Sabtu, 3 April 2021 / 20 Sya'ban 1442 H

Catatan Akhir Pekan

Bahasa Dimurtadkan, Pikiran Dikacaukan

Bagikan:

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | DARI manakah seorang memahami Islam? Jawabnya: ”Dari bahasa!”  Dari bahasalah seseorang memahami konsep-konsep penting dalam Islam. Maka, sebaliknya, pemikiran atau pemahaman seseorang terhadap Islam juga akan rusak, jika bahasa dirusak.

Dari mana rusaknya bahasa dan kacaunya pemikiran? Jawabnya, ”Dari rusaknya istilah-istilah yang digunakan.” Karena itu, hakekat dari suatu ”perang pemikiran” (ghazwul fikri) atau ”perang kebudayaan” (ghazwul tsaqafi) adalah ”perang istilah” dan ”perang makna”.

Saat Islam muncul di Jazirah Arab, al-Quran melakukan proses peng-Islam-an bahasa Arab. Kata ”Allah” yang sebelumnya dipahami oleh kaum Musyrik Arab sebagai ”salah satu dari Tuhan mereka” kemudian diluruskan maknanya.

Dalam pemahaman Islam, Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah oleh manusia. Islam juga mengislamkan konsep ”Nabi Isa a.s.” yang dipahami kaum Kristen sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Dalam Bibel, nama ”Luth” dipahami sebagai seorang pezina yang berzina dengan dua putrinya (Kejadian,19:30-38). Konsep tentang Luth semacam itu diluruskan oleh al-Quran. Luth a.s. adalah seorang Nabi yang shaleh.

Baca:   “Satu Tuhan, Satu Agama!”

Umat Islam di seluruh dunia, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, memiliki istilah-istilah standar yang sama, yang disebutnya sebagai (Islamic basic vocabularies), seperti “iman”, “Islam”, “kafir”, “shalat”, “taqwa”, “shalih”, “haji”, “shaum”,  dan sebagainya.

Jika kita pergi ke Kutub Utara dan bertemu seorang Muslim, kita memiliki makna yang sama tentang kata-kata dasar Islam tersebut. Jika makna istilah-istilah itu dirusak, maka akan terjadi kekacauan bahasa, kekacauan makna, dan kekacauan pemikiran, yang ujung-ujungnya berdampak kepada rusaknya keyakinan dan keimanan.

Saat ini, menurut Prof. Naquib al-Attas, kaum Muslim sedang menghadapi masalah yang sangat berat, yang disebutnya sebagai “deislamization of language” (deislamisasi bahasa). Untuk mudahnya kita sebut “pemurtadan bahasa”. Dalam proses ini, menurut al-Attas, sejumlah istilah-istilah kunci dalam Kamus Dasar Islam, diubah maknanya dan digantikan dengan istilah-istilah yang memiliki makna yang asing dalam pemahaman Islam. (Prof. SMN al-Attas, The Concept of Education in Islam).

Peringatan al-Attas itu penting untuk kita perhatikan. Sebab, upaya perusakan istilah-istilah Islam melalui studi Islam sedang berlangsung dengan sangat massif.  Banyak istilah kunci dalam Islam dirusak dengan sangat sistematis. Sebut satu contoh, istilah “Iman”,  ”mukmin”, dan ”kafir”. Kaum Muslim sepanjang zaman memiliki pemahaman yang sama terhadap istilah ini. Kini, karena tuntutan Pluralisme Agama, istilah tersebut mulai dirusak. Sejumlah penulis mulai mencoba mengubah makna ”kafir”.

Tahun 2004, terbit sebuah buku berjudul “Kembali ke-Al-Qur’an, Menafsir Makna Zaman”, yang menyebutkan bahwa istilah ”kafir” tidak mesti ditujukan kepada orang non-Muslim, tetapi orang Islam juga bisa disebut kafir.

Kata buku ini: ”Dengan kata lain, Muslim yang melakukan penganiayaan dan penindasan pun dapat dikatakan sebagai kafir. Jadi, kafir tidak identik dengan non-Muslim, melainkan siapa pun dan beragama apa pun ketika tidak adil dan menindas maka ia disebut kafir… Akan lebih tepat jika term kafir dimaknai sebagai penindas, dan mukmin (orang beriman) adalah pejuang pembebasan dari penindasan. .”

