Kamis, 25 Maret 2021 / 12 Sya'ban 1442 H

Analisa Dunia Islam

Wikileaks Gempar, Tapi Palestina Tetap saja Terpuruk

Logo Wikileaks
Bagikan:

Dokumen Wikileaks babak kedua kembali menggemparkan lagi meskipun yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah (Timteng) dan dunia Islam umumnya tidak ada yang baru. Yang anehnya lagi, bocoran dokumen tersebut sampai saat ini belum ada yang menyulitkan Israel bahkan terkesan dokumen tersebut berisi “adu domba” di kalangan negara-negara Islam khususnya di kawasan Timteng.

Karena itu meskipun dokumen tersebut cukup penting, namun masih belum terungkap hal-hal yang jauh lebih penting seperti agresi Israel ke Libanon, pembantaian warga Palestina di Gaza, pembunuhan mendiang Yasser Arafat, serial pembunuhan politik di Libanon dan Palestina. Tentunya hal ini mengundang tanda tanya besar terhadap tujuan pembocorannya oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Media massa dunia (terutama Barat) memang melihat dokumen tersebut menggemparkan seolah-olah mendapatkan data yang asing bin aneh atau keluar dari kebiasaan yang ada selama ini. Namun bagi publik Arab, data-data yang dibocorkan menyangkut masalah kawasan tidak ada yang aneh bahkan tidak ada yang terasa baru.

“Wikileaks belum mengungkapkan kepada kita sesuatu yang baru karena hampir semua data yang dibocorkan sudah begitu lekat dengan benak publik Arab. Bedanya, publik tidak bisa berbuat banyak meskipun hanya sekedar untuk mengecamnya,” papar Dr. Adnan Bakrih, seorang analis Arab dalam sebuah kolomnya yang menyorot tujuan tersembunyi di balik penyebaran bocoran babak kedua itu.

Masih menurut Dr. Bakrih, berbagai pertanyaan yang sejatinmya ingin diketahui publik justeru tidak muncul-muncul seperti (kompromi) dibalik invasi atas Libanon pada 2006, serangan atas Gaza (Desember 2008-Januari 2009), pembunuhan atas mendiang Presiden Yasser Arafat, bagaimana (kompromi) invasi atas Irak dan penggantungan Saddam Husein.

“Saya yakin publik Arab mengidam-idamkan data kongkret tentang hal-hal yang disebutkan tadi. Tidak adanya data dimaksud merupakan cacat yang kemungkinan bertujuan untuk tetap merahasiakan peran AS dan Israel, sehingga menimbulkan tanda tanya terhadap maksud tersembunyi dibalik penyebaran bocoran ini,” tandasnya lagi.

Yang menimbulkan tanda tanya juga, papar Abdul Bari Athwan, analis Arab yang mukim di London, dokumen tersebut hingga saat ini masih belum mengungkap rahasia pembantaian Israel di Libanon dan agresi di Gaza. Juga rahasia tentang serangan atas armada kemanusiaan yang berlayar ke Gaza (Juni lalu) serta sikap AS dan juga dunia Arab atas serangan tersebut. ” Yang pasti, kita tidak terlalu butuh bocoran tentang kejahatan Israel atas bangsa Palestina karena semua pihak mengetahui dengan pasti,” tandasnya.

Senada dengan pendapat tersebut, Dr. Yasser Saad, analis lainnya juga mencurigai bahwa bocoran tersebut sepertinya disengaja karena sama sekali tidak membocorkan rahasia sebenarnya bukan pula data-data baru yang sebelumnya tidak diketahui oleh publik. Semua data yang dibocorkan sudah diketahui luas di kalangan publik Arab dan Muslim.

Apa yang dikemuakan beberapa analis Muslim di atas merupakan pendapat umum mayoritas publik Arab dan Muslim. Kita misalnya tidak perlu menunggu bocoran Wikileaks tentang penghancuran negara-negara Islam oleh AS seperti di Afgansitan, Irak, Pakistan dan Palestina. Kita juga tidak perlu bocoran untuk mengetahui politik lalim negeri ini terhadap isu-isu Umat Islam sebab semuanya jelas seperti matahari di siang bolong.

Mengingat data-data terakhir yang dikeluarkan laman Wikileaks tersebut belum ada yang “bergigi”, maka tidak bisa dipungkiri bila timing pembocoran tahap kedua ini mengusung agenda terselubung. “Untuk kesejuta kali, kita mengatakan bahwa ada agenda terselubung dengan pengungkapan bocoran ini,” tegas Athwan lagi.

