Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Catatan Akhir Pekan

“Mujahid-Mujahid Batumarta” [1]

Bagikan:

PESANTREN Lukmanul Hakim, Batumarta, Sumatera Selatan. Rabu, 4 Agustus 2010, jam di laptop saya menunjukkan pukul 03.03 dini hari. Mata saya sulit terpejam. Padahal, saya ingat benar, pukul 00.05 saya baru merebahkan badan. Ini tidak seperti biasanya. Saya tergolong orang yang mudah tidur, di mana saja, dan kapan saja. Apalagi, Selasa, sehari sebelumnya, seharian penuh saya harus menempuh perjalanan dari Surabaya ke Batumarta. Berangkat dari Surabaya pukul 08.15 sampai di Batumarta pukul 23.00.

Empat jam saya sempat menunggu di Bandara Soekarno Hatta, ditambah sekitar enam jam perjalanan darat dari Palembang ke Batumarta. Tentu cukup melelahkan. Senin malam sebelumnya, saya dipaksa dokter Abdul Gofir SpPd, kawan saya, harus menjalani pemeriksaan darah di kliniknya, di Jombang, Jawa Timur. Ternyata kadar Trigliserid saya mencapai 336,7 mg/dl, cukup tinggi dari kadar normal yang harusnya dibawah 150 mg/dl.

Tentu saja, perjalanan panjang dengan kondisi tubuh yang tak terlalu prima itu sangat berat. Tapi, entah mengapa, Rabu dini hari itu, saya merasa ada energi yang menggerakkan untuk menulis kisah-kisah ini. Ya, bisa saya katakan kisah-kisah, sebab ternyata bekas lokasi transmigrasi di Batumarta ini menyimpan serangkaian kisah perjuangan yang penuh hikmah.

Sekitar tiga pekan lalu, saya dihubungi Ustad Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), agar menyiapkan jadwal ke Baturaja, Sumatera Selatan. Ada serangkaian acara dakwah, katanya. Saya sanggupi saja permintaan itu. Tetapi, hari Senin, 2 Agustus 2010, usai mengisi sebuah acara di Bojonegoro, kondisi kesehatan saya menurun. Kepala pusing, perut mual-mual, dan beberapa kali harus buang hajat.

Satu SMS saya kirim ke Sekretaris DDII, Pak Amlir Syaifa: “Mohon maaf, saya tidak bisa ke Baturaja, karena kondisi kesehatan saya.” Tiket sudah dibelikan. Saya harus mencari pengganti. Walhasil, sampai Selasa paginya, tak kunjung ketemu seorang pun yang bisa menggantikan saya.

Akhirnya, bismillah. Selasa, 3 Agustus 2010, saya putuskan berangkat ke Baturaja. Empat jenis obat dari dokter tak lupa saya bawa. Jadwal keberangkatan pesawat ke Palembang pukul 14.10. Karena pesawat dari Surabaya tiba di Cengkareng pukul 09.30, saya memutuskan untuk menunggu di Bandara. Sekitar pukul 13.00, Ustad Syuhada Bahri tiba di Bandara Soekarno Hatta bersama Rusdi, staf DDII Bidang IT dan dokumentasi.

Seperti sudah menjadi tradisi, pesawat ke Palembang telat 30 menit. Kami mendarat di Palembang pukul 15.35. Dua orang menjemput kami: seorang pengemudi, dan satunya lagi diperkenalkan namanya, Ahmad Ramadhan. Ternyata, dia dai DDII yang sudah bertugas di Batumarta sejak tahun 1979, saat daerah Batumarta masih belantara.

Sepanjang perjalanan itulah, saya tekun mendengar cerita tentang Batumarta dari Ustad Syuhada Bahri dan Ahmad Ramadhan. Saat pertama kali diutus berdakwah di Batumarta tahun 1984, menurut Ustad Syuhada, jalanan masih berupa tanah. “Jika hujan, lumpurnya setinggi mata kaki,” paparnya. Ahmad mengaku pernah berpapasan dengan ular sanca berdiameter paha manusia. Ular itu lewat saja di hadapannya. Ia belum pernah bertemu harimau. Tapi, seorang kenalannya pernah menabrak harimau dengan motornya saat harimau itu mengejar seekor babi hutan. Motor terjungkal. Harimau itu menatap teman Ahmad. “Aneh, setelah tertabrak dan diam, harimau tidak menerkam manusia, tapi kembali lari mengejar babi,” tutur Ahmad.

“Itu harimau yang istiqamah, konsisten mengejar tujuan awalnya” canda Ustad Syuhada.

