Ahad, 14 Februari 2021 / 3 Rajab 1442 H

Catatan Akhir Pekan

12 Tahun INSISTS [1]

Bagikan:

Oleh: Dr. Adian Husaini

MENYAMBUT 12 tahun INSISTS, pada hari Ahad, 18 Januari 2015, bertempat di Universitas Bosowa 45 Makassar, Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) memulai serangkaian acara Roadshow Peradaban Islam di berbagai Kota di Indonesia.

INSISTS adalah insititut yang selama ini memperjuangkan gagasan dan gerakan “membangun tradisi ilmu menuju Peradaban Islam”.

Mengapa tradisi ilmu? Sebab, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam. Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi dikenal sebagai orang-orang yang “haus ilmu”.

Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi Wassallam telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi sahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban mana pun, hingga kini.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wassallam berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.

Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.

Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya. Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.

Untuk membangun peradaban Islam, menurut Prof. Naquib al-Attas, mau tidak mau harus dilakukan melalui proses pendidikan, yang disebutnya sebagai “ta’dib”.

Tujuan utamanya, membentuk manusia yang beradab, manusia yang mempunyai adab. Adab adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertinggi dari adab ialah mengenal Allah Subhanahu Wata’ala dan ‘meletakkan’-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan ibadah dan amal shaleh pada tahap ihsan. Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat, maka akan terbentuklah satu peradaban yang dalam bahasa Melayu disebut ‘tamadun’, yang berbasiskan pada ‘ad-din’. Madinah adalah kota dimana ”ad-Din” diaplikasikan.

Seorang dapat menjadi manusia beradab jika memiliki ilmu (knowledge) yang benar. Karena itulah, suatu pendidikan Islam pasti akan gagal mewujudkan tujuannya jika dibangun diatas konsep ilmu yang salah: yakni ilmu yang tidak mengantarkan seseorang kepada ketaqwaan dan kebahagiaan. Untuk itulah INSISTS berusaha turut andil dalam sebuah proses pembangunan peradaban Islam, dengan memulai menghidupkan tradisi ilmu Islam dalam masyarakat Islam. Peradaban Islam memang peradaban terbuka, siap menerima unsur-unsur asing yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Tetapi, INSISTS yakin, peradaban Islam hanya bisa berdiri tegak di atas konsep pemikiran Islam (Islamic thought), dan diwujudkan oleh kaum Muslim sendiri.

Kiprah 12 Tahun

Cerita INSISTS bermula 12 tahun lalu, Muharram 1424 H (tahun 2003), di Desa Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia. Berawal dari diskusi-diskusi kecil para mahasiswa ISTAC asal Indonesia dan sejumlah dosen di sana. Ada Hamid Fahmy Zarkasyi, kyai Pesantren Gontor yang lulus doktor dari ISTAC. Ada Adnin Armas, mahasiswa ISTAC yang ketika itu baru saja menamatkan diskusinya dengan para aktivis liberal di Indonesia. Duskusi itu kemudian dibukukan dengan judul ”Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Pemikiran Islam Liberal di Indonesia”.

Ada Dr. Ugi Suharto, pakar Ekonomi Islam alumnus ISTAC yang juga mengajar mata kuliah sejarah dan metodologi hadits di ISTAC. Ketika itu, Dr. Ugi juga baru saja merampungkan diskusi via email soal ”Al-Quran Edisi Kritis” dengan aktivis liberal, Taufik Adnan Amal. Dr. Ugi Suharto kini masih menjadi dosen di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi di Bahrain. Ada lagi Syamsuddin Arif, yang juga sudah lulus doktor dari ISTAC dan kini menjadi dosen di Casis-UTM. Ada Dr. Anis Malik Thoha, alumnus Universitas Islam Internasional Islamabad Pakistan yang pakar di bidang Pluralisme Agama dan ketika itu menjabat sebagai Rois Syuriah NU Malaysia. Kini, Dr. Anis dipercaya menjadi Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang. Ada juga Dr. Nirwan Syafrin, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor IV di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Juga, ada Dr. Arifin Ismail, yang kini memimpin sebuah lembaga penelitian pemikiran Islam di Medan.

Sebelum berangkat ke Malaysia, Januari 2003, untuk menempuh program PhD di ISTAC, saya sudah mendapat tawaran untuk meneruskan studi ke sebuah universitas di Barat. Tiba-tiba, tentu dengan kehendak Allah, suatu ketika di tahun 2002, Wisnu Pramudya, pemimpin Majalah Hidayatullah, membawa seorang tamu bernama Hamid Fahmy Zarkasyi ke rumah saya. Setelah berbincang tentang berbagai hal, Hamid Fahmy menyarankan agar saya tidak perlu melanjutkan kuliah ke Barat, tetapi harus melanjutkan kuliah ke ISTAC. Beliau sendiri ketika itu sedang menyelesaikan studi doktoralnya di ISTAC, setelah menamatkan pendidikan magisternya di Pakistan dan Birmingham, Inggris. Beliau meminta saya segera ke Malaysia.

