Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Catatan Akhir Pekan

Nasehat dan Harapan Untuk Amien Rais

Bagikan:

Diukur dari berbagai faktor, diantara calon presiden yang ada, Amien Rais memang yang paling dapat diharapkan untuk membawa perubahan bagi kondisi Indonesia di masa depan.

Beberapa tokoh Islam yang mendukung Amien Rais, menyatakan, bahwa Amien Rais sekarang sudah dan mau berubah, tidak ingin lagi menyakiti umat Islam, tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial, dan sebagainya. Malah, seorang tokoh Islam yang sangat terkenal namanya, menyebarkan SMS, bahwa “diantara calon presiden yang ada, Amien Rais lah yang paling kecil mudharatnya.”

Daftar kontroversi Amien Rais di kalangan tokoh-tokoh Islam, memang panjang. Pasca Soeharto, dia adalah satu-satunya tokoh reformasi yang paling menonjol. Namun, keinginannya untuk dilihat sebagai “tokoh bangsa”, bukan sekedar sebagai “tokoh Islam”, menyebabkan dia melangkah untuk membuat partai yang tidak berasas Islam, Partai Amanah Nasional (PAN).

Berbagai kalangan non-Muslim masuk dalam daftar pimpinan PAN, salah satunya tokoh pemuda Katolik, Pius Lustrilanang. Amien Rais juga batal masuk PPP, PBB, dan sebagainya. Seorang konseptor PAN menyatakan, bahwa ia ingin membuat partai seperti Golkar, tetapi didominasi oleh Muslim.

Langkah Amien ini telah menimbulkan perpecahan di kalangan aktivis Islam, termasuk warga Muhammadiyah. Banyak diantara mereka yang memilih bergabung ke PBB atau PKS. Dalam pemilu 1999, pilihan Amien terbukti tidak pas. Suara PAN jeblok, tidak sepeti yang diharapkan. PAN masih kalah dengan PPP. Bahkan, dalam pemilu 2004, tampak bagaimana berbagai upaya Amien untuk menarik suara buat PAN, juga gagal. Suara PAN kali ini hanya 6,4 persen, kalah dibandingkan PKS yang 7,3 persen atau Partai Demokrat yang 7,5 persen.

Bayangkan, seorang tokoh yang begitu populer, didukung oleh jaringan Ormas Islam kedua terbesar, meraih suara yang jauh dari harapan semula. Berbagai cara pun sudah dilakukan oleh Amien Rais untuk menarik dukungan rakyat, seperti menyanyi campur sari, dan membuat iklan selamat Hari Natal dan Hari besar keagamaan lainnya, di televisi.

Jebloknya suara PAN inilah yang kabarnya, menjadi pukulan berat buat Amien Rais, sehingga dia menyadari kekeliruannya. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai calon Presiden, dan melakukan berbagai pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam, yang selama bertahun-tahun berseberangan secara politis dengannya.

Ada semacam kontrak baru antara Amien Rais dengan para tokoh Islam. Seorang pendukung Amien saya tanya: “Apakah ada jaminan, Indonesia dan umat Islam akan lebih baik jika Amien terpilih sebagai Presiden?” Dia menjawab: “Tidak ada. Tapi, kalau yang lain, lebih buruk lagi.” Jadi, yang digunakan adalah konsep yang terbaik diantara yang ada. Dari pada yang lain, lebih baik pilih Amien.

Memang, jika dipikir secara logis, ada harapan, di bawah kepemimpinan Amien Rais, Indonesia akan berubah. Berbagai janji dan program untuk memperbaiki Indonesia telah dibuat pasangan Amien Rais-Siswono. Kita paham, mengingat beratnya kondisi dan masalah yang dihadapi bangsa, maka perubahan yang diharapkan, mungkin tidak akan terwujud dalam waktu singkat.

Tapi, bagaimana pun, seharusnya, program utama yang akan dilakukan oleh semua capres, adalah program “penyelamatan bangsa”. Bukan program pembangunan. Bangsa ini perlu diselamatkan dari kehancuran. Perlu ada revolusi besar-besaran di bidang mental. Bangsa ini perlu menyusun dan menjabarkan ideologi negara yang jelas, untuk menghadapi tantangan yang semakin berat. Dan itu harus dimulai dari diri Presiden, keluarga, kroni, menteri, dan aparat pemerintahan.

