Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Analisa Dunia Islam

Hari Nakbah dan Momok Baru Israel

Bagikan:

Oleh: Musthafa Luthfi
 
Subhana Muqallibul Ahwaal (Maha Suci Allah Yang dengan mudah memutarbalikkan situasi), itulah barangkali ucapan yang tepat menggambarkan peringatan hari Nakbah Palestina pada tahun 2011 ini yang berbeda jauh dari pemandangan tahun sebelumnya (2010). Dalam rentang waktu yang kurang dari setahun, hari Nakbah yang tadinya semakin “redup“ dari agenda peringatan perjalanan sejarah bangsa Arab, tiba-tiba pada 2011 ini kembali diperingati secara meluas yang sangat mengejutkan Zionis.
 
Setahun yang lalu, penulis lewat kolom di media yang sama ini, menyampaikan gambaran pesimis tentang kondisi dunia Arab yang semakin mengenyampingkan peristiwa penting tersebut. Untuk membandingkan peringatan tahun ini dengan tahun sebelumnya saya ingin mengingatkan kembali catatan saya tentang suasana peringatan 2010 dalam beberapa alenia (tulisan miring) di bawah ini sebelum kita mencermati peringatan tahun 2011 dan pengaruhnya terhadap masa depan Palestina sebagai isu sentral Umat Islam.
 
Hari Nakbah (bencana), itulah sebutan yang diberikan oleh warga Palestina sehubungan dengan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948 oleh negara-negara besar imperialisme. Sejak saat itu, bencana bangsa Palestina tak kunjung usai hingga lebih dari 63 tahun masa nakbah itu berlangsung hingga saat ini, sehingga hari nakbah lebih pantas disebut nakabaat (bencana berkesinambungan) yang dirasa sabah hari oleh bangsa Palestina terjajah.

Setiap tanggal 14 Mei adalah hari yang tidak terlupakan bagi bangsa Palestina dan bangsa Arab pada umumnya. Karenanya setiap datang tanggal kelabu itu rakyat Palestina dan dunia Arab pada umumnya memperingatinya sebagai Hari Nakbah, di lain pihak Israel memperingatinya sebagai hari jadinya. Sebuah pemandangan yang sangat kontras. Di satu sisi negara pencaplok memperingati hari jadinya di atas tanah caplokannya, di sisi lain bangsa terjajah yang terbuang memperingati bencana yang menimpanya yang belum ada tanda-tanda akan berakhir.

Pada awal-awalnya peringatan tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat, bahkan sering menjadi inspirasi dunia Arab untuk merebut kembali wilayah Arab yang diduduki negeri Zionis itu dengan kekuatan senjata, sebagaimana semboyan yang sangat terkenal di tahun 1950-an; “sesuatu yang diambil dengan kekuatan (militer) maka harus dikembalikan dengan kekuatan (militer pula).“

Paling tidak hari Nakbah telah menginspirasikan dua perang besar Arab-Israel pascaberdirinya negeri Yahudi itu pada 1948, yakni perang 1967 dan perang 1973. Sayang kedua perang tersebut tidak banyak memberi perubahan berarti terkait penderitaan bangsa Palestina, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Nakbah demi nakbah menimpa, sehingga sebagian penulis Arab menyebut nakbah Palestina sebagai nakabaat bentuk jamak dari nakbah yang artinya nakbah demi nakbah (bencana demi bencana menimpa).

Kenyataannya memang demikian, setelah perang enam hari pada 1967 yang menyebabkan Israel berhasil memperluas pendudukannya di wilayah Arab dan Palestina, termasuk pendudukan kota Al-Quds, berlanjut dengan perang Ramadhan 1973 yang memupuskan kehebatan militer Israel yang pernah disebut sebagai kekuatan tak terkalahkan, tapi kenyataannya perang ini tidak membuat negeri Yahudi yang didukung kuat sekutu Baratnya, terutama AS, bergeming.

Nakbah pun masih berlanjut. Yang terbesar adalah perang 1982 saat negeri zionis itu melakukan invasi ke Libanon dan berhasil meluluhlantahkan negeri mungil yang menampung ratusan ribu warga Palestina yang terusir dari tanah airnya. Dalam invasi itu diwarnai pembantaian sadis warga Palestina tak berdaya oleh pasukan Israel bersama pasukan Kristen Libanon yang menewaskan lebih dari 5 ribu warga Palestina tak berdosa di kamp Sabra dan Satila dengan aktor intelektualnya Ariel Sharon, mantan PM Israel yang sekarang masih dalam kondisi sekarat bagaikan mummi Fir`aun.

