Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Mengukuhkan Kekuatan Kepribadian Muslim (1)

Ilustrasi.
Bagikan:

KEPRIBADIAN Muslim mempunyai ciri yang begitu menonjol, yang membedakannya dari kepribadian lain. Ciri itulah kekuatan yang mendorong serta memerintahkannya untuk menempuh cara-cara yang baik, makruf, serta menjadikannya manusia perkasa, tidak lari dari perjuangan.

Berada di pihak yang benar, ia tak takut sedikit pun, serta tidak meremehkan untuk memerintahkan kepada kebajikan dan melarang kemungkaran. Sebab di dalam jiwanya tak ada sifat pengecut. Itulah sosok yang kuat nyalinya. Jika menghadap kepada Penciptanya untuk beribadah, semua anggota tubuhnya senantiasa bersemangat. Dan manakala menghadapi kesulitan dan penderitaan, ia bersabar, ridha, serta memohon pertolongan kepada-Nya.

Selain itu, ia adalah sosok yang tidak mudah terpedaya oleh angan-angan dan ilusi-ilusi dusta. Perkara-perkara yang telah berlalu, juga tidak menjadikannya terpedaya. Semua itu karena ia selalu optimis menatap masa depannya, tulus, penuh keyakinan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika demikian, kekuatan apakah itu? Sebuah kekuatan yang menjadikan kepribadian Muslim mampu mengarungi badai kehidupan, menyingkirkan segala kesulitan dengan nyali yang tak pernah melemah dan semangat pantang menyerah. Tak lain, kekuatan itu adalah kekuatan iman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta ketulusan hubungan dengan-Nya. Itulah kekuatan yang pernah diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, dan nyali seorang Muslim diharapkan bisa bangkit karenanya. Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai daripada orang mukmin yang lemah. Tamaklah dalam setiap kebaikan yang bermanfaat bagimu, dan mohon pertolonganlah kepada Allah. Dan janganlah lemah. Jika ditimpa sesuatu, janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku melakukan begini, tentu kejadiannya begini dan begitu’. Namun katakanlah, ‘Inilah ketentuan Allah. Jika Dia berkehendak, niscaya melakukannya.’ Sebab jika ia mengatakan seperti ‘Seandainya…’, hal itu membuka pintu bagi setan.” (Muslim).

Orang mukmin yang kuat mempunyai dua unsur penting dari berbagai unsur penting dalam pembentukan kepribadian yang teguh. Pertama, unsur iman. Kedua, unsur kekuatan. Sehingga, selain beriman, ia pun mempunyai kekuatan. Jika ia hanya beriman tanpa kekuatan, tak pelak lagi imannya itu adalah iman yang lemah. Namun jika ia kuat saja, tidak disertai iman, maka kekuatannya tak berbeda dengan binatang.

Orang mukmin yang berkepribadian kuat, sesekali tak akan melemah, apalagi lesu tanpa daya. Ia tak menjadi tawanan bagi dorongan-dorongan biologisnya. Ia tak sekadar mengikuti hawa nafsu. Jiwanya tegar, bertingkah laku dan bertindak layaknya orang-orang berakal, yang beramal demi keberuntungan setelah kematian. Syadad bin Aus ra. menuturkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda,

“Orang yang berakal adalah orang yang menguasai nafsunya serta beramal untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsu lantas kepada Allah menaruh impian dan angan-angan.” (Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim).

Rasulullah berlindung kepada Allah dari ketakberdayaan serta beberapa unsur kerendahan dan kehinaan yang melemahkan iman. Anas bin Malik ra menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ketakberdayaan, malas, takut dan kikir. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta fitnah kehidupan dan kematian.” (Muslim).*/DR. Ahmad Umar Hasyim, dari bukunya Menjadi Muslim Kaffah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Keberpasangan (2)

Keberpasangan (2)

Jagalah Hak Allah dan Orangtua

Jagalah Hak Allah dan Orangtua

Jadilah Muslim Berkepribadian Konsisten (1)

Jadilah Muslim Berkepribadian Konsisten (1)

Jalan Mendapatkan Husnul Khatimah

Jalan Mendapatkan Husnul Khatimah

Hikmah Saat Diberi Ujian (2)

Hikmah Saat Diberi Ujian (2)

Baca Juga

Berita Lainnya