Jum'at, 26 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Analisa Dunia Islam

Posisi Perlawanan Palestina Makin Kuat

PM Palestina, Ismail Haniyah pasca perjanjian/foto: EPA
Bagikan:

Oleh: Musthafa Luthfi

MAYORITAS publik Arab bahkan tentunya masyarakat Muslim sedunia agak kecewa dengan tidak dicantumkannya pencabutan embargo atas Gaza dalam kesepakatan gencatan senjata yang menandai peredaan situasi di wilayah tersebut setelah delapan hari serangan brutal Israel. Publik Arab,banyak berharap akan terjadi gencatan senjata komprehensif mencakup juga penghentian embargo yang telah berlangsung lebih dari enam tahun itu.

Kesepakatan tersebut yang dibacakan oleh Menlu Mesir, Mohammad Kamel Amr Rabu malam (21/11/2012) waktu Makkah itu cukup menyebutkan “pembukaan pintu-pintu perbatasan dan fasilitasi perpindahan/pergerakan orang dan barang serta dihentikannya pembatasan keluar masuk warga Gaza dan pentargetan serangan atas warga di wilayah perbatasan”.

Butir ini paling tidak sebagai salah satu kemenangan berarti bagi gerakan perlawanan, karena tidak ada lagi pembatasan warga dan barang yang keluar masuk ke Gaza sehingga sedikitnya dapat merubah kondisi kehidupan yang sangat buruk.

Dengan luas hanya sekitar 365 km2 dan penduduk sekitar 1,7 juta jiwa berdasarkan sensus 2011, wilayah ini ibaratnya sebagai ‘penjara terbesar di dunia’ akibat embargo tersebut karena kondisi infrastruktur yang sangat menyedihkan dan ketergantungan terhadap kebutuhan listrik dari negeri penjajah Israel.

Meskipun demikian, penduduk Gaza yang lebih separo berasal dari pengungsi Palestina 1948 (Israel) itu, tetap tegar menghadapi aksi-aksi militer Israel walaupun harus mempersembahkan korban jiwa yang sangat banyak.

Meskipun demikian, yang pantas diperhatikan dari kesepakatan tersebut adalah posisi perlawanan secara militer dan politis semakin kuat serta diperhitungkan oleh negara-negara besar yang selama ini hanya membela kepentingan negeri zionis itu. Gerakan perlawanan Palestina tidak lagi tunduk terhadap persyaratan gencatan Israel yang provokatif dan jangka panjang tanpa syarat, juga persyaratan penyerahan senjata serta penyelundupan roket ke Gaza.

Dengan perimbangan kekuatan yang sangat berat sebelah antara penjajah dengan pejuang perlawanan, sangat tidak logis untuk membandingkan korban di kedua belah pihak. Namun cukuplah telah tercapai target perlawanan yakni tawaazun al-ru`bi (perimbangan ketakutan) yang cukup membuat para pemimpin negeri zionis itu memohon negara-negara penengah untuk segera mengupayakan peredaan.

Serangan brutal Israel ke Gaza kali ini telah menimbulkan korban lebih 163 orang Palestina gugur syahid dan sekitar 2 ribu lainnya luka-luka (bandingkan dengan korban di pihak Israel yang hanya 5 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka). Akan tetapi target Tel Aviv tidak tercapai yakni menghancurkan stok persenjataan perlawanan, pembunuhan atas tokoh-tokohnya, bahkan sebaliknya yang terjadi, yakni legalitas para tokoh perlawanan dan strategi perjuangan mereka semakin mendapat tempat di tingkat regional dan internasional.

Negara-negara terkemuka Arab yang dimotori Mesir selama ini selalu tunduk terhadap tuntutan dan persyaratan Israel terkait  gencatan senjata dengan para pejuang Palestina. Namun setelah “musim semi Arab” (Arab Spring), sikap Arab tersebut telah ditanggalkan sehingga dulu menekan para pejuang, sekarang justeru semaksimal mungkin membela para pejuang Palestina.

Karena itu, tidak berlebihan bila perang selama delapan hari itu pantas disebut sebagai glorious war (perang gilang gemilang), bagi para pejuang Palestina terlepas dari jumlah korban akibat perimbangan kekuatan yang sangat berat sebelah. Perang ini telah memaksa PM Israel, Benjamin Netanyahu bersedia berunding, bahkan dilaporkan dia yang meminta segera berunding dengan tokoh pejuang lewat negara-negara penengah untuk menghentikan perang.

Sebagaimana diketahui, kemunculan kembali Netanyahu sebagai orang nomor satu di Israel dengan meraih kepercayaan para pemilih dikarenakan dua janji utamanya kepada rakyat. Yang pertama adalah menolak berunding dengan gerakan perlawanan Hamas dan Al-Jihad Al-Islami dan janji kedua adalah akan menghancurkan Gaza dan melenyapkannya dari peta.

