Catatan Akhir Pekan ke-430

Belajar Adab Berjuang dari Tiga Tokoh [2]

Kebesaran Kyai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya

Belajar Adab Berjuang dari Tiga Tokoh [2]
KH Hasyim Asyari | KH Ahmad Dahlan | Moh Natsir

Terkait

Sambungan artikel PERTAMA

 

oleh: Dr Adian Husaini

 

Sepanjang hidupnya, Mohammad Natsir bergelut dengan perjuangan membangun jiwa bangsa melalui bidang pendidikan dan dakwah. Ketika Orde Baru tidak bersedia merehabilitasi Partai Islam Masyumi – bahkan kemudian menindas tokoh-tokohnya, termasuk Mohammad Natsir – maka Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), tahun 1967. Natsir sangat serius dalam membina para cendekiawan muslim dan menghidupkan gerakan dakwah di kampus, pesantren, dan masyarakat. Bersama tokoh-tokoh Nasional, seperti Bung Hatta, Natsir  memelopori pendirian sejumlah universitas Islam.

Perjuangan tidak pernah berhenti. Hingga wafatnya, tahun 1993, Natsir terus berpikir dan berjuang untuk kebaikan umat dan bangsa Indonesia. Meskipun secara formal hanya menempuh pendidikan setingkat SMA (AMS), Natsir dikenal sebagai sosok pecinta ilmu dan pegiat pendidikan. Kepeduliannya terhadap kondisi jiwa bangsa begitu besar. Kepada Amien Rais dan kawan-kawan yang mewawancarainya di akhir-akhir kehidupannya,  Mohammad Natsir menyatakan: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.”

Lebih jauh, Mohammad Natsir menyatakan: ”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi,  gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.” (Lihat, buku Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak, terbitan DDII dan Labda Budi Mulia Yogyakarta).

*****

Tokoh ketiga yang perlu kita teladani adab perjuangannya adalah KH Ahmad Dahlan. Sekelumit kisah Kyai Dahlan berikut ini perlu kita simak. Dalam pidatonya, saat pembukaan Muktamar Muhammadiyah di Jakarta, 25 November 1962, di Jakarta, Bung Karno menyatakan:

“Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil (mengikuti. Pen.) kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah; tahun ’62 ini saya berkata, moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhaanahu wa-Ta’ala, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya.”

Dalam pidatonya itu,  Bung Karno mengaku kagum dengan Kyai Ahmad Dahlan sejak usia muda, tatkala masih berdiam di rumah HOS Tjokroaminoto. Karena terpesona dengan ceramah-ceramah Kyai Dahlan, maka Soekarno muda berkali-kali mengikuti tabligh Kyai Dahlan. “… saya tatkala berusia 15 tahun telah buat pertama kali berjumpa dan terpukau – dalam arti yang baik – oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan,” kata Presiden Soekarno. Karena itu, lanjut Bung Karno, “saya ngintil – ngintil artinya mengikuti – Kyai Ahmad Dahlan itu.”

Itulah Kyai Dahlan yang membuat Soekarno muda terpukau dan ‘ngintil’ kemana saja Kyai Dahlan berceramah. Seperti apakah pribadi Kyai Dahlan yang mempesona itu? Solichin Salam, dalam bukunya, K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963), mencatat pribadi Kyai Dahlan sebagai berikut: “Kebesaran Kyai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya. Dengan bermodalkan kebesaran jiwanya dan disertai keichlasan dalam berjuang dan berkorban inilah yang menyebabkan segala gerak-langkahnya, amal usaha dan perjuangannya senantiasa berhasil.”

Selanjutnya dikatakan, “Pribadi manusia Ahmad Dahlan ialah pribadi manusia yang sepi ing pamrih, tapi rame ing gawe. Manusia yang ikhlas, manusia yang jernih, jauh dari rasa dendam dan dengki. Kyai Ahmad Dahlan adalah manusia yang telah matang jiwanya, karenanya beliau dapat tenang dalam hidupnya.”

Semangat perjuangan dan pengorbanan Kyai Dahlan sungguh luar biasa.  Satu kisah, saat Kyai Dahlan jatuh sakit, seorang dokter Belanda menasehatinya untuk beristirahat. Kata si Dokter: “Saya mengetahui apa yang menjadi cita-cita Tuan, dan sebagai seorang dokter, saya pun mengetahui penyakit yang kyai derita. Penyakit kyai ini tidak memerlukan tetirah keluar kota, tetapi cukup di rumah saja. Sakit kyai ini hanya memerlukan mengaso, lain tidak.”

Tetapi, Kyai Dahlan tidak memperhatikan nasehat dokter tersebut. Ia terus berkeliling daerah, bertabligh, tanpa peduli kesehatannya. Tahun 1922, menjelang wafatnya, ia pergi 17 kali meninggalkan Yogyakarta untuk berbagai kegiatan dakwah. Jiwa yang bersih dan kuat itulah yang terus dipancarkan oleh seorang Kyai Dahlan kepada seluruh warga Muhammadiyah, bahkan seluruh bangsa Indonesia.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari adab perjuangan tiga tokoh yang luar bisa tersebut. Amin. (Selat Sunda, 1 Juli 2018).*

Catatan Akhir Pekan [CAP] Kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !