Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Analisa Dunia Islam

Roda Perubahan di Arab Tak Terbendung

Bagikan:

Oleh: Musthafa Luthfi  

SEBUAH  jajak pendapat di kalangan publik Arab yang dilakukan oleh TV BBC edisi Arab berbarengan dengan unjuk rasa “Jum`at Kemarahan” yang berlangsung di hampir seluruh kota utama di Mesir menunjukkan bahwa sebanyak 85 % responden Arab menilai bahwa roda perubahan sesungguhnya di dunia Arab terus menggelinding. Hanya 15 % saja yang masih meragukan bila pengalaman di Tunisia akan meluas ke seluruh negara Arab.

Terlepas dari hasil jajak pendapat tersebut, yang jelas pengalaman Tunisia paling tidak telah menghilangkan perasaan was-was dan rasa takut publik Arab dalam menuntut perubahan kepada rezim yang terlalu lama berkuasa. Sebab selama ini, rasa takut tersebut yang selalu menyelimuti, menyebabkan mereka lebih memilih diam ketimbang berhadapan dengan kekuasaan. 

Revolusi rakyat di Tunisia juga telah menginspirasi dunia Arab lainnya untuk melakukan langkah yang sama terutama lewat unjuk rasa damai. Mantan utusan Liga Arab untuk PBB, Clovis Makoud, mengatakan, revolusi Tunisia adalah inspirasi bagi dunia Arab, terutama di negeri-negeri yang dikuasai rezim diktator. Kepada Press TV, ia mengatakan, revolusi Tunisia adalah salah satu peristiwa paling inspiratif di dunia Arab saat ini.

Sebenarnya setelah tumbangnya rezim Ben Ali di Tunisia ada peristiwa lain yang tak kalah menarik yang sejatinya bisa mengalih perhatian publik Arab yakni bocoran dokumen perundingan Israel-Palestina oleh TV Aljazeera. Terlepas dari akurasi dokumen tersebut, yang jelas bocoran ini dapat memunculkan murka publik Arab dan dunia Islam pada umumnya atas perundingan di belakangan layar antara perundingan Israel dan Palestina.

Di antara bocoran yang dapat membangkitkan amarah publik adalah yang berkaitan dengan konsesi luar biasa yang diberikan para perunding Palestina kepada zionis Israel termasuk kedaulatan atas kota suci Al-Quds. Namun bocoran Aljazeera tidak mempan untuk mengalihkan perhatian publik, karena gelombang kemarahan sudah demikian terfokus pada perubahan status quo.

Banyak analis Arab yang melihat bahwa gelombang murka publik di dunia Arab saat ini bukanlah sesuatu yang baru namun telah terpendam sejak lama kemudiaan tereskalasi dalam beberapa pekan belakangan ini menyusul keberhasilan revolusi rakyat di Tunisia menumbangkan rezim diktator Ben Ali yang telah berkuasa lebih dari 23 tahun.

“Sejatinya gelombangan kemarahan ini sudah lama mewarnai publik Arab akibat penderitaan kronis di bidang ekonomi dan sosial politik. Kemarahan ini mulai tereskalasi setelah revolusi rakyat yang sukses di Tunisia. Ibaratnya, peristiwa di Tunisia sekedar penggerak air yang cukup lama tergenang, ” papar Dr. Mohamed Naji Omeyra. 

Menurut salah seorang analis Arab ini, masalah fundemental yang menyebabkan terjadinya gelombang amarah massa tersebut adalah krisis kebebasan dan absennya demokrasi sesungguhnya. “Memang hampir semua negara Arab mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi dan menghormati kebebasan serta menjunjung perinsip HAM,“ tambahnya lagi.

Apa yang diungkapkan Omeyra itu merupakan pemandangan lama yang dialami rakyat kawasan yang masih setia mempertahankan status quo hingga revolusi rakyat bangkit di Tunisia. Karena itu, kejadian di Tunisia tersebut seperti penulis sebutkan dalam tulisan sebelumnya adalah pesan terhadap negara-negara Arab lainnya yang masih mempertahankan status quo tersebut.

 Dan memang terbukti, tak beberapa lama berselang gelombang kemarahan merambat ke negara-negara Arab lainnya terutama Aljazair, Mesir, Yaman dan Yordania. Tanpa diduga sebelumnya, Mesir ternyata yang paling “parah” menghadapi dampak meluasanya gelombang “Tsunami“ Tunisia terutama lewat aksi kemarahan Jum`at (28/1) yang menyebabkan negara terbesar Arab ini dilihat dari jumlah penduduk hampir lumpuh total.

