Selasa, 2 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Tazkiyatun Nafs

Pelajaran Menyelamatkan dari Hatim Al-Asham

Ilustrasi.
Bagikan:

SUATU hari, Hatim al-Asham ditanya oleh sahabatnya, Syaqiq al-Balkhi -semoga Allah merahmati keduanya-, “Kau telah bersahabat denganku selama 30 tahun, apa yang kau dapatkan selama ini?” tanya Syaqiq.

“Aku telah mendapatkan 8 pelajaran yang kuharapkan dapat menyelamatkanku,” jawab Hatim.

“Apa saja pelajaran itu?”

Pertama, kuamati kehidupan manusia, kudapati setiap manusia memiliki kecintaan dan kesayangan. Dari beberapa kecintaannya itu, ada yang menemaninya sampai pada sakit yang menyebabkan kematiannya. Dan ada yang mengantarkannya sampai ke kuburan, setelah itu mereka semua pergi meninggalkannya seorang diri, tidak ada satu pun yang bersedia masuk ke dalam kubur menemaninya. Kurenungkan hal ini lalu kukatakan: sebaik-baik kecintaan adalah yang mau menemani seseorang di dalam kubur dan menghiburnya. Aku tidak mendapatkan yang demikian itu kecuali amal saleh. Oleh karena itu, kujadikan amal saleh sebagai kecintaanku agar dapat menjadi pelita kuburku, menghiburku di dalamnya, dan tidak akan meninggalkanku seorang diri.

Kedua, kuperhatikan bahwa manusia selalu memperturutkan hawa nafsunya, dan bersegera dalam memenuhi keinginan nafsunya. Lalu kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan ada pun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan-keinginan nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggal-Nya.” (An-Nazi’at: 40-41)

Aku yakin bahwa al Quran adalah haq dan benar, maka aku segera menentang nafsuku dan menyiapkan diri untuk memeranginya. Tidak sekali pun aku ikuti kehendaknya sampai akhirnya ia tunduk dan taat kepada Allah.

Ketiga, aku lihat setiap orang berusaha mencari harta dan kesenangan duniawi, kemudian menggenggamnya erat-erat. Lalu kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah kekal.” (An-Nahl: 96).

Karena itu, kubagi-bagikan dengan ikhlas penghasilanku kepada kaum fakir miskin agar menjadi simpananku kelak di sisi-Nya.

Keempat, kuperhatikan sebagian manusia beranggapan bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya pengikut dan famili, lalu mereka berbangga-bangga dengannya. Yang lain mengatakan terletak pada harta yang melimpah dan anak yang banyak, lalu mereka bermegah-megah dengannya. Sebagian yang lain mengira terletak dalam merampok harta orang lain, menzalimi dan menumpahkan darah mereka. Dan sebagian lagi meyakini dengan menghambur-hamburkan dan memboroskan harta. Aku lalu merenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (al-Hujurat: 13).

Kelima, kuperhatikan manusia sering saling menghina dan bergunjing (ghibah). Perbuatan buruk itu ditimbulkan oleh perasaan hasad (dengki) sehubungan dengan harta, kedudukan, dan ilmu. Kemudian kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Kami telah menentukan pembagian nafkah hidup di antara mereka dalam kehidupan dunia.” (az-Zukhruf: 32).

Maka tahulah aku bahwa pembagian itu telah ditentukan oleh Allah sejak di dalam zali. Oleh karena itu, aku tidak boleh mendengki siapa pun dan harus rela dengan pembagian yang telah diatur oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Keenam, kuperhatikan manusia saling bermusuhan satu dengan yang lainnya karena berbagai sebab dan tujuan. Lalu kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian).” (Fathir: 6). Maka sadarlah aku bahwa aku tidak boleh memusuhi siapa pun kecuali setan.

Ketujuh, kuperhatikan setiap orang berusaha keras dan berlebihan dalam mencari makan dan nafkah hidup dengan cara yang menyebabkan mereka terjerumus dalam perkara yang syubhat dan haram, juga dengan cara yang dapat menghinakan diri dan merugikan kehormatannya. Lalu kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.” (Hud: 6)

Maka sadarlah aku bahwa sesungguhnya rezeki ada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan Ia telah memberikan jaminan. Oleh karena itu, aku lalu menyibukkan diri dengan beribadah dan tidak meletakkan harapan pada selain-Nya.

Kedelapan, kuperhatikan sebagian orang menyandarkan diri pada benda-benda buatan manusia, sebagian orang bergantung pada dinar dan dirham, sebagian pada harta dan kekuasaan, sebagian pada kerajinan dan industri, dan sebagian lagi pada sesama makhluk. Lalu kurenungkan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” (at-Thalaq: 3).

Maka aku pun lalu bertawakkal kepada Allah dan mencukupkan diri dengan-Nya, karena Ia adalah sebaik-baik Dzat yang bisa kupercaya untuk mengurus dan melindungi semua kepentinganku.”

(Setelah mendengar uraian Hatim) Syaqiq berkata, “Semoga Allah memberimu taufik. Aku telah membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Furqan (Quran) ternyata semua kitab itu membahas kedelapan persoalan ini. Oleh karena itu, barang siapa mengamalkannya, maka ia telah mengamalkan keempat kitab tersebut.*/Sudirman STAIL (sumber buku Duhai Anakku Wasiat Imam Ghazali, penulis Imam Al-Ghazali)

Rep: Admin Hidcom
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Membangun Kecintaan dengan Hadiah (2)

Membangun Kecintaan dengan Hadiah (2)

Allah Kirim Negeri yang Indah dan Subur berupa Banjir

Allah Kirim Negeri yang Indah dan Subur berupa Banjir

Giat Bekerja Mencari Nafkah (2)

Giat Bekerja Mencari Nafkah (2)

Belajar dari Kesabaran Nabi Ayub

Belajar dari Kesabaran Nabi Ayub

Mewaspadai Dosa Kecil Menjadi Besar (3)

Mewaspadai Dosa Kecil Menjadi Besar (3)

Baca Juga

Berita Lainnya