Jum'at, 12 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Catatan Akhir Pekan

Janji dan Ancaman Colin Powell di Kompas

Bagikan:

Menteri luar negeri AS, Colin Powell, menulis artikel panjang di Harian Kompas (29-30 Januari 2004). Judulnya sangat menarik: ?Strategi Kemitraan AS?. Melalui judul itu, tentu AS ingin membangun opini, bahwa AS ingin membangun kemitraan, pertemanan dengan semua bangsa, dan bukan ingin menjajah, menghegemoni, mendikte, menguasai, dan menindas. Tulisan in perlu dicermati dengan seksama, meskipun sebagian besar manusia di muka bumi in mungkin sudah a priori, bahwa itu hanya retorika AS, yang biasanya berbeda dengan aplikasinya di lapangan. Tapi, bagaimana pun, ada banyak ungkapan yang perlu dicermati untuk membuktikan, apakah hal itu hanya berupa retorika atau memang fakta.

Kata Colin Powell: ?Kami ingin mengembangkan martabat kemanusiaan dan demokrasi di dunia, untuk menolong masyarakat bangkit dari kemiskinan dan untuk mengubah sistem kesehatan publik yang tidak memadai. Namun, keinginan itu hanya bisa terwujud bila perdamaian di masa ini bisa “dipelihara, dipertahankan, dan diperluas”.

Jangan salah, inilah yang menjadi tujuan utama kebijakan AS di abad ke-21. Kami memerangi terorisme bukan hanya karena kami berkewajiban, namun juga karena kami mampu melakukannya demi mewujudkan dunia yang lebih baik. Itu sebabnya kami komit terhadap demokrasi, pembangunan, kesehatan masyarakat global, dan hak asasi manusia sebagai syarat mutlak perdamaian global.?

Indah sekali kata-kata Colin Powell itu bukan? AS ingin membangun martabat kemanusiaan umat manusia seluruhnya. Benarkah demikian? Dunia kini masih dicekik berbagai ketimpangan. Sebagian besar umat manusia masih hidup dalam kemiskinan. Sejak tahun 1980-an, setiap hari, 10.000 manusia mati kelaparan.

Tetapi, AS mengucurkan dana ratusan trilyun rupiah untuk mega proyek yang disebut terorisme, termasuk mengucurkan dana trilyunan rupiah setiap tahun kepada Israel untuk memburu para pejuang Palestina yang dicap sebagai teroris.

Secara kultur, pola hidup banyak rakyat AS sudah terlalu jauh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Lihatlah, bagaimana mereka mengeruk keuntungan dari bisnis film, minuman keras, dan berbagai aneka hiburan yang menjual mimpi dan membangun mental konsumerisme. Biaya makan untuk anjing di AS, jauh mencukupi untuk makanan seluruh penduduk Afrika. Di tengah situasi penderitaan umat manusia, kita menyaksikan, bagaimana rakyat AS berebut membeli celana dalam Marylin Monroe dan Madonna, dan sibuk melakukan polling memilih artis terseksi tahunan. Film berjudul ?8 mm?, menggambarkan bagaimana bisnis pornografi di AS berlangsung dengan sangat mengerikan.

AS membangun demokrasi dunia? Kita akui, dunia bisa banyak belajar dari proses pemilihan Presiden AS yang sekarang sedang berlangsung. Cukup menarik. Tetapi, pada level global, AS sebenarnya telah gagal membangun demokrasi. Di PBB, hingga kini, AS selalu menolak proses demokratisasi, dan terus mempertahankan sistem veto di Dewan Keamanan PBB, yang hanya dinikmati 5 negara pemenang Perang Dunia II.

Dalam berbagai kasus internasional, seperti Israel, Mahkamah Kriminal Internasional, dan penyelamatan lingkungan (Protokol Kyoto), AS berjalan sendirian dengan beberapa gelintir sekutunya. Mereka berhadapan dengan hampir semua semua negara. Inikah demokrasi? Dalam kasus serbuan ke Iraq, jelas sekali posisi AS adalah minoritas.

Tampak, bahwa tulisan Powell itu masih berbicara dalam tataran ?idealis? dengan mengedepankan jargon-jargon moralis, semisal perdamaian dunia, pemberantasan terorisme, kemitraan, dan sebagainya.

Tulisan Powell cukup retoris. Para pendukung Bung Karno bisa lupa jargon popular di masanya, ?Amerika kita seterika, Inggris kita linggis!? Pun, ketika Bung Karno berpidato di depan Sidang Umum PBB ke-15, 30 September 1960, beliau katakan: ?imperialisme dan kolonialisme adalah buah dari system Negara Barat itu, dan seperasaan dengan mayoritet yang luas daripada organisasi in, saya benci imperialisme, saya jijik pada kolonialisme.?

Itu zaman Soekarno, dunia masih bercorak ?bi-polar?, ada dua kutub besar yang bertarung: AS dan USSR. Setelah USSR runtuh, zaman berubah. AS menjadi satu-satunya raja dan superpower yang telunjuknya kian ampuh. Jari jemarinya mencengkeram ke seantero jagad.

