Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

Dampak Inflasi, Kok yang Miskin Harus Membayar Lebih Mahal?

Bagikan:

Oleh: Muhaimin Iqbal

Pada bulan Maret lalu di sebuah negara bagian di Amerika Serikat, Federal Reserve President dari negara bagian tersebut berusaha ‘menghibur’ rakyatnya dalam sebuah pidato, “bahwa masyarakat tidak perlu mencemaskan inflasi, toh masyarakat kini bisa membeli Ipad 2 dengan harga yang sama dengan Ipad 1. Padahal Ipad 2 ini kemampuannya dua kali lipat dari Ipad 1. Masyarakat harus melihat harga-harga dari keseluruhan barang.” Serentak masyarakat yang hadir dan mendengar pidato tersebut berteriak, “Tetapi kami kan tidak makan Ipad?” Begitulah inflasi ini selalu dikomunikasikan oleh otoritas suatu negara bahwa seolah tidak ada hal yang buruk tentang inflasi ini.

Kemarin ketika melihat berita di televisi bahwa berdasarkan pemantauan BPS di 66 kota di Indonesia terjadi negatif inflasi (deflasi) – 0.31% sepanjang bulan April 2011– saya bersyukur, Alhamdulillah bahwa harga-harga akhirnya bisa direm laju kenaikannya. Maka saya pun tertarik ingin tahu detilnya, di mana harga barang-barang yang turun tersebut dan bagaimana big picture inflasi ini setahun terakhir. Berikut adalah summary dari data inflasi paling mutakhir yang di-release oleh BPS.

Betul, telah terjadi penurunan harga bahan makanan 1.90 persen untuk bulan April 2011 dan secara kumulatif turun 2.02 persen untuk tahun kalender 2011 (4 bulan). Namun secara keseluruhan inflasi bahan makanan setahun terakhir (12 bulan) masih berada pada angka 11.08% –jauh lebih tinggi dari inflasi umum yang ‘hanya’ 6.16%.

Di sinilah menyakitkannya inflasi itu, sama dengan kasus di Amerika tersebut di atas – karena sistem keuangannya juga sama – bahwa inflasi lebih banyak memukul masyarakat bawah ketimbang masyarakat yang di atas.

Bila Anda mampu membeli handphone, mampu bepergian naik pesawat terbang, mampu membeli produk-produk finansial seperti asuransi, dan lain sebagainya, maka Anda tidak akan terlalu merasakan beratnya kenaikan harga kebutuhan sekunder atau bahkan tersier ini, karena tingkat inflasinya setahun terakhir hanya 2.93 %. Tetapi bagi masyarakat yang penghasilannya hanya cukup untuk makan atau memenuhi kebutuhan primernya, inflasi yang menghantam mereka mencapai 11.08 %.

Ketimpangan semacam ini bukan hanya terjadi tahun ini. Rata-rata inflasi lima tahun terkahir (2006-2010) untuk bahan pangan adalah 12%, sementara inflasi umum hanya 6.8%. Jadi secara persistent beban hidup masyarakat bawah terus semakin berat, sementara masyarakat yang mampu tidak mengalami peningkatan beban yang seberat mereka.

Bila ketidakadilan ekonomi, di mana rakyat kecil menjadi korban inflasi yang lebih berat dari masyarakat yang mampu, dan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, tampaknya belum ada upaya konkrit untuk membalik arah. Lantas apakah semua kita akan diam dan tidak berbuat sesuatu? Tentu maksud saya bukannya demo atau membuat revolusi yang malah bisa meningkatkan inflasi, tetapi maksud saya berbuat sesuatu yang riil dan konkrit di masyarakat yang bisa meredam inflasi atau setidaknya menggeser penekanan inflasi, dari yang berat mengenai kebutuhan primer bahan pangan, pindah ke kebutuhan sekunder atau tersier –kalau toh inflasi masih harus tetap ada!

Mudahkah ini untuk dilakukan? Tentu tidak mudah, tetapi tidak mustahil. Kurang lebih berada di baina mumkin wal mustahil – begitulah. Seberapa pun berat upaya ini kudu mulai dilakukan karena kalau tidak maka rakyat akan semakin menderita, dan tidak terbayang penderitaan ini dalam time frame 10 – 20 tahun ke depan!

Konkritnya seperti apa? Karena yang menjadi masalah adalah kenaikan harga bahan makanan yang jauh melampaui kebutuhan lainnya, sedangkan kita semua tahu bahwa harga ini terkait supply dan demand – tidak mungkin mengerem demand karena ini kebutuhan pokok – maka tinggal satu yang harus digarap besar-besaran, yaitu sisi supply-nya.

Bagian terbesar dari sumber daya yang ada di negeri ini, baik lahan, investasi/dana, pemikiran, dan tenaga (SDM), harus difokuskan untuk mengatasi kebutuhan bahan makanan. Ini harus dilakukan paling tidak tujuh tahun (karena ada tuntunan Qur’aninya) –sampai supply mencukupi dan inflasi bahan makanan dapat diredam.

Selain mendandani sisi supply, juga harus ada upaya mendandani pasar agar tidak terjadi monopoli, penimbunan, kartel, permainan tengkulak, dan lain sebagainya, dengan pengaturan pasar menurut syariah Islam.

Maka di sinilah sekali lagi bukti kebenaran Islam itu. Ketika masyarakat di Amerika dalam contoh tersebut di atas maupun di Indonesia ini tidak ketemu solusi untuk mengatasi problema mendasar dalam pemenuhan kebutuhan primernya, yaitu inflasi bahan kebutuhan pokok yang terus mencekik leher, maka solusi dalam paket yang komprehensif menyeluruh ada di syariah Islam. Tiga points saja dari sekian banyak aturan syariah diterapkan, insya Allah inflasi itu akan menghilang dengan sendirinya.

Tiga points ini masing-masing pernah saya tulis di situs ini yaitu;

1) Uang yang tidak bisa dicetak secara sembarangan.

2) Penggunaan lahan yang produktif.

3) Pasar yang adil dan bisa diakses oleh seluruh umat.

Karena inflasi adalah nyata, dan korban inflasi juga nyata, maka upaya untuk menghilangkan inflasi dan penyebab-penyebabnya juga harus nyata. Tidak cukup hanya ditulis atau diwacanakan, tidak cukup dengan dibuat seminar, workshop, dan dibuat perundangannya, tetapi harus dengan karya nyata. Setiap diri kita insya Allah bisa berkontribusi untuk amal nyata mencegah kelaparan ini. Amin.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ketika Buah Masak di Pohon

Ketika Buah Masak di Pohon

Menghindari Fitnah Pangan dan Air

Menghindari Fitnah Pangan dan Air

Mencukupkan Yang Miskin, Menyehatkan Yang Kaya

Mencukupkan Yang Miskin, Menyehatkan Yang Kaya

The Next Big Trends : Siapa Yang Akan Ikut Mengubah Dunia?

The Next Big Trends : Siapa Yang Akan Ikut Mengubah Dunia?

Ketika Iblis Lagi Bersantai

Ketika Iblis Lagi Bersantai

Baca Juga

Berita Lainnya