Namun yang terjadi sebaliknya karena untuk pertama kali, pemerintah Israel meminta negara-negara penengah terutama Mesir mengupayakan gencatan senjata dan memberikan peluang upaya-upaya diplomatis bagi penyelesaian damai. Padahal sebelumnya, Israel lebih mengedepankan penyelesaian militer agar dalam perundingan gencatan senjata dapat mendekte keinginannya.

Perang ini juga telah melapangkan peluang bagi pemerintahan Hamas di Gaza untuk melanjutkan pemerintahannya bahkan lebih kuat dibandingkan sebelum perang berlangsung. Pemerintahan ini diprediksikan akan semakin diperhitungkan dan sebaliknya otoritas Palestina di Tepi Barat pimpinan Presiden Mahmud Abbas, yang selama ini sebagai sekutu Israel dalam perundingan tanpa arah dan target, diperkirakan akan semakin terkucilkan di tengah perubahan dunia Arab saat ini.

Perang kali ini juga membuktikan, dalih Israel mengembargo Gaza untuk menghentikan penyelundupan senjata ke wilayah itu ternyata gagal di lapangan dan tidak mungkin lagi memaksa Mesir yang sudah berubah untuk membangun tembok besi bawah tanah guna mengentikan penyelundupan sebagaimana rezim Mubarak.

Mungkin dalam beberapa minggu ke depan roket-roket baru yang lebih canggih akan berdatangan lagi, bahkan sebagian analis Arab memprediksi kemungkinan masuknya roket anti pesawat tempur.

Tragis

Perlawanan kali ini juga membuktikan bahwa PM Netanyahu hanya pandai meneriakkan ancaman dan membual kepada rakyatnya setelah serangkaian ancaman ketua Partai Likud ini berakhir tragis di Gaza. Mungkin ke depan, rakyat Israel tidak akan percaya atas ancamannya untuk menghancurkan pangkalan Hizbullah di selatan Libanon, apalagi menghancurkan instalasi-instalasi nuklir Iran.

Sedianya, serangan atas Gaza akan dimanfaatkan untuk kepentingan Pemilu dini dua bulan mendatang agar berhasil meraih suara mayoritas pemilih dengan mengedepankan isu keamanan bagi penduduk negeri zionis itu. Hampir dipastikan target tersebut gagal total, sebab roket-roket para pejuang Palestina yang jangkauannya semakin meluas ke dalam Israel berhasil menciptakan ketakutan di kalangan penduduk.

Di kalangan publik dan media Arab sendiri sudah tidak terdengar lagi pelecehan atau cibiran seperti di zaman sebelum Arab Spring yang menilai roket-roket para pejung sebagai roket abatsi (sia-sia) yang hanya mendorong Israel untuk mehancurluntuhkan Palestina. Yang sering terdengar saat ini adalah sanjungan dan penghargaan atas keberanian dan kemampuan bertahan melawan aksi militer brutal negeri zionis itu dalam kondisi kehidupan di Gaza yang sangat menyedihkan.

Bisa jadi nasib Netanyahu akan sama dengan nasib pendahulunya mantan PM Ehud Olmert yang gagal meraih kepercayaan rakyat pasca perang musim panas di Libanon pada 2006 dan pasca perang Gaza 2008-2009. Apalagi ia menerima persetujuan gencatan senjata kali ini tanpa berhasil memaksakan syarat-syaratnya secara menyeluruh kepada para pejuang Palestina, seperti tradisi perundingan-perundingan sebelumnya.

Ancaman menginvasi Gaza lewat darat meskipun tidak menyeluruh terbukti juga hanya sebatas gertakan, sebab ia khawatir akan kemungkinan kejutan para pejuang dengan menggunakan roket anti tank. Bagi Netanyahu, cukuplah kejutan roket pejuang Palestina yang sudah meluas dan mencapai sasaran di Tel Aviv sebagai bukti kebenaran ancaman kejuatan para pejuang tersebut bila Israel berani menginvasi lewat darat.

Para petinggi Zionis kelihatannya benar-benar terkejut, roket Fajar-5 yang biaya produksinya hanya sekitar 5 ribu dolar berhasil menyelinap dari sistem pertahanan tercanggih negeri Zionis itu yang dinamakan “Kubah Besi” yang menghabiskan biaya milyaran dolar. Biaya produksi sebuah roket kubah besi itu sendiri lebih dari 50 ribu dolar dan telah terbukti kelemahannya hanya melawan roket-roket  “murahan” untuk ukuran Israel.

Boleh jadi kemampuan Fajar 5 menyelinap sistem pertahanan tercanggih kubah besi itu sebagai pertimbangan serius petinggi Israel mengurungkan niatnya menginvasi Gaza lewat darat. Sebab mereka khawatir akan kejutan baru lewat roket  “cornet” anti tank para pejuang yang bisa saja ibaratnya invasi tersebut sebagai menggali kuburan bagi pasukan Zionis itu di Gaza.