Saat itu, keluar masuk hutan, naik turun sungai – meskipun di malam hari – tidak membuat khawatir, apakah bertemu ular atau harimau. “Justru kini rumah-rumah transmigran sudah berbeton dan berkeramik, ada dua warga meninggal dipatok ular kobra,” papar Ahmad lagi.

Kisah-kisah dai-dai DDII di daerah Batumarta itu sangat menggairahkan, sampai berhasil mengusir rasa kantuk. Saya penasaran, ingin melihat kondisi Batumarta, sebuah dunia baru yang belum pernah terlintas dalam mimpi saya. Beberapa kali saya telah menjelajah area Sumatera Selatan, tapi baru kali itu, saya menemukan rangkaian kisah nyata yang sangat menarik. Naluri kewartawanan saya seperti hidup lagi. Kisah-kisah itu sayang untuk dilewatkan. Saya khawatir, kisah-kisah perjuangan – bahkan bisa dikatakan kisah-kisah jihad – putra-putra muslim itu tak akan pernah terekam dalam goresan pena sejarah.

*****

Setiba di Pesantren Luqmanul Hakim, pukul 23.00, sesosok laki-laki mungil menyambut kami. Ia bernama Mansur Suryadi (59 tahun). Orangnya terkesan pendiam. “Beliau ini dai pertama Dewan Da’wah,” Ahmad Ramadhan mengenalkannya pada saya. Saya berusaha mengorek dan mengais kisah-kisah awal Suryadi datang ke Batumarta.

Kisah itu bermula 32 tahun lalu.

Tahun 1978, saat itu Suryadi masih berumur 27 tahun. Terdorong untuk mencari penghidupan yang lebih baik, tamatan sebuah Madrasah Aliyah di Ngawi, Jawa Timur, ini memberanikan diri mendaftar sebagai calon transmigran umum. Bersamanya ada 100 kepala keluarga.

Suryadi lulus Aliyah tahun 1969. Aktivitas mengajar sudah menjadi darah dagingnya. “Setamat Tsanawiyah, saya sudah mengajar,” katanya. Ia mengajar agama dan bahasa Arab. Salah satu muridnya adalah Prof. Qamari Anwar, mantan Rektor Universitas Hamka Jakarta.

Bersama istri dan anak pertamanya, ia berangkat dari Ngawi menuju Batumarta. Tujuh hari perjalanan ia jalani. Suryadi bersyukur dapat menginjakkan kaki di lokasi transmigrasi. Rumah yang dijanjikan ditumbuhi pohon ilalang setinggi dada manusia. Pepohonan besar masih bercokol di sana-sini. Rumah itu berukuran 6×6 meter, terbuat dari papan kayu, berlantai tanah. Tak ada sumur, tak ada WC, apalagi listrik.

Suryadi mengaku tidak punya keahlian bertani. Toh, hari-harinya harus dilalui dengan membabat ilalang, membuka lahan. Ia tanam singkong dan padi. Tapi, sampai berbulan-bulan, hasratnya untuk mengajar belum terpenuhi. Ia pernah mencoba ke Baturaja, melamar di sebuah sekolah, tapi ditolak. Pada bulan ke sepuluh, ia memutuskan menjual lokasinya, karena belum ketemu tempat mengajar.

Ada yang menawar Rp 50.000. Ia setuju menjual rumah dan lahannya. Dengan uang sebesar itu, ia dan keluarga bisa kembali ke kampung asal, di daerah Ngawi. Ongkos Batumarta-Ngawi saat itu hanya Rp 6.000. Ternyata, pembeli hanya memiliki uang Rp 25.000. Katanya, sisanya akan dicicil kemudian hari. Entah kapan. Suryadi keberatan. Padahal, jika sekarang lahannya yang lima hektar luasnya dijual, harganya sudah lebih dari Rp 500 juta.

“Akhirnya, saya kuat-kuatkan tinggal di sini,” katanya, mengenang.

Tak berapa lama, sinar kehidupan mulai tampak. Suryadi mendapat tawaran mengajar agama di sebuah SD. “Saya sangat bahagia,” tambahnya. Sejak itu, babak baru kehidupannya sebagai dai dan ustad di Batumarta dimulai. Tapi, bersama itu pula, ujian demi ujian pun menyertainya. “Ada tiga kali saya berurusan dengan aparat keamanan,” kenangnya.

Selasa menjelang tengah malam itu, satu persatu diceritakannya kisah-kisah itu.

Kisah pertama terjadi tahun 1984, menyusul memanasnya jagad politik Indonesia akibat penandatanganan Petisi 50. Sejumlah tokoh purnawirawan dan sipil terkemuka, termasuk Ketua DDII, Muhammad Natsir, menandatangani Petisi yang memberikan kritik keras terhadap pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto. Seluruh penandatangan Petisi ditetapkan sebagai “Pembangkang” oleh penguasa. Mereka dicekal pergi ke luar negeri. Beberapa jenderal purnawirawan dipersulit kehidupannya. Dua di antaranya adalah Letjen TNI Ali Sadikin dan Letjen TNI HR Dharsono. M. Natsir pun dilarang keluar negeri. Bahkan, gaji pensiunnya sebagai mantan Perdana Menteri RI pernah ditahan.

Imbas politik di Ibu Kota itu sampai juga ke belantara Batumarta. Dai-dai DDII, seperti Suryadi dicurigai kegiatannya. “Padahal, gara-garanya, Ketua DDII Palembang, Husin Abdul Muin, ada masalah pribadi dengan pegawai Departemen Agama setempat,” kata Suryadi.

Kala itu, Suryadi sudah resmi menjadi dai DDII. Ia bermaksud menyelenggarakan pelatihan imam dan khatib. Ada enam belas desa didatanginya untuk mengedarkan undangan. Radius desa-desa itu mencapai 50 km. Alat transportasi hanya sepeda. Kadangkala, dengan lampu senter, ia harus menerobos belantara, berkeliling desa, mengantar undangan. “Alhamdulillah, ada sekitar 40 orang yang bersedia mengikuti,” kata Suryadi.

Karena ada pejabat yang mengaitkan Husin dengan Petisi 50, Suryadi tiba-tiba dipanggil ke kantor Sospol Baturaja. Husin Abdul Muin dianggap ada kaitan dengan Petisi 50. Suryadi pun dikait-kaitkan. Padahal, tidak sama sekali. Ia hanya seorang dai DDII. Tahun 1979, ia menjadi dai DDII. Tahun 1982, barulah ia sempat menjalani pelatihan dakwah selama 40 hari di Pesantren Pertanian Darul Falah, Bogor. Menurut Ustad Syuhada, saat itu, hampir semua dai DDII menjadi sasaran kecurigaan, gara-gara kasus Petisi 50. Sebagai staf Pak Natsir yang mengurusi masalah dai-dai di dalam negeri, Syuhada mendapatkan banyak laporan kesulitan para dai di daerah. Maka, ia sampaikan usulan kepada Pak Natsir agar mencabut tanda tangannya dalam Petisi. Tapi, Pak Natsir menjawab, “Itu sudah hasil istikharah saya.”

Di Batumarta, Suryadi terkena imbas, meskipun dia tidak menyesal dan menyalahkan Pak Natsir. Suryadi mengaku bangga pernah dilatih langsung oleh M. Natsir. “Saya diminta membubarkan acara pelatihan imam dan khatib oleh pejabat Sospol Baturaja,” kata Suryadi. Ia memilih sikap menuruti saja kata-kata pejabat pemerintah itu. Tapi, ia tidak tahu, bagaimana cara memberi tahu para undangan. Ternyata, tepat pada hari H, jamaah tetap berdatangan, dan pelatihan itu tetap dilaksanakan. Karena lokasinya yang jauh dari permukiman, maka tidak ada yang mempersoalkan.

Suryadi mengaku sebagai orang kecil dan dai di pelosok yang sama sekali tidak ikut-ikutan persoalan politik di pusat kekuasaan. Toh, saat itu, untuk urusan pelatihan imam dan khatib saja, dikait-kaitkan dengan urusan kekuasaan, dan harus dibatalkan.

*****

Tantangan demi tantangan dakwah terus dialami Suryadi. Ujian dakwah yang berat kedua dialami Suryadi pada tahun 1988. Suatu hari, di tengah malam, datang seorang polisi ke rumahnya. Ia ditanya tentang berbagai hal. Ternyata, ada dai dari Jakarta yang ditangkap gara-gara mengambil gambar gereja dan kantor aparat keamanan di Palembang. Dai itu mengaku bermaksud mengunjungi rumah Suryadi.

Akhirnya, Suryadi dipanggil ke kantor polisi. Ia diminta membawa seluruh buku dan kitabnya. “Saya membawa dua tas besar,” kenangnya. Untuk mencapai kantor polisi, ia harus naik angkutan umum lebih dari satu jam perjalanan. Sesampai di sana, seorang pegawai Departemen Agama sudah disiapkan untuk memeriksa buku-bukunya. Akhirnya ia berhasil melunakkan hati Kapolres Baturaja, dan dia diizinkan kembali ke rumahnya.

Pengalaman yang dialami Suryadi mungkin tidak terbayangkan oleh banyak generasi muda muslim pada era saat ini. Banyak anak muda tidak sadar, bahwa suasana dakwah yang lebih kondusif saat ini, bukanlah muncul begitu saja, tetapi sudah melalui jalan yang panjang. Orang-orang seperti Suryadi tidak berkampanye tentang hal-hal besar, tetapi dia bekerja di lapangan, berjihad menyebarkan ilmu, mengajar masyarakat tentang ad-Dinul Islam.