Atas nama memelihara perdamaian dunia. Para pemimpin dunia, meskipun terkadang enggan menuruti semua perintah ?kaisar?, tetap menjadikan ?restu AS? sebagai indikator penting satu kekuatan politik. Kira-kira, banyak yang berlogika, ?Buat apa lawan AS, cari penyakit?. Lihatlah ?musuh-musuh? AS, satu-persatu ditumbangkan atau ditaklukkan: Taliban, Saddam Hussein, Omar al-Bashir, Khadafy. Nasib Norriega dari Panama begitu mengenaskan. Setelah bertahun-tahun mengabdi kepada AS, akhirnya diculik dan dijebloskan ke tahanan AS. Saddam Hussein, yang berkoar-koar hebat, sebelum perang, kini meringkuk dalam tahanan AS. Khadafy yang bertahun-tahun menolak menyerahkan dua warganya, tersangka kasus pengeboman Pan Am, akhirnya juga menuruti kemauan AS.

Jadi, kata-kata Colin Powell yang manis, akan banyak dilihat sebagai kata-kata sang penguasa dunia, yang ditakuti begitu banyak penguasa dunia. Dunia sebenarnya masih bisa berharap, AS tidak berjalan sendiri dalam menangani dunia, tidak mengedepankan unilateralisme, tetapi multilateralisme. Tidak hanya memikirkan kemakmuran dan keamanan dirinya dan sekutu-sekutu dekatnya saja, melainkan juga memikirkan nasib umat manusia, semuanya.

Tetapi, Colin Powell masih tetap menggunakan logika kekuatan dalam mengatasi masalah dunia : ?Prioritas kami yang tak kalah penting adalah determinasi untuk mengembangkan hubungan kooperatif di antara kekuatan-kekuatan besar di dunia (major powers).?

Tahun 1961, sejarawan Arnold Toynbee menulis tentang posisi dan sikap AS yang tidak adil, dan hanya mementingkan kekuatan-kekuatan besar, kaya, dan minoritas umat manusia, sebagaimana yang dulu dilakukan imperium Romawi. Tulis Toynbee: ?America is today the leader of a world-wide anti-revolutionary movement in the defense of vested interests. She now stands for what Rome stood for. Rome consistently supported the rich against the poor in all foreign communities that fell under her sway; and, since the poor, so far, have always and everywhere been far more numerous than the rich, Rome?s policy made for inequality, for injustice, and for the least happiness of the greatest number.?

Sebagai super power dan jagoan, AS telah banyak menunjukkan kekuatan ototnya. (Rakyat California pun lebih percaya ?sang terminator?, Arnold Scwarzenegger, untuk memimpin mereka). Kini, yang perlu dibuktikan AS adalah menundukkan hati dan akal umat manusia.

Bahwa AS bukan hanya jagoan dan mampu berbuat apa saja untuk memenuhi kepentingannya, tetapi AS juga menjadi negara dan bangsa yang dicintai dan dihormati umat manusia. Hingga kini, terbukti, hal itu masih menjadi mimpi.

Ideal sekali kata-kata penutup Colin Powell, bahwa, ?Reputasi AS dalam hal kejujuran dan kepedulian akan terus berlangsung? Namun, seraya kami memelihara, mempertahankan, dan memperluas perdamaian yang dimenangi manusia-manusia bebas di abad ke-20; kebenaran akan terbukti di abad ke-21. Kami senantiasa mengejar kepentingan rakyat AS yang mengedepankan kebenaran maupun dalam prinsip serta tujuan kami yang benar? Kepentingan kami yang mengedepankan kebenaran telah menjadikan kami mitra bagi siapa pun yang menghargai kebebasan, martabat kemanusiaan, dan perdamaian.?

Kebenaran, kebebasan, martabat manusia, dan perdamaian! Luar biasa, kata-kata Powell itu. Bisakah kata-kata Powell itu dipertanggungjawabkan dan dibuktikan? Dalam wawancara dengan Harian Kompas (17 November 2002), Prof. Johan Galtung menyatakan: ?Dibandingkan dengan serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar.?

Galtung, perumus teori dependensia dan strukturalisme, mengaku telah berkirim surat kepada Presiden Bush yang meminta agar AS mengubah politik luar negerinya, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. ?Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu, tetapi yang dilakukan justru sebaliknya,? kata Galtung.

Tentang peristiwa 11 September yang banyak dijadikan pijakan kebijakan luar negeri AS dewasa ini, Galtung memberi saran: ?Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS! Ubah kebijakan luar negeri AS!?.

Suara semacam itu begitu banyak dilantunkan oleh para pemikir dan pemimpin dunia. Wahai AS, ubahlah kebijakan luar negerimu! Di tanganmu, kini terletak tanggung jawab besar menyelamatkan dunia! Namun, AS seperti belum memandang penting berbagai seruan dan imbauan semacam itu. Logika kekuatan, miht is right, masih begitu banyak digunakan dalam menangani berbagai masalah.

