Mengapa Kuliah di at-Taqwa College?

Berubah atau Punah

Penting dicatat, bahwa dalam pendidikan, adab dan akhlak mulia sepatutnya lebih didahulukan daripada ilmu, agar lulusannya tidak menjadi penjahat yang berilmu

Berubah atau Punah
Santri Pesantren at-Taqwa Depok, Fatih Madini, membahas bukunya berjudul "Membangun Insan dan Peradaban Mulia" dalam forum Saturday Night Lecture Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud di CASIS-UTM, Malaysia

Terkait

(Halaman 1 dari 2)

~Alhamdulillah At-Taqwa College mempunyai misi strategis menyiapkan generasi yang berpribadi muslim, berdaya saing global, menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme, InsyaAllah.~

(Prof. Dr. Nanang Fattah, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung).

*****

Pada hari Senin, 28 Januari 2019, bersama dua guru Pesantren at-Taqwa Depok, saya berkunjung ke rumah Prof. Dr. Nanang Fattah, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, di Kabupaten Bandung Barat. Selama tiga jam (19.00-22.00 WIB) kami berdiskusi. Di usianya yang sudah 68 tahun, Prof. Nanang Fattah masih tampak segar bugar, selalu bersemangat dalam berbicara.

Meskipun sudah beberapa kali berjumpa, baru malam itu saya mendapatkan gambaran yang jelas tentang ide-ide segar Prof. Nanang tentang reformasi pendidikan. Salah satu yang menarik adalah gagasannya tentang standar pendidikan. Menurutnya, pendidikan sebaiknya berpegang pada satu standar kompetensi, yaitu standar kompetensi lulusan. “Pendidikan itu based on result, bukan based on process,” tegas pakar manajemen pendidikan ini.

Untuk mencapai hasil pendidikan, bisa saja dilakukan melalui berbagai proses. Karena itulah, sepatutnya pendidikan tidak bersifat kaku dalam menentukan proses. Sekolah atau kampus bukan pabrik. Yang utama bukan seorang belajar apa saja, dimana, dan berapa lama, tetapi yang lebih penting adalah, ia bisa apa. Tiga hal yang harus dimiliki lulusan Perguruan Tinggi, yaitu integritas, kompetensi, dan inovasi.

Berubah atau punah!

Dalam artikelnya yang berjudul “Perguruan Tinggi Menyambut Era Disrupsi”, Rektor Universitas Negeri Semarang,   Prof. Dr. Fathur Rokhman menulis, bahwa di era disrupsi, PERUBAHAN besar dan mendasar terjadi hampir di setiap bidang kehidupan. Perubahan tidak terjadi secara bertahap seperti orang meniti tangga, tetapi lebih menyerupai ledakan gunung berapi yang meluluhlantakkan ekosistem lama dan menggantinya dengan ekosistem baru yang sama sekali berbeda.

“Institusi bisnis adalah “korban” yang terdampak paling cepat. Puluhan perusahaan besar tumbang dalam waktu singkat akibat muncul pesaing baru yang tak terramalkan sebelumnya. Lembaga pemerintah seperti perguruan tinggi memang belum terkena dampak secara besar-besaran. Namun pelan tapi pasti, disrupsi juga mengancam eksistensi lembaga pemerintah. Bahkan dalam bentuk yang paling ekstrim, disrupsi juga akan mengancam eksistensi negara. Karena itulah, pepatah lama “berubah atau punah” benar-benar menemukan tajinya,” tulis Prof Fathur Rokhman.

Prof. Fathur Rokhman menyebutkan, agar selamat menghadapi era disrupsi, maka perguruan tinggi harus menyelesaikan dua persoalan internal yang membelitnya.

Pertama, harus lincah merespon perubahan. Masalahnya, sebagai “alat negara”,  perguruan tinggi cenderung terikat regulasi ketat yang disusun pemerintah. Hak dan kewajibannya dibatasi secara ketat sehingga kelincahannya dalam merespon perubahan cenderung kurang.

