Rabu, 20 Oktober 2021 / 13 Rabiul Awwal 1443 H

Ilahiyah Finance

Tiga Generasi, Tiga Problem, Satu Solusi

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

ADA tiga generasi yang pada umumnya sekarang ada di masyarakat kita saat ini. Generasi pertama yang lahir tahun 1950-an atau sebelumnya, generasi kedua lahir antara 1960 -1980-an dan generasi ketiga lahir 1990-an dan sesudahnya.

Tiga generasi ini dalam masing-masing memiliki problemnya yang berbeda, oleh karenanya solusinya juga seharusnya berbeda. Bila problem dari tiga generasi tersebut dipetakan dalam distribusi normalnya, maka problem untuk generasi pertama ada di ‘daya beli ‘; problem generasi kedua ada di ‘kecukupan pendapatan’ dan problem di generasi ketiga ada ‘peluang untuk memperoleh pendapatan.’

Generasi pertama yang lahir sampai pertengahan tahun 1950-an, saat ini rata-rata sudah pensiun. Mereka bekerja sekitar tiga puluh tahun dari dasawarsa 1980-an atau sebelumnya sampai dasawarsa pertama di millennium ketiga. Tabungan mereka tergerus oleh inflasi, apalagi di dasawarsa 1990-an inflasi pernah mencapai 78% yaitu tahun 1998.

Tabungan dalam bentuk dana pensiun, tunjangan hari tua, asuransi, pesangon dlsb. yang semuanya ter-denominasi dalam mata uang kertas tidak bisa lepas dari gerusan inflasi ini. Walhasil generasi pertama ini pada umumnya memiliki problem daya beli, mereka punya uang tetapi tidak cukup untuk menopang kehidupannya.

Generasi kedua adalah generasi Anda yang saat ini rata-rata sedang bekerja. Problem utama generasi ini adalah kecukupan pendapatan, mengapa demikian? Bila Anda selama lima tahun terakhir tidak bisa menaikkan pendapatan Anda rata-rata diatas 10 % per tahun, maka makin lama Anda pasti merasa makin berat membeli bahan makanan – karena inflasi sektor ini rata-ratanya 10.15% per tahun selama lima tahun terakhir. Grafik dibawah adalah data statistik terbaru untuk lima tahun terakhir yang saya peroleh dari Biro Pusat Statistik.

Sebagian Anda tentu bisa mengalahkan inflasi tersebut, tetapi mayoritasnya pasti sangat berat. Itulah sebabnya mengapa saya sebut secara umum problem generasi kedua adalah problem kecukupan pendapatan.

Generasi ketiga adalah generasi anak-anak kita yang saat ini sedang sekolah/kuliah dan akan memasuki dunia kerja beberapa tahun yang akan datang. Problem mereka adalah problem peluang untuk memperoleh pendapatan, mengapa demikian?

Pertama, lapangan kerja tidak tumbuh sebesar jumlah tenaga kerja yang akan memasuki pasar dalam beberapa tahun yang akan datang. Kedua, kalau toh mereka bisa memasuki pasar tenaga kerja dan menjadi pegawai, mereka akan terjebak dengan problem yang sama dengan yang dihadapi oleh generasi kedua di atas. Lantas apakah kita mau anak-anak kita mengulangi kesalahan yang sama dan mendapati problem yang sama dengan yang kita hadapi atau bahkan lebih parah? Maka dari itulah perlunya menyadari potensi problem tersebut saat ini, agar generasi yang akan datang bisa menjadi lebih baik.

Lantas apa solusinya untuk problem tiga generasi tersebut?

Untuk generasi pertama yang rata-rata sudah pension, mendaya gunakan ilmu, pengalaman dan ketrampilannya semasa bekerja akan dapat memperbaiki daya belinya. Saya pernah menulis masalah ini dalam Nevertirees Management .

Untuk generasi kedua yang saat ini masih bekerja, bila Anda terjebak dalam common problem berupa ketidak cukupan pendapatan tersebut di atas – maka kinilah waktunya Anda untuk membuat perencanaan yang serius. Apakah Anda akan tetap bekerja?, bila iya maka peningkatan kemampuan dan skills secara terus menerus insyaAllah bisa mendongkrak karir dan pendapatan Anda. Bila tidak dan Anda ingin ber-wirausaha, maka waktunya Anda membuat persiapan-persiapan yang matang sebelum Anda mulai membakar kapal Anda.

Bagi yang ingin ber-wirausaha, bergaul dengan orang-orang yang sudah terjun didalamnya atau bergabung dengan lembaga-lembaga yang memberikan pelatihan dan pendampingan bisa menjadi persiapan yang baik untuk Anda. Tidak semua harus mengeluarkan biaya, Pesantren Wirausaha seperti yang kami adakan rutin setiap bulan sama sekali tidak memungut biaya. Untuk bulan ini insyaallah jadwalnya Sabtu (25/02) s/d Ahad (26/02) di Jonggol.

Untuk generasi ketiga, inilah tugas kita mempersiapkan mereka sebaik mungkin agar mereka fit untuk jamannya. Lapangan kerja dan peluangnya yang jelas akan berbeda dengan dua generasi sebelumnya, maka pemikiran yang jauh kedepan perlu bagi para orang tua dan para pendidik mereka.

Di antaranya adalah kebutuhan-kebutuhan primer yang terkait dengan bahan makanan, air, udara bersih dlsb. yang tetap akan menjadi peluang untuk memenuhinya. Maka pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan mempersiapkan bahan pangan – yang sekarang banyak diambil oleh oleh produsen luar negeri – harus bisa diambil alih kembali oleh generasi anak-anak kita; karena bila tidak maka ketergantungan umat ini pada bangsa lain akan semakin berat kedepan.

Selain solusi-solusi untuk masing-masing generasi tersebut, ada dua hal yang bisa menjadi satu solusi yang paling tangguh untuk tiga generasi sekaligus yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita, sudah dijanjikan bahwa barang siapa berpegang pada keduanya tidak akan pernah tersesat selamanya. Solusi ini adalah kembali ke dua hal yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits.

Bagi Anda yang kesulitan untuk menjadikan keduanya sebagai solusi dan jawaban atas segala permasalahan Anda – tibyaanal likuli syai’ , insyaAllah kamipun akan sediakan programnya dalam beberapa bulan kedepan yang kami sebut Quantum Iman. Pada program Quantum Iman ini antara lain Anda akan dilatih untuk memetakan problem-problem Anda, kemudian mencari jawabannya berdasarkan petunjukNya.

Jadi dari generasi manapun Anda, apapun problem Anda – jawabannya tetap sama yaitu Al-Qur’an dan Al Hadits, insyaAllah Anda tidak akan pernah tersesat selamanya. Amin.*

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ctrl + Alt + Delete

Ctrl + Alt + Delete

“Gold Rush”

“Gold Rush”

Aurum Et Argentum Comparenda Sunt…

Aurum Et Argentum Comparenda Sunt…

Fahrenheit 212

Fahrenheit 212

Cracking The Code – Food Security [2]

Cracking The Code – Food Security [2]

Baca Juga

Berita Lainnya