Selasa, 25 Januari 2022 / 21 Jumadil Akhir 1443 H

Catatan Akhir Pekan

Syukurlah, Indonesia Tidak Ikut Miss Universe 2021 di Israel

Bagikan:

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | SALAH  satu hikmah dari pandemi Covid-19 adalah keputusan pihak Indonesia untuk tidak mengirimkan wakilnya dalam acara Grand Final Miss Universe 2021 yang digelar di Israel pada 12 Desember 2021. Keputusan Indonesia tak mengirimkan wakilnya ke ajang Miss Universe 2021 ini disampaikan oleh Yayasan Puteri Indonesia selaku pemegang lisensi Puteri Indonesia. Setiap tahunnya YPI mengirimkan pemenang Puteri Indonesia ke ajang Miss Universe.

Dikabarkan, bahwa Yayasan Puteri Indonesia (YPI) dengan berat hati tak bisa ikut serta dalam Miss Universe 2021. Penyebabnya di antaranya adalah terlalu singkatnya persiapan untuk mengirimkan Puteri Indonesia ke Miss Universe 2021.

YPI sendiri saat ini masih menggelar pemilihan Puteri Indonesia 2022 di berbagai daerah di Tanah Air. Sederet wilayah yang belum mendapatkan perwakilan untuk mengikuti final Puteri Indonesia 2022 di antaranya adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Jambi, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Bali, dan masih banyak lagi. Grand final Puteri Indonesia 2022 baru akan digelar pada awal tahun 2022.

Selain alasan terlalu pendeknya waktu persiapan, alasan lainnya Indonesia tak ikut serta Miss Universe 2021 di Israel adalah karena pandemi Corona. Adanya aturan perjalanan terkait pandemi COVID-19 membuat YPI memutuskan tak mengirimkan Puteri Indonesia 2019 ke Israel.

***

Jadi, alasan tidak ikut sertanya Indonesia dalam Grand Final Miss Universe di Israel adalah soal pendeknya waktu persiapan dan situasi pandemi covid-19. Tidak disebutkan bahwa Indonesia pun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Juga, selama ini, pemerintah Indonesia mengambil sikap yang tegas dalam mendukung kemerdekaan negara Palestina dari penjajahan Israel. Keikutsertaan wakil Indonesia dalam acara kontes kecantikan sejagad di Israel itu sangat berpeluang memicu perdebatan dan kegaduhan baru.

Dalam kasus kontes kecantikan sejagad (sejenis Miss Universe), ada baiknya kita merenungkan berbagai kritik yang disampaikan berbagai pihak tentang kekeliruan konsep Miss World dan sejenisnya dalam kaitannya dengan pemberdayaan perempuan.  Salah satu kritikus tajam terhadap kontes kecantikan adalah mantan Menteri P&K, Dr. Daoed Joesoef seperti ditulis dalam memoarnya “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” (Jakarta: Kompas, 2006):

”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.

Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai wishful thinking belaka, untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa on time, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa menarik wisatawan. Karena itu, ia mengimbau: ”Stop all those nonsense! Hentikan semua kegiatan pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti merendahkan martabatnya!”

Dalam agama Islam, soal aurat perempuan ini sudah begitu jelas aturannya. Sebenarnya, soal pakaian ini juga diatur dalam agama Kristen.  Silakan dibaca situs beriut ini: http://voices.yahoo.com/should-christian-woman-wear-immodest-dress-like-6014534.html. Artikel tersebut dengan jelas menggambarkan, bagaimana seharusnya seorang Kristen berpakaian yang sopan dan beradab.

Baik kita renungkan beberapa bagian dari artikel tersebut: “Worldly fashion is moral confusion: Today’s fashion says that are women are sex objects and can ignore God’s purpose for clothing. The goal of many women today is not dressing to be Godly and covering up nakedness, but rather to be sexy. Sex crimes have increased in numbers and women’s dress habits have contributed to this problem. Some women are good at trying to use their physical beauty, their charms, their bodies to “win” with the men in their world. Todays fashions are unbelieving designers without the true Spirit of Christ. Fashion or style is not bad as long as it does not violate the modesty and sobriety standard of the Scriptures-I Timothy 2:9.

Secara umum dikatakan dalam artikel tersebut, bahwa model busana saat ini menjadikan perempuan sebagai objek seksual dan mengabaikan tuntunan Tuhan dalam soal pakaian. Tujuan banyak perempuan berpakaian bukan agar semakin taat kepada Tuhan dan menutupi ketelanjangan. Tetapi, tujuannya agar tampak seksi. Maka, kejahatan seksual semakin meningkat, dipengaruhi juga oleh kebiasaan perempuan dalam berpakaian. “Model pakaian di zaman ini adalah produk desainer kaum ateis tanpa spirit dari Kristus.”

Dalam Perjanjian Baru, 1Korintus 11:5-6, dijelaskan tentang keharusan perempuan Kristen mengenakan “tudung kepala”: “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.”

Tentu, banyak pengikut Kristen memiliki penafsiran tertentu terhadap ayat Korintus tersebut. Yang jelas, sebagai bangsa, yang berdasarkan Pancasila, maka sepatutnya kita memiliki konsep bagaimana cara memberdayakan perempuan Indonesia, sehingga mereka menjadi insan mulia, yang hidup bahagia, dunia dan akhirat. Wallahu A’lam bish-shawab.*/Depok, 2 Desember 2021

Penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII).  www.adianhusaini.id

Rep: Admin Hidcom
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

57 Tahun Pidato Natsir Tentang Sekularisme  (1)

57 Tahun Pidato Natsir Tentang Sekularisme (1)

“Bersilaturrahim dan Bernostalgia ke Bangkok” [2]

“Bersilaturrahim dan Bernostalgia ke Bangkok” [2]

Piagam Jakarta dan Sikap Kristen (2)

Piagam Jakarta dan Sikap Kristen (2)

Makna Gempa Sumatra

Makna Gempa Sumatra

Kampanye Mengkritik al-Quran

Kampanye Mengkritik al-Quran

Baca Juga

Berita Lainnya