Berbagai acara formalitas kenegaraan yang tidak penting, seyogyanya dihapuskan saja. Protokoler yang berlebihan yang menelan dana milyaran rupiah pun sudah saatnya dikurangi. Juga, berbagai aktivitas seremonial kenegaraan yang tidak perlu, sebaiknya dihentikan.

Dalam wawancara dengan satu stasiun TV, pada 7 Juni 2004, pakar ekonomi dari Harvard University, Hartojo Wignjowijoto, menyatakan, problem mendasar bangsa Indonesia adalah “tidak memiliki kepercayaan diri” dan “tidak mau kerja keras”. Tidak percaya diri, malas bekerja, malas belajar, malas mencari ilmu, mau dapat gelar tanpa belajar keras.

Lihatlah, bagaimana masih banyaknya program yang menawarkan gelar magister, Doktor, dari berbagai institusi pendidikan, tetapi tidak memperhatikan kualitas penerima gelar. Sekarang, sudah sampai di kampung-kampung, orang menawarkan program mudah untuk mendapatkan gelar magister atau doktor. Budaya jalan pintas dan budaya korupsi sudah begitu berurat berakar. Kekuasaan sudah silih berganti, dari Soeharto ke Habibie, Abdurrahman Wahid, lalu Megawati. Tetapi, budaya jahili dan korupsi tidak berganti. Hanya saja, bagaimana budaya kerja keras mau ditanamkan, sementara media massa terus-menerus menjejali masyarakat dengan program hiburan dan merusak mental dan melenakan mereka serta menjejali mereka dengan mimpi-mimpi?

Diantara agenda terpenting dari para calon Presiden seharusnya adalah program “menghentikan atau mengurangi kezaliman”. Sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa berjalan bersama seorang yang zalim untuk membantunya dan dia mengetahui bahwa orang itu zalim, maka dia telah keluar dari agama Islam.” (HR Ahmad dan Thabrani).

“Bila orang-orang melihat orang zalim, tapi mereka tidak mencegahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksaan terhadap mereka semua.” (HR Abu Daud). “Kebaikan yang paling cepat mendapat balasan ialah kebajikan dan menyambung tali silaturahmi. Dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman ialah kezaliman dan pemutusan tali silaturahmi.” (HR Ibnu Majah).

Agenda memberantas kezaliman inilah yang begitu kuat dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin. Khalifah Ali bin Abi Thablib, dalam sebuah suratnya kepada Malik bin Asytar, gubernur Mesir, mengingatkan: “Tanamkan dalam hatimu rasa kasih sayang terhadap rakyat. Cintailah mereka dan berlaku sopanlah terhadap mereka…Ingatlah, bahwa allah selalu berada di atas orang yang mengangkatmu sebagai penguasa. Berhati-hatilah, janganlah kamu menganggap keberadaanmu sama dengan keberadaan Allah atau menganggap kekuasaanmu sama dengan kekuasaan Allah.

Ketahuilah, Allah itu Maha Kuasa. Dia berkuasa menghancurkan setiap orang yang zalim dan akan membinasakan setiap orang yang angkuh dan sombong.

Berlaku baiklah kepada Allah dan jadikanlah dirimu panutan di hadapan sesama manusia, terutama terhadap sanak keluargamu dan terhadap setiap orang yang berkepentingan denganmu. Bila hal-hal yang baik itu kamu abaikan, maka kamu termasuk orang yang zalim.

Padahal, barang siapa yang berlaku zalim terhadap hamba-hamba Allah, maka Allah adalah musuhnya. Dan orang yang dimusuhi Allah, maka tertolaklah amalnya. Tidak ada yang dapat merusak nikmat Allah dan mempercepat azab-Nya, seperti berbuat kezaliman. Allah Maha Mendengar doa orang yang tertindas. Dan Allah senantiasa mengawasi perbuatan orang itu kemana saja ia pergi.”