Intinya perlawanan kali ini berhasil memaksa Netanyahu untuk melakukan penyelesaian diplomatis, perlawanan pula yang sukses membungkamkan arogansi dan percaya diri yang sangat berlebihan tokoh Zionis yang satu ini. Ledakan di sebuah bus di ibu kota Tel Aviv menjelang gencatan senjata diberlakukan juga membuktikan bahwa perlawanan akan kembali menempuh cara serupa di berbagai kota Israel setelah 15 tahun “istirahat” akibat tembok pengaman.

Sejumlah analis Arab menyebutkan bahwa masa bulan madu Israel bersama ketenangan, stabilitas dan kemakmuran ekonomi akan segera berakhir setelah era perubahan di Arab. Sikap tunduk Palestina dan dunia Arab atas kehendak negeri zionis itu atas tekanan AS sudah hampir sampai ke batas terakhir untuk digantikan dengan budaya perlawanan yang semakin kuat bukan hanya di Gaza, juga di Tepi Barat.

Tentunya negeri zionis itu, tidak akan tinggal diam dengan keberhasilan para pejuang Palestina kali ini karena segera setelah gencatan tersebut akan melakukan “kasak kusuk” untuk kembali mencoba strategi lain melemahkan perjuangan bersenjata Palestina. Disinilah ujian terpenting bagi dunia Arab, terutama Mesir untuk tetap kokoh membela para pejuang dan membuktikan bahwa rezim sekarang memang beda dengan rezim Mubarak sebelumnya.

Isu utama

Catatan penting lainnya dari perang Gaza kali ini adalah kembalinya isu Palestina sebagai isu utama di tingkat regional dan internasional setelah sempat terkesampingkan selama proses “musim semi Arab” yang masih belum rampung dengan berlarutnya situasi berdarah di Suriah. Perang delapan hari itu, telah mengingatkan kembali masyarakat internasional bahwa pendudukan penjajah Israel yang tak kunjung berakhir adalah biang utama destabilitas kawasan.

Sebelumnya, ada dugaan perang Gaza kali ini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian situasi di Suriah dan memperpanjang nafas rezim Assad. Syukurlah dugaan tersebut tidak terbukti karena berkobarnya perang lebih disebabkan serangan Israel terhadap komandan sayap militer Hamas sehingga menimbulkan pembalasan para pejuang.

Pengenyampingan isu Palestina sebagai isu sentral Arab dan Muslim sudah berkali-kali diupayakan baik sebelum maupun setelah Arab Spring sehingga sempat tenggelam sesaat. Para pemimpin zionis bersama sekutunya di Barat berusaha mengalihkan isu Iran sebagai musuh bersama menggantikan Israel yang telah dicap bangsa Arab sebagai musuh abadi.

Terlepas dari sikap Iran terhadap musim semi Arab di Suriah, upaya menjadikan negeri Syiah itu sebagai musuh pengganti Israel akan kontra produktif bagi perjuangan Palestina selanjutnya. Apalagi, salah seoarang tokoh gerakan Al-Jihad Al-Islami Palestina memaparkan bahwa roket-roket yang ditembakkan ke Israel adalah buatan Iran yang perlu diapresiasi terlepas dari sikap Teheran atas perkembangan di Suriah saat ini.

Namun upaya pengenyampingan tersebut pasca perang delapan hari itu, nampaknya akan sia-sia bahkan isu Palestina saat ini menurut sejumlah analis semakin melesat kuat di hadapan masyarakat internasional. Karenanya, tak aneh bila Menlu AS, Hilary Clinton yang ikut terlibat aktif mengupayakan gencatan senjata itu, akhirnya mengakui bahwa masalah Palestina tidak bisa lagi dibiarkan berlarut-larut bila bangsa-bangsa di kawasan termasuk Israel ingin hidup tenang.

Untuk pertama kali sejak sekitar dua tahun belakangan ini, Clinton melakukan kunjungan ke kawasan khusus untuk menangani masalah Palestina setelah kunjungan-kunjungan sebelumnya dilakukan untuk tujuan lain. Demikian pula dengan kesibukan  Presiden Barack Obama yang mengontak sejumlah pemimpin kawasan untuk mengupayakan gencatan tersebut dan kunjungan mendadak Sekjen PBB, Ban Ki-moon ke Kairo untuk membantu penyelesaian Gaza, juga sebagai bukti kembalinya perhatian besar dunia atas isu Palestina.*/Sana`a, 8 Muharram 1434 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan”

“Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan”

GAZA Bangunkan Tidur Panjang Arab

GAZA Bangunkan Tidur Panjang Arab

Rekonsiliasi FATAH-HAMAS yang Bukan Basa-basi

Rekonsiliasi FATAH-HAMAS yang Bukan Basa-basi

Normalisasi Mesir-Iran Buah Perubahan di Arab

Normalisasi Mesir-Iran Buah Perubahan di Arab

Perang Sektarian di Ambang Pintu?

Perang Sektarian di Ambang Pintu?

Baca Juga

Berita Lainnya