Kamis, 21 Oktober 2021 / 15 Rabiul Awwal 1443 H

Catatan Akhir Pekan

Benarkah Masalah Utama Kita adalah Kekuasaan?

Jatimtimes
Bagikan:

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | BEBERAPA  kali saya menerima kiriman pesan – baik perorangan atau dalam group media sosial —  tentang perlunya umat Islam bisa memegang kekuasaan negara. Dengan itu, maka umat Islam akan bisa berbuat banyak untuk melakukan berbagai kebaikan  dan memberantas kemunkaran atau kemaksiyatan.

Apakah benar, bahwa kekuasaan itu sangat penting dan menjadi kunci kebangkitan umat? Jawabnya: tentu saja hal itu ada benarnya. Tetapi, juga dengan catatan. Bahwa yang memegang kekuasaan itu haruslah orang-orang yang amanah dan ‘capable’ (profesional).

Kekuasaan ibarat pisau bermata dua. Ia bisa membangun dan bisa juga merusak. Semakin besar kekuasaan yang dipegang seseorang, maka semakin besar pula daya bangun dan daya rusaknya. Tergantung, siapa yang memegang kekuasaan.

Seorang khalifah/raja/kaisar yang baik, dengan kekuasaan besar, akan mudah melakukan berbagai kebaikan. Sebab, kekuasaan berada di satu tangan, dan tidak terbagi-bagi. Karena itu, sistem kekaisaran, kerajaan, atau kekhalifahan, akan dengan cepat melakukan perbaikan, jika pemimpinnya itu mumpuni. Tetapi, hal sebaliknya juga bisa terjadi. Jika raja/khalifah/kaisar itu “tidak bermutu”, maka akan cepat pula kehancuran negaranya.

Karena itu, upaya banyak kalangan umat Islam untuk berjuang di jalur politik praktis – dengan membentuk partai-partai politik – adalah satu bidang perjuangan yang penting. Jelas, tujuan perjuangan di bidang politik memang untuk meraih kekuasaan, agar dapat digunakan untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran, dan meruntuhkan kemunkaran.

Akan tetapi, perlu direnungkan masak-masak, bahwa kunci utama kesuksesan dalam semua bidang perjuangan – politik, ekonomi, pendidikan, media, budaya, dan sebagainya – adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Orang-orang yang terjun dalam perjuangan di bidang politik harus benar-benar memiliki kualitas iman, akhlak, ilmu dan ketrampilan berpolitik yang tinggi. Sebab, tantangan dan godaan dalam bidang politik ini sangatlah besar.

Jadi, sebelum membentuk partai politik, maka hal yang paling utama disiapkan adalah SDM-SDM-nya. Orang-orang yang mendirikan dan aktif di partai politik Islam haruslah orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh dan akhlak yang mulia. Misalnya, mereka harus terjauh dari sikap cinta dunia, termasuk cinta jabatan. Sebab, cinta dunia adalah pangkal segala kerusakan (Hubbud-dunya ra’su kulli khathi’atin).

                                      ***

Jadi, itulah akar masalah kita. Yakni, kualitas SDM yang terjun dalam berbagai bidang perjuangan, baik bidang politik atau yang lainnya. Bikin partai politik, problem utamanya adalah kualitas SDM; bikin sekolah atau kampus Islam, masalah utamanya juga kualitas SDM-nya; bikin Rumah Sakit Islam, problem utamanya pun terletak pada kualitas SDM; bikin media Islam juga berhadapan dengan masalah SDM.

Nah, jika bicara tentang kualitas SDM, maka ini adalah ranah pendidikan! Maka, lagi-lagi, inilah yang pernah diingatkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa akar masalah umat Islam adalah “loss of adab” (hilang adab). Jika adab hilang dari penguasa pada tingkatan apa saja – mulai keluarga, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, dan seterusnya – maka kekuasaan yang dipegangnya tidak akan dapat digunakan untuk kebaikan secara optimal. Bahkan, bisa jadi, penguasa itu akan membuat kebijakan yang merusak.

