Dare To Be Different

Yang membedakan kita dengan bangsa lain di dunia bukanlah karena ilmu dan teknologi kita, tetapi adalah kekuatan keimanan kita

Dare To Be Different

Terkait

Oleh: Muhaimin Iqbal

SEKELOMPOK kecil angsa liar terpisah dari rombongan besarnya yang sedang mengadakan perjalanan migrasi antar benua. Mereka berunding apa yang hendak mereka lakukan, untuk melanjutkan sendiri perjalanan tidak kuat – karena diperlukan formasi ‘V’ yang melibatkan sejumlah besar angsa liar untuk mampu menempuh perjalanan yang sangat jauh. Kemudian dari yang terpisah ini ada yang punya ide “kita turun saja ke tanah pak tani dibawah sana, dia punya bebek yang banyak – kita bisa ikut makan – sambil menunggu rombongan terbang berikutnya di belakang kita beberapa hari mendatang”.

Ada anggota kelompok yang tidak setuju dengan ide ini, dia berkata, “Bagaimana pak tani akan mau memberi makan kita seperti bebek yang banyak itu? Bentuk tubuh kita berbeda, ukuran tubuh kita juga berbeda ?” Bebek yang punya ide berusaha meyakinkan: “Asal kita berjalan mengikuti cara bebek-bebek itu berjalan, kita sudah akan seperti mereka!”.

Karena lebih banyak yang setuju dengan usul ini. Maka sekelompok kecil angsa liar ini akhirnya bergabung dengan rombongan bebek pak tani, belajar berjalan seperti bebek (angsa liar jarang berjalan, mereka lebih sering terbang), dan pak tani-pun memberi mereka makan sama dengan bebek-bebeknya.

Dengan terpaksa angsa liar yang tidak setuju-pun akhirnya mengikuti rombongan bebek-bebek ini, dan berusaha berjalan seperti bebek. Tetapi hati kecilnya terus berontak, bahwa dia bukan bebek – dan sesungguhnya memalukan untuk memaksakan diri berjalan seperti bebek hanya untuk diberi makan oleh pak tani. Angsa liar punya kebiasaan sendiri terbang kesana kemari mencari makanannya sendiri.

Angsa liar yang hatinya tetap angsa ini-pun terus gelisah dan menunggu-nunggu kesempatan untuk terbang kembali bergabung dengan rombongan angsa berikutnya, begitu datang kesempatan – maka terbanglah dia bergabung dengan bangsa aslinya – yaitu bangsa angsa liar.

Tidak demikian halnya rombongan dia yang lain, mereka sudah merasa nyaman menjadi bebek yang setiap hari diberi makan oleh pak tani tanpa harus cape-cape mencarinya sendiri – hanya ada yang mereka tidak tahu, yaitu pak tani ini setiap saat siap menyembelih bebek-bebeknya !

Begitulah sejatinya umat ini, kita ditakdirkan berbeda dengan umat lain. Bukan karena kesombongan kita, tetapi Allah yang memberitahu bahwa kita berbeda: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS: [3] : 139).

Jadi yang membedakan kita dengan bangsa lain di dunia bukanlah karena ilmu dan teknologi kita, bukan kekuatan ekonomi kita, bukan kekuatan angkatan perang kita – tetapi adalah kekuatan keimanan kita. Kekuatan iman ini yang akan menuntun kita pada kekuatan-kekuatan lainnya. Kekuatan iman inilah yang harus kita bangun, agar kita kembali menjadi ‘angsa liar’ yang bisa menemukan jati dirinya sendiri.

Kekuatan iman-pula yang insyaallah akan menyelamatkan kita dari ‘lubang biawak’ karena kita tidak akan mengikuti rombongan ‘bebek pak tani’ yang sedang menuju lubang biawak : “Sedikit-demi sedikit kalian akan mengikuti sunnah-sunnah umat terdahulu. Sampai-sampai, andaikata mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian juga ikut mereka memasukinya.” Ada yang bertanya , “ Wahai Rasululah, apakah mereka yang dimaksud adalah Nasrani dan Yahudi ?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi.?” ( HR. Bukhari Muslim)

Lantas bagaimana cara kita agar tetap bisa menjadi jati diri kita ‘angsa liar’ dan bukan ‘bebek pak tani’ – di era demokrasi dimana yang banyaklah yang dianggap benar? Jawabannya adalah kita harus berani untuk tetap berbeda !.

Setidaknya ada tiga hal yang akan bisa menjaga kita tetap berbeda:

Pertama adalah karakter kita. Kita hanya bisa menjaga tetap berbeda dengan mereka bila kita berhasil membangun karakter Iman pada diri kita. Karena hanya dengan karakter Iman inilah kita dijadikan orang-orang yang paling tinggi derajatnya di QS 3 : 139 tersebut di atas.

Kedua, adalah sumber daya yang menjadi rujukan kita, bukan hukum-hukum dan resolusi yang dibuat oleh manusia, tetapi adalah Al-Qur’an dan Al-hadits yaitu dua hal yang telah dijanjikan untuk menjadi pegangan kita yang akan menjaga agar kita tidak tersesat selamanya – agar jati diri kita tetap terjaga sebagai orang-orang yang beriman.

Ketiga, adalah aktivitas kita. Apakah kita ikut-ikutan dengan hiruk pikuknya dunia mereka – atau kita fokus pada memberi makna kehidupan kita sebagaimana petunjukNya, yaitu hanya untuk beribadah kepadaNya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS 51 :56). Jadi apapun yang kita lakukan, apakah sedang beraktifitas di bidang politik, ekonomi, kesehatan, militer, pertanian – semuanya harus dilandasi bahwa kita sedang beribadah kepadaNya.

Dengan menjaga diri kita tetap berbeda dari ‘rombongan bebek pak tani’, bila tiba waktunya ‘rombongan angsa liar’ terbang melintas di atas kita – Insyaallah kita akan tetap mampu terbang dan segera bergabung dengan mereka. Amin !.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, dan kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !