Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Swasembada dan Kemerdekaan

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

MAHATMA Gandi perlu waktu 32 tahun (1915 – 1947) untuk memerdekakan negerinya dari penjajahan Inggris dengan gerakan swasembada (swadeshi)-nya. Periode yang kurang lebih sama diperlukan negeri ini untuk kehilangan kemerdekaan ekonominya (1966-1998) yang ditandai dengan menunduknya presiden negeri ini ketika harus menanda tangani 50 butir kesepakatan (LOI – Letter of Intent) dengan IMF. Yang saya ingin sampaikan adalah betapa dekatnya hubungan antara swasembada itu dengan kemerdekaan suatu bangsa.

Foto yang amat terkenal dibawah seolah bercerita dengan sejuta kata, betapa suatu negeri besar dengan lebih dari 200 juta penduduknya, harus tunduk pada kekuatan asing dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Dari 50 butir letter of intent yang ditanda tangani presiden kita waktu itulah akhirnya BUMN-BUMN yang paling menguntungkan negeri ini – seperti di sektor telekomunikasi, pindah kepemilikannya ke tangan asing. Begitu pula bank-bank swasta nasional kita, hampir keseluruhannya kini dipegang tangan-tangan asing di belakangnya.

Kepentingan ekonomi dari pihak-pihak tertentu di sektor pertanian, perikanan dan produk hutan, juga nampak jelas sekali menumpang dalam LOI tersebut diatas. Dampaknya hingga kini adalah produk-produk pertanian dan perikanan asing merajalela di negeri ini. Bentuk dari ‘keterjajahan’ ini akan Anda rasakan ketika Anda membaca laporan-laporan dari wakil pemerintah kita waktu itu yang disampaikan ke IMF. Sampai sekarang kita masih bisa baca filenya di situs resmi IMF dan search dengan keyword “… Indonesian Letter of Intents”. Salah satunya saya beri link di sini.

Bukan luka lama yang ingin kita buka kembali, tetapi adalah suatu pelajaran dari sejarah panjang bagaimana suatu negeri bisa memperoleh kemerdekaannya melalui swasembada, dan sebaliknya bagaimana suatu negeri bisa kehilangan kemerdekaannya melalui ketergantungan pada tangan-tangan asing.

Maka bila Mahatma Gandhi sampai belajar memintal benang sendiri agar dia bisa mengajak rakyatnya swasembada sandang – bahkan dia juga berinovasi dengan pemintal benang portable untuk meng-inspirasi rakyatnya, maka mungkin inilah yang harus dilakukan bangsa ini untuk bisa merdeka dalam ekonomi, merdeka dalam pemikiran , merdeka dalam budaya dan berbagai bentuk kemerdekaan lainnya. Para pemimpin kita barangkali perlu turun tangan pada tataran praktis – dalam satu dua hal yang dianggap sangat penting, memberi contoh langsung “how to do it” – bukan sekedar “…saya telah menginstruksikan…” kemudian mengeluh “…instruksi saya tidak dilaksanakan…”.

Mahatma Gandhi memang bukan orang Islam, tetapi karena kedekatannya dengan Islam-lah yang membuat dia mati dibunuh oleh orang yang membenci Islam di negaranya 30 Januari 1948. Sangat bisa jadi karena belajar dari Islam pula dia bisa melahirkan gerakan non-cooperation-nya yang menolak kerjasama dengan penjajah yang membunuhi rakyatnya.

Kita tidak dilarang untuk bekerjasama dengan non-muslim sejauh mereka tidak memusuhi kita. Tetapi kita dilarang kerjasama dengan non mslim yang memusuhi kita, yang membunuhi saudara-saudara kita atau menyaksikan saudara-saudara kita terbunuh tidak berusaha menghentikannya – atau bahkan malah mendukungnya.

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dlalim.” (QS 60 :8-9)

Tetapi bagaimana kita bisa menghentikan perkawanan kita dengan orang-orang yang memerangi (saudara) kita tersebut bila faktanya kita butuhkan gandumnya untuk makanan pokok kita dan kedelainya untuk membuat lauk pauk tradisional kita ?. Justru itulah kita butuh merintis swasembada dalam berbagai aspek kehidupan, agar bisa menentukan sikap kita sebagaimana yang digariskan oleh Al-Qur’an tersebut di atas. Kita tidak akan bisa menghentikan perkawanan kita dengan orang-orang yang memusuhi kita, bila dalam satu dan lain hal kita tergantung pada produk-produk mereka.

Bukan pada Mahatma Gandhi kita mengambil contoh sebenarnya, tetapi bisa kita ambil pelajaran bahwa bahkan seorang non-muslim yang mampu membangun kemandirian sehingga tidak harus bekerja sama dengan musuh-musuhnya – bersikap mirip dengan yang digariskan di ayat tersebut diatas – membuat dia dan bangsanya merdeka. Apalagi bila sikap seperti ini dilakukan dengan landasan keimanan dan ketakwaan, maka insyaallah berkah dari langit itu akan bener-bener tercurah kepada kita.

Bilapun harus menempuh waktu 32 tahun untuk kita bisa mengambil kembali kemerdekaan kita dalam segala bidang, itu tidak mengapa. Tetapi langkah perjalanan kesana harus segera dimulai. Ada yang merintisnya di dunia pangan, pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan. Ada pula yang bisa merintisnya melalui teknologi, budaya, pendidikan, hiburan dlsb. Saya bisa memulai peran saya, dan Andapun bisa memulai peran Anda. Bersama kita rintis jalan untuk kemerdekaan anak-cucu kita. InsyaAllah.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Al Tijaarah Institute : Membangun Budaya Perdagangan Yang Adil

Al Tijaarah Institute : Membangun Budaya Perdagangan Yang Adil

Golden Age Challenge

Golden Age Challenge

Yang Ngurusi Bukan Ngrusuhi

Yang Ngurusi Bukan Ngrusuhi

Pedagang Yang Memperoleh Cahaya

Pedagang Yang Memperoleh Cahaya

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Baca Juga

Berita Lainnya