Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Menjaga Kepercayaan dengan Menegakkan Kejujuran

Ilustrasi.
Bagikan:

BETAPA kejujuran dianggap sebagai harta tak ternilai dalam pergaulan di dunia ini. Sejak kecil, Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pergi berdagang dengan pamannya ke negeri-negeri tetangga. Beliau membawa modal dari beberapa pengusaha kaya, kemudian kembali ke kampungnya dengan membawa keuntungan dari hasil berdagang. Karena sangat jujurnya beliau, sampai-sampai beliau dijuluki “al-Amin” oleh masyarakat sekitarnya, yang berarti “dapat dipercaya”.

Betapa kita akan menjadi sangat kecewa dan sakit hati apabila kita dibohongi oleh sahabat kita, atau oleh orang lain yang kita kenal. Karena begitu mahalnya nilai sebuah kejujuran maka siapa yang menodai kejujuran itu dengan kebohongan, haruslah ia berjuang kembali dari awal untuk memperoleh kepercayaan penuh lagi dari teman-teman yang dulu pernah memercayainya. Sekali kita berbohong, selamanya orang tidak akan percaya lagi kepada kita. Kira-kira begitulah ungkapan yang menggambarkan betapa berartinya sebuah kejujuran.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa tidak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah lebih dari bohong. Apabila beliau melihat seseorang bohong dari segi apa pun, orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah sampai beliau tahu bahwa orang itu telah bertobat.

“Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan yang paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak omong kosong, bermulut besar lagi berlagak tahu.” (HR Tirmidzi).

Rasulullah pernah bersabda, “Ada tiga hal yang barangsiapa memiliki semuanya maka dia munafik sejati. Dan barangsiapa memiliki salah satu di antaranya, berarti dia mempunyai satu jenis sifat munafik hingga dia meninggalkannya. Yaitu bila diamanahi dia khianat, bila berkata dia dusta, dan bila berjanji dia mengingkari.”

Maka, lidah yang tidak terjaga dengan baik, menebarkan dusta, dan menyebabkan khianat, itulah orang yang munafik. Maka, berhati-hatilah kita dalam memikul amanah.

Seorang karyawan mendapatkan promosi ke jenjang manajer, itu adalah amanah. Jangan sampai amanah tersebut dikhianati dengan cara mengorupsi waktu kerja dengan membaca koran, bermain game di komputer, atau pun menindas bawahan. Itu contoh orang yang tidak amanah. Dia tidak dapat menanggung amanah yang diberikan kepadanya dan menganggap remeh amanah yang diusungnya.

Demikian juga apabila kita dititipi sesuatu oleh teman kita untuk diberikan kepada teman kita yang lain, jangan sampai barang yang diamanahi itu kita sia-siakan, terlebih tidak kita berikan kepada yang berhak menerimanya. Ada seseorang yang diberikan amanah oleh temannya, “Wahai sahabatku, berikanlah pakaian ini kepada Fulan. Dan katakanlah bahwa pakaian ini adalah pemberian dari diriku melalui dirimu.” Kemudian orang tersebut melihat bahwa pakaian itu indah, maka diambilnya beberapa potong pakaian itu, baru selebihnya diberikan kepada Fulan. Ini adalah contoh orang yang tidak amanah. Dia berkhianat, padahal sejak awal ia sudah menyanggupi amanah tersebut.

Rasulullah bersabda, “Seberat-berat agama adalah memelihara amanah. Sesungguhnya tidak ada agama bagi orang yang tidak memelihara amanah, bahkan tidak diterima shalat dan zakatnya.” (HR al-Bazzar).

Begitu pula dengan perkataan kita. Ibn Arabi berkata, “Barang siapa lisannya diam, tapi hatinya tidak maka dosanya akan ringan. Barangsiapa lisannya diam dan juga hatinya diam maka yang rahasia akan menjadi jelas baginya, dan Allah akan menjadi jelas pula baginya. Barangsiapa hatinya diam, tetapi lisannya tidak maka dia akan berkata dengan kata hikmah. Barangsiapa yang lisan dan hatinya tidak diam maka itu adalah kekuasaan setan dan ia tunduk kepadanya.”