Kedua, perguruan tinggi di Indonesia masih menganut paradigma positivisme. Padahal, positivisme kurang apresiatif terhadap perubahan. Positivisme mengasumsikan segala sesuatu bersifat pasti dan cenderung tetap; cenderung membaca perubahan sebagai proses yang terprediksikan. Padahal, faktanya, jumlah variabel dalam perubahan bisa tidak terbatas dengan peran dan pola relasi yang terus berubah. Paradigma semacam inimembuat perguruan tinggi terkungkung oleh pagar yang dibuatnya sendiri.

Karena itu, ia menyarankan, agar perguruan tinggi harus lebih peka terhadap perubahan. “Mau tidak mau kekakuan birokrasi harus ditinggalkan, lebih terbuka terhadap gagasan baru, dan lebih reflektif terhadap dirinya,” begitu saran Rektor Universitas Negeri Semarang dalam menyongsong era disrupsi. (Lihat: https://unnes.ac.id/pakar/perguruan-tinggi-menyambut-era-disrupsi/)

Era kuliah online

Sekarang zaman kuliah online. Mahasiswa tidak perlu datang ke kampus atau ke negara asing. Cukup kuliah dari rumah atau dari negara asal, tanpa perlu meninggalkan aktivitas keseharian. Semua aktivitas perkuliahan bisa dilakukan secara virtual. Selain praktis, simpel, biaya kuliah online pun lebih murah. Bisa berkurang sampai 40%.  (https://www.hotcourses.co.id/study-abroad-info/university-applications/kuliah-online-vs-kuliah-di-kampus/)

Beberapa kampus ternama di AS sudah menyelenggarakan kuliah online, seperti University of New Mexico, University of Oregon, The Ohio State University, Pennsylvania State University, dan University of Florida. Konon, katanya, kampus-kampus ini memiliki reputasi global. Meskipun fleksibel, katanya, lulusan kuliah online dijamin memiliki kualitas yang sama dengan kuliah tradisional.

Konon, oleh US News and World Report, program kuliah online tingkat sarjana The Ohio State University Online ditetapkan sebagai salah satu Program Online Sarjana Terbaik.  Program ini  mempersiapkan semua mahasiswa untuk kesuksesan karir jangka panjang. (https://www.hotcourses.co.id/study-in-usa/university-applications/kuliah-online-dan-pendidikan-jarak-jauh-di-5-universitas-ternama/).

Di Indonesia, program kuliah online juga semakin ‘ngetren’ dan makin disukai. Selain praktis, juga biayanya lebih murah. Kini, berbagai kampus di Indonesia menawarkan program kuliah online atau blended learning.

Kenapa metode ini menjadi pilihan? Kata sebuah promosi: ada berbagai keuntungan dengan metode itu: fleksibilitas jadwal belajar, proses belajar yang bisa disesuaikan dengan kemampuan setiap individu, serta lebih hemat biaya. (https://harukaedu.com/perkenalan-kuliah-online).

Sejumlah universitas di Jakarta kini bergabung dengan satu provider jasa layanan kuliah online, untuk menyelenggarakan model pembelajaran blended learning. Sebanyak 75 persen porsi kuliah dengan sistem online, dan 25 persen tatap muka, yakni, pada awal kuliah, Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. (https://harukaedu.com/partners).

Memang, pemerintah secara resmi telah meluncurkan program nasional kuliah online. Pada Mei 2018 lalu, Kemenristekdikti meluncurkan “Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan (Spada)” perguruan tinggi yang didukung dengan fasilitas sistem Indonesian Research and Education Network (Idren). Sistem pembelajaran ini mendukung program perkuliahan jarak jauh dalam meningkatkan aksesibilitas masyarakat Indonesia terhadap perguruan tinggi. (http://www.unpad.ac.id/2018/05/kemenristekdikti-luncurkan-sistem-pembelajaran-perguruan-tinggi-berbasis-dalam-jaringan/).** (Bersambung)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !