Selasa, 16 Februari 2021 / 4 Rajab 1442 H

Catatan Akhir Pekan

Heboh Film BCG

Bagikan:

?Heboh Film BCG? Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan protes keras terhadap film berjudul Buruan Cium Gue (Film BCG). MUI bersama KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym), melakukan aksi penolakan terhadap film tersebut, dan meminta pemerintah agar menarik peredaran film ini. Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. Dr. M. Din Syamsuddin mengatakan, Film itu telah menyinggung rasa susila masyarakat, menimbulkan rasa ketakutan di kalangan orang tua dan pendidik, menimbulkan ancaman gangguan ketertiban umum, serta kemungkinan munculnya reaksi-reaksi yang tak terkendali.

Ia mengatakan, surat yang telah dikirimkan pada tanggal 14 Agustus lalu itu, dibuat oleh MUI setelah Forum Ukhuwah Islamiyah MUI melakukan pertemuan yang dihadiri oleh wakil-wakil ormas kelembagaan Islam pada 13 Agustus. Mereka menyatakan keprihatinan terhadap film tersebut.

Dari adegan-adegan, dialog, suara serta imajinasi yang dikembangkan dalam film tersebut dapat disimpulkan secara sengaja bermaksud menghina, melecehkan, menertawakan pihak-pihak yang dipandang konservatif dan kolot, karena berpegang dengan nilai-nilai budaya yang luhur, nilai norma agama dan pendidikan sekolah.

MUI juga menyimpulkan bahwa film BCG! itu berangkat dari pembuatan ide yang dangkal, bagaimana membuat film dengan biaya relatif murah, tapi provokatif dan memiliki daya magnet bagi remaja serta mengundang kontroversi, dan film ini berharap laku di pasaran.

Sementara itu, Aa Gym menilai bahwa judul film tersebut begitu vulgar dan berani. Kalau secara ekstrim judul film tersebut sebenarnya “ayo buruan zinahi gue”.

Menurut UU no 8 th 1992 pasal 31 disebutkan bahwa pemerintah dapat menarik suatu film bila dalam penayangannya mengganggu ketertiban, ketentraman, dan keselarasan hidup masyarakat.

Kita patut menyatakan hormat dan terharu terhadap MUI dan AA Gym serta berbagai pihak yang masih peduli pada masalah moral bangsa. Di tengah dunia yang semakin kuat dicengkeram nilai-nilai sekularisme dan materialisme, maka batas-batas moral agama menjadi kabur. Manusia sudah menjadi Tuhan untuk dirinya sendiri. Mereka mau menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, berdasarkan pertimbangan mereka sendiri.

Akhlak dilepaskan dari agama. Di tengah dunia yang seperti itu, maka orang-orang yang menentang film BCG bisa dituduh sebagai ?sok moralis?, ?kuno?, ?penjaga moral?, dan sebagainya.

Sementara masyarakat sudah semakin dicengkeram dengan berbagai jenis hiburan dan pemujaan antar manusia, melalui acara-acara pemilihan ?Idol?. Bukan hanya di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan sebagainya, di negara asalnya, Amerika Serikat, acara American Idol, juga digilai oleh masyarakatnya. Peserta sampai rela menginap dua hari untuk menunggu giliran audisi. Di Malaysia, acara Malaysian Idol, Akademi Fantasia, Audition, dan sejenisnya juga digilai oleh jutaan rakyat Malaysia. Jumlah pengirim SMS mencapai puluhan juta orang, melebihi jumlah penduduk Malaysia yang hanya sekitar 22 juta orang. Protes bermunculan di sana-sini, tetapi tidak dipedulikan.

Pengaruh peradaban Barat yang disebarkan melalui proses globalisasi menjadi semakin kuat mencengkeram umat manusia. Ketika ada yang protes dan membawa-bawac agama, maka mereka akan ditertawakan. Agama dianggap urusan pribadi, jangan di bawa-bawa dalam urusan masyarakat. Biarlah masyarakat yang menentukan sendiri, baik dan buruk untuk mereka. Inilah yang 30 tahun lalu dikatakan oleh Harvey Cox, dalam buku yang menghebohkan AS ketika itu, ?The Secular City?, bahwa ?secularization simply bypasses and undercuts religion and goes on to other things? Religion has been privatized.?

Jika agama dipotong, ditinggalkan, dan dijadikan urusan privat, maka sama saja dengan agama telah ?dimuseumkan?. Agama dijadikan barang antik. Seluruh agama menghadapi tantangan berat semacam ini. Kristen sendiri sangat menyadari akan bahaya sekularisasi ini ini, sehingga pada Kongres Misionaris Internasional di Jerusalem, 1928, mereka menetapkan bahwa sekularisme ?was seen as the great enemy of the church and its message.? Bahwa sekularisme dipandang sebagai musuh besar gereja dan ajaran-ajarannya.

Sekularisme adalah buah dari peradaban Barat yang disebut Muhammad Asad (Leopold Weiss), intisarinya adalah ?irreligious?. Dalam bukunya yang terkenal, ?Islam at The Crossroads?, Asad menulis, ?? so characteristic of modern Western Civilization, is as unacceptable to Christianity as it is to Islam or any other religion, because it is irreligious in its very essence).?