Umar bin Khathab juga pernah berkirim surat kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari: “Sesungguhnya kebahagiaan seorang penguasa ditentukan oleh kebahagiaan rakyatnya, dan celakanya seorang penguasa ialah karena mencelakakan rakyatnya. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang kamu perbuat akan ditiru oleh pegai-pegawaimu. Kamu bagaikan seekor hewan yang melihat padang rumput, lalu hewan itu makan sekenyang-kenyangnya, hingga ia menjadi gemuk.

Kegemukan itu akan menjadikannya binasa, karena dia disembelih dan dagingnya dimakan.”

Kezaliman itulah yang kini merajalela dimana-mana, pada tingkat nasional maupun global. Pada tataran politik, kita melihat, bagaimana negara-negara kuat melakukan kezaliman. Para pejuang Islam dianiaya, sementara para pendukung Zionis dan penjajahan mendapatkan berbagai penghargaan.

Pada level nasional, kezaliman yang sangat mencolok adalah masalah alokasi keuangan negara, yang digunakan bukan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan rakyat di bidang kebutuhan pokok: pangan, sandang, perumahan, kesehatan, dan pendidikan. Tetapi, anggaran itu digunakan untuk berbagai hal yang tidak terlalu penting, bahkan terkadang dihambur-hamburkan untuk aktivitas yang mubazir.

Dalam penyusunan APBN, setiap tahun, rakyat dizalimi, karena hak anggarannya dipotong puluhan trilyun untuk membayar utang luar negeri, yang tidak pernah mereka nikmati. Pada skala mikro, kita menyaksikan, bagaimana kezaliman itu dilakukan oleh penguasa jalan raya, penguasa sekolah, penguasa rumah sakit, penguasa kantor pajak, penguasa kelurahan, dan sebagainya. Bahkan, beberapa waktu lalu, di sebuah kampung di Jawa Timur, saya merasakan sendiri, bagaimana ketika rombongan capres mau lewat, maka jalanan harus dikosongkan. Semuanya harus minggir.

Seolah-olah jalan itu adalah miliknya. Padahal, sang capres hanya mau berkampanye. Ia belum jadi Presiden. Katanya, itu aturan protokoler. Tapi, beginikah aturan protokoler yang harus diikuti? Saya lihat, seorang cawapres, yang saya kenail baik, begitu sulit untuk berkomunikasi dengan rakyat, karena begitu keluar dari mobil langsung diapit dan dikepung oleh sejumlah pengawal berbadan tegap. Itu baru cawapres, belum jadi wapres betulan.

Lihatlah, setiap tahun, kita menyaksikan kezaliman itu berlangsung dengan mencolok di depan mata kita. Contoh kecil, apakah bukan suatu kezaliman, jika masih banyak rakyat yang kelaparan dan kekurangan biaya pendidikan, maka negara justru membelanjakan fasilitas-fasilitas mewah untuk pejabatnya. Mobil-mobil mewah diimpor untuk kenyamanan mereka, dengan menggunakan uang rakyat. Alat-alat kantor mewah, permadani mewah, makanan mewah. Semuanya menggunakan uang negara. Jika Amien Rais jadi Presiden dan benar-benar bertekad memberantas korupsi dan kezaliman, mulailah dari yang kecil-kecil dulu dan berada di sekitar istana. Jangan gunakan pakaian mewah, jam tangan mewah, mobil mewah, dan sebagainya. Beranikah Amien Rais melawan dan memberantas berbagai kezaliman semacam ini? Juga untuk kroni dan keluarganya? Dalam hal ini, diantara para capres, Amien memang yang paling bisa diharapkan.

Satu hal yang penting, untuk tegaknya kekuasaan dengan baik, maka penguasa juga harus berteman dengan ulama yang baik. Bukan ulama yang jahat, yang ilmunya pas-pasan dan akhlaknya diragukan. Yang diperlukan adalah ulama yang memiliki keilmuan yang tinggi dan akhlak yang mumpuni. Ulama yang benar-benar berkhidmat untuk umat, yang berjuang untuk kemaslahatan umat.

