Ahad, 21 Februari 2021 / 10 Rajab 1442 H

Catatan Akhir Pekan

Kisah Kebangkitan Islam di Turki Gagalnya Sekularisme

Foto: Foreign Affair
Bagikan:

oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | SOSIOLOG Muslim, Akbar S. Ahmed, menganalisis mengapa Islam bangkit di Turki, setelah puluhan tahun dipaksa menjadi sekular? Kisah Kebangkitan Islam di Turki gagalnya sekularisme sering menjadi kajian. Ada sejumlah alasan munculnya kebangkitan Islam di Turki;

Pertama, Islam tidak lenyap begitu saja di masa pemerintahan Ataturk – sebagaimana diduga banyak orang. Islam tetap bergerak di bawah permukaan, menunggu iklim yang lebih baik. Masyarakat perdesaan hampir tidak terpengaruh oleh gerakan sekularisasi. Mereka tetap memegang Islam secara kokoh. Selain itu, upaya-upaya westernisasi yang drastis ternyata tidak menyelesaikan masalah bangsa Turki.

Kemiskinan dan keterbelakangan belum juga punah. Banyak rakyat Turki merasa bahwa sekalipun ada kemajuan ekonomi, tetapi pengorbanan yang mereka berikan terlalu besar, tidak seimbang dengan hasil yang mereka peroleh.

Kedua, arus besar kebangkitan Islam tahun 1970-an dan 1980-an di berbagai belahan dunia Islam, turut memberikan dorongan cukup berarti bagi rakyat Turki.  Banyak rakyat Turki yang merasakan kebanggaan sebagai muslim dan mulai mengalihkan pandangan mereka ke dunia Islam.

Ketiga, perkembangan sosial politik di Eropa sendiri. Meskipun Turki selama ini berusaha mati-matian untuk menjadi “Barat” dan menjadi “Eropa”, mereka tetap “orang luar” bagi Eropa. Anggota ras yang pernah menguasai dunia ini telah menjadi imigran kelas bawah di beberapa negara Eropa. Mereka dibenci dan menjadi sasaran teror kelompok neo-Nazi Jerman.

Kisah-kisah horor serangan-serangan rasial terhadap ras Turki turut memicu kebangkitan kesadaran rasial dan keagamaan rakyat Turki. Banyak yang merasakan bahwa kebanggaan menjadi Eropa terlalu tinggi nilainya; dan banyak yang kemudian bahkan menentang kebijakan resmi untuk bergabung dengan masyarakat Eropa.

Baca:  97 Tahun setelah Ataturk Mendirikan Sekularisme Turki

Hal sebaliknya terjadi di Asia. Jika di Eropa Turki tetap diwaspadai sebagai ancaman potensial,  di kawasan Asia Tengah, Turki dipandang sebagai bangsa pemimpin yang terhormat. Beberapa penguasa terkemuka di kawasan Asia Tengah adalah orang-orang Turki, dan beberapa suku terkemuka di wilayah itu dengan bangga menyebut dirinya sebagai suku keturunan Turki.

Wilayah ini pernah dikenal dengan sebutan “Turkistan” – Tanah Turki. Bagi banyak republik di Asia Tengah, bekas Uni Soviet, Turki merupakan model yang sesuai. Turki merupakan pewaris Utsmaniyah yang menjadi penghubung mereka, tanah induk dan tempat asal identitas sejarah mereka.

Mereka memandang Turki sebagai ilham budaya dan menuntut Turki berperan kembali. Akan tetapi, hal ini tidak mudah, mengingat masih banyaknya rakyat Turki dan rakyat di Asia Tengah yang masih terikat dengan ideologi sekular.

Faktor sosiologis berupa ketimpangan sosial juga turut memicu tampilnya kesadaran beragama di kalangan rakyat Turki. Para pemuda, kalangan urban, dan kaum yang lebih miskin mulai menemukan kedamaian dalam agama Islam.  Bagi banyak orang Turki, elite penguasa menjadi terasa asing, korup, dan terlalu kebarat-baratan. (Lihat, Akbar S. Ahmed, Living Islam,  Bandung: Mizan, 1997).

Eksperimen sekularisasi Kemal Ataturk di Turki telah mengilhami banyak pengagumnya untuk menciptakan negara sekular, modern, ter-Baratkan (westernized). Shah Iran, Reza Pahlevi, termasuk pengagum Ataturk.  Dalam buku. The New Cold War? (London: University of California Press, 1993), Mark Juergensmeyer menyebutkan, bahwa Shah Iran Reza Pahlevi termasuk yang terpengaruh oleh Ataturk untuk melakukan eksperimen sekularisasi. Pahlevi berusaha melakukan pembaruan-pembaruan serupa, seperti mengganti sebagian hukum Islam dengan undang-undang sekular yang diambil dari Prancis.