Peradaban yang semacam inilah yang sekarang sedang mendominasi umat manusia dan setiap detik menjejalkan nilai-nilainya ke tengah masyarakat, termasuk umat Islam, melalui acara-acara TV, di sudut-sudut kamar hampir setiap rumah tangga Muslim. Barat tidak menolak Tuhan, tetapi Tuhan dibuat tidak berdaya. Tuhan tidak diberi tempat dalam kehidupan. Mirip dengan konsep Tuhan filosof Yunani terkenal, Aristotle, yang menyebut Tuhan sebagai ?Unmoved mover?, penggerak yang tidak bergerak. Tuhan dipandang sebagai ?Sebab Pertama? (Causa Prima), yang menggerakkan alam semesta, tetapi dia sendiri tidak bergerak, dan tidak ikut campur tangan dalam proses kehidupan manusia dan alam semesta.Tuhan yang istirahat. Ini tentu berbeda dengan gambaran al-Quran bahwa Allah senantiasa dalam kesibukan. Kulla yaumin huwa fii sya?nin. (QS 55:29).

Dalam pembukaan Olimpiade 2004 di Yunani, awal Agustus 2004, tampak bagaimana tradisi Yunani memperlakukan tuhan-tuhan mereka. Sebuah kuil di Delphi, tempat Dewa Apholo, yang masih tersisa artefaknya, dipertontonan berkali-kali kepada umat manusia.

Betapa pun, sejarah Kristen menunjukkan, mereka akhirnya menyerah kepada sekularisme. Sejak awal-awal perkembangan agama ini, mereka sudah mengadopsi konsep Trinitas, dan menyerap unsur-unsur paganisme Yunani-Romawi kedalam agama Kristen. Hari suci mereka ubah dari Hari Sabtu (Sabath) menjadi Hari Matahari (Sunday), untuk menghormati tuhan mereka, Sol Invictus. Dalam bahasa Latin, Sol artinya ?matahari?.

Peringatan kelahiran Yesus dipaskan dengan Hari Kelahiran Sol Invictus, yaitu 25 Desember. Ini sudah dilakukan sejak awal abad ke-4 Masehi.

Maka, ketika Barat sudah semakin dominan dengan nilai-nilai sekularisme dan liberalisme, kalangan agamawan Kristen pun bersikap adaptif, agar agama mereka tetap dapat diterima di Barat. Mereka mulai mengubah ajaran-ajaran pokok agama mereka, dan menerima sekularisme, bahkan kemudian dicarikan legitimasinya dalam Bible.

Harvey Cox menempatkan bab pertama bukunya dengan judul ?The Biblical Sources of Secularization?, yang diawali dengan ungkapan teolog Jerman, Friedrich Gogarten: ?Secularization is the legitimate consequence of the impact of biblical faith on history.?

Dalam masyarakat secular, agama tidak ditolak sama sekali, namun agama harus menyesuaikan kehendak masyarakat. Ajaran agama yang tidak cocok lagi, perlu dibuang, atau disimpan dalam museum. Manerik jika mencermati kondisi masyarakat AS yang dikatakan Huntington, lebih religius ketimbang masyarakat Eropa. Sebuah buku berjudul ?What Americans Believe? (1991), mengungkap hasil riset Barna Research Group, yang menunjukkan, bahwa 64 persen golongan tua mengaku sebagai religius. Tahun 1985, jumlahnya masih mencapai 72 persen. Sebanyak 74 persen percaya kepada Tuhan, yang menciptakan alam semesta. Sebaliknya, 47 persen berpendapat, bahwa setan hanyalah simbol kejahatan (symbol of evil). Disamping itu, hanya 28 persen setuju bahwa Gereja mereka relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Disamping itu, hanya 19 persen yang mengaku, bahwa Gereja Kristen bersikap toleran terhadap ajaran yang berbeda dengan Gereja.

Dalam masyarakat dunia seperti inilah agama-agama menghadapi tantangan berat. Sebab, kebenaran tidak ditentukan oleh agama, tetapi oleh suara masyarakat. Kaum feminis berusaha keras bagaimana agar gerakan mereka mendapatkan legitimasi dari Bible. Mereka tidak lagi menulis God, tetapi juga Goddes. Dalam buku ?Feminist Aproaches to The Bible?, seorang aktivis perempuan, Tivka Frymer-Kensky, menulis makalah dengan judul: ?Goddesses: Biblical Echoes?. Aktivis lain, Pamela J. Milne, mencatat, bahwa dalam tradisi Barat, Bible manjadi sumber terpenting bagi penindasan terhadap perempuan.