Jadi, “hilang adab” alias tidak beradab, itulah kata kunci dari akar seluruh krisis yang melanda umat dan dunia Islam zaman kini. Karena itu, menurut Prof. al-Attas, jika umat Islam ingin bangkit dan terbebas dari berbagai krisis yang membelit mereka, pahamilah adab dan didiklah umat ini agar mereka menjadi manusia-manusia yang beradab.

Manusia-manusia beradab (insan adaby) inilah sosok-sosok manusia yang unggul yang memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpi-pemimpin yang sebenarnya (true leaders). Mereka akan mampu menjadi pemimpin (imam) di bidang politik, pendidikan, ekonomi, media, sosial, kesehatan, dan sebagainya.

Inilah yang juga sudah diingatkan banyak ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari, sebagaimana disebutkan dalam kitabnya, kitab Adab Alim wal Muta’allim, bahwa: “Tauhid mewajibkan wujudnya iman; barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.”

Dalam bukunya, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, (Pulau Pinang: USM, 2007), Prof. al-Attas menjelaskan, bahwa hakekat pendidikan adalah penyerapan adab ke dalam diri seseorang. Sedangkan adab adalah perwujudan keadilan sebagaimana dipancarkan oleh hikmah.”

Ringkasnya, krisis yang melanda dan masih mencengkeram umat Islam adalah akibat muslim hilang adab. Adab hilang karena ilmu yang salah, sehingga hikmah tiada didapatnya. Solusinya adalah pendidikan yang benar!  Pendidikan yang menekankan “penyerapan adab ke dalam diri”. Itulah proses membentuk manusia beradab.

Jadi, tidak perlu mempertentangankan antara perjuangan di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya. Semua bidang perjuangan itu harus dipimpin oleh orang-orang yang beradab. Dengan adab itulah, seorang akan terhindar dari perilaku zalim. Yakni, ia terhindar dari melakukan atau menempatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Seoang penguasa yang beradab tidak akan membiarkan berlakunya sistem pendidikan yang meluluskan anak-anak muslim yang sudah akil baligh, tetapi tidak bisa shalat dan membaca al-Quran dengan benar. Rektor kampus yang beradab tidak akan meluluskan mahasiswanya yang bejat akhlaknya, meskipun sangat tinggi nilai-nilai ujiannya.

Penguasa yang beradab tidak akan mau menggunakan anggaran negaranya untuk kemewahan hidupnya, sementara banyak rakyatnya yang dicekam kelaparan dan kesusahan hidup. Pun, ia tidak akan bangga menggunakan anggaran negara untuk mendukung kemaksiatan.

Jadi, umat Islam memang memerlukan kekuasaan untuk bisa menegakkan kebenaran dan mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Bukan sekedar berkuasa untuk berbangga-bangga dan ingin dihormati di sana-sini.

Ini penting dipikirkan, dan terus direnungkan! Meraih kekuasaan itu hal penting. Tetapi, sekali lagi, kekuasaan akan berdampak baik jika dipegang orang-orang yang baik pula. Karena itu, menjalankan proses pendidikan untuk membentuk manusia-manusia unggul (manusia beradab/insan adaby), adalah hal yang lebih penting lagi!

Manusia-manusia terbaik (khairun naas) itulah yang pernah dihasilkan oleh Pendidikan Rasulullah ﷺ. Manusia-manusia terbaik itu tak akan muncul lagi,  jika konsep pendidikan dalam Islam tak dipahami dan tidak diterapkan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Depok, 6 Agustus 2021).*

Penulis pengasuh PP Attaqwa College (ATCO), Depok Jawa Barat

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

“Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!”

“Irshad Manji: Idola Kaum Liberal!”

Nasehat dan Harapan Untuk Amien Rais

Nasehat dan Harapan Untuk Amien Rais

Kebangkitan Islam Indonesia Bukan Karena Pluralisme

Kebangkitan Islam Indonesia Bukan Karena Pluralisme

Film “?”: Apa Maunya?

Film “?”: Apa Maunya?

“Terobosan McJak untuk Jakarta”

“Terobosan McJak untuk Jakarta”

Baca Juga

Berita Lainnya