Perang demi perang setelahnya telah menambah nakbah bagi bangsa negeri satu-satunya yang masih terjajah di muka bumi ini. Sebut saja misalnya perang musim panas tahun 2006 antara Hizbullah dan Israel, lalu perang terakhir yang pantas disebut holocaust di Gaza pada akhir 2008 hingga awal 2009 yang menewaskan lebih dari 2 ribu warga Gaza plus embargo yang tak kunjung berakhir hingga saat ini.

Karena itu pantasnya nakbah itu diperingati setiap hari karena tiada hari bagi bangsa Palestina kecuali nakbah yang tiada henti. Meskipun demikian, sangat penting untuk menjadikan momentum 14 Mei sebagai hari nakbah al-uula (bencana awal) pada 1948 sebagai hari untuk mengingatkan bangsa Arab dan umat Islam pada umumnya tentang kewajiban mereka untuk membela tanah Palestina warisan para Nabi, yang di dalamnya terdapat tempat suci dan kiblat pertama kaum Muslimin.

Sayang hari nakbah tersebut makin terlupakan, terutama setelah persetujuan Oslo pada 13 September 1993 antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dengan Israel. Persetujuan itu akhirnya telah menjadi almarhum yang dikubur tak lama setelah persetujuan itu tercapai sehingga persetujuan ini pun membawa nakbah pula bagi bangsa Palestina terjajah.

Dalam lima tahun belakangan ini, hari nakbah ini benar-benar asing bagi masyarakat Arab sendiri. Bahkan pada HUT Nakbah ke-62 pada 14 Mei 2010, hanya dihitung dengan jari media massa Arab yang menyiarkan hari kelabu itu kepada publik, termasuk siaran unjuk rasa yang tidak lagi besar di bumi Palestina memperingati hari bencana itu, padahal paling tidak ratusan TV satelit Arab yang dipancarkan di udara.
 
Inspirasi

Berbeda dari peringatan tahun sebelumnya, pada peringatan HUT Nakbah ke-63 pada 2011 ini yang diwarnai oleh orde perubahan di dunia Arab, suasananya benar-benar beda. Hampir seluruh bangsa Arab, terutama di negara-negara yang berbatasan langsung dengan Palestina yakni Mesir, Libanon, Suriah dan Yordania,  bangkit menggugah para pemimpinnya lewat unjukrasa damai agar lebih serius memperhatikan nasib Palestina yang di dalamnya terdapat tanah suci Umat Islam yang dikotori Zionis-Israel.
 
Media massa Arab pun menyiarkannya secara meluas bahkan sebagai salah satu berita utama dalam beberapa hari belakangan ini baik sejak sebelum hari H (14 Mei) maupun beberapa hari setelah hari H. paling tidak suasana peringatan HUT Nakbah tahun ini adalah salah satu pengaruh positif dari orde perubahan di Arab karena dalam mengungkapkan aspirasi, media massa dan rakyat negeri-negeri kawasan tidak lagi merasa takut terhadap sejumlah rejim yang dikenal bersahabat kental dengan Israel dan sekutu-sekutunya.
 
Memang lebih dari 20 syuhada gugur pada HUT Nakbah kali ini oleh peluru tajam tentara Zionis di wilayah Gaza, Libanon dan Suriah yang berbatasan langsung dengan Palestina terjajah.

Ratusan orang dilaporkan luka-luka dan angka korban akan meningkat karena unjukrasa hari Nakbah tersebut diperkirakan akan meluas menjadi tuntutan massa yang lebih masif bagi kemerdekaan Palestina setidaknya sesuai wilayah sebelum perang 1967, termasuk area Masjid Al-Aqsa.
 
Darah yang tumpah dari para syuhada disamping korban luka-luka lainnya di berbagai negara Arab dalam peringatan ulang tahun ke-63 bencana bangsa Palestina tersebut menurut banyak analis Arab tidak akan sia-sia.

Mereka akan menjadi sumber inspirasi berkelanjutan bagi bangsa Arab untuk terus mendesak para pemimpinnya agar segera mengakhiri nakbah yang dialami rakyat negeri itu setiap hari akibat penindasan penjajah zionis.
 