Hingga tiga hari sejak kemarahan Jum`at itu terjadi, situasi kerusuhan di Negeri Lembah Nil berpenduduk sekitar 80 juta jiwa itu, belum ada tanda-tanda akan segera berakhir meskipun Presiden Hosni Mubarak telah menunjuk Wapres, Omar Sulaiman, mantan Kepala Badan Intelijen dan Ahmed Shafiq, sebagai PM baru. Pasalnya, langkah tersebut selain sangat terlambat, juga sebagian kecil saja dari tuntutan rakyat yang menginginkan perubahan rezim secara total.

Lebih besar

Sebagai negara terbesar di Arab tentunya upaya perubahan yang sedang berguling di negeri Al-Azhar itu, gaungnya lebih besar dan dampaknya pun lebih luas di kawasan mengingat negeri ini memainkan peran paling penting selaku saudara tertua Arab. Karena itu, banyak pihak berharap, perubahan yang terjadi nantinya tidak sampai melumpuhkan tulang punggung dunia Arab tersebut.

Tentunya kekhawatiran itu beralasan, sebab pengalaman di Iraq yang berhasil dilupuhkan pendudukan sekutu pimpinan AS setelah lebih dari 12 tahun diembargo sebelum pendudukan berlangsung. Iraq yang tadinya sebagai salah satu negara Arab terkuat baik dari segi demografi maupun sumber alam (minyak) dan penguasaan teknologi akhirnya lumpuh.

Bangsa Arab tidak ingin pengalaman di Iraq tersebut terulang di Mesir yang selama ini sebagai penentu bagi dunia Arab. Yang diinginkan adalah perubahan yang dapat mengembalikan kedigdayaan negeri Piramida tersebut selaku salah satu negara besar di kawasan yang nantinya dipimpin oleh tokoh yang tidak gentar oleh konspirasi zionis atau paling tidak, tokoh yang selalu mendengar aspirasi rakyatnya.

Dari pantauan penulis terhadap perkembangan hari demi hari bahkan detik per detik, perubahan yang ditunggu-tunggu sudah tidak terelakkan lagi. Yang terjadi sekarang adalah semacam penggodokan tokoh yang paling bisa diterima (di dalam dan luar negeri) yang dalam hal ini Wapres Sulaiman salah satu diantaranya meskipun untuk sementara waktu, hingga pemilihan kepala negara baru dalam enam bulan ke depan.

Dari pantauan penulis, yang juga sudah cukup lama mukim di negeri Lembah Nil ini, mayoritas rakyat menginginkan perubahan secara damai dan menolak aksi anarkhis meskipun rakyat Mesir sudah demikian lama menanggung derita akibat rezim Mubarak, kelurga dan kroni-kroninya yang menyebabkan angka kemiskinan melonjak.

Indikasi berikut ini, paling tidak dapat menjadi gambaran derita panjang rakyat negeri itu. Sebagai contoh, data tahun 2009 dari laporan Pembangunan SDM Arab menyebutkan sebanyak 41 % penduduk Mesir hidup dalam kesmiskinan termasuk 12 juta jiwa diantaranya tidak memiliki tempat tinggal diantaranya 1,5 juta jiwa bertempat tinggal di kuburan (karena sebagian kuburan di Mesir dibuat seperti rumah-rumah kecil). 

Selain itu, juga disebutkan bahwa sebanyak 10 juta angkatan kerja menganggur atau setara dengan 21,7 % dari total angkatan kerja negeri itu. Meskipun demikian, urutan Mesir dari negara-negara paling korup di dunia tidak sampai bertengger di tangga atas bahkan masuk tangga bawah karena berada di urutan 115 dari 134 negara untuk kategori tingkat korupsi para pejabat.

Namun yang lebih utama dari masalah ekonomi tersebut adalah keinginan rakyat untuk mengembalikan lagi kehormatan selaku bangsa besar setelah salama ini rezim berhubungan erat dengan zionis dan Amerika yang membuat bangsa besar ini menjadi demikian terhina.

“Pemulihan kehormatan dan kejayaan sebagai bangsa besar adalah target utama perubahan di Mesir,” papar sejumlah analis Arab.

