Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Analisa Dunia Islam

Saling Gertak Terus Berlanjut

Gerakan "Israel Love Iran" / Foto: israelovesiran.com
Bagikan:

Oleh; Musthafa Luthfi

DI TENGAH masih berkecamuknya “perang saudara” di Suriah, saling gertak antara Israel dan Iran terus berlanjut baik melalui perang urat syaraf maupun dengan mendemonstrasikan kemampuan militer masing-masing. Bahkan ada kalanya dengan menyerang negara lain (terutama yang sering dilakukan Israel) sebagai pesan khusus kepada pihak lawan.

Contoh terkini adalah serangan negeri Zionis itu atas pabrik senjata konvensional di Sudan yang menewaskan sedikitnya dua orang akibat serpihan senjata menyusul ledakan hebat di pabrik tersebut yang terletak di bagian selatan ibu kota Khartoum. Israel dilaporkan menggunakan delapan jet tempur, dua helikopter dan sebuah pesawat berisi bahan bakar untuk menempuh target sepanjang 1900 km.

Pesawat-pesawat itu ditengarai sengaja terbang rendah di Laut Merah, guna menghindari senjata pertahanan udara Mesir, serta memanfaatkan teknologi siluman agar tidak terdeteksi radar ketika memasuki wilayah Sudan. Empat jet tempur negeri ini melakukan eksekusi akhir yang berhasil menghancurkan pabrik yang terletak di lokasi perumahan Yarmoux, Khartoum.

Pemerintah Sudan tanpa ragu-ragu langsung menuduh Tel Aviv sebagai pelaku serangan tersebut pada Rabu (24/10/2012) dengan menggunakan empat pesawat jet. “Kami yakin Israel adalah pelakunya dan kami memiliki hak untuk melakukan reaksi sesuai waktu dan tempat yang kami pilih, “antara lain komentar Menteri Penerangan Sudan, Ahmed Belal Osman mengenai serangan itu.

Sebenarnya tidak adalah alasan logis atau hukum yang membenarkan serangan teror Israel tersebut dikarenakan Sudan sebagai negara berdaulat berhak memiliki pabrik senjata bekerjasama dengan negara manapun untuk mengembangkannya. Di lain pihak negeri Zionis tersebut tidak berhak menyerangnya dengan cara yang telah disaksikan oleh masyarakat internasional karena dianggap melanggar hukum internasional dan sekaligus menunjukkan bahwa Israel memang negeri pelanggar hukum.

Sulit mengharapkan Dewan Keamanan PBB melangsungkan sidang khusus untuk mengecam serangan tersebut bahkan para Menlu Liga Arab pun tidak melangsungkan pertemuan darurat untuk membahas serangan atas salah satu anggotanya. Ancaman Sudan untuk membalas serangan tersebut dalam jangka pendek mendatang sulit terlaksana karena negeri miskin ini tidak memiliki pesawat tempur canggih apalagi rudal jarak jauh.

Namun sejumlah analis Arab melihat bahwa Sudan bisa saja membalas melalui Mesir pada waktu yang dianggap tepat.  “Mungkin dalam waktu dekat sulit membalas serangan tersebut melalui Mesir karena Mesir masih dalam masa pemulihan musim semi Arab,” papar sejumlah pengamat Arab.

Namun balasan tersebut dipastikan bukan serangan militer serupa, akan tetapi besar kemungkinan balasan politis. Bisa dengan jalan pembekuan hubungan dengan Israel, atau pengusiran Dubes Israel di Kairo mengingat hubungan geografi, demografi dan sejarah antara Mesir dan Sudan disamping juga serangan tersebut ikut mempermalukan Mesir.

Pemerintah Israel pada mulanya menolak mengomentari serangan tersebut meskipun para analis yakin disebabkan negeri Zionis itu sering melontarkan tuduhan terhadap Sudan sebagai pemasok senjata bagi para pejuang Palestina di Gaza. Setelah sempat bungkem, akhirnya sejumlah media, analis dan pejabat Israel membenarkan serangan tersebut dengan dalih untuk menghentikan penyelundupan senjata dari Sudan ke Gaza.