Karena itu sejumlah pemimpin Arab yang selama ini ditugaskan mengurus bangsa Palestina tidak lagi sekedar duduk basa-basi di meja perundingan dengan sorotan kamera media massa manca negara sebagai sarana mengambil hati publik Arab seolah-oleh mereka telah berjuang mengakhiri penderitaan Palestina sesuai keinginan publik. Dalam situasi orde perubahan saat ini, sikap berpura-pura itu telah termakan zaman karena dipastikan publik akan berontak.
 
Masalah Palestina yang menjadi isu sentral bangsa Arab tidak mungkin terus menerus hanya sebagai slogan kosong tanpa aksi nyata setelah “badai“ perubahan yang melanda dunia Arab dewasa ini.

Bahkan dapat dikatakan bahwa salah satu indikasi keberhasilan revolusi Arab adalah kembalinya masalah Palestina sebagai isu sentral yang diperjuangkan secara nyata dan serius.
 
Masalah mendesak yang perlu segera diselesaikan yakni rekonsiliasi intern Palestina paling tidak telah menemukan jalan terang dengan tercapainya persetujuan rekonsiliasi serius antara gerakan Fatah dan Hamas (dua faksi terbesar Palestina) di Kairo 27 April yang kemudian diresmikan pada 4 Mei lalu.

Persetujuan itu pantas disambut hangat karena disponsori oleh Mesir revolusi yang sukses menumbangkan rejim lama yang dikenal sebagai sekutu dekat zionis Israel.
 
Dibawah pemerintahan orde perubahan saat ini, sangat tepat bila kedua faksi utama yang bertikai (Fatah-Hamas) kembali mempercayakan Mesir, selaku negara Arab terbesar dan berpengaruh, sebagai penengah konflik intern Palestina. Kedua faksi ini, terutama Hamas merasa bahwa Mesir revolusi telah berubah 180 derajat dalam penanganan masalah Palestina yang sejalan dengan aspirasi rakyat Mesir yang mendesak agar penderitaan bangsa Palestina dari penindasan penjajah Zionis-Israel segera berakhir.
 
Isyarat perubahan sikap tersebut misalnya dapat dilihat dari pernyataan PM Mesir, Essham Sharaf dan Menlu Nabil Al-ARabi, yang beberapa hari lalu dipilih secara aklamasi sebagai Sekjen Liga Arab menggantikan Amr Moussa. PM Sharaf misalnya mengingatkan bahwa prioritas kebijakan negaranya menyangkut Palestina ke depan adalah memperjuangkan tercapainya penyelesaian damai dan berdirinya negara Palestina merdeka bukan mengupayakan perundingan ke perundingan tanpa penyelesain.
 
Menlu Al-Arabi juga memperioritaskan kebijakannya terkait Palestina adalah penghentian segera embargo zalim atas Gaza yang telah berlangsung sekitar 5 tahun itu. Pada hari Ahad (1/5), Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Mesir mengumumkan secara resmi pembukaan pintu perbatasan Rafah secara permanen yang merupakan langkah maju negeri Nil itu guna mengakhiri salah satu penderitaan bangsa Palestina.
 
Sebagaimana diketahui Menlu al-Arabi belakangan ini dikenal vokal mengeritik kebijakan negaranya pada masa rejim lama, terkait embargo Gaza, terutama setelah serangan biadab Israel pada 27 Desember 2008 – 18 Januari 2009, yang dinilainya sikap memalukan. Banyak pihak berharap, terpilihnya Al-Arabi sebagai Sekjen Liga Arab akan memperkuat posisi organisasi ini untuk lebih serius melakukan aksi nyata mewujudkan mimpi kemerdekaan bangsa Palestina.
 
Korban yang berjatuhan pada peringatan Hari Nakbah tahun 2011 dan desakan publik di alam perubahan dewasa ini dipastikan akan menjadi salah satu pendorong kuat bagi para pemimpin Arab agar benar-benar serius memperjuangkan isu sentral tersebut.

Perundingan tanpa unjung penyelesaian dipastikan akan ditentang keras bangsa Arab sehingga rejim Arab mendatang tidak bisa lagi menjadikan perundingan sebagai sarana membeli hati publik seperti kejadian pada berbagai perundingan sebelumnya.
 
Momok

Bertepatan pula dengan HUT Nakbah tahun ini, penjajah Zionis-Israel juga menghadapi momok baru yang sangat mengkhawatirkan yaitu pertama sikap renggang Mesir terhadap negeri itu menyusul sukses revolusi rakyat menjatuhkan rejim lama, yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat negeri Yahudi itu dan momok kedua adalah persatuan Palestina setelah tercapainya rekonsiliasi Fatah-Hamas di Kairo awal bulan ini.
 