Kadang terlihat tidak sabar. Serbuan ke Irak telah meluluhlantakkan harapan umat manusia akan pentingnya peran ?hukum internasional?. Jutaan manusia di AS dan negara-negara Barat berdemonstrasi menentang tindakan AS itu. Sampai-sampai George Sorosh menyerukan untuk mengakiri pemerintahan ?ekstrimis Bush?.

Penulis terkenal Chile Luis Sepulveda mengecam invasi pimpinan AS ke Iraq, dengan menyebutkan tindakan itu sebagai ulah sekelompok “orang-orang fanatik yang berbahaya” yang berkuasa di Washington.

“AS adalah bangsa teroris pelopor,” katanya dalam satu wawancara yang diterbitkan mingguan berita Portugal Visao. Suara-suara seperti ini sudah tak terhitung lagi banyaknya. Kritik dan sentimen anti AS bermunculan dan tumbuh subur di mana-mana. Bahkan, dalam sebuah polling di Eropa, awal November 2003, AS menduduki posisi keenam sebagai negara yang mengancam perdamaian dunia, setelah Israel, Korea Utara, Iran, Afghanistan dan Iraq.

Ingat, bahwa sekutu terdekat AS, Israel, justru dipandang sebagai ancaman perdamaian dunia yang utama di dataran Eropa.

Dunia pun selama ini banyak dibuat dibuat geleng-geleng kepala dengan berbagai kebijakan AS, terutama dalam soal pembelaannya yang membabi buta terhadap Israel. AS sering berjalan sendiri, berhadapan dengan suara mayoritas negara. Dengan senjata vetonya, AS terus memainkan peranan penting dalam menjaga dan menganakemaskan Israel. Dunia telah kelu lidahnya meminta agar PBB direstrukturisasi dan hak-hak istimewa (veto) AS dan empat negara lainnya di DK-PBB dihilangkan. Bisakah logika internasional terus-menerus dipaksa menerima, bahwa semua keistimewaan yang dinikmati AS, Israel, dan beberapa sekutunya, perlu dipertahankan sampai kiamat, demi memelihara perdamaian dan kemaslahatan umat manusia?

Tahun 1997, Senat AS meluluskan undang-undang yang meratifikasi implementasi ?Convention of the Prohibition of the Development, Production, Stockpiling and Use of Chemical Weapons and on their Destruction?. Namun, itu dengan syarat: Presiden AS berhak menolak permintaan inspeksi fasilitas persenjataan kimia di dalam negeri AS, jika Presiden menganggap inspeksi tersebut akan mengancam kepentingan pertahanan nasional (the national security interests) AS. Emak bukan jadi super power? Negara lain boleh diobok-obok karena diduga memiliki senjata nuklir, dan senjata pemusnah massal lainnya, tetapi negaranya sendiri tidak boleh!

Menarik menelaah buku berjudul ?Rouge State: A Guide to the World?s Only Superpower? (2002), yang ditulis William Blum, seorang bekas pejabat Departemen Luar Negeri Amerika. Blum menjelaskan, bahwa intervensi Amerika ke berbagai penjuru dunia, diantaranya bertujuan menguatkan Amerika sebagai satu-satunya superpower. Bagi Amerika, tidak boleh ada yang menyaingi dia.

Blum menyimpulkan, sudah dibuktikan, bahwa selama lebih dari 50 tahun, secara klinis, politik luar Amerika boleh dikatakan ?gila? (However, it can be argued, that for more than half century American foreign policy has, in actuality, been clinically mad.). Blum menunjukkan dokumen ?US Strategic Command? tentang ?Essentials of Post-Cold War Deterrence?, yang menyebutkan bahwa tindakan Amerika yang terkadang kelihatan ?out of control?, irasional, dan pendendam, boleh jadi menguntungkan untuk menciptakan rasa takut dan keraguan pada musuh-musuhnya. (That the US may become irrational and vindictive if its vital interests are attacked should be a part of national persona we project to all adversaries).

Powell boleh bicara seideal mungkin. Namun, Samuel P. Huntington (1996) — penasehat kawakan politik luar negeri AS ? menulis panduan: ?It is human to hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement, opponents in politics.?

Kata Huntington, adalah manusiawi untuk saling membenci satu sama lain. Untuk mendefinisikan dirinya, dan untuk menimbulkan motivasi, manusia membutuhkan musuh. Jadi, AS butuh musuh. Dan sungguh, ini merupakan hal yang luar biasa dalam sejarah politik internasional, bahwa sebuah negara superhebat yang belum pernah ada dalam sejarah manusia sebelumnya, menentukan musuh utamanya adalah seorang kakek bernama Osama bin Laden. (KL, 6 Februari 2004).

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

57 Tahun Pidato Natsir Tentang Sekularisme (2)

57 Tahun Pidato Natsir Tentang Sekularisme (2)

”Pendidikan dan Manusia Beradab”

”Pendidikan dan Manusia Beradab”

Pesan Idul Fitri Dari Vatikan

Pesan Idul Fitri Dari Vatikan

RUU KUHP Beraroma Yahudi-Kristen

RUU KUHP Beraroma Yahudi-Kristen

Presiden SBY dan Ahmadiyah

Presiden SBY dan Ahmadiyah

Baca Juga

Berita Lainnya