Apapun dalih dari Tel Aviv yang jelas serangan tersebut menyiratkan pesan ganda yakni pertama pesan umum ditujukan kepada dunia Arab. Meskipun dunia Arab dewasa ini berada di era “Arab Spring“, namun harus tetap mengakui keunggulan Israel secara militer sehingga dunia Arab harus tetap tunduk kepada kehendak politis negeri Yahudi itu, demikian kira-kira pesan umum tersebut.

Pesan khusus

Sedangkan pesan khusus dari serangan teror Israel tersebut ditujukan kepada Iran terkait ancaman serangan negeri Zionis itu atas instalasi nuklir Iran. Serangan ini selain menguji kesiapan, serangan itu juga dimanfaatkan Israel untuk menteror semua negara kawasan (baca: dunia Arab), agar mendukung niat Tel Aviv menghancurkan nuklir Iran.

Sumber dari Kementerian Pertahanan Israel seperti dikutip sejumlah media, Selasa (30/10/2012) juga membenarkan bahwa serangan udara Israel terhadap pabrik senjata Sudan adalah “persiapan” yang dilakukan Israel untuk menyerang Iran. “Ini merupakan aksi unjuk gigi dari kekuatan kami, dan apa kiranya yang bisa diharapkan Iran pada musim semi mendatang?” ujar pejabat Israel yang tak mau disebut identitasnya, seperti dikutip Sunday Times.

Menghadapi ancaman tersebut, Iran dilaporkan segera mengirim delegasi militer tingkat tinggi secara rahasia ke Khartoum langsung setelah serangan itu dan bertemu dengan Presiden Umar Basyir. Delegasi itu menyatakan bahwa Iran akan segera membalas serangan itu dengan menyerang target Israel.

Kedatangan delegasi militer tingkat tinggi Iran ini termasuk didalamnya Kepala Staf Angkatan Udara Iran membuktikan besarnya kerugian yang diderita akibat serangan tersebut mengingat pabrik senjata ini adalah bagian dari sistem pertahanan negeri Mullah itu menghadapi hegemoni militer AS dan Israel di kawasan.

Namun tugas yang lebih penting adalah mempelajari strategi negeri Zionis itu dalam penyerangan target yang jaraknya lebih jauh mengingat serangan atas target di Khartoum itu hanya menggunakan empat pesawat jet tempur saja. Tapi Israel sendiri menurut sejumlah laporan analisis militer mempersiapkan serangan itu sejak dua tahun terakhir.

Bagi Teheran, kunjungan ke pabrik senjata yang hancur diserang Israel itu adalah kesempatan kedua bagi angkatan udara dan petinggi perang elektronik Iran dalam tiga minggu belakangan ini untuk menguji kemampuan Tel Aviv dalam perang elektronik dan perang jarak jauh. Kesempatan pertama diperoleh Iran saat berhasil menerbangkan pesawat tak berawak (drone) nya jauh menyusip ke dalam wilayah Israel yang dioperasikan Hizbullah dari Libanon Selatan.

Keberhasilan Hizbullah dalam mengirim pesawat terbang di atas wilayah Palestina yang diduduki itu, tentunya sangat mencoreng reputasi kekuatan rezim Israel dan merupakan pukulan telak bagi rezim Zionis karena Israel selama ini menyebarkan propaganda besar tentang sistem pertahanan udara Iron Dome (kubah besi) namun Hizbullah membuat malu Tel Aviv.

Pihak berwenang Iran menyatakan Senin (29/10/2012), bahwa pihaknya memiliki foto-foto target penting di Israel yang dipotret drone Hizbullah itu sehingga akan menjadi sasaran mudah bagi Iran untuk membalas serangan Israel bila Tel Aviv akhirnya  “nekad” menyerang instalasi nuklirnya.

Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Ahmed Vahidi mengatakan, pesawat tak berawak yang dapat menghindari radar dan mampu menembus jauh ke dalam wilayah udara Israel bukanlah pesawat udara tak berawak Iran yang paling maju. “Republik Islam Iran saat ini memiliki dan memproduksi pesawat udara tak berawak dengan teknologi yang jauh lebih maju dari drone yang diterbangkan oleh Hizbullah di wilayah udara rezim Zionis,” tegas Vahidi Ahad (28/10/2012), seperti diberitakan Press TV.

