Sabtu, 22 Januari 2022 / 18 Jumadil Akhir 1443 H

Catatan Akhir Pekan

Tetapkah Fokus pada Tujuan Kemerdekaan

skr/hidayatullah.com
[Ilustrasi] Bendera Merah Putih berkibar.
Bagikan:

Oleh: Dr. Adian Husaini

Menyambut tahun 2022, maka umat Islam dan bangsa Indonesia perlu tetap fokus pada tujuan kemerdekaan

Hidayatullah.com | PERJALANAN kita terasa begitu cepat. Tahun 2021 tiba-tiba saja berlalu. Waktu terus berjalan, tanpa kompromi.

Laksana pedang, waktu melibas segala sesuatu yang mencoba menahan lajunya. Suka atau tidak suka, kita harus masuk ke tahun 2022.

Menyambut tahun 2022, maka umat Islam dan bangsa Indonesia perlu tetap fokus pada tujuan kemerdekaan. Para pendiri bangsa telah menetapkan tujuan perjuangan bangsa Indonesia, sebagaimana trecantum dalam Pembukaan UUD 1945:

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

***

Bacalah untaian kata-kata indah dalam Pembukaan UUD 1945 itu berulang kali. Itu bukan rumusan kata-kata biasa. Tetapi, sangat dalam maknanya. Para pemimpin beserta seluruh rakyat Indonesia bertanggung jawab untuk mewujudkan negara yang: MERDEKA, BERSATU, BERDAULAT, ADIL DAN MAKMUR!

Dalam batas tertentu, kemerdekaan, kedaulatan, persatuan relatif sudah terwujud. Setidaknya, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih utuh. Kita sudah dan tetap menjadi negara merdeka melalui perjuangan yang pajang dan berat. Itu patut disyukuri. Saudara-saudara kita di Palestina, hingga kini belum mendapat haknya untuk mendirikan satu negara Palestina Merdeka!

Kita meyakini kemerdekaan adalah rahmat dari Allah. Maka, nikmat kemerdekaan wajib disyukuri! Kemerdekaan kita bukan suatu bencana! Karena itulah, seluruh kekuatan umat Islam bersepakat untuk mendukung fatwa Jihad KH Hasyim Asy’ari, 22 Oktober 1945, bahwa mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajah adalah wajib hukumnya!

Adapun tujuan akhir dari perjuangan meraih dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah: “… mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Mewujudkan keadilan adalah perintah al-Quran. Begitu banyak ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan kita berlaku adil. Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, keadilan akan terwujud jika adab ditegakkan. Bahkan, Prof. al-Attas merumuskan, tujuan mencari ilmu adalah untuk menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri seorang manusia (inculcation of justice in man as man and individual self). (Lebih jauh, silakan dibaca buku Islam and Secularism, karya Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas).

Penanaman nilai-nilai keadilan itu harus dilakukan dalam seluruh lapisan masyarakat, mulai diri sendiri, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan itu menjadi tanggung jawab orang tua, guru, ulama, dan seluruh pejabat pemerintah. Bisa dikatakan, tonggak penanaman nilai-nilai keadilan itu dimulai dari keluarga.

Karena itulah, Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa setiap anak lahir dalam kondisi fitrah. Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan anaknya Yahudi, Nasrani, atau Majuzi.

Al-Quran surat at-Tahrim ayat 6 juga mengingatkan kepada kepala keluarga: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” Kata Ali bin Abi Thalib, ayat itu memerintahkan orang tua agar melakukan dua hal: “Jadikan keluargamu manusia-manusia beradab dan berilmu!”

Inilah tanggug jawab orang tua yang sangat berat. Yakni, menanamkan nilai-nilai keadilan dalam diri dan keluarganya.  Proses ini akan berhasil jika ada faktor keimanan, keteladanan, pembiasaan, dan penegakan disiplin aturan.

Tidaklah mudah untuk berlaku adil dan beradab terhadap diri, keluarga, dan juga masyarakat serta bangsa. Tugas-tugas dakwah dan kemasyarakatan yang sangat padat bisa saja suatu ketika berdampak kepada perlakuan tidak adil kepada diri dan keluarga.

Kita bukan hanya wajib memperjuangkan tegaknya kebenaran pada tataran sosial-kemasyarakatan, tetapi juga wajib membangun jiwa dan raga sendiri. Jiwa harus semakin bersih dari waktu ke waktu. Proses pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) wajib terus dilakukan, tanpa henti.  Sebab, hanya manusia yang mensucikan jiwanya yang akan meraih kemenangan. Celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya.

Jiwa yang sehat adalah yang bersih dari kekufuran, kemalasan, kelemahan, kemunafikan, riya’, sombong, dengki, cinta dunia, cinta kedudukan, dan berbagai penyakit  jiwa lainnya.   Membersikan jiwa dari penyakit-penyakit  tersebut bukan perbuatan yag mudah, tetapi perlu perjuangan yang sungguh-sungguh.  Inilah yang disebut sebagai “mujahadah ‘alan nafsi”, yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ sebagai satu bentuk jihad fi sabilillah (Hadits shahih, riwayat Imam at-Tirmidzi).

Indonesia adalah negeri muslim terbesar, warisan para ulama dan para pejuang terdahulu.  Tugas dan kewajiban generasi kita sekarang dan generasi mendatang adalah terus melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia menjadi negeri yang semakin beradilan, sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” itulah yang harus terus dilakukan oleh setiap muslim di Indonesia, agar mereka menjadi umat terbaik dan mampu memimpin dan mewujdkan negeri kita menjadi negeri yang betul-betul merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Semoga di tahun 2022, penanaman nilai-nilai dan penegakan keadilan akan semakin baik, ke dalam diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita semuanya! Aamiin./Depok, 31 Desember 2021.*

Penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Masalah Kata “Allah” di Malaysia dan Indonesia [3]

Masalah Kata “Allah” di Malaysia dan Indonesia [3]

“Semangat Kristen Radikal”

“Semangat Kristen Radikal”

“Dari Cak Nur ke Gus Hamid”

“Dari Cak Nur ke Gus Hamid”

Keteladan Pemimpin DDII: Kisah Mohammad Natsir Menyelamatkan NKRI

Keteladan Pemimpin DDII: Kisah Mohammad Natsir Menyelamatkan NKRI

“Keteladanan Imam Hanafy dalam Soal Jabatan”

“Keteladanan Imam Hanafy dalam Soal Jabatan”

Baca Juga

Berita Lainnya