Nasehat itu saya penuhi. Gus Hamid – begitu putra pendiri Pesantren Gontor itu biasa dipanggil – menjemput saya langsung di bandara KLIA (Kuala Lumpur Internasional Airport). Dari sana saya dibawa ke kampus ISTAC, diajak berkeliling melihat arsitektur bangunan kampus yang sangat indah, termasuk melihat-lihat koleksi perpustakaannya yang sangat melimpah. Kemudian, saya diajak berjumpa dengan Prof. Wan Mohd Nor, wakil Direktur ISTAC. Ketika itu, Prof. Wah Mohd Nor menanyakan maksud saya ke ISTAC.

Tanpa berpikir panjang, saya menyatakan keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di ISTAC. Alhamdulillah, beliau pun langsung menerima. Sejumlah buku saya, tampak ada di meja beliau.

Sebelum ke ISTAC itu, saya sudah menulis buku ”Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya” (2002). Ketika menulis buku ini, fokus saya masih sebatas pada kritik terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL). Setelah banyak berdiskusi di Kuala Lumpur, saya melihat fenomena yang jauh lebih ”mengerikan”. Dalam peta liberalisasi, JIL ternyata hanyalah sebuah lembaga pengecer atau pengasong ide-ide liberal. Di sinilah saya menemukan banyak gagasan dan suasana baru dalam pengkajian Islam.

Perjalanan saya ke ISTAC itu pun sangat tidak mudah. Sebelum berangkat, saya mendapat kabar dari Gus Hamid, bahwa ISTAC terkena musibah. Kampus itu tidak lagi otonom, tetapi sudah dilebur total ke IIUM. Prof. Al-Attas diberhentikan, dan Prof. Wan Mohd Nor sudah tidak aktif lagi di ISTAC. Karena itu, berbagai janji fasilitas dan beasiswa dari Prof. Wan sudah tidak dapat diharapkan lagi. Meskipun begitu, Gus Hamid tetap menyarankan saya, agar berangkat juga memenuhi offer letter dari ISTAC.

Dan, bismillah, saya pun berangkat ke Kuala Lumpur, meninggalkan satu istri dan lima anak di Jakarta, untuk waktu empat bulan pertama. Alhamdulillah, atas bantuan berbagai pihak, saya bisa menyelesaikan studi dengan baik, dan di tahun 2009 lulus ujian disertasi saya berjudul Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: a Critical Reading of the Second Vatican Council’s Document in the light of ad gentes and nostra aetate. Disertasi itu telah diterbitkan IIUM Press, Kuala Lumpur.

Yang menarik bagi saya untuk ke ISTAC, bukan sekedar bangunan dan perpustakaan, tetapi karena pemikiran Prof. Naquib al-Attas dan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Mereka sangat gigih dan konseptual dalam mengembangkan gagasan Islamisasi Ilmu untuk kejayaan umat Islam. Pemikiran mereka terbukti bisa menjadi solusi untuk mengatasi tantangan liberalisasi di Indonesia, khususnya.

Meskipun tidak lagi secara formal aktif di ISTAC, Prof. Wan tetap menyediakan diri untuk menjadi nara sumber diskusi dan konsultasi kami di ISTAC ketika itu. Saya sendiri bisa dikatakan sering mendatangi kediaman beliau di Subang Jaya yang berjarak sekitar 20 km dari Segambut. Beberapa kali perjalanan kami tempuh dengan bersepeda motor. Yang menarik, Prof. Al-Attas dan Prof. Wan tak membeda-bedakan mahasiswa dari negara mana pun. Semua diperlakukan sebagai calon-calon intelektual Muslim yang diharapkan dapat mengembangkan pemikiran dan dakwah Islam di negaranya masing-masing.

Dari Kuala Lumpur itulah, kami mulai mencoba memetakan masalah pemikiran Islam di Indonesia dan berusaha mencarikan solusinya secara mendasar. Maka, kemudian, teman-teman sepakat untuk mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran hasil diskusi terbatas di Kuala Lumpur. Berpikir besar, berbuatlah dari yang kecil! Sebagai mahasiswa yang hidupnya serba pas-pasan mulailah meluncurkan buletin INSISTS. Buletin dicetak hanya sekitar 150 eksemplar, dengan tebal 10 halaman. Uangnya urunan. Edisi perdana (Maret 2003/Muharram 1424 H) menurunkan tulisan Hamid Fahmy Zarkasyi berjudul ”Cengkeraman Barat dalam Pemikiran Islam”. Buletin ini kemudian diedarkan ke Indonesia. Infaq: Rp 2000. Edisi kedua (April 2003/Shafar 1424 H) menurunkan tulisan Syamsuddin Arif berjudul ”Jejak Kristen dalam Islamic Studies”. Sementara itu, diskusi dua mingguan untuk para mahasiswa di Kuala Lumpur, jalan terus. Yang presentasi makalah, gantian.*/bersambung

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Pancasila Menolak Ilmu Sekuler

Pancasila Menolak Ilmu Sekuler

Bisakah Suatu Fatwa Dicabut?

Bisakah Suatu Fatwa Dicabut?

Setelah 40 Tahun, Soal Adab Diingatkan Lagi

Setelah 40 Tahun, Soal Adab Diingatkan Lagi

Pengorbanan Umat Islam untuk Kemerdekaan Indonesia

Pengorbanan Umat Islam untuk Kemerdekaan Indonesia

RUU KUHP Beraroma Yahudi-Kristen

RUU KUHP Beraroma Yahudi-Kristen

Baca Juga

Berita Lainnya