Karena alasan terakhir ini, maka tidaklah aneh bila pidato Mubarak tetap tidak digubris bahkan tuntutan agar segera hengkang makin nyaring meskipun telah ratusan jiwa gugur dan ribuan lainnnya luka-luka. Karena itu, setidaknya ada dua skenario alih kekuasaan yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan bahkan mungkin sebelum tulisan ini sampai ke tangan para pembaca.

 Skenario pertama adalah Mubarak akhirnya melapaskan tangung jawab kepada Wapres, Omar Sulaiman dengan jaminan dia dan keluarganya tidak akan “diganggu”. Skenario ini mirip dengan skenario jatuhnya penguasa orde baru di Indonesia pada 1998. Skenario pertama ini lebih mendekati kenyataan hingga Wapres dapat memegang kendali pemerintah sampai pemilihan Presiden berlangsung sekitar enam bulan ke depan.

Skenario kedua adalah pembentukan Dewan Khusus dari tokoh-tokoh bijaksana Mesir yang bertugas mengubah konstitusi dan mengendalikan pemerintahan hingga pemilu baru berlangsung seperti yang diserukan oleh pakar fisika Mesir, penerima Nobel bidang fisika, Ahmed Zuwel. Atau sebagaimana seruan oposisi dari Partai Wafd berupa pembentukan pemerintahan penyelamatan dari semua unsur.  

Israel ketar ketir

Skenario manapun nantinya yang berhasil mewujudkan perubahan, yang jelas perubahan di dunia Arab pasti akan membuat zionis Israel ketar-ketir. Pasalnya, negeri zionis tersebut selama ini berkepentingan terhadap langgengnya para pemimpin yang tidak membawa aspirasi rakyat agar bisa tetap bisa mendekte mereka sesuai dengan kepentingannya.

Sikap para pemimpin negeri Yahudi itu yang lebih memilih diam dengan aksi tuntutan perubahan di dunia Arab menunjukkan mereka dalam kondisi sangat khawatir. Apalagi bila perubahan tersebut terjadi di negeri besar seperti Mesir yang memainkan peranan penting di kawasan.

Sejak persetujuan damai dicapai pada 1979, Israel menjadikan Mesir sebagai sekutu strategis utama di Arab. Siapapun yang berkuasa nanti di Mesir pasca perubahan, kelihatannya tidak bisa lagi diperalat zionis untuk membantu melanggengkan penjajahannya atas bangsa Arab.  

Yang pasti adalah perubahan saat ini menuju ke arah yang lebih baik terutama yang terkait kepada pemilihan harga diri dan kedigdayaan bangsa Arab, terus menggelinding, meskipun tidak mesti harus lewat revolusi rakyat untuk menjatuhkan rezim. Sebab besar kemungkinannya, bagi rezim yang masih tetap berkuasa, juga pasti merespon tuntutan perubahan dimaksud.

Perubahan tersebut juga diharapkan akan melapangkan jalan menuju terwujudnya solidaritas Arab untuk menghadapi tantangan sulit selama ini terutama yang terkait dengan pembelaan isu sentral bangsa Arab yakni masalah Palestina. Solidaritas ini akan membuat zionis tidak bisa lagi main-main dengan hak bangsa Arab yang disabotnya lebih dari 60 tahun.

Singkatnya, bukan rakyat Mesir saja yang berharap bahkan seluruh bangsa Arab dan Muslim berharap agar perubahan di negeri itu tidak menyebabkan kelumpuhan namun perubahan itu akan membuat Mesir lebih kuat selaku tulang punggung dunia Arab. Allah Ma`ak Ya Masr (Allah selalu bersamamu wahai Mesir), demikian antara lain doa dan harapan dari bangsa Arab umumnya. [Sana`a, 26 Safar 1432 H/hidayatullah.com]

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Yaman

Rep: Muhammad Usamah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

Skenario Iraq di Libya Mengkhawatirkan

Skenario Iraq di Libya Mengkhawatirkan

Intervensi Rusia di Suriah dan Usul Rekonsiliasi di Teluk [2]

Intervensi Rusia di Suriah dan Usul Rekonsiliasi di Teluk [2]

Isu Palestina dan Revolusi Arab yang Masih Belum Menentu

Isu Palestina dan Revolusi Arab yang Masih Belum Menentu

Jalan Menuju al-Quds Masih Panjang

Jalan Menuju al-Quds Masih Panjang

Baca Juga

Berita Lainnya