Mohammed Bin Saeed Al-Fatishi, analis Arab pada Lembaga Riset dan Strategi Arab menggambarkan sikap baru Mesir saat ini ibarat menelanjangkan negeri zionis tersebut. Pasalnya dua “pakaian dalam“ Israel yang selama ini kuat menempel karena persekutuannya dengan Mesir telah tertanggalkan. Yang dimaksud dengan dua pakaian dalam adalah keamanan dan ekonomi negeri zionis itu.
 
“Saya tidak berlebihan bila mengatakan, AS dan Israel sangat khawatir bahkan kekhawatiran mereka sampai ke ubun-ubun atas perubahan sikap Mesir dewasa ini terutama terkait perdamaian dan perang di kawasan. Apalagi orientasi Mesir baru adalah kebangkitan suluruh dunia Islam,“ paparnya dalam salah satu artikelnya, Senin (9/5).
 
Adapun yang terkait persatuan Palestina dibawah satu bendera dan tujuan, pasti mengarah kepada tuntutan yang sama yakni kemerdekaan dengan ibu kota Al-Quds Al-Sharif. Jelas persatuan dengan tuntutan yang sama itu menjadi momok menakutkan bagi negeri zionis itu seperti dinyatakan Presiden Mahmoud Abbas “rekonsiliasi di Kairo telah menutup perpecahan hitam Palestina selama-lamanya“.
 
Di antara isyarat kekhawatiran luar biasa negeri zionis adalah dengan menekan sekutu utamanya (AS) agar melakukan ancaman nyata terhadap Otoritas Palestina agar tidak melaksanakan kesepakatan rekonsiliasi itu. Diantara ancaman yang disampaikan oleh Presiden Barack Obama  belum lama ini adalah ancaman pemutusan bantuan apabila Abbas terus mengupayakan pengakuan dunia atas kemerdekaan Palestina.
 
Sudah menjadi rahasia umum publik dunia, bagaimana gerahnya Israel pada hari pertama menyikapi hasil rekonsiliasi tersebut ketika melontarkan sejumlah ancaman terhadap otoritas Palestina dan ibarat gayut bersambut, sejumlah petinggi AS juga melakukan ancaman serupa. Namun Abbas nampaknya terpengaruh pula dengan revolusi Arab, sehingga hilang sudah rasa takut atas berbagai ancaman tersebut.
 
Tel Aviv dipastikan akan melakukan segala cara guna menggagalkan rekonsiliasi dimaksud termasuk menjadi agenda utamanya pada lawatan PM Benjamin Netanyahu ke AS pada 20 Mei mendatang. Pada lawatan itu Netanyahu juga akan menyampaikan orasi di hadapan pertemuan tahunan Komite Umum AS-Israel (AIPAC) yang berlangsung pada 22-24 Mei 2011.
 
“Menghadapi upaya Israel tersebut, seluruh dunia Islam khususnya dunia Arab perlu menyatukan  sikap menghadapi upaya AS-Israel menggugurkan rekonsiliasi Palestina. Bila Israel misalnya menjatuhkan sanksi keuangan, paling tidak dunia Arab siap menggantinya demi kelanggengan rekonsiliasi tersebut,” papar Al-Fatishi mengingatkan.
 
Dalam suasana orde perubahan dunia Arab saat ini, saya kira harapan agar dunia Arab mempertahankan prestasi politik yang telah dicapai Palestina itu bukanlah harapan yang sulit dilaksanakan. Apalagi Mesir sebagai negara Arab terbesar telah muncul kembali sebagai pemimpin Arab pendukung kuat isu Palestina.*/Sana`a, 26 Jumadal Ula 1432 H

Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Foto: Korban-korban berjatuhan dalam peringatan Hari Nakba (bencana)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Panji Islam

Bagikan:

Berita Terkait

Episode Baru tahun Keempat Arab Spring

Episode Baru tahun Keempat Arab Spring

“Al-Hikmah al Yamniyah” Minimal Telah Terbuktikan

“Al-Hikmah al Yamniyah” Minimal Telah Terbuktikan

REVOLUSI Libya yang Berakhir Kurang Elok

REVOLUSI Libya yang Berakhir Kurang Elok

Isu Koptik Upaya Menggagalkan Revolusi Mesir

Isu Koptik Upaya Menggagalkan Revolusi Mesir

“Permainan Cantik” dan Kejutan Libya

“Permainan Cantik” dan Kejutan Libya

Baca Juga

Berita Lainnya