Ulama yang konsisten dan memiliki kemampuan dalam menjaga aqidah umat dan memiliki komitmen yang tinggi dalam memperjuangkan kebenaran. Jika Amien Rais salah dalam memilih teman, maka akibatnya akan fatal. Inilah yang biasanya menjadi salah satu sebab penting kehancuran para pemimpin Islam. Yakni, salah dalam memilih “teman kepercayaan”. Al-Quran sudah mengingatkan, jangan pilih orang-orang yang di luar kalangan-mu, jangan pilih orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan mainan. Dan sebagainya. (QS al-Maidah:57).

Ketika menjadi penguasa, maka peran “orang sekitar”, baik istri, anak-anak, teman dekat, sangatlah penting. Pepatah Arab terkenal menyatakan: “Qul lii shadiiqaka, aqul laka man anta.” (Katakan padaku, siapa teman kepercayaanmu, maka akan aku katakan siapa kamu). Jika ingin menilai Amien Rais, tengoklah siapa yang ada di sekitarnya? Dalam sejarah kekuasaan, peran istri juga sangat penting. Banyak penguasa berjaya karena dibantu oleh istri yang tangguh, semacam Syajaratud Dur.

Tetapi, bukan tidak sedikit penguasa yang jatuh karena istri yang sejatinya lebih berkuasa dari suaminya. Di luar rumah, pemimpin macam itu tampak seperti seorang jagoan, tetapi di hadapan istrinya, ia tidak berdaya menolak kehendak dan kemauannya. Dalam keadaan seperti itu, lawan-lawan politiknya atau pihak-pihak yang berkepentingan, akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bagaimana cara menaklukkan dan menjinakkan si pemimpin, dengan menggunakan pengaruh sang istri. Tentu saja, jika menjadi Presiden, Amien Rais perlu benar-benar mewaspadai hal-hal semacam ini. Juga, para capres lainnya.

Akhirul kalam, entah siapa yang akan memenangkan pertandingan pada 5 Juli 2004 nanti, kita berdoa, semoga Allah SWT berkenan memberikan kepada bangsa Indonesia, pemimpin yang mau dan berani bersikap adil dan berani dan mau melawan kezaliman. Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan amat dekat kedudukannya di sisi Allah adalah penguasa yang adil. Dan orang yang paling dibenci Allah pada hari Kiamat dan amat jauh kedudukannya dari Allah adalah imam yang zalim.” (HR Tirmidzi).

Semoga Amien Rais, jika terpilih jadi Presiden, tidak menyia-nyiakan harapan banyak kalangan umat Islam yang kini secara lahir-batin memperjuangkannya naik ke tahta kepresidenan. Sebab, di pundak Amien Rais, kini banyak terpikul harapan dan doa umat Islam. Sebagai tokoh Islam dan didukung oleh elemen-elemen penting dari umat dan tokoh Islam, maka jika Amien Rais berbuat salah, dampaknya akan sangat besar. Apalagi, jika kesalahan itu terjadi pada hal-hal yang pokok, seperti masalah keimanan dan pemurtadan. Sebagai salah satu pemimpin dan tokoh Islam, Amien Rais tentu paham, bahwa jadi atau tidaknya dia sebagai Presiden adalah semata-mata izin dan ketentuan Allah SWT.

Karena itu, Amen Rais dan pendukungnya, sepatutnya hanya bersandar kepada Allah SWT. Iklan dan kampanye boleh terus jalan, tetapi juga perlu berdoa sungguh-sungguh kepada Allah. Doa adalah senjata orang beriman. Dan salah satu syarat diterimanya doa, adalah bertobat atas kesalahan di masa lalu, dan berjanji tidak mengulangi lagi di masa mendatang.

“Ya Allah, Yang mempunyai Kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki. Dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Ali Imran:26). (KL, 25 Juni 2004).

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Sabar Membebaskan al-Aqsa”

“Sabar Membebaskan al-Aqsa”

“Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?”

“Mengapa Tega Mencaci al-Quran dan Sahabat Nabi?”

Mukjizat Kristen di Senayan

Mukjizat Kristen di Senayan

“Seni Anjasmara”

“Seni Anjasmara”

“Antara Jesus dan Jokowi”

“Antara Jesus dan Jokowi”

Baca Juga

Berita Lainnya