Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Resources Integrator: Peluang Profesi Baru

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

SETIAP pagi di hari kerja saya selalu berusaha membuat satu tulisan di situs ini, pagi ini harusnya saya membuat dua tulisan – satu untuk situs ini dan satu lagi untuk sambutan pelatihan guru-guru Kuttab. Tetapi karena tidak mudah dari sisi waktu maupun ide untuk membuat dua tulisan sekaligus, maka terpikir oleh saya untuk membuat satu saja tulisan yang bisa dipakai untuk kedua tujuan sekaligus – yaitu sambutan untuk Kuttab sekaligus juga saya muat di situs ini, untuk diambil manfaatnya oleh para pembaca . Dengan menggabung dua pekerjaan sekaligus, saya justru melihat adanya suatu peluang yang bisa menjadi profesi baru yang sangat menarik di era teknologi ini dan di masa mendatang – profesi yang disebut resources integrator.

Gambarannya begini, belum lama ini saya mendapatkan BBM yang panjang dari pembaca setia situs ini yang isinya saya quote langsung sbb:

“Suatu pagi, kami menjemput seorang klien di bandara, orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun-an. Si Bapak adalah pengusaha asal Singapura, dengan logat bicara gaya melayu dan english, Beliau menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada kami yang masih muda. Beliau berkata,”Your country is so rich!”.

Ah biasa banget denger kata-kata itu. Tapi tunggu dulu. “Indonesia doesn’t need the world, but the world needs Indonesia,” lanjutnya. “Everything can be found here in Indonesia, You don’t need the world.”

“Mudah saja, Indonesia paru-paru dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing, we can’t be rich without Indonesia 500.000 orang Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan. Bisa terbayang uang yg masuk ke kami, apartemen-apartemen terbaru kami yang beli orang-orang Indonesia, nggak peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah Rumah Sakit kami, orang Indonesia semua yang berobat.

Terus,kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya, bener-bener panik. Sangat terasa, we are nothing.

Kalian tahu kan kalau Agustus kemarin dunia krisis beras, termasuk di Singapura dan Malaysia ! Kalian di Indonesia dengan mudah dapat beras. Lihatlah negara kalian, air bersih di mana-mana, lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari Malaysia.

Saya ke Kalimantan pun dalam rangka bisnis, karena pasirnya mengandung permata. Terlihat glitter kalau ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3,000/kg ke pabrik China, si pabrik jual kembali seharga Rp 30,000/kg. Saya lihat ini sebagai peluang.

Kalian sadar tidak kalau negara-negara lain selalu takut meng-embargo Indonesia! Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut kalau kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. Harusnya kalian yang meng-embargo diri kalian sendiri. Belilah pangan dari petani-petani Anda sendiri, Belilah tekstil dan garmen dari pabrik-pabrik sendiri. Tidak perlu impor kalau ada produk sendiri. Jika kalian bisa mandiri, bisa MENGEMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!”.

Dari mata orang asing, peluang itu nampak luar biasa – tetapi ironinya kita sendiri tidak melihatnya sebagai peluang. Kita melihat masalah demi masalah di mana-mana. Mengapa sampai ini terjadi?

Salah satunya adalah problem di pendidikan kita dewasa ini. Ketika kita belajar di sekolah dasar dulu, seolah jendela dunia terbuka lebar untuk kita. Di SMP, jendela itu masih lebar, kita belajar mulai dari ilmu sosial, ilmu alam, administrasi, bahasa dlsb.

Masuk SMA, kita mulai di kotak-kotakkan di kotak yang sempit; ada yang focus belajar IPA, IPS, Bahasa dst. Masuk perguruan tinggi, ilmu yang diajarkan ke kita semakin menyempit meskipun sedikit lebih dalam. Ada yang hanya belajar engineering, pertanian, hukum,dlsb. semuanya terfokus.

Ketika Anda melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, master atau bahkan Doktor – ilmu Anda semakin dalam tetapi juga semakin sempit. Maka Ilmu kita di generasi ini seperti lampu senter, yang hanya mampu menerangi arah yang dituju. Di luar arah yang dituju, semua gelap tidak kelihatan.

Di sinilah perlunya seorang resources integrator di jaman seperti ini, yaitu orang yang mampu menggabungkan sekian banyak senter dan lampu – sehingga seluruh kawasan terterangi dan terlihat potensi-potensi dan peluang yang ada.

Bila Anda bisa menjadi integrator tersebut, maka itulah peluang Anda sekarang. Ketika orang lain melihat kesempitan dan masalah, Anda melihat luasnya solusi dan peluang. Fungsi integrator ini seperti anak muda yang harus mengumpulkan 300 ekor kambing yang berserakan – kemudian menjalin ‘komunikasi’ agar semua dapat diarahkan untuk menuju sasaran yang sama – lebih detilnya dapat dibaca dalam tulisan saya sebelumnya tentang Pelajaran Yang Tidak Bisa Diajarkan.

Prasyarat untuk bisa menjadi integrator tersebut adalah dia harus memiliki wawasan yang luas untuk suatu masalah, dia harus memiliki atau mampu membangun jaringan kontak dengan seluruh resources yang dibutuhkan. Sayangnya wawasan yang meluas dari waktu ke waktu inilah yang tidak diajarkan di dalam system pendidikan kita, yang ada malah sebaliknya – makin tinggi pendidikan – makin dalam ilmu yang dipelajari tetapi makin sempit jangkauannya.

Hal ini sangat berbeda dengan ilmuwan-ilmuwan dan ulma-ulama di jaman kejayaan Islam dahulu, mereka adalah orang-orang yang multi disiplin; ilmu mereka rata-rata luas dan mencakup berbagi bidang kehidupan sekaligus. Karena di tangan mereka menggenggam sumber dari segala sumber Ilmu, yaitu al-Qur’an.

Indonesia sebenarnya tidak hanya kaya, tetapi akan jauh lebih kuuaaya lagi bila lahir integrator-integrator yang berwawasan luas – ya wawasan Al-Qur’an tadi.

Betul yang disampaikan oleh pengusaha Singapore tersebut di atas, sangat mungkin kita bisa memenuhi segala kebutuhan kita sendiri – yang dibutuhkan tinggal peran kita sebagi resources integrator-nya. Kalau kita merasa belum mampu sekarang, setidaknya kita masih bisa mempersiapkan generasi mendatang yang lebih mampu – yaitu melalui pendidikan-pendidikan yang berbasis sumber ilmu yang sesungguhnya – yaitu keimanan dan Al-Qur’an – seperti yang pagi ini guru-gurunya mulai kita persiapkan. InsyaAllah..

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Menjadikan PetunjukNya Sebagai Panglima

Menjadikan PetunjukNya Sebagai Panglima

Paket Kebijakan Ekonomi Berbasis Domba dan Kurma (2)

Paket Kebijakan Ekonomi Berbasis Domba dan Kurma (2)

3 In 1 Solusi Bebas Riba

3 In 1 Solusi Bebas Riba

Average High: Bangunnya Orang-orang yang Berselimut

Average High: Bangunnya Orang-orang yang Berselimut

Sukses Tidak Sendirian…

Sukses Tidak Sendirian…

Baca Juga

Berita Lainnya