Dalam kasus homoseksual, para teolog Kristen juga berlomba-lomba membuat tafsiran baru, agar praktik maksiat itu disahkan oleh Gereja. Dalam Bible, Kitab Kejadian 19:4-11, diceritakan tentang hukuman Tuhan terhadap kaum Sodom dan Gomorah. Pada umumnya, kaum Kristen memahami, bahwa homoseksual adalah penyebab kaum itu dihancurkan oleh Tuhan. Sehingga mereka mempopulerkan istilah Sodomi yang menunjuk pada praktik maksiat antar sesama jenis. Tokoh-tokoh Gereja pada awal-awal Kristen, seperti Clement of Alexandria, St John Chrysostom, dan St Agustine, mengutuk perbuatan homoseksual. Tahun 1975, Vatikan mengeluarkan Doktrin ?The Vatican Declaration on Social Ethics?, yang hanya mengakui praktik heteroseksual dan menolak pengesahan homoseksual. St Thomas menyebut Sodomi sebagai ?contra naturam?, artinya, bertentangan dengan sifat hakiki manusia.

Tetapi, sebagian teolog Kristen pendukung homoseksual kemudian membuat tafsiran lain. John J. McNeill SJ, misalnya, menulis buku ?The Church and the Homosexual? memberikan justifikasi moral terhadap praktik homoseksual. Menurut dia, Tuhan menghukum kaum Sodom dan Gomorah, bukan karena praktik homoseksual, tetapi karena ketidaksopanan penduduk kota itu terhadap Tamu Lot. Kaum Katolik mendirikan sebuah kelompok gay bernama ?Dignity? yang mengajarkan, bahwa praktik homoseksual tidak bertentangan dengan ajaran Kristus. Teolog lain, Gregory Baum, menyatakan: bahwa ?If the homosexual can live that kind of life (love), than homosexual love is not contrary to the human nature.? Tahun 1976, dalam pertemuan tokoh-tokoh Gereja di Minneapolis, AS, dideklarasikan, bahwa ?homosexual persons are children of God.? Puncaknya, adalah ketika pada November 2003 lalu, Gereja Anglican di New Hampshire mengangkat Gene Robinson, seorang homoseksual, menjadi Uskup. Maka, gerakan kaum homoseksual dengan resmi mendapat legitimasi dari Gereja. Sesuatu praktik maksiat yang dikutuk dalam Bible dan selama ratusan tahun dipertahankan, akhirnya tidak mampu dibendung karena mendapatkan legitimasi agama.

Fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat Kristen ini sedang diglobalkan ke seluruh umat manusia. Umat Islam tidak terkecuali. Kerusakan moral akhirnya dicarikan justifikasinya dalam agama. Sebab, dengan cara itu, agama dianggap mampu bertahan dalam kehidupan modern. Di kalangan Muslim, proses semacam ini sedang berjalan. Sejumlah cendekiawan secular-liberal secara terang-terangan mempromosikan paham yang meletakkan agama adalah masalah privat, dan tidak berhak campur tangan dalam urusan seni. Seni adalah seni. Film dianggap sebagai karya seni, dan tidak layak dicampuri urusan agama. Dalam tradisi Yunani, hampir semua patung ditampilkan dalam bentuk telanjang bulat. Katanya, itu untuk keindahan. Dalam kasus film BCG, pendukung moral sekuler akan berkata, bahwa biarlah masyarakat yang menentukan, apakah mereka menerima atau tidak film itu. Tidak usah dilarang.

Celakanya, Indonesia sendiri menganut asas sekuler dalam sebagian besar Undang-undangnya. Pasal yang akan digunakan untuk menilai film BCG adalah pasal 282 KUHP warisan Belanda, yang meletakkan respons masyarakat sebagai ?tolok ukur? sesuatu itu ?asusila? atau ?tidak?. Perdebatan tentang masalah ini sudah dan akan panjang, tidak pernah berhenti. Sebagian akan menyatakan, bahwa itu merupakan karya seni, sebagian lagi menyatakan, itu merusak moral masyarakat.

Karena itulah, dalam kondisi masyarakat yang semakin tersekularkan, terliberalkan, dan ter-Baratkan, maka perjuangan MUI, AA Gym, untuk menentang fim BCG sangatlah berat. Dalam kamus kesehatan, BCG adalah kuman penyebab penyakit TBC (Bacillus Calmette Guirin). Tentu banyak masalah lain yang sangat penting, seperti masalah kemiskinan, pendidikan yang mahal, korupsi yang masih merajalela, utang luar negeri yang menjerat leher rakyat, dan sebagainya.

Tetapi, masalah moral tetap penting. Kita gembira dengan adanya sebagian tokoh yang peduli dengan masalah ini. Tetapi kita juga berharap, MUI dan AA Gym juga tokoh-tokoh Islam lainnya, lebih peduli pada perusakan aqidah Islamiyah dan penghancuran tradisi ilmu di kalangan masyarakat Muslim. Semoga Allah SWT meridhai perjuangan para tokoh itu. Amin. (KL, 20 Agustus 2004).

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”

Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”

Membangun Peradaban Tidak Bisa Instan

Membangun Peradaban Tidak Bisa Instan

Beginilah Kualitas Generasi 1945, Bagaimana Generasi 2020

Beginilah Kualitas Generasi 1945, Bagaimana Generasi 2020

“Hati-hati Belajar Filsafat Ilmu Sekular”

“Hati-hati Belajar Filsafat Ilmu Sekular”

“Warna-Warni Idul Fithri”

“Warna-Warni Idul Fithri”

Baca Juga

Berita Lainnya