Harapan makin jauh

Kecurigaan tersebut memang berdasar, pasalnya, momentum bocoran tahap kedua ini bertepatan dengan runtuhnya kembali upaya untuk melapangkan jalan menuju pengakuan internasional kemerdekaan Palestina dalam batas wilayah sebelum perang enam hari tahun 1967, meskipun minus kedaulatan utuh.

Perundingan damai secara langsung pupus kembali karena negeri zionis itu tak surut dari sikapnya untuk melanjutkan pembangunan pemukiman Yahudi di tanah milik warga Palestina di Tepi Barat. AS pun mengalah dengan mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa menekan penundaan pemukiman seperti dinyatakan juru bicara Deplu AS, Philip Crowly (7/12).

Dengan demikian, harapan untuk mewujudkan Palestina merdeka makin jauh. Menlu Hillary Clinton, Sabtu (11/12) menegaskan bahwa agar kedua belah pihak (Israel dan Palestina) kembali ke meja perundingan tanpa syarat meskipun lewat perundingan tidak langsung. Hal ini berarti sebatas perundingan basa-basi, sementara pemukiman Yahudi termasuk di kota Al-Quds terus berlanjut.  

Sejak bocoran Wikileaks bagian pertama muncul di media-media internasional, sebenarnya Israel berteriak girang seolah-olah berkata “hal ini baik bagi kita”, papar Dr. James Zaghbi, Ketua Lembaga Arab-Amerika seperti dilaporkan harian Al-Watan, Oman (6/12). Pakar berkebangsaan Amerika asal Libanon ini tak ragu-ragu mengatakan “bocoran Wikileaks dimanfaatkan Israel untuk memperbaiki citranya dan sekaligus menghindar dari proses perdamaian”.

“Apalagi di dalam salah satu dokumen Wikileaks disebutkan bahwa Iran adalah musuh paling berbahaya dunia Arab sehingga mengubah citra buruk Israel di mata masyarakat internasional sehingga PM Israel, Benjamin Netanyahu dengan bangga mengatakan bahwa Israel sebagai ancaman di kawasan hanyalah ilusi akibat propaganda selama 60 tahun,” papar Zaghbi lagi.

Dampak dari laporan ini (menyebutkan Iran sebagai ancaman terbesar) adalah negeri zionis itu bisa berkelit dari perundingan damai serius. Seorang pejabat negeri zionis itu mengingatkan agar proses damai jangan dipikirkan dahulu, yang harus difokuskan adalah ancaman terbesar kawasan dari Iran. “Bagi saya jelas pernyataan ini konyol, namun sudah terduga sebelumnya,” kata Zaghbi.

Namun sayang sekali, respon Palestina terhadap sikap AS yang tidak lagi menekan Israel untuk sekedar menunda pemukiman (bukan menghentikannya seperti yang dituntut Arab), dan melepaskan tangung jawab sebagai sponsor perundingan langsung, sangat memilukan. Sama sekali tidak ada sikap menentang meskipun sekedar demo di Ramallah sehingga seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.

Sikap ini sebagai cermin sikap dunia Arab secara keseluruhan yang memang selama ini berdalih tidak ada pilihan lain menghadapi sikap keras kepala zionis, kecuali terus berunding tanpa berani menuntut batas waktunya, baik pemukiman (pencaplokan) ditunda sementara waktu maupun diteruskan. Pada saat yang sama, embargo atas Gaza pun yang telah berjalan 5 tahun makin terlupakan.

Pengakuan Brazil dan Argentina terhadap negara Palestina dalam batas sebelum perang 1967 beberapa hari yang lalu yang disambut meriah oleh otoritas Palestina tak bermakna, padahal sudah dimaklumi, pengakuan semacam ini tidak akan mengubah nasib bangsa negeri ini yang telah menderita sejak 1948.

Masih teringat dibenak rakyat Palestina bahkan publik Arab dan Muslim pada umumnya, sekitar 22 tahun lalu Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mendeklarasikan negara Palestina merdeka dari Aljier, Aljazair. Tak lama berselang sebanyak 126 negara mengakuinya, namun kenyataannya belum juga terwujud negara merdeka dan tidak ada pula manfaat yang dapat diperoleh rakyat Palestina dari pengakuan tersebut.