Pada saat Subuh, Rabu pagi hari, Suryadi sudah menunggu di depan kamar tempat kami menginap. Dia mengajak kami shalat Subuh. Dia memimpin sendiri jamaah Subuh para santrinya, yang kini mancapai 300 orang lebih. Usai shalat, Suryadi memberikan nasihat-nasihat sederhana, dalam bahasa Arab yang mudah dipahami oleh para santri. Cara berkomunikasinya sangat akrab. Tampak sangat bersahaja.

Saya merenung, masih ada berapa banyak lagi ustad-ustad seperti Suryadi ini? Secara formal, dia hanya lulusan Madrasah Aliyah. Tapi, dia berani menjalani kehidupan. Dia mengajarkan ilmunya. Kini, berapa banyak sarjana bidang dakwah dan pendidikan Islam yang memiliki mental seperti Suryadi?

****

Ujian terberat dialami Suryadi di akhir tahun 1992. Ia bersama sejumlah Ustad pesantren Luqmanul Hakim dijebloskan ke penjara gara-gara sebuah edaran yang dikirimkan ke beberapa gereja di wilayah Baturaja. Edaran itu bercerita tentang kemustahilan Yesus sebagai Tuhan. Suryadi bercerita, dia sebenarnya tidak ikut membuat dan mengedarkan surat tersebut. Pembuatnya adalah Zuhdi Safari, Kepala Sekolah SD Batumarta.

Kepada saya, Zuhdi Safari (62 tahun) mengaku, dia membuat surat itu karena menjawab edaran Kristen yang disebarkan ke rumah-rumah penduduk dan juga sekolahnya. “Saya hanya membalas apa yang mereka lakukan,” kata Mbah Safari, begitu sekarang dia biasa dipanggil.

Meskipun hanya memberikan persetujuan, Suryadi diganjar hukuman enam bulan penjara, lebih rendah dua bulan dari tuntutan jaksa. Dia dikenai pasal penodaan agama, KUHP pasal 156 A. Sebelum menjalani persidangan, Suryadi dan kawan-kawan sempat ditahan dua bulan di Kantor Kodim. “Katanya, saya diamankan,” cerita Suryadi.

Persidangan itu sendiri berlangsung semarak. Selama empat bulan, PN Baturaja sering dibanjiri pengunjung. Setiap persidangan, puluhan mobil dari Batumarta membanjiri halaman PN Baturaja. Itulah buah pembinaan masyarakat yang dilakukan Suryadi. Mereka bersimpati dan berempati pada gurunya. Tapi, penjara tidak membuat nyali dakwah Suryadi dan kawan-kawan menciut. Di dalam penjara, mereka justru menebar dakwah. Mereka mengajar mengaji dan mengenal banyak narapidana.

Alhamdulillah, santri-santri di Pesantren Luqmanul Hakim tidak berkurang. Suryadi tetap mengatur dan menandatangani surat-surat pesantren dari dalam penjara. Padahal, kata Suryadi, beberapa kali pesantrennya mengalami teror. “Kadangkala, malam-malam ada aparat datang menggedor-gedor pintu gerbang pesantren,” tuturnya.

Bagaimana surat rahasia itu bisa jatuh ke aparat keamanan?

Ternyata Komandan Kodim Baturaja ketika itu seorang aktivis sebuah gereja. Dia memerintahkan agar surat itu diusut. Karena edaran itu dicetak, maka tidak terlalu sulit melacak ke beberapa percetakan di sekitar Batumarta. Ujungnya, arsip edaran itu ditemukan. Ditangkaplah Suryadi dan kawan-kawan. Pembelaan kepada mereka tidak mempan. Mereka harus dijebloskan ke penjara. [hidayatullah.com/bersambung]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini] adalah hasil kerjasama antara Radio9 Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Selamat Jalan Sang Ustadz Teladan”

“Selamat Jalan Sang Ustadz Teladan”

Menunggu Lahirnya Para Pejuang Syariah yang Bijak

Menunggu Lahirnya Para Pejuang Syariah yang Bijak

Belajar Adab Berjuang dari Tiga Tokoh [1]

Belajar Adab Berjuang dari Tiga Tokoh [1]

Ramadhan Versus Peradaban Syahwat!

Ramadhan Versus Peradaban Syahwat!

Dekrit Presiden dan Konsep “Negara Tauhid”

Dekrit Presiden dan Konsep “Negara Tauhid”

Baca Juga

Berita Lainnya