Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Asumsi Dua Penjual Sepatu

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

BEBERAPA dekade lalu ketika komunikasi dunia usaha masih mengandalkan telex yang harus hemat kata-kata, sebuah pabrik sepatu dari negara maju mengirim dua salesman baru untuk ekspansi ke wilayah yang paling terbelakang di Afrika. Begitu sampai di wilayah yang di tuju, salesman pertama mengirim telex yang berbunyi: “Tidak ada harapan. Masyarakat tidak memakai sepatu.” Tidak lama kemudian datang telex yang kedua dari salesman yang satunya lagi: “Peluang melimpah, masyarakat belum memakai sepatu.”

Dua salesmen ini diterjunkan di daerah yang sama dan melihat masyarakat yang sama, tetapi mengapa penglihatannya terhadap situasi sangat berbeda? Ini karena masing-masing salesman tersebut memiliki bangunan atau konstruksi imaginer berupa tembok-tembok yang namanya asumsi.

Salesman pertama menaruh ‘tembok’ asumsi ini di antara dirinya dengan masyarakat di wilayah tersebut. Karena adanya ‘tembok’ asumsi bahwa masyarakat tidak bersepatu ini, maka dia tidak memiliki harapan untuk menjual sepatu ke masyarakat yang tidak bersepatu tersebut. Dia tidak mampu melewati ‘tembok’ asumsi yang dibuatnya sendiri.

Salesman yang kedua-pun memiliki ‘tembok’ asumsinya sendiri, tetapi dia menaruhnya jauh di belakang masyarakat yang ditemui di wilayah tersebut. Dengan menaruh ‘tembok’ asumsi ini jauh diluar sana – membuat tidak ada penghalang antara dia dengan masyarakat yang menjadi target pasarnya.

Dia sebenarnya juga tidak mampu melewati ‘tembok’ asumsinya sendiri, tetapi dia memang tidak perlu melewati tembok tersebut untuk sampai pada tujuannya, yaitu masyarakat yang akan menjadi target pasarnya – keberadaan ‘tembok’ asumsi ini tidak menjadi penghalang bagi dia.

Itulah dua hasil yang berbeda yang dihasilkan dari situasi yang sama. Hasil berbeda bukan karena situasinya tetapi karena asumsinya. Karena hasil sangat dipengaruhi asumsi, dan namanya juga asumsi – dia bersifat imaginer – semau-mau kita membangun dan menaruhnya, maka sukses atau keberhasilan di bidang apapun sebenarnya sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan.

Inipun sejalan dengan hadits qudsy Dari Abu Hurairah, ia berkata; Nabi Shallahu a’laihi Wassallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia ingat kepada-Ku dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.”

Artinya, kalau kita berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan kebaikan, maka insyaallah itulah yang terjadi. Demikian pula sebaliknya bila kita berprasangka buruk, keburukan itu pula yang akan terjadi. Bahkan dalam menafsirkan mimpi-pun kita diajarkan untuk selalu menafsirkan yang baik-baik.

Lantas kalau begitu kuatnya pengaruh faktor pikiran atau asumsi yang dibangun di alam pikiran ini terhadap suatu keberhasilan? Dapat-kah pikiran kita dilatih untuk selalu ber pikir positif? Jawabannya tentu dapat!

Seperti yang terjadi pada dua salesman sepatu tersebut di atas. Salesman pertama tentu akan menghentikan usahanya untuk jualan sepatu di wilayah terbelakang Afrika karena dia sudah dipagari oleh asumsinya sendiri bahwa masyarakat tidak membutuhkan sepatu. Karena menghentikan usaha, maka hasil pasti tidak dia peroleh – tidak ada lagi exercise atau kerja keras yang perlu dilakukan oleh salesman pertama.

Salesman kedua yang melihat sebaliknya, bahwa masyarakat belum memakai sepatu, dia akan berusaha menggarap potensi yang ada – begitu masyarakat satu demi satu memakai sepatu – dialah satu-satunya salesman sepatu di daerah yang terbelakang tersebut. Selama dia masih berpikiran positif bahwa suatu hari masyarakatnya akan memakai sepatu, maka dia akan tetap terus berusaha – dan usaha inilah bentuk latihan untuk tetap menjaga pikiran positif itu.

Dengan meniru pola pikir yang menghasilkan asumsi positif dari salesman kedua, bisa kita bayangkan kita akan punya solusi untuk berbagai masalah berikut: (1). Bisakah kita swasembada pangan? (2). Bisakah kita memakmurkan rakyat? (3). Bisakah kita memberlakukan sistem hukum yang adil? (4). Bisakah kita menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat? (5). Bisakah kita membawa umat ini kembali ke kejayaannya? (6) Bisakah kita meninggalkan riba? (7). Bisakah kita menjadi entrepreneur yang sukses? (8) Dlsb.dlsb.

Untuk setiap poin dalam contoh ini, bila jawaban dibenak Anda ‘Bisa’ – maka perhatikan proses apa yang terjadi pada pikiran Anda. Pikiran Anda akan men-justifikasi-nya dengan memberi jawaban – mengapa dia mungkin. Justifikasi positif inilah yang menjadi drive untuk langkah besar menuju suatu keberhasilan.

Sebaliknya, bila jawaban kita tidak. Maka otak kita-pun akan berproses berusaha men-justifkasi-nya dengan memberi jawaban – mengapa tidak mungkinnya. Dan justifikasi negative inilah yang kemudian akan menjadi kekuatan besar yang menghentikan langkah kita dari upaya menuju kesuksesan. Wa Allahu A’lam.

Penulis ada Direktur Gerai Dinar, dan kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Waqaf Mushtarak sebagai Pembiayaan Alternatif

Waqaf Mushtarak sebagai Pembiayaan Alternatif

Program Air Gratis Sumur Utsman

Program Air Gratis Sumur Utsman

Setahun Revolusi Arab, Kebangkitan Parpol Islam

Setahun Revolusi Arab, Kebangkitan Parpol Islam

Dan Jin-pun Tahu Solusinya…

Dan Jin-pun Tahu Solusinya…

Membangun Usaha, Seperti Membangun Kapal Nabi Nuh

Membangun Usaha, Seperti Membangun Kapal Nabi Nuh

Baca Juga

Berita Lainnya