Tak berlebihan bila Abdul Fatah Alarabi, seorang analis Arab menyebut kondisi saat ini dengan mengatakan “pemumiman Yahudi lebih penting dari perdamaian”. “Perundingan dengan syarat-syarat Israel hanya akan menambah penghinaan atas hak-hak bangsa Palestina,” tegasnya.  

Untuk mengatasi status quo ini, alangkah baiknya untuk mengembalikan isu Palestina ini ke pangkuan seluruh dunia Islam agar tekanan sesungguhnya dapat dirasakan AS dan Israel. Karena telah terbukti kegagalannya ketika mengkerdilkan isu ini sebatas isu Arab atau isu bilateral Palestina-Israel semata.     

Disintegritas

Gegap gempita dokumen Wikileaks ini pun bertepatan dengan akan dilangsungkannya referendum pemisahan Sudan Selatan dari negara induknya Republik Sudan pada 9 Januari mendatang. Hampir dapat dipastikan bahwa Sudan akan mengalami disintegritas pasca referendum karena menjadi agenda Barat bahwa Sudan harus pecah.

Ternyata keliru pendapat yang menyebutkan bahwa Timteng baru yang didengungkan mantan Menlu AS, Condolliza Rice pada saat serangan Israel atas Libanon pada 2006, telah gagal. Proses pemetaan baru kawasan seperti persetujuan Sykos-Picot pada 1916 yang membagi-bagi negara Arab menjadi beberapa wilayah dibawah kekuasaan penjajah Barat.

Ternyata pemetaan baru ini dimulai dari Sudan, dengan pemisahan Sudan Selatan. Refendum yang disepakati pada 2005 dengan disponsori Barat antara pemerintah dengan pemberontak di selatan tak lebih sebagai taktik semata untuk memecah negeri paling luas di benoa Afrika tersebut.

Luas wilayah Sudan Selatan sekitar 640 ribu km persegi atau 26 persen dari total luas Sudan saat ini (2,5 juta km persegi) terdiri dari berbagai etnik dan agama. Mayoritas penduduknya atau sekitar 59 persen adalah penganut animisme, kemudian pemeluk Islam sebanyak 24 persen disusul Kristen sebanyak 17 persen. Pendudukanya sekitar 10 juta (25 persen dari total penduduk Sudan) sesuai sensus 2006.

Seluruh analis Arab sepakat bahwa pemisahan selatan dari negeri induknya sudah menjadi strategi zionis sejak lama untuk dapat menguasai salah satu sumber air Sungai Nil yang sangat vital itu. Strategi ini pernah muncul lalu tenggelam dan akhir-akhir ini kembali muncul menjelang referendum awal tahun depan.

Tanda-tanda negeri zionis itu berkepentingan atas disintegritas Sudan adalah pernyataan Pemimpin Sudan Selatan, Silva Kiir belum lama ini, yang mengingatkan bahwa Israel bukan musuh Sudan Selatan tapi ia musuh Palestina sehingga tidak ada masalah bila nanti membuka hubungan diplomatik dengan negeri zionis tersebut.

Intinya, disintegritas Sudan adalah strategi lama kaum zionis yang didukung Barat dan mendapat peluang emas untuk mewujudkannya pada persetujuan referendum pada 2005. Adapun timing ekspos bocoran Wikileaks tahap kedua ini tidak menutup kemungkinan disengaja untuk agenda terselubung, antara lain untuk mengenyampingkan isu Palestina dan tak kalah penting pula pemisahan Sudan Selatan. [Sana`a, 6 Muharam 1432 H/hidayatullah.com]

Penulis kolumnis hidayatullah.com, kini tinggal di Yaman

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Faudha dan Skenario Politik di Mesir

Faudha dan Skenario Politik di Mesir

Arab Berupaya Akhiri “Petualangan” Iran di Yaman [1]

Arab Berupaya Akhiri “Petualangan” Iran di Yaman [1]

Sukses Sejil 2  “Hiburan” Awal Tahun

Sukses Sejil 2 “Hiburan” Awal Tahun

“Game” Baru untuk Menguasai al-Quds

“Game” Baru untuk Menguasai al-Quds

Menunggu “Al-Hikmah Yamaniyah” di Tengah Kemenangan AKP

Menunggu “Al-Hikmah Yamaniyah” di Tengah Kemenangan AKP

Baca Juga

Berita Lainnya