa yang disebut G-7, yang ini dipandang tidak cukup dan kemudian diperluas menjadi G-20, yang ini menjadi terlalu banyak kepentingan yang saling berebut . Walhasil baik G-2, G-3, G-7 maupun G-20 semuanya gagal mengelola dunia dengan lebih baik. Lantas siapa yang akan bisa memimpin dunia kemudian?

Menurut Ian Bremmer – pendiri dan presiden Eurasia Group – specialis riset perpolitikan global, seluruh persekutuan negara-negara tersebut diatas tidak akan berhasil memimpin dunia ke arah yang mereka kehendaki. Sebaliknya, dunia malah akan menuju ke arah apa yang dia sebutnya G-Zero World, yaitu dunia yang tanpa kepemimpinan global. Analisanya ini dipublikasikan dalam buku kontroversial yang beredar di dunia sejak dua bulan lalu, buku yang berjudul “Every Nation For Itself : Winners and Losers in a G-Zero World” (Penguin Group, 2012).

Menurut penulis buku tersebut negara-negara yang akan survive di era ini adalah negara yang memiliki integritasnya sendiri, mereka bergaul dan berinteraksi tanpa batas dengan pasar dan pemerintahan negeri lain – tetapi memiliki pilihan-pilihannya sendiri, baik pilihan dibidang ekonomi, politik, keamanan dlsb.

Bahwa persekutuan negara-negara yang ada sekarang akan runtuh, saya setuju dengan Ian Bremmer. Tetapi dalam hal negara tanpa kepemimpinan global, saya tidak setuju. Mengapa demikian ?, mari kita perhatikan ayat berikut:

وَإِنَّ كَثِيراً مِّنْ الْخُلَطَاء لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعاً وَأَنَابَ {س}

“…. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat lalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh; dan amat sedikitlah mereka ini…” (QS: Shaad [38]:24)

Juga dalam hadits berikut:

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘ Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati yang lain. Jika salah seorang di antara keduanya mengkhianati yang lain, maka Aku keluar dari persekutuan tersebut.’” (HR Abu Dawud dan Hakim).

Persekutuan antara orang-orang atau negara-negara yang saling mengkhianati, pasti akan hancurnya. Tetapi persekutuan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh insyaallah akan langgeng. Pasca kenabian, kekhalifahan mengalami pasang surut tetapi keberadaannya berlangsung sampai lebih dari 13 abad. Kekhalifahanpun berakhir ketika ada yang berkhianat di dalamnya.

Jadi di era G-Zero World sebenarnya yang berpeluang memimpin dunia adalah negara-negara yang bisa bersatu dalam iman, dan beramal shaleh berupa karya nyata memberi solusi-solusi yang ditunggu dunia saat ini.

Tetapi karena negara-negara yang menggunakan keimanan sebagai dasar negaranya belum banyak, yang belum banyak inipun belum ada tanda-tanda mau bersekutu dengan sesamanya – maka persekutuan itu bisa kita mulai dari orang-orangnya.

Dunia ini menuju ke kerusakan karena belum ada yang memimpin ke arah sebaliknya, inilah sesungguhnya peran kita yang diajak bicara oleh Allah untuk memakmurkan bumi itu.

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“… Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS 11 :61)

Mereka sudah menghancurkan dunianya dengan tangan mereka sendiri, yang ditunggu tinggal tangan-tangan kaum mukminin untuk menggantikannya dengan kemakmuran. Tangan-tangan kitakah itu? Semoga demikian.

Kalau toh tangan-tangan kita masih terlalu lemah dibandingkan tugas yang ada, umur-umur kita mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang diamanahkan ke kita tersebut diatas – setidaknya kita mulai dari yang kita bisa, mencanangkan visi dan meluruskan niat, memetakan jalan yang akan kita dan anak cucu kita lalui kedepan. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Berbagi Dengan Sop Batu

Berbagi Dengan Sop Batu

Menyikapi (Teknologi) Bitcoin

Menyikapi (Teknologi) Bitcoin

There Is No Bad Potato Salad…

There Is No Bad Potato Salad…

Solusi 1 % …

Solusi 1 % …

Dinar Untuk Napak Tilas Jejak Karir

Dinar Untuk Napak Tilas Jejak Karir

Baca Juga

Berita Lainnya