Pada satu kesempatan Rasulullah memberikan nasihat kepada Abu Dzar, “Jika kau ditanya sesuatu yang tidak kau ketahui, jawablah, ‘Saya tidak mengetahui, supaya selamat dari tanggung jawabnya, dan jangan memberi jawaban terhadap apa yang tidak kau ketahui, supaya selamat dari siksa Allah pada hari kiamat.”

Rasulullah pun memberi wasiat kepada Ali bin Abi Thalib mengenai kejujuran, “Seorang alim memiliki tiga ciri, yaitu perkataan yang jujur, sikap menjauhi barang yang haram, dan tawadhu. Orang yang jujur juga memiliki tiga ciri, yaitu menyembunyikan ibadah, menyembunyikan sedekah, dan menyembunyikan musibah.”

Maka, betapa pentingnya kejujuran dalam hidup ini sehingga Rasulullah bersabda, “Perhatikanlah kejujuran. Apabila kamu memandang bahwa kebinasaan berada di dalam kejujuran, sebenarnya di dalamnyalah keselamatan.”

Oleh karena itu, janganlah kita takut tidak punya rezeki, tapi takutlah apabila kita tidak punya jujur dalam cara mendapatkan rezeki karena bukankah Allah Yang Mahakuasa tidak pernah lalai dalam mengatur rezeki setiap makhluk-Nya, seperti yang difirmankan, “Tidak diciptakan makhluk, melainkan juga dengan rezekinya.

Janganlah pula kita takut tidak punya jabatan, tapi takutlah apabila kita tidak jujur dalam memperoleh jabatan. Janganlah kita takut tidak punya popularitas, tapi takutlah apabila saat popularitas menghinggapi kita malah membohongi diri kita sendiri dengan membanggakan diri secara berlebih-lebihan seolah-olah kita sukses semata-mata karena kepandaian diri kita sendiri, padahal bukankah popularitas itu hanyalah titipan dari Allah semata.

Tiada orang yang tersiksa dalam hidup ini, kecuali orang yang tidak jujur pada diri sendiri.

Hal yang berikutnya adalah janji. Setiap janji haruslah ditepati, karena sifatnya sama dengan utang. Barangsiapa yang berutang maka akan terus ditagih pembayarannya sampai yang memberi utang itu menghapus utang-utangnya. Begitu pula dengan janji, akan terus ditagih pelaksanaannya sampai yang diberi janji itu melupakan janji tersebut.

Demikianlah sahabatku, betapa kebohongan kecil yang dilakukan hanya akan menghasilkan kebohongan demi kebohongan. Karena kebohongan yang telah dilakukan tidak dapat ditutupi dengan kejujuran, kecuali dengan mengaku bahwa dirinya telah berbohong.

Betapa menderitanya orang yang hidup dengan kebohongan. Pikirannya akan lelah karena harus terus mencari kebohongan-kebohongan berikut untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang telah dilakukan sebelumnya. Maka, jadilah orang yang jujur, walaupun kita memiliki kesalahan. Sesungguhnya jujur itu adalah tanda bahwa kita bertanggung jawab dan jujur itu ternyata lebih disukai Allah dan sesama kita.*/H.M Komarudin Chalil, dari bukunya Beranda Bahagia-Menghimpun Energi Kata dan Cinta.

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Teliti Lebih Dulu, Jangan Tertipu Penampilan

Teliti Lebih Dulu, Jangan Tertipu Penampilan

Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah (2)

Keikhlasan, Penentu dalam Barisan Dakwah (2)

Setiap Muslim Memiliki Keharusan Menyampaikan Seruan

Setiap Muslim Memiliki Keharusan Menyampaikan Seruan

Kenalilah Asalmu, Wahai Manusia! (1)

Kenalilah Asalmu, Wahai Manusia! (1)

“Madrasah Kenabian”: Refleksi Iman yang Mencerahkan

“Madrasah Kenabian”: Refleksi Iman yang Mencerahkan

Baca Juga

Berita Lainnya