Dalam pandangan Islam, maka ”non-Muslim” memang disebut ”kafir”. Tetapi, istilah itu bukan untuk menuding-nuding atau mengkafir-kafirkan yang tidak kafir. QS al-Kafirun memag ditujukan kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dan tidak setiap penindas bisa dikatakan kafir, selama dia masih tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang imannya benar, pasti tidak mungkin menindas. Jika seorang suami menindas istrinya, dia disebut suami yang fasik dan zalim. Begitu juga penguasa yang zalim. Konsep seperti ini sudah dimaklumi oleh kaum Muslim sepanjang zaman.

Maka, ketika konsep ”mukmin” dan ”kafir” diubah maknanya, runtuhlah bangunan Islam. Dengan pemahaman semacam itu, seorang tokoh komunis bisa disebut ”mukmin”, sementara orang Muslim yang menindas keluarga atau rakyatnya, bisa disebut ”kafir”. Dampak berikutnya, akan terjadi kekacauan dalam aspek hukum Islam. Tidak ada lagi model perkawinan Islam, kuburan Islam, dan sebagainya.

Di era dominasi peradaban Barat dalam berbagai bidang saat ini – termasuk bidang pemikiran keagamaan – istilah-istilah asing membanjiri pikiran umat Islam. Banyak yang lebih bangga menggunakan metode hermeneutika untuk menafsirkan al-Quran; bukan lagi Ilmu Tafsir. Dipopulerkanlah istilah ”Tafsir berwawasan gender”, ”Fiqih berwawasan gender”, dan sebagianya.  Kini populer istilah ”pejuang demokrasi” pejuang HAM”, ketimbang”pejuang Tauhid”.

*****

Baca: Mengapa Kita Menolak RUU Kesetaraan Gender?

Ulama besar India, Syeikh Abul Hasan Ali an-Nadwi, mengingatkan, bahwa umat Islam saat ini menghadapi tantangan terberat dalam soal aqidah, sepanjang sejarahnya. Setiap muslim pasti diuji imannya (QS al-Ankabut: 2-3). Ujian iman di zaman globalisasi dan disrupsi saat ini, banyak yang berupa ujian pemikiran. Dan lagi-lagi, pemikiran harus dipahami melalui bahasa.

Setan pun menyesatkan manusia melalui bahasa. Al-Quran Surat al-An’am ayat 112 menjelaskan, bahwa musuh utama para Nabi adalah setan dari jenis manusia dan setan dari jenis jin. Mereka – para setan itu – selalu berusaha menyesatkan manusia dengan menggunakan kata-kata indah (zukhrufal qaul), dengan tujuan untuk menipu manusia (ghuruura).

Jika kita renungkan, betapa banyak saat ini bentuk-bentuk ”zukhrufal qaul” yang terus diajarkan kepada anak-anak muslim dalam dunia pendidikan. Kata ”kebebasan beragama”, misalnya, seharusnya tidak boleh dimaknai ”bebas untuk menjadi kafir atau bebas bermaksiat kepada Allah SWT”.

Orang tua diwajibkan mendidik anak-anaknya, agar mereka menjadi orang beriman, beramal soleh, dan berakhlak mulia.  Tidak boleh orang tua mengatakan kepada anak-anaknya, ”Silakan saja kamu berpakaian sesukamu, menurut aturan agama atau tidak. Yang penting kamu sekolah!”

Jika anak tidak mau menuruti aturan-aturan Tuhan Yang Maha Esa, lalu anak mau ikut aturan siapa? Al-Quran banyak mengisahkan sosok makhluk bernama Iblis yang sombong dan membangkang kepada Allah SWT. ”Abaa was-takbara, wa-kaana minal kaafiriin.” Iblis itu membangkang dan sombong. Maka dia termasuk kaum kafir.

Semoga istilah ”Iblis” itu tidak dirusak, sehingga muncul orang-orang yang bangga disebut ”Iblis”, lalu membuat organisasi: ”Perhimpunan Iblis Dermawan”. Semoga tidak terjadi! …(Semarang, 14 Februari 2021).*

Penulis pengasuh PP Attaqwa – College, Depok. Langganan artikel di www.adianhusaini.id

Baca tulisan lain Adian Husaini

 

 

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Fatwa MUI tentang Pluralisme Agama Perlu Terus Digaungkan

Fatwa MUI tentang Pluralisme Agama Perlu Terus Digaungkan

Tradisi Natal Kaum Kafir

Tradisi Natal Kaum Kafir

“Taqwa dan Bahagia”

“Taqwa dan Bahagia”

Khutbah Jumat tentang Adab di Mahkamah Konstitusi [2]

Khutbah Jumat tentang Adab di Mahkamah Konstitusi [2]

“Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?”

“Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?”

Baca Juga

Berita Lainnya