Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

All For One, Or One For All

Bagikan:

oleh: Muhaimin Iqbal

ANDA mungkin pernah mendengar istilah “all for one, one for all” dari semboyannya The Three Musketeers melalui novel terkenal karya Alexandre Dumas atau melalui filmnya. Istilah ini tiba-tiba muncul dari teman yang anaknya mengalami radang tenggorokan, dan dokter memberinya sejumlah obat. Tidak cukup satu obat, tetapi setidaknya ada tiga jenis obat sekaligus. Pola ini ternyata mirip dengan cara orang di jaman ini mengatasi berbagai persoalan hidupnya.

Seolah tidak yakin dengan satu obat, di kalangan dokter cenderung meresepkan sejumlah obat untuk menghantam satu penyakit yang sederhana saja seperti radang tenggorokan tadi. Ini yang saya sebut all for one itu – semua obat dikerahkan untuk mengatasi satu penyakit.

Di lain fihak sebenarnya kita punya pilihan lain, yaitu menggunakan satu obat yang berlaku untuk segala penyakit. Yang meresepkan-pun tidak tanggung-tanggung yaitu Nabi kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan bimbingan wahyuNya. Habbatus Sauda misalnya diresepkan beliau untuk segala macam penyakit melalui sabdanya : “Hendaknya kalian mengkonsumsi Habbatus Sauda, karena di dalamnya mengandung obat untuk segala jenis penyakit, kecuali As-sams (kematian).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Qur’an juga berfungsi sebagai obat bagi segala jenis penyakit. Ibnu Qayyim Al Jauziyah bahkan mengungkapkan bahwa orang yang tidak bisa disembuhkan dengan Al-Qur’an maka Allah tidak akan menyembuhkannya. Pernyataan ini merujuk surat Al-Ankabut 51 berikut :

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”

Jadi Al-Qur’an adalah satu obat untuk segala macam penyakit, demikian pula Habbatus Sauda. Ini yang saya sebut pilihan one for all itu.

Demikianlah kita yang hidup di jaman ini, kita sering terjebak menghabiskan seluruh energi untuk mengatasi satu masalah saja. Pekan lalu misalnya, seolah tidak ada lagi masalah yang penting yang perlu diatasi di negeri ini karena semua effort dan perhatian tertuju pada masalah harga bahan bakar.

Apakah dengan itu masalah (penyakit) akan selesai ?, kemungkinannya tidak. Beberapa bulan lagi ketika pemerintah terpaksa akan mengambil keputusan untuk menaikkan harga bahan bakar, hiruk pikuk keributannya akan berulang.

Dalam dunia ekonomi yang lebih luas, negeri ini pernah (masih ?) menganut apa yang disebut ekonomi Pancasila. Adakah ahli ekonomi yang bisa menjelaskan ekonomi semacam apa ini ?, konon bukan ekonomi kapitalis dan juga bukan sosialis. Tetapi bila kita bertanya ke sejumlah ahli, tidak ada yang bisa sepakat menjelaskan seperti apa konkritnya ekonomi Pancasila ini.

Dalam perjalanan panjang bangsa ini, kita pernah terombang-ambing diantara timur dan barat. Dengan kebimbangan kita, seolah tidak ada satu jalan yang bisa kita ambil dengan firm ‘inilah jalanku, maka ini yang harus aku tempuh!

Hiruk pikuk harga bahan bakar tersebut diatas merupakan cerminan kebimbangan kita dalam dunia ekonomi. Kita tidak seperti negara sosialis yang harga-harga dikendalikan penuh oleh penguasa, tetapi kita juga bukan negeri kapitalis yang menyerahkan semuanya ke mekanisme pasar.

Hal yang sama terjadi pada urusan politik – entah berapa kali sejak merdeka kita berubah haluan. Setelah kekacauan pemilu yang melibatkan sejumlah besar partai tahun 1955, kita mengulangi lagi ‘penyakit’ yang sama 44 tahun kemudian yaitu pemilu 1999 – yang terus berlanjut hingga kini.

Di alam demokrasi ini secara berkala seluruh tenaga , dana dan waktu seolah dikerahkan hanya untuk memilih segelintir anggota legislative, pimpinan daerah dan pimpinan nasional. Dengan hasilnya yang itu-itu juga, mengapa untuk ini perlu begitu banyak effort dikerahkan?

Lantas apakah ada satu jalan yang bisa kita tempuh secara meyakinkan untuk semua permasalahan tersebut di atas? Tentu ada, yaitu jalan yang lurus yang saya jadikan judul tulisan saya kemarin.

Ketika sakit kita berobat dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; ketika berekonomi kita menggunakan petunjuk yang sama dan demikian pula ketika kita berpolitik. Mengapa tidak?

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa berobat dengan Al-Qur’an dan sunnah tersebut secara konkrit ?, bagaimana kita mengatur ekonomi dan politik dengan petunjuk yang sama – juga secara konkrit?

Memang tidak mudah menjawabnya sekarang karena Al-Qur’an dan Al Sunnah telah begitu jauh dan begitu lama kita tinggal-kan dalam menyelesaikan masalah-masalah kesehatan, ekonomi, politik dan perbagai permasalahan lainnya di masyarakat.

Tetapi tidak mudah tidak berarti tidak mungkin, sebab sejalan dengan penafsiran surat Al-Ankabut : 51 tersebut di atas, bila permasalan-permasalahan kita tidak bisa kita selesaikan dengan Al-Qur’an (dan Al hadits) – bisa jadi memang permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan!

Inilah tantangan yang harus dijawab umat jaman ini, bagaimana solusi-solusi berbasis Al-Qur’an dan Al Sunnah itu kembali available, accessible dan pastinya affordable. Bila kita sudah bisa sepenuhnya kembali, maka insyaAllah obat segala jenis penyakit dan solusi segala jenis masalah itu akan kita miliki lagi – one for all!*

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Makan Apa Kita Nanti…?

Makan Apa Kita Nanti…?

Budaya Negeri-Negeri Dalam Dua Ekor Sapi

Budaya Negeri-Negeri Dalam Dua Ekor Sapi

Cara Mudah Mengelola Risiko Investasi

Cara Mudah Mengelola Risiko Investasi

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Menjadi Super Entrepreneur Di Negeri Dengan Ranking 129

Error Peradaban

Error Peradaban

Baca Juga

Berita Lainnya