Rabu, 26 Januari 2022 / 22 Jumadil Akhir 1443 H

Ilahiyah Finance

The Big Picture…

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

BEBERAPA tahun lalu seorang pelukis Swedia berhasil membuat lukisan yang sangat besar seluas sekitar 8,000 m2 atau hampir 1.5 kali luasan lapangan bola. Saking besarnya lukisan yang memecahkan rekor Guinnes World Records ini, orang hanya bisa melihatnya dengan sempurna bila dia naik helicopter atau pesawat yang terbang rendah. Orang yang berdiri di atasnya malah tidak bisa melihat lukisan tersebut karena dia hanya akan melihat cat tumpah disana-sini dengan berbagai warnanya.

Dalam hidup kebanyakan yang kita lihat adalah cat tumpah tersebut. Kita menghadapi masalah demi masalah, halangan dan rintangan, pun suka duka silih berganti – tanpa sadar bahwa kita sedang membuat lukisan besar untuk hidup kita. Baik buruknya lukisan tersebut tergantung apakah kita melukisnya dengan sengaja atau hanya sekedar ‘menumpahkan cat’ di sana-sini.

Sama dengan pelukis Swedia tersebut diatas, dari waktu ke waktu selama proses melukis lukisan yang sangat besar – dia harus terbang cukup tinggi untuk bisa melihat apakah lukisannya sudah sempurna. Kemudian turun dan memperbaikinya, sampai hasilnya sempurna seperti yang direncanakannya.

Demikian pula dalam hidup, kadang diperlukan kita ‘terbang cukup tinggi’ untuk bisa melihat lukisan hidup kita. Apakah sudah sesuai dengan yang kita rencanakan atau belum. Dari waktu kewaktu kita perlu melakukan ini untuk bisa menyempurnakan lukisan hidup kita. Bagaimana caranya ?, dengan bermuhasabah – seperti yang diungkapkan oleh Umar bin Khattab “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah kalian untuk Yaumul Hisab”.

Dalam dunia usaha juga demikian, para pengusaha, para eksekutif sering mentog terjebak dalam berbagai rutinitas mengatasi masalah demi masalah tanpa bisa melihat lukisan besarnya. Orang lain yang melihat dari jauh yang dapat melihat lukisan besarnya, mereka bisa berinovasi secara lebih segar karena tidak terjebak dalam rutinitas yang ada. Itulah peran yang biasa dilakukan oleh para konsultan bisnis, para entrepreneur, para idea generator dlsb. yang tidak lelah untuk bisa memahami big picture dari masalah yang ada kemudian memberikan solusinya.

Muhammad Yunus, penggagas Grameen Bank dengan microcredit-nya yang membawanya sebagai pemenang hadiah Nobel 2006, dalam buku riwayat hidupnya menyatakan “Seandainya dari dahulu saya orang bank, saya tidak akan bisa pernah melahirkan Grameen Bank”. Dia bisa melahirkan sebuah bank yang luar biasa, Grameen Bank – yang menjadi solusi bagi permodalan mikro yang sangat dibutuhkan oleh ratusan juta penduduk miskin Bangladesh dan negara-negara lain yang menirunya – justru karena dia bukan orang bank asalnya.

Mengapa demikian? Karena bila dia saat itu adalah orang bank – dia sudah akan terjebak dengan worldview orang bank. Bahwa orang-orang miskin ini tidak bankable, bila diberi kredit tidak memiliki kemampuan untuk mengembalikannya, tidak cukup skills untuk bisa mengelola bisnisnya, tidak ekonomis untuk credit collection-nya, tidak ada jaminan untuk security-nya dlsb-dlsb. Muhammad Yunus bisa melihat big picture itu kemudian mengatasi setiap masalah yang ada di lapangan – maka jadilah lukisan besar nan indah bagi permodalan rakyat miskin Bangladesh.

Hari-hari ini saya tanpa sengaja menjadi ‘consultant by accident’ dari dua buah perusahaan yang sangat besar untuk ukuran saya. Keduanya milik saudara kita muslim-muslim yang taat yang berusaha membuat lukisan yang besar – tentang apa yang mereka lakukan dalam hidupnya.

Yang satu usahanya sudah sangat besar tetapi selama ini didanai oleh bank konvensional karena bank-bank syariah tidak mau/mampu mendanainya. Dia ingin saya membantu mendandani pendanaannya-nya sehingga bisa kembali kejalan yang syar’i dan bebas riba.

Yang satu lagi adalah perusahaan pertambangan yang sudah mengantongi segala macam perijinan yang dibutuhkan, bahkan juga sudah beroperasi tetapi belum optimal. Dia butuh dana yang sangat besar untuk mengoperasikannya secara optimal, tetapi lagi-lagi yang dihadapannya adalah bank-bank konvensional. Dia ingin tumbuh secara optimal tetapi juga tidak ingin terlibat dalam riba.

Bagaimana caranya? Saya belum bisa langsung menjanjikan solusi – lha wong saya belum pernah menjalankan usaha di bidang-bidang tersebut !. Tetapi justru karena saya bukan orang yang terlibat dalam rutinitas project-project mereka tersebut, insyaallah saya bisa melihatnya dari kejauhan sehingga big picture itu nampak jelas di mata saya. Setelah itu bersama-sama kita akan bekerja detail satu per satu supaya lukisan akhirnya dapat sempurna seperti yang dikehendaki keduanya.

Maka hari-hari ini saya sibuk menemui sejumlah petinggi dari bank-bank syariah, naik gunung turun lembah untuk mencari solusi dari balik gunung seperti yang saya tulis pekan lalu (29/05/12).

Mengapa kita mau melakukan segala kerepotan ini? Karena kita ingin bisa melihat big picture dari hidup kita itu dari tempat yang tinggi, kita tidak ingin terpaku di tanah sehingga hanya bisa melihat cat tumpah berserakan disana-sini. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kulumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

A Necessary Evil Bernama Pasar…

A Necessary Evil Bernama Pasar…

Industry 0.0

Industry 0.0

Kunjungan Ke Negeri Akhir Zaman

Kunjungan Ke Negeri Akhir Zaman

Kurikulum Kehidupan: Agar Hidup Senantiasa Lebih Baik

Kurikulum Kehidupan: Agar Hidup Senantiasa Lebih Baik

Dan Di Laut Kita (Bisa) Berjaya…

Dan Di Laut Kita (Bisa) Berjaya…

Baca Juga

Berita Lainnya