Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Urusan Pangan, Urusan Siapa?

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

MESKIPUN masalah pangan adalah kebutuhan primer yang paling mendasar, ternyata perhatian terhadap pangan ini nampaknya tidak dianggap terlalu penting di negeri ini. Saya memperoleh gambaran ini dari pidato wakil ketua KPK – Bambang Widjojanto – dalam acara deklarasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) di Jakarta semalam. Setelah saya cek langsung datanya dari situs resmi Direktorat Jendral Anggaran – Departemen Keuangan Republik Indonesia, gambarannya memang betul-betul menyedihkan.

Untuk pos yang dikelompokkan kedalam Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan Kelautan ; rata-rata 6 tahun terakhir hanya mendapatkan anggaran sekitar 1.63% dari anggaran belanja pemerintah pusat. Tahun ini dari anggaran belanja pemerintah pusat yang mencapai Rp 954 Trilyun, hanya Rp 17.9 Trilyun untuk empat pos yang digabung jadi satu ini.

Bandingkan misalnya empat pos tersebut dengan satu pos transportasi saja yang rata-ratanya mendapatkan anggaran 4.24 % selama 6 tahun terakhir. Tahun ini transportasi malah mendapatkan anggaran 5.31 % atau Rp 50.7 Trilyun. Padahal yang lebih dibutuhkan oleh rakyat banyak – khususnya adalah rakyat miskin yang rata-rata menyebar di pedesaan adalah urusan pangan. Jangankan urusan transportasi, urusan kebutuhan primer seperti sandang dan papan saja masih bisa ditunda – tetapi tidak dengan urusan pangan.

Mengapa sampai terjadi ketimpangan dalam perhatian ke sektor yang sangat mendasar ini Dugaan saya sendiri – tidak ada yang mewakili rakyat miskin dalam giring-menggiring anggaran yang akhirnya banyak mencuatkan kasus korupsi ini – korupsi itu dalam dekade terakhir ini.

Itu PR bagi para politikus yang masih memiliki hati nurani, PR para birokrat, PR bagi para aktivis yang memperjuangkan nasib rakyat kecil dan juga PR bagi para intelektual dan ulama muda yang semalam mendeklarasikan diri dalam MIUMI tersebut diatas.

Tetapi bagi orang kebanyakan seperti saya dan Anda yang bukan politikus, bukan birokrat, bukan aktivis, bukan intelektual, bukan ulama dan apalagi yang sudah tidak muda lagi ini – apa yang bisa kita perbuat? Saya melihat masih banyak ladang amal yang bisa kita lakukan dalam bidang ini, kalau toh bukan untuk kita atau generasi saat ini – minimal mengayunkan langkah untuk mempersiapkan generasi yang akan datang.

Untuk kebutuhan protein rakyat misalnya, kita sudah mencanangkan project Alfaafa yang selain me-riset, mengembangkan, mencoba tanam – kami juga telah membagikan benih ke ratusan orang yang datang ke kebun dan pesantren kami.

Tetapi dalam bidang pangan ada yang lebih mendasar lagi ketimbang protein, yaitu kebutuhan karbohidrat untuk energi. Di kalangan rakyat miskin, kebutuhan protein bisa nomor dua – bila untuk memperoleh karbohidrat yang cukup-pun sulit.

Lantas bagaimana mencukupi kebutuhan karbohidrat ini bila tanah-tanah pertanian yang biasanya ditanami padi terus berkurang tergerus oleh pembangunan jalan untuk transportasi! tergerus perumahan, pabrik dlsb? Apakah kebutuhan tersebut akan dipenuhi dari produk-produk pangan impor yang semakin mahal dan membuat ketergantungan yang semakin tinggi pada negara lain?

Mestinya tidak, harus dicari jalan peningkatan produksi karbohidrat yang bisa dioptimalkan dari lahan-lahan yang masih tersisa. Untuk ini saya menjagokan tanaman yang sudah ratusan tahun ada di negeri ini, tanaman liar di desa-desa yang dikampung saya disebut gembili atau bahasa latinnya disebut Dioscorea esculenta L.

