Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Ilahiyah Finance

“Uang Swasta” vs Uang Negara

Bagikan:

www.hidayatullah.com–Dalam salah satu bukunya – The Road to Serfdom – pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi tahun 1974 Friedrich August von Hayek (1899-1992) memprediksi akan keunggulan ‘uang swasta’ sebagai berikut: “Saya menjadi semakin yakin, jauh melebihi keyakinan saya sebelumnya, bahwa bila kita akan memiliki uang yang baik, uang ini tidak akan berasal dari pemerintah, uang ini akan dikeluarkan oleh perusahaan swasta. Hal ini karena menyediakan uang yang baik, uang yang dapat dipercaya dan dapat digunakan bagi masyarakat, tidak hanya menjadi usaha yang menguntungkan, tetapi menuntut disiplin yang tidak pernah ditunjukkan oleh pemerintah yang mengeluarkan uang selama ini”.

Beberapa puluh tahun kemudian, pendapat serupa dilontarkan oleh dewanya ekonom futuristik Barat John Naisbitt dalam bukunya Mindset: “Monopoli terakhir yang akan ditinggalkan umat manusia adalah monopoli uang nasional (sekarang uang fiat). Umat manusia akan meninggalkan uang nasionalnya – uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik – dan menggantinya dengan uang private, yaitu benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik.”

Ironisnya adalah pendapat-pendapat para ekonom yang sangat mumpuni di bidangnya ini, tidak terlalu banyak mendapat perhatian dari masyarakat Barat sendiri. Mereka tetap asyik dengan uang fiatnya, padahal penurunan nilainya dari waktu ke waktu sudah begitu jelas.

Penurunan nilai uang ini tidak terlepas dari ketidakdisiplinan pemerintah dalam mencetak uang, seperti yang diungkap oleh F.A. Hayek tersebut di atas. Setahun terakhir misalnya, sungguh sangat nyata apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serrikat. Kombinasi dari langkah-langkah US Treasury dan the Fed yang telah membelanjakan, menjamin atau menjanjikan tidak kurang dari US$ 13 trilyun – secara praktis telah menggandakan jumlah uang US$ hampir dua kalinya.

Dampak dari penggandaan jumlah uang ini adalah tentu penurunan nilai dari uang yang dipegang oleh masyarakat; siapa yang dirugikan? Ya semua pihak yang saat ini memegang US$. Hal inilah yang ratusan tahun lalu juga telah diingatkan oleh Ibnu Taimiyyah: “Jumlah fulus (uang yang lebih rendah dari Dinar dan Dirham seperti tembaga) hanya boleh dicetak secara proporsional terhadap jumlah transaksi sedemikian rupa sehingga terjamin harga yang adil. Penguasa tidak boleh mencetak fulus berlebihan, yang merugikan masyarakat karena rusaknya daya beli fulus yang sudah ada di mereka”.

New Barter Trading

Lantas apakah pihak swasta yang sadar akan hal ini akan rame-rame mencetak uangnya sendiri? Saya rasa tidak. Kemungkinan yang terjadi adalah seperti prediksinya John Naisbitt tersebut di atas, masyarakat akan meninggalkan uang yang dicetak oleh pemerintah – tetapi tidak lari ke uang yang dikeluarkan oleh swasta – karena negeri manapun tidak akan mengizinkan swasta mengeluarkan uang.

Sebagai gantinya masyarakat akan menggunakan benda-benda riil dengan nilai intrinsik untuk bertransaksi. Langkah-langkah persiapan ‘barter’ modern ini sudah dimulai oleh pihak swasta maupun oleh negara-negara yang telah mengantisipasi problem yang akan segera timbul dengan uang pemerintah.

Penggunaan benda riil untuk transaksi ini tidak melanggar hukum negeri manapun. Sebagai contoh kita biasa tukar mobil yang lama dengan yang baru (trade-in), di desa orang tukar sapi kecil ke yang lebih besar, di dunia penerbangan orang menukar mileage dengan souvenir, dan seterusnya.

Bahkan dalam Islam, perdagangan benda riil dengan benda riil ini menjadi rujukan utama dalam dunia perdagangan dan keuangan. Dalam hadis Nabi riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi s.a.w bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis, serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”

Umat Islam sudah seharusnya menjadi yang paling siap dalam mengimplementasikan perdagangan dengan ‘alat tukar’ benda riil bernilai intrinsik, karena ini telah diajarkan langsung oleh Uswatun Hasanah kita Rasulullah SAW melalui hadis tersebut di atas. Dinar emas yang kini mulai menyebar luas di masyarakat, insya Allah akan menjadi instrumen yang paling praktis dan terpercaya dalam perdagangan modern yang akan datang. Amin. [www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Keadilan Ekonomi Bukan Zero Sum Game

Keadilan Ekonomi Bukan Zero Sum Game

Terstruktur, Sistematis dan Masif

Terstruktur, Sistematis dan Masif

Uni Lanx – Universal Unit of Account – Timbangan yang Adil

Uni Lanx – Universal Unit of Account – Timbangan yang Adil

Menjadi Guru Bergaji 40 Dinar, Siapa Mau…?

Menjadi Guru Bergaji 40 Dinar, Siapa Mau…?

Ketika Codot Menyambar [1]

Ketika Codot Menyambar [1]

Baca Juga

Berita Lainnya