Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Sukses Tidak Sendirian…

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

BEBERAPA jam lalu ratusan juta pasang mata dari seluruh dunia perhatiannya tertuju pada Olympic Stadium di kota Kiev – Ukraina. Saya sendiri bukan penggemar bola, tetapi pertandingan final sepak bola piala Eropa ini saya saksikan juga dengan ngantuk-ngantuk bukan karena saya ingin melihat bolanya – tetapi saya ingin menyaksikan bagaimana sebuah sukses dibangun. Spanyol yang menang telak 4-0 atas Itali, memberikan sebuah visualisasi yang indah tentang sebuah sukses ini.

Tidak seorang pemain-pun bisa menggiring bola sendirian dari ujung ke ujung karena pasti mendapatkan hadangan dari lawannya, jadi dia harus bekerjasama erat dengan sejumlah pemain lainnya. Tidak penting siapa yang akhirnya berkesempatan menendag bola ke gawang lawan, tetapi seluruh team harus focus mengarahkan bola menuju kesana – untuk mencetak goal.

Contoh lain adalah Thomas Alva Edison yang dikenal sebagai penemu sejumlah peralatan yang mempengaruhi kehidupan manusia modern – di antaranya lampu pijar, dia sering dikira sebagai seorang jenius yang bekerja sendirian di laboratoriumnya. Yang sebenarnya terjadi adalah dia tidak sendirian, dia memiliki sekitar 30-an asisten yang sangat berpengalaman. Di antara asisten-asisten ini ada yang ahli kimia, ahli matematika, ahli fisika, para insinyur dan bahkan juga ahli meniup kaca.

Sukses adalah sebuah mata rantai yang tersambung satu sama lain dan tidak boleh ada satu mata-pun yang terputus. Menyambung mata rantai inilah yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison, seperti juga yang dilakukan oleh Vicente Del Bosque pelatih ‘Tim Matador’ – ketika merangkai satu demi satu ‘mata rantai’ pemain unggulannya untuk menjadi juara pada final piala Eropa tersebut di atas.

Membangun sukses dalam bidang apapun memerlukan orang-orang seperti Thomas Alva Edison, Vicente Del Bosque dlsb. yang bisa merangkai satu demi satu keunggulan menjadi sebuah mata rantai unggul. Ketika satu per satu keunggulan tersebut masih berdiri sendiri tanpa terangkai, maka itu tidak berarti apa-apa. Sehebat apapun seorang pemain bola, dia sendirian tidak akan bisa memenangkan pertandingan bila team-nya memble.

Di bidang makanan misalnya, Survey CNN tahun lalu menempatkan 3 dari 50 makanan terlezat di dunia adalah makanan yang berasal dari negeri ini. Rendang menduduki urutan pertama, nasi goreng di urutan kedua dan sate di urutan 14. Tetapi keunggulan dalam rasa ini tidak berarti apa-apa karena kita tidak atau belum berhasil menyusun rantai suksesnya sehingga rendang, nasi goreng dan sate belum menjadi industri makanan yang mendunia – yang berasal dari negeri ini.

Tidak sulit untuk membuat rendang yang paling enak, demikian pula nasi goreng istri saya saja tidak ada duanya rasanya (menurut saya), berpuluh jenis sate yang enak-enak semua ada di negeri ini – tetapi semuanya (masih) berjalan sendiri-sendiri.

Untuk menjadi industri makanan yang paling lezat di dunia, rendang, nasi goreng dan sate perlu ditunjang oleh segudang ‘team’ yang unggul lainnya. Team yang menyiapkan kontinyuitas bahan yang berkualitas, team yang menyusun dan mengawasi standard operation procedure, team yang menjalankan promosi, mengurusi aspek legal, menjaga kwalitas SDM dlsb.dlsb. Hanya setelah mata rantai keunggulan ini terangkai rapi dan tidak terputus – rendang, nasi goreng dan sate bisa menjadi industri makanan unggul di dunia – bukan sekedar kelezatan rasanya saja yang unggul.

Keunggulan-keunggulan lain di negeri ini berjibun, mulai dari ilmu pengetahuan, kekayaan alam, keragaman budaya, keindahan alam, luasnya lautan, keaneka ragaman hayati, letak geografis dlsb.dlsb. Hanya saja keunggulan-keunggulan tersebut masih berdiri sendiri-sendiri, belum cukup tangan-tangan terampil yang merangkainya menjadi mata rantai sukses bagi negeri.

Karena sukses itu tidak bisa sendirian, maka berjama’ah membangun sukses itu menjadi suatu keharusan. Bagi Anda yang ingin bergabung dalam mata rantai sukses ini, insyaallah 10 hari terakhir Ramadhan nanti kami akan kembali i’tikaf di Masjid Daarul Muttaqiin di Jonggol, sambil mentadaburi ayat-ayatNya – kita ingin merangkai jalan untuk bisa sukses di dunia dan di akhirat. InsyaAllah!*

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Paket Kebijakan Ekonomi Berbasis Domba dan Kurma (1)

Paket Kebijakan Ekonomi Berbasis Domba dan Kurma (1)

Urusan Pangan Dahulu, Kini dan Nanti (I)

Urusan Pangan Dahulu, Kini dan Nanti (I)

“Kemerdekaan” Finansial

“Kemerdekaan” Finansial

Peluang Besar Di Industri Halal

Peluang Besar Di Industri Halal

Asset Waktu

Asset Waktu

Baca Juga

Berita Lainnya