Ada tiga alasan mengapa gembili ini yang saya jagokan. Pertama, dia tumbuh dengan baik di tanah ayom diantara pohon-pohon rindang sekalipun. Jadi kalau mau ditingkatkan produksinya menjadi gerakan besar, banyak sekali lahan yang bisa dipakai untuk ini – misalnya di tanah-tanah perkebunan bisa ditanam diantara pohon-pohon kayu, di antara kebun kopi, kebun cengkeh, kebun karet dlsb. Atau di tanah-tanah Perhutani di antara pohon jati, di hutan-hutan yang belum dioptimalkan hasilnya dlsb.

Di Depok yang walikotanya getol mempromosikan bahan pangan selain nasi, saya pernah mengusulkan ke beliau untuk bisa ditanam dibawah pohon-pohon belimbing yang dijadikan icon kota Depok.

Bayangkan dengan gembili ini, kita tiba-tiba memiliki luas areal tanam untuk tanaman pangan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Alasan yang kedua, gembili ini merupakan potensi pertanian yang sangat menjanjikan. Kalau kita bisa memproduksi lebih dari cukup untuk kita sendiri, di pasar internasional tepung gembili atau nama internasionalnya Dioscorea esculanta flour/powder/starch dihargai sangat mahal untuk ukuran tepung. Harga pasaran saat ini berada di kisaran US$ 3,000 – US$ 4,000 /ton. Negara yang sudah serius menangani gembili ini nampaknya China untuk saat ini, gembili dijual mahal karena konon juga dibutuhkan oleh pabrik obat.

Alasan ketiga, tepung gembili menghasilkan apa yang disebut inulin, bahan pemanis alami yang aman bagi para penderita diabetis. Katakanlah kita tidak bisa menggantikan beras dengan gembili ini secara maksimal, minimal bagi para penderita dan calon penderita diabetis yang akan mencapai lebih dari 20 juta dalam dua dekade kedepan – mereka akan memperoleh karbohidrat yang aman bagi kebutuhan energinya.

Selain tiga alasan tersebut, gembili ini juga sangat enak meskipun hanya direbus. Ibu saya dahulu di desa suka merebusnya sore hari, kemudian membungkusinya untuk makanan sore anak-anaknya. Di desa saya gembili tumbuh liar di bawah pohon sawo atau tanah tegalan lainnya.

Lantas dari mana kita bisa mulai secara konkrit project gembili ini? Di lingkungan pesantren kami di Jonggol ada lahan beberapa hektar yang saat ini sudah rindang dipenuhi aneka buah-buahan. Tentu kami tidak akan tebang pohon-pohon yang menjadi hiburan tersendiri bagi para santri tersebut, tetapi akan menjadi sangat produkstif bila disela-sela pohon tersebut kita penuhi tanaman gembili.

Masalahnya adalah kami belum memiliki keahlian di bidang ini dan belum memiliki benihnya. Kepada para pembaca yang di daerahnya mengenal gembili, kami mohon bantuan bila ada yang bisa membantu kami mensuplai benihnya sekaligus juga kalau ada yang mau memimpin project gembili ini day by day.

Siapa tahu, ini bisa menjadi langkah awal kita untuk mewujudkan ketahanan pangan bagi umat ini. Semoga langkah kecil ini dapat diterima olehNya sebagi upaya untuk menolong agamaNya, bila ini masuk kategori menolong agamaNya – maka Dia pasti menolong kita dan kalau kita ditolong oleh Dia – kita tidak akan terkalahkan- insyaAllah.

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Senjata Melawan Riba

Senjata Melawan Riba

Keberkahan: Kualitas Bukan Kwantitas

Keberkahan: Kualitas Bukan Kwantitas

Leadership dan Leader Sheep

Leadership dan Leader Sheep

The Big Picture…

The Big Picture…

Pelajaran Yang Tidak Bisa Diajarkan

Pelajaran Yang Tidak Bisa Diajarkan

Baca Juga

Berita Lainnya