Berlanjut

Melihat indikasi tersebut di atas, kedua negara sebenarnya masih melanjutkan taktik saling gertak yang belum dapat dipastikan kapan saling gertak itu akan menjadi kenyataan di lapangan.  “Serangan Israel atas pabrik senjata di Sudan menunjukkan bahwa saling gertak antara kedua negara masih berlanjut,” papar sejumlah pengamat.

Sebagian analis menilai saling gertak tersebut sebatas gertak  “sambal” tidak akan menjurus kepada perang terbuka. Sementara sebagian lainnya menilai ancaman timbal balik yang semakin meningkat akhir-akhir ini mengkhawatirkan dan sebagai sinyal bertambah dekatnya serangan Israel atas target-target instalasi nuklir Iran.

Meskipun belum dapat dipastikan, nampaknya kemungkinan konfrontasi kedua negara lebih mendekati kenyataan terlebih lagi bila yang memenangkan Pilpres di AS dari kubu Republik. Seruan PM Israel, Benjamin Netanyahu untuk melaksanakan pemilu dini pada paroan kedua bulan Januari 2013 mengindikasikan kemungkinan ini sebab melalui pemilu ini, Netanyahu akan menfokuskan kampanyenya pada isu ancaman nuklir Iran.

Kampanye dan pemilu tersebut, ingin dijadikan sarana bagi Netanyahu untuk mendapatkan dukungan kuat rakyat negeri Zionis itu. Dan keluar ingin mendapatkan dukungan negara-negara Arab terutama di kawasan Teluk tentang bahayanya ancaman nuklir Iran yang akan dijadikan sarana untuk memperluas pengaruhnya di dunia Arab.

Kepada majalah Paris Match, Selasa (30/10/2012), Netanyahu juga menyampaikan pandangannya tentang rencana serangannya ke Iran dengan mengatakan bahwa ia yakin rasa lega akan mendominasi kawasan Timur Tengah hanya lima menit setelah serangan berlangsung. Lewat pernyatan ini, ia ingin menampik keraguan sejumlah pihak yang menentang serangan tersebut.

Netanyahu seolah-olah ingin menjadi juru bicara dunia Arab tentang bahaya nuklir Iran yang didasari kebohongan bahwa negerinya mendapat dukungan dunia Arab untuk menyerang Iran. Terlepas apakah sebagian negara Arab termakan tipuan Tel Aviv, yang jelas hingga saat ini, posisi Arab adalah mengedepankan penyelesaian politis bagi isu nuklir tersebut.

Meskipun negara-negara Arab terutama Teluk menyimpan kecurigaan terhadap Iran bahkan sampai ada sebagian kalangan menilai negeri jiran Persia itu lebih berbahaya dari Israel, namun Arab nampaknya akan berusaha menolak serangan tersebut karena akan berdampak langsung terhadap Teluk.

Pangkalan militer AS yang menyebar di beberapa negara Teluk dipastikan akan menjadi target serangan rudal Iran sebagai balasan atas serangan Israel sehingga kawasan Teluk akan menjadi arena perang. Ladang-ladang minyak pun tidak akan luput menjadi sasaran sehingga akan menimbulkan kemandegan ekonomi di kawasan petrodollar itu.*/Sana`a, 18 Dzulhijjah 1433 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Di Balik Gemparnya Pemberitaan Paket Bom

Di Balik Gemparnya Pemberitaan Paket Bom

Ramadhan dan Jeritan Al-Aqsa

Ramadhan dan Jeritan Al-Aqsa

Hubungan Arab-Iran Bukan Sekedar Isu Nuklir [2]

Hubungan Arab-Iran Bukan Sekedar Isu Nuklir [2]

Mesir Pasca Referendum “Allah Ma’ak”

Mesir Pasca Referendum “Allah Ma’ak”

Arab: Antara Dialog dengan Iran dan Perang Air Israel

Arab: Antara Dialog dengan Iran dan Perang Air Israel

Baca Juga

Berita Lainnya