Meskipun ia mencoba tampil sebagai muslim yang baik, Pahlevi tetap dianggap merusak sekolah dan madrasah Islam tradisional, melakukan westernisasi universitas-universitas dan menciptakan birokrasi modern untuk mengatur negara. Wanita dilarang memakai kerudung. Di Teheran dan kota-kota lain, budaya Barat tumbuh subur.

Baca: Jejak Sekularisme Turki dan Kisah Sakaratul Maut Kemal Attaturk

*****

Kini, pergulatan  pemikiran ini masih terus berlanjut. ‘Pemaksaan’ terhadap kaum Muslim  untuk memeluk paham sekular masih terjadi di mana-mana. Kaum Muslim tidak selayaknya menyalahkan Barat. Namun, kaum Muslim perlu memahami fenomena sekularisasi dengan baik.

Sebagai peradaban yang sedang berkuasa, bisa dipahami Barat berusaha memaksakan ideologinya. Mereka yakin, pandangan dan jalan hidupnya adalah baik untuk umat manusia, sehingga mereka menyebarkan bahkan memaksakan kepada umat manusia. “Sekularisasi” memang tidak sepenuhnya buruk. Aspek-aspek “penghilangan takhayul, mistik,  khurafat” juga merupakan bagian dari upaya sekularisasi.

Namun, sekularisasi tidak berhenti sampai di situ. Semua hal-hal yang bersifat metafisika dan ajaran-ajaran agama yang dianggap bertentangan dengan pertimbangan rasio juga dibuang.

Di era globalisasi saat ini, dimana sekularisasi dan pluralisme menjadi bagian integralnya, maka tantangan yang dihadapi kaum Muslim juga tidak ringan. Apalagi, setiap upaya kaum Muslim untuk menerapkan ajaran agamanya bisa dianggap sebagai bagian dari upaya perongrongan hegemoni peradaban Barat.

Lebih berat lagi, kini sudah begitu banyak cendekiawan dari kalangan Muslim yang menggunakan berbagai logika dan dalil agama, untuk menyebarkan sekularisasi, dan membenci kaum Muslim yang ingin menerapkan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya. Ada yang melakukannya sekedar untuk mencari simpati dari Barat, ada yang melakukannya karena pertimbangan finansial, tapi ada juga melakukannya atas dasar keyakinan. Tanpa dibayar pun orang-orang ini sanggup berteriak, “Kita wajib melakukan sekularisasi”.

Baca:  Suara Ketakutan Barat Kembalinya ‘Khilafah Utsmaniyah’ di Turki

Kemal Ataturk dan Shah Iran telah mencoba menerapkan sekularisasi di negaranya. Hasilnya, sudah sama-sama bisa dilihat dunia Islam. Usaha ikut-ikutan untuk menganut paham sekularisme bisa dikatakan sebagai sikap ‘menyerah’ kepada ‘penyakit menular’ yang memang memiliki daya virulensi yang hebat.

Itu yang terjadi dalam masyarakat Kristen di Barat. Mereka menyerah dan kemudian mencarikan legitimasinya dalam Bible, sebagaimana dilakukan oleh Harvey Cox melalui bukunya, The Secular City. Padahal, dalam pertemuan misionaris Kristen se-dunia di Jerusalem tahun 1928, kaum misionaris menetapkan sekulerisme sebagai musuh besar Geraja dan misi Kristen.  “It was made clear that in its efforts to evangelize the world, the Christian Church has to confront not only the rival claims of non-Christian religious system, but also the challenge of secularism.

Kisah Kebangkitan Islam di Turki bisa jadi pelajaran. Selama ratusan tahun kaum Muslim Indonesia dijajah Belanda. Secara politik, ekonomi, budaya, dan militer, Muslim dicengkeram. Tetapi, dulu, para ulama kita tidak menyerah dan tidak gampang menyatakan, bahwa penjajahan Belanda adalah “satu keharusan” dan rahmat bagi sekalian alam”. Fisik memang kalah, tetapi akal, pikiran, dan iman para ulama itu tetap  merdeka, sehingga umat tidak kehilangan panutan.” Wallahu a’lam bish-shawab. (Depok, 19 Februari 2021).

Penulis adalah pengasuh Pesantren Attaqwa College (ATCO), Depok

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Membangun Peradaban Tidak Bisa Instan

Membangun Peradaban Tidak Bisa Instan

Din Syamsuddin Dilaporkan GAR ITB, Bagaimana dengan yang Ini?

Din Syamsuddin Dilaporkan GAR ITB, Bagaimana dengan yang Ini?

Dari Puasa Mengharap Pemimpin Taqwa

Dari Puasa Mengharap Pemimpin Taqwa

“Sang Hyang Yesus?”

“Sang Hyang Yesus?”

“Sabar Membebaskan al-Aqsa”

“Sabar Membebaskan al-Aqsa”